
Anton tampak masih bermalas malasan di atas tempat tidurnya, setelah melaksanakan sholat subuh ia terlihat kembali memberingkan tubuhnya lagi, ia juga menarik tubuh istrinya untuk ikut tidur kembali bersamanya, hingga akhirnya Zahwa ikut kembali terlelap dalam pelukan suaminya.
"Mas ayo bangun, biar aku siapkan sarapan ya." ucap Zahwa sambil mengguncang pelan tubuh suaminya.
"Hmmm."
Zahwa berusaha untuk bangkit dari tidurnya, namun tangan Anton masih terasa begitu erat memeluk tubuhnya.
"Mas, kalau begini aku bagaimana bisa bangun, tolong singkirkan tangan mu mas." ucap Zahwa dengan membelai lembut lengan suaminya.
"Hmm." lagi lagi hanya suara itu yang terdengar dari Anton.
Zahwa pun berusaha mengangkat tangan suaminya dan menyingkirkannya dengan pelan dari pinggangnya. Tapi saat Zahwa berusaha bangun, tiba tiba Anton pun ikut bangun dan dengan segera menghalangi tubuh istrinya yang hendak turun dari tempat tidur.
Anton mendekatkan wajahnya, tapi Zahwa malah terlihat memundurkan kepalanya, hingga tubuhnya kembali terbaring diatas tempat tidur, sedangkan wajah Anton kini berada diatas wajah istrinya itu.
"Mau kabur kemana.?'' tanya Anton, senyum nakal pun terlihat jelas di wajahnya.
"Aku ingin membuatkan sarapan untuk mas." jawab Zahwa.
"Bukannya sarapan ku sudah ada di hadapan ku saat ini." ujar Anton, ia tampak mengangkat angkat kedua alisnya.
"Mas jangan nakal." jawab Zahwa, dan Anton tertawa kencang mendengar ucapan istrinya itu.
"Aku hanya ingin sarapan sedikit saja sayang." ucap Anton lagi, lalu ia mulai menciumi tubuh istrinya.
"Disini." mencium kening istrinya.
"Disini.'' lalu mencium bibir Zahwa.
"Dan disini." terakhir mencium serta mengusap dengan lembut perut buncit istrinya itu, mendapat perlakuan seperti itu membuat Zahwa tertawa karna meradakan geli di sekitaran tubuhnya.
"Sudah mas, tolong hentikan." ucap Zahwa merasa kegelian.
"Aku hanya meminta sarapan ku sedikit saja sayang." ujar Anton lagi.
"Kalau begitu biar aku siapkan sarapan yang sesungguhnya untuk mu mas." ujar Zahwa yang terlihat mencubit lembut hidung mancung milik suaminya.
Setelah beberapa hari tidak memberikan izin kepada Zahwa untuk melakukan aktifitas rumah, kini akhirnya Zahwa kembali di beri kebebasan oleh Anton untuk melakukan kegiatannya, karna memang kondisi istrinya yang telah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Zahwa menuju lantai dasar rumahnya, lalu pergi ke dapur membuatkan susu hangat untuk dirinya dan juga Anton, ia memang sengaja tidak meminta pembantunya untuk membuatkan sarapan, karena ia masih ingin terlibat sendiri mempersiapkan segala kebutuhan Anton, meski hanya mempersiapkan sarapan saja.
__ADS_1
Setelah selesai membuat sarapan, Zahwa kembali kedalam kamarnya, ia menemukan Anton yang telah rapi dengan pakain santainya, karena ini hari minggu jadi ia hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Zahwa dirumah.
"Mas, aku sudah siapkan susu hangat untuk mu dibawah." ujar Zahwa. Anton pun menarik istrinya untuk lebih dekat kedalan peluknnya.
"Aku hanya ingin memakan sarapan dengan istriku yang cantik." ujar Anton berbisik lembut ditelinga istrinya.
"Aku harus mandi mas, jadi lebih baik mas sarapan terlebih dahulu, nanti aku akan menyusul." ucap Zahwa.
"Mas akan tunggu disini sampai kau selesai mandi." ujar Anton, lalu melepaskan tangannya yang melingkari tubuh istrinya.
Zahwa pun dengan segera masuk dan membersihkan dirinya di dalam kamar mandi, dan setelah ia selesai merapikan dirinya, mereka pun segera turun bersama untuk melakukan sarapan.
Di meja makan kedua orang tua Zahwa telah berada disana, begitu juga dengan Nazwa yang terlihat hanya memakan roti oles untuk sarapannya. Anton dan Zahwa menyapa kedua orang tuanya, dan setalah duduk di kursi mereka juga segera memakan sarapan mereka.
"Mas mau roti, atau nasi goreng.?" tanya Zahwa kepada Anton.
