
Makanan pengganti yang dipesan oleh Rangga untuk Nazwa pun datang, lalu dengan segera Nazwa menyantap makanan itu, karna ia tidak ingin Rangga menunggunya terlalu lama. Selesai dengan urusan mereka direstoran, Rangga segera meminta sopir untuk menghantar mereka menuju bandara.
***
Dirumah sakit, saat sedang memiliki waktu senggang, Anita segera menemui Anton dan Zahwa, ia meminta beberapa perawat untuk membantu membawa Zahwa menuju ruangan USG.
Seperti yang telah ia janjikan kepada adiknya, hari ini ia akan melakukan USG kepada Zahwa, agar bisa melihat dan mengetahui keadaan bayi Anton.
"Alhamdulillah. An, lihat anak kalian dia semakin aktif." ucap Anita, dan Anton pun terlihat mendekatkan wajahnya pada layar komputer yang memperlihatkan gambar dan keadaan bayinya.
"Alhamdulillah, kak dia mirip dengan ku kan.?" ujar Anton dengan penuh antusias.
"Iya An hidungnya mirip banget deh dengan kamu. Eh tapi, asal jangan kelakuan papanya aja deh yang ditiru." ujar Anita lagi dengan di iringi tawa bahagianya.
"Kak apaan sih." jawab Anton kesal. Tapi tawa bahagia malah terlihat jelas di wajah Anita dan Zahwa saat melihat kekesalan Anton.
"Za, melihat keadaan kamu sekarang sepertinya kakak tidak menganjurkan kamu untuk melahirkan secara normal." ucap Anita kepada Zahwa.
"Insya Allah aku bisa kak, aku akan berusaha sekuat tenaga ku." jawab Zahwa.
"Tapi itu bisa membahayakan nyawa mu Za."
"Tidak kak, masih ada waktu tiga bulan lagi dari sekaranang sampai waktunya aku melahirkan, insya Allah saatnya waktunya tiba, aku telah puluh seperti semula kak." jawab Zahwa penuh keyakinan.
"Sayang, sebaiknya ikuti saran kak Anita ya, mas tidak mau kalau sampai nanti terjadi sesuatu yang tidak di inginkan dengan mu." ujar Anton kepada istrinya.
"Insya Allah mas, tidak akan terjadi apa apa dengan ku. Tolong biarkan aku merasakan menjadi seorang wanita yang sempurna ya mas, melahirhan seorang anak dengan normal itu sudah menjadi impian ku mas." jawab Zahwa.
"Bagaimana kak.?" tanya Anton kepada Anita, ia tidak bisa begitu saja mengabulkan keinginan istrinya itu tanpa persetujuan dari kakaknya, yang jauh lebih paham mengenai kehamilan dan kelahiran.
"Kakak tidak bisa menjamin An, kita lihat saja sampai nanti waktunya tiba. Tapi Za, jika nanti saatnya tiba kamu melahirkan, tapi keadaan kamu tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal, maka kakak terpaksa akan mengambil jalan caesar kepada mu." jawab Anita, ia berusaha memberikan pengertian kepada adik iparnya itu.
"Iya kak, aku mengerti." jawab Zahwa.
"Kita berdo'a saja ya kak semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan kekuatan kepada istri ku." ucap Anton.
"Aamiin." jawab Anita dan Zahwa secara bersamaan.
Usai dengan pemeriksaan kepada Zahwa, Anton kembali membawa istrinya dengan di bantu beberapa perawat menuju kamar perawatanya Zahwa kembali.
__ADS_1
***
Setelah melakukan perjalana dengan pesawat yang memakan waktu hampir dua jam, akhirnya Rangga dan Nazwa tiba dibandara Jakarta. Mereka pun segera menuju parkiran dan menemui seorang karyawan kantor yang menghantarkan mobil milik Rangga.
"Selamat sore pak Rangga." ujar laki laki itu.
"Sore.!" jawab Rangga.
"Ini kuncinya pak." ucapnya lagi sambil memberikan kunci yang ada ditangannya kepada Rangga.
"Terima kasih." jawab Rangga.
"Sama sama pak, kalau begitu saya kembali kekantor dulu pak." pamit laki laki itu.
"Baiklah."
"Permisi pak." ujar laki itu lagi dan hanya di jawab dengan senyuman oleh Rangga.
