
Begitu tiba di kantor, Nazwa segera menuju meja kerjanya dan ia pun mulai mempersiapkan berkas kerja yang harus ia selesaikan, agar bisa segera ia serahkan kepada Rangga.
Tak begitu lama Rangga pun tiba dikantor dengan wajah terlihat ceria, ia menebar senyuman manisnya kepada setiap karyawan yang tidak sengaja bertemu dengannya saat berjalan menuju ruangannya.
Semenjak menjalin hubungan dengan Nazwa, Rangga memang sedikit lebih berubah, ia yang terkenal dengan manajer yang tampan namun bersikap dingin, kini telah menjadi ramah, sehingga menambah ketampananya menurut para wanita yang bekerja di tempat yang sama dengan kekasih Nazwa itu.
Karena merasa masih terlalu pagi untuk berbicara dengan Nazwa, apa lagi ia juga melihat orang yang ia cintai itu terlihat sedang serius mengerjakan tugasnya, Rangga pun mengurungkan niatnya untuk menemui Nazwa dan berbicara kepada perempuan itu. Rangga segera menuju ruangannya dan memutuskan untuk menunggu sampai jam istirahat siang hari.
Sementara itu, karena sejak datang ke kantor Nazwa begitu sibuk dengan pekerjaannya, ia pun tidak melihat Rangga melintas dihadapannya, membuat Nazwa merasa gelisah karena mengira Rangga tidak masuk kerja hari ini, padahal ia sangat berharap bisa bertemu dan berbicara kepada Rangga kekasihnya.
"Rin!" Nazwa memanggil teman kerjanya itu yang juga terlihat serius dengan pekerjaannya.
"Hmm." jawab Rina sambil menoleh melihat Nazwa dengan senyuman khasnya.
"Pak Rangga tidak masuk kerja ya hari ini?" tanya Nazwa dengan raut wajah sedihnya.
"Ciee ada yang kangen ya." jawab Rina menggoda Nazwa. Tapi bukannya senang Nazwa malah terlihat semakin sedih.
"Rin aku serius." ujar Nazwa, membuat Rina tertawa senang melihat tingkah Nazwa yang terlihat jengkel kepadanya.
"Abis kamu dari tadi ngapain aja sih serius banget kayaknya, sampai sampai tidak memperhatikan pangeran tampan itu melintas di hadapan mu." jawab Rina dengan sedikit menggoda Nazwa lagi.
"Aku mau pekerjaan ini segera selesai Rin, jadi sejak pagi aku mempersiapkannya." jawab Nazwa.
"Oohh.." jawab Rina dengan sedikit anggukan, lalu kembali serius menatap layar labtobnya.
"Rin!" panggil Nazwa lagi.
"Hmm." jawab Rina namun kali ini pandangannya tidak beralih dari layar labtobnya.
__ADS_1
"Apa kamu melihatnya?" tanya Nazwa lagi, sepertinya Nazwa tidak mencerna jawaban Rina yang mengatakan pangeran tanpan melintas di hadapannya, hingga ia pun menanyakan kembali kepada Rina.
Rina pun memutar kursi tempatnya duduk, lalu memasang wajah pura pura lesu, ia pun bangkit dari kursinya dan berjalan kearah Nazwa. Karena melihat tingkah Rina yang berjalan dengan gaya lesu yang sengaja ia buat buat, wajah Nazwa yang semula tampak bersedih, kini berubah dan tertawa melihat tingkah dan gaya berjalan Rina.
Saat tiba di meja kerja Nazwa, Rina pun membungkukkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan tubuh Nazwa yang sedang duduk dikursinya.
"Apa kamu sudah menyelesaikan pekerjaanmu?" tanya Rina kepada Nazwa.
"Hemm, sudah." jawab Nazwa dengan sedikit mengangguk, ia seperti orang yang sedang di introgasi.
"Kalau begitu segera bereskan semuannya, lalu setelah itu pergi keruangan pak Rangga, sambil menyerahkan ini." ujar Rina, sambil menunjuk lembaran kertas pekerjaan Nazwa.
"Lalu?" tanya Nazwa lagi.
"Astagfirullah Nazwa." Rina memukul pelan kiningnya. "Laluuu..kamu akan menemukan jawaban, apakah pak Rangga ada atau tidak di ruanggannya." jawab Rina lagi dengan sedikit kesal, karena Nazwa terlihat bodoh jika berurusan dengan Rangga.
Melihat tingkah Rina, Nazwa pun terkekeh sambil ikut memukul pelan keningnya, kini ia pun tersadar dengan kebodohannya itu.