"Roti saja sayang." jawab Anton. Zahwa pun segera menyiapkan roti untuk suaminya.
"Zahwa!" panggil ayahnya.
"Iya ayah." jawab Zahwa.
"Nak, ayah dan ibu memutuskan untuk pulang ke kampung besok." ujar ayahnya.
"Nak ayahmu harus mengurus empang ikan kita dikampung, lagi pula waktu mu melahirkan masih cukup lama sayang." jawab ibunya berusaha menjelaskan.
"Bu, kehamilan ku sudah hampir memasuki usia tujuh bulan, jadi dua bulan itu bukan waktu yang lama." ucap Zahwa lagi dengan raut wajah sedihnya.
"Ayah dan ibu akan kemari lagi megitu mendapat kabar dirimu akan melahirkan ya." jawab ayahnya lagi.
"Baiklah yah." jawab Zahwa pasrah.
"Kalau begitu, besok biar Anton yang akan menghantar ayah dan ibu ke terminal." ujar Anton yang sejak tadi hanya terkihat diam.
"Terima kasih nak." jawab mertuanya.
"Sama sama yah."
Setelah selesai sarapan, Zahwa dan kedua orang tuanya kembali berbincang bincang di ruang keluarga bersama Nazwa, sedangkan Anton memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya di dalam kanar.
***
__ADS_1
"Ma! Mama sudah siap.?" tanya Sarah kepada mamanya, yang terlihat sedang merapihkan pakaiannya didepan cermin yang ada di dalam kamarnya.
"Iya sayang, mama sudah siap." jawab mamanya dengan tersenyum.
"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang ma, papa sudah menunggu kita diluar." ujar Sarah lagi.
"Iya sayang" lalu mereka berjalan keluar bersama sama.
Sarah dan kedua orang tuanya berniat untuk berkunjung kerumah Anton dan Zahwa hari ini, ia berfikir bahwa hari weekend adalah hari yang tepat untuk bertemu dengan Anton dan Zahwa dirumah, karena dihari weekend tentunya Anton tidak akan pergi ke perusahaannya.
Mama Sarah meminta suami dan putrinya untuk menemaninya berkunjung ke rumah Anton karena ingin meminta maaf kepada Zahwa, rasa bersalahnya masih terus saja menghantui dirinya membuatnya merasa tidak tenang jika belum menemui Zahwa untuk meminta maaf.
Di dalam mobil, Sarah dan mamanya terlihat duduk di kursi bagian belakang, sedangkan papanya berada di kursi bagian depan bersama sopir mereka. Entah apa yang sedang ia rasakan hingga mama Sarah terlihat begitu gelisah, beberapa kali ia mencoba membuang pandangannya ke arah kaca jendela mobil, mencoba untuk mengusir kegundahan dihatinya.
Sarah yang mengerti akan kegelisahan mamanya, mencoba untuk mengurangi kecemasan wanita yang telah melahirkannya itu, ia mencoba untuk mendekati mamanya dan menggenggam tangan mamanya.
"Mama kenapa, mama masih ragu untuk bertemu dengan Zahwa.?" tanya Sarah yang melihat mamanya yang tampak diam dalam lamunanya.
"Tidak sayang." jawab mama Sarah.
"Mama tenang saja ya, Zahwa adalah perempuan yang memiliki hati seperti malaikat." ucap Sarah, ia menunjukan senyum lebarnya, agar bisa mencairkan suasana hati mamanya.
"Iya sayang."
"Papa yakin sekali kebebasan mama pasti atas permintaan Zahwa." ucap papanya.
"Papa benar, aku juga berfikiran begitu pa." jawab Sarah.
"Kalau begitu mama harus mengucapkan terima kasih sebanyak banyaknya kepada Zahwa." ujar mamanya lagi, lalu Sarah dan papanya pun melempar senyuman hangat kepada mama Sarah.
Tiga puluh menit waktu yang mereka perlukan untuk menempuh perjalanan dari rumah sampai ke rumah kediaman Anton. Mereka pun segera tirun dari dalam mobil, lalu berjalan menuju kediaman mantan suami Sarah itu.
Sarah berjalan mendahului kedua orang tuanya, dan setelah sampai di depat pintu rumah, ia pun mencoba untul mengetuk pintu rumah Anton.
Tok tok tok..
"Assalam mualaikum." Sarah terdengar mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Waalaikum salam." dari ruang keluarga, Zahwa dan kedua orangnya menjawab salam yang terdengar dari luar, Meski belum membuka pintu tapi mereka masih dapat mendengar dengan jelas salam itu.
"Siapa sayang.?" tanya mamanya.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu bu, biar Zahwa lihat dulu." jawab Zahwa.
"Biar aku saja Za, duduk saja disini." jawab Nazwa, lalu ia pun berjalan menuju pintu.