Rangga segera melangkah menuju mobilnya, dengan di ikuti oleh Nazwa. Lalu ia pun meletakkan paperbag berisi pakaiannya di kursi bagian belakang. Begitu pun dengan Nazwa, ia meletakkan kopernyanya lalu masuk dan dan duduk di kursi bagian belakang..
Saat melihat Nazwa yang telah duduk dikursi bagian belakang, Rangga pun kembali membuka pintu bagian belakang mobil dan bertanya kepada Nazwa.
"Lalu saya harus duduk dimana pak?." tanya Nazwa dengan polos. Sedangkan Rangga terlihat memijat pelan keningnya yang sebenarnya tidak sakit.
"Ayo duduk di depan." ucap Rangga lagi. Dengan rasa ragu akhirnya Nazwa terpaksa pindah duduk di kursi bagian depan.
Mobil segera melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan bandara, tapi mobil yang dikendarai Rangga tidak terlihat menuju rumah kediaman Anton, melainkan menuju rumah sakit tempat dimana Zahwa di rawat.
"Kita mau kemana pak, ini bukan jalan menuju rumah Zahwa dan mas Anton kan.?" tanya Nazwa bingung.
"Aku akan menghantar mu setelah kita menemui pak Anton dirumah sakit, agar mereka bisa melihat kalau kamu baik baik saja." ujar Rangga dengan sedikit melirik kearah Nazwa. Sedangkan Nazwa terlihat bengong sambil memperhatikan Rangga.
"Bapak tidak perlu melakukan ini." ujar Nazwa, namun Rangga tidak menghiraukan ucapan Nazwa, dan terus melaju menuju rumah sakit.
Satu jam melakukan perjalanan dari bandara menuju rumah sakit, akhirnya Rangga dan Nazwa sampai disana, mereka pun segera turun dan menuju kamar perawatan Zahwa.
"Assalammualaikum." ucap Nazwa dan Rangga secara bersamaan saat masuk kedalam kamar perawatan Zahwa.
"Waalaikum salam." jawab Anton dan Zahwa.
__ADS_1
"Kalian sudah kembali.?" tanya Zahwa, dan terlihat Nazwa berlari kecil mendekati saudarinya itu.
"Za, bagaimana keadaan mu.?" tanya Nazwa.
"Alhamdulillah, aku baik Na." jawab Zahwa sambil tersenyum.
Sementara Zahwa dan Nazwa mengobrol ringan, Anton dan Rangga terlihat duduk disofa sambil membicarakan hasil metting mereka selama di kota XX.
Selesai dengan obrolan mereka, Rangga berpamitan dan berniat untuk menghantar Nazwa pulang kerumah Anton.
"Za, aku pamit pulang dulu ya." ucap Nazwa.
"Hmm kamu hati hati ya."
"Iya."
Saat akan melangkah keluar, tiba tiba saja Rangga jatuh tersungkur dilantai, seketika keada didalam ruangan itu menjadi panik. Anton segera bergegas memanggil tim medis, lalu ia pun ikut menghantarkan Rangga menuju ruang UGD bersama Nazwa.
Anton yang bingung dengan kejadian itu akhirnya memutuskan untuk menghubungi Reyhan, dan memberitahukan hal yang baru saja terjadi kepada Rangga. Dan ahirnya Reyhan pun segera memutuskan untuk pergi menuju rumah sakit, setelah mendapat kabar dari Anton.
Dokter yang memeriksa keadaan Rangga pun akhirnya keluar, lalu dengan segera ia menghampiri Anton untuk memberitahukan keadaan Rangga.
"Dok, bagaimana keadaan Rangga.?" tanya Anton.
"Alhamdulillah, pak Rangga baik baik saja pak, dia hanya kelelahan, dan sepertinya ia kurang beristirahat." ujar dokter itu.
"Syukurlah kalau begitu."
"Sebentar lagi suster akan memindahkan Pak Rangga ke ruang perawatan."
"Hmm, berikan dia perawatan yang terbaik dok."
"Baik pak." jawab dokter, lalu dia pun berpamitan pergi meninggalkan Anton dan Nazwa.
"Na, mas minta tolong ya, tolong jaga Rangga sampai Reyhan datang." ujar Anton.
"Baik mas." jawab Nazwa. Lalu Anton pun pergi meninggalkan ruangan UGD, menuju kamar perawatan istrinya.
Beberapa perawat yang masih ada didalam ruangan itu pun memindahkan Rangga kedalam kamar perawatan, dan Nazwa pun terlihat segera mengikuti menuju ruang perawatan yang akan ditempati oleh Rangga.
__ADS_1