Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 174


__ADS_3

Di rumah sakit tempat Rangga di rawat, seorang dokter terlihat berjalan dengan sedikit lebih cepat hendak menemui paman Rangga dan juga pak Gunawan yang saat itu terlihat sedang duduk di kursi yang ada di ruang tunggu.


Setelah ia tiba dihadapan keluarga pasien yang sedang ia tangani, dokter itu pun memberitahu kepada mereka bahwa pihak rumah sakit telah mendapatkan donor jantung yang sangat cocok untuk Rangga.


Seketika hati paman Rangga dan pak Gunawan pun menjadi sangat senang mendengar kabar gembira itu, tidak hanya terdengar dari kata-kata, tapi mereka juga menunjukan kebahagiaan itu dengan gerakan tubuh mereka.


Sungguh tidak disangka, do'a-do'a mereka akhirnya terkabulkan secepat ini, dan penantian mereka terasa tidak sia-sia, bahkan berpisah dengan keluarga pun mereka lakukan demi kesembuhan Rangga.


Usai memberitahukan kepada keluarga pasien, dokter itu pun pergi dan memerintahkan kepada suster yang ada untuk segera menyiapkan ruangan operasi untuk Rangga, karena operasi harus segera di lakukan secepat mungkin.


Paman Rangga pun berusaha untuk menghubungi istrinya dan memberitahu bahwa Rangga akan segera di operasi, setelah memberitahukan istrinya, ia dan pak Gunawan pun mengikuti suster yang segera membawa Rangga menuju ruang operasi.


Sesampainya di ruangan operasi, suster melarang paman dan juga pak Gunawan untuk ikut, dan segera menutup pintu ruangan operasi.


***


Sementara itu, di depan pintu ruang rawat putrinya, Umi Nazwa nampak tengah berdiri mematung di balik jendela kaca yang menampakkan putrinya, yang masih terbaring tak berdaya itu, air matanya kembali menetes saat ia mengingat betapa ceria dan juga periang putrinya saat bersenda gurau bersamanya.


Melihat kondisi Nazwa yang sekarang, rasanya sangat tidak mungkin untuk mengulang kembali hal-hal seperti dulu.


Meski begitu, Umi Nazwa tidak pernah berhenti untuk selalu berdo'a agar putrinya bisa segera sadar dan kembali seperti sedia kala.


"Nazwaaaa!"


Terdengar dengan sangat jelas.


"Nazwaaaa!"


Suara itu kembali terdengar untuk kedua kalinya.


Nazwa yang tertidur di alam bawah sadarnya, tiba-tiba saja ia seperti mendengar teriakkan suaminya, suara itu terdengar sangat jelas di telinganya dan terus memanggil-manggil namanya dangan berulang-ulang.


Dan di dalam mimpinya itu, ia ingin sekali menjawab panggilan Rangga, lalu mencari dimana sumber suara suaminya itu berada, namun entah mengapa Nazwa merasa bibirnya sangat susah sekali untuk di gerakkan, untuk membuka mulutnya saja Nazwa merasa kesulitan.


Karena kesal Nazwa hanya bisa menangis dan menyalahkan dirinya karena tidak dapat menjawab panggilan suaminya, ia juga berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya namun sama saja, terasa sangat sulit untuk Nazwa.


Sementara itu, dari balik kaca, Umi Nazwa dapat melihat dengan jelas putrinya itu menggerak-gerakan jemari tangannya, dan juga menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan.

__ADS_1


Menyadari bahwa putrinya sadar, Ia pun segera memanggil suaminya yang sedang duduk sambil berdzikir dengan tasbih di tangannya.


"Abi, kemari Bi." Panggil istrinya.


Abi Nazwa menghentikan dzikir nya saat mendengar panggilan istrinya, dan ia pun menoleh, lalu bangkit untuk menghampiri istrinya yang berdiri di depan ruangan putrinya.


"Ada apa Umi?" Sambil berjalan mendekat ia pun bertanya kepada istrinya.


"Abi, coba lihatlah, tangan Nazwa bergerak Bi." Ia pun berusaha memberitahu suaminya dengan tersenyum, namun air mata masih berlinang, entah itu karena kesedihannya atau kebahagiaan.


Abi Nazwa pun mendekat dan memastikan apa yang di ucapkan oleh istrinya.


"Benar Mi, Nazwa sadar mi." Ucapnya setelah memastikan dan melihat dengan matanya sendiri apa yang di katakan istrinya.


"Kalau begitu panggilkan dokter Bi." Jawab istrinya lagi, meminta suaminya untuk memanggil kan dokter yang merawat putri mereka.


"Iya Mi. " Abi Nazwa pun menjawab sambil bergegas pergi untuk mencari dokter.


Dan tidak sampai lima menit, suaminya pun kembali dengan dokter dan juga suster di sampingnya.


Setelah dokter sampai di depan ruangan ICU Nazwa, ia pun segera masuk dan memeriksakan keadaan pasiennya itu.


Dokter kembali melanjutkan pemeriksaannya dan setelah selesai dokter yang merawat Nazwa itu pun keluar untuk menemui kedua orang tua Nazwa.


"Dok, bagaimana dengan anak kami, dok?" tanya Abi Nazwa.


"Alhamdulillah anak ibu dan bapak sudah sadar, namun ia belum dapat merespon apa-apa. Ini mungkin karena syok yang dia alami saat kecelakaan." Dokter mencoba memberikan penjelasan.


"Tapi anak kami baik-baik saja kan dok?" Kali ini Umi Nazwa yang bertanya dengan penuh rasa khawatir.


"Tenang saja bu, sejauh ini atidak terjadi apa-apa dengan Nazwa, itu hanya efek dari syok yang dia alami. Tapi saran saya, tolong jangan dulu ceritakan hal-hal yang dapat kembali membuat dia syok, rahasiakan dulu sesuatu yang menyedihkan dan biarkan pasien selalu dalam keadaan bahagia, itu berguna untuk membentuk penyembuhan pasien dengan cepat." Jelas dokter kepada kedua orang tua Nazwa.


"Baik dok, kami akan mengikuti saran dokter." Jawab Abi Nazwa.


Setelah dokter selesai dengan penjelasannya, dokter pun meninggalkan kedua orang tua