"Ternyata benar ya kata orang orang, kalau manusia itu akan beruba menjadi bodoh jika berurusan dengan yang namanya cinta." ujar Rina sambil mengangkat tubuhnya berdiri sempurna dan kembali memukul keningnya pelan. Sedangkan Nazwa, pipinya tampak merona karena malu, saat mendengar kata kata Rina.
Rina kembali ketempat meja kerjanya, sedangkan Nazwa merapikan semua berkas kerjannya dan segera bangkit untuk menuju ruangan Rangga, ia tidak sabar untuk memberitahu Rangga jika abinya telah memberika izin, dan ia juga ingin mengetahui jawaban dari Rangga yang meminta orang tua Reyhan menemaninya.
Saat tiba di depan pintu ruangan Rangga, Nazwa berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya, karena jujur saja dirinya merasa sedikit gugup untuk bertemu dengan Rangga, dan hal itu memang sering terjadi meski ia bukan lagi sekali dua bertemu dengan Rangga, wajar saja ini pengalaman pertama keduanya menjalin kasih dengan lawan jenis.
"Bismillah." gumam Nazwa pelan, lalu ia mengangkat tangannya dan mengetuk pintu ruangan Rangga.
Tuk tuk tuk..
"Masuk." jawab Rangga dari dalam sana, dan saat mendengar jawabah dari dalam sana, debaran jantung Nazwa pun terasa semakin cepat.
__ADS_1
Nazwa pun membuka pintu ruangan Rangga, dan segera masuk menuju meja kerja Rangga. Rangga terlihat masih menundukan kepalanya, fokus dengan pekerjaannya dan belum melihat siapa orang yang masuk kedalan ruangannya itu.
"Maaf pak, ini berkasnya." ujar Nazwa dengan bergetar, ia masih merasa debaran yang begitu cepat di dadanya, mungkin jika jantung itu bisa ia sentuh, maka Nazwa akan memegangnya untuk mengurangi detakan yang terasa begitu cepat.
Rangga pun mengangkat wajahnya saat mendengar suara khas dari kekasih hatinya itu, ia pun melempar senyuman hangatnya hingga menambah ketampanan diwajah Rangga, melihat sikap Rangga membuat Nazwa semakin tidak karuan, dan ia pun memutuskan untuk keluar dari ruangan Rangga setelah meletakkan berkas hasil kerjanya, karena sudah tidak mampu mengontrol debaran jantungnya.
"Mau kemana?" tanya Rangga, yang melihat Nazwa memutar tubuhnya, dan berniat untuk pergi.
Nazwa pun memutar kembali tubuhnya, senyum indah mulai menghiasi wajah Nazwa, tapi rona merah dipipinya tidak dapat ia hilangkan karena rasa malu yang menyelimuti dirinya.
"Duduk dulu aku ingin bicara." ujar Rangga kembali. Nazwa pun melangkah dan segera duduk di kursi yang ada dihadapan Rangga.
"Ada apa mas?" tanya Nazwa, ia berusaha keras untuk mengontrol dirinya.
"Nazwa, semalam aku telah berbicara dengan om dan juga tante." ucap Rangga.
"Lalu?" Nazwa terlihat bertanya dengan begitu antusias, karena tidak sabar ingin mendengar jawaban Rangga seterusnya.
"Mereka bersedia untuk menemani ku menemui kedua orang tuamu." jawab Rangga dengan tersenyum semakin lebar.
"Alhamdulillah, mas seriuskan?" Nazwa tampak begitu senang, sungguh ia sudah tidak bisa menyembunyikan lagi rasa bahagianya itu. Rangga pun menganggukan kepalanya, lalu Rangga bergilir bertanya kepada Nazwa.
"Lalu bagaimana dengan kedua orang tua mu, apa mereka mengizinkan aku untuk berkunjung kesana." tanya Rangga.
"Iya mas, alhamdulillah abi dan umi mengizinkan, bahkan mereka sudah menunggu kabar dan waktu kedatangan kita ke kampung." jawab Nazwa.
"Syukur alhamdulillah kalau begitu, hari minggu besok sepertinya waktu yang tepat untuk pergi ke kampung halaman mu, karena sepertinya tidak ada kesibukan yang mendesak juga di kantor." ujar Rangga lagi.
"Baiklah mas, kalau begitu aku akan memberi tahu abi dan umi lagi." jawab Nazwa.
__ADS_1
Setelah selesai membicarakan tentang hari keberangkatan mereka, Nazwa pun segera keluar dari ruangan Rangga, dan kembali ke meja kerja. Rasa bahagia yang masih menyelimuti Nazwa, membuatnya begitu senang hal itu dapat dilihat dari raut wajahnya yang tidak pernah lepas dari senyuman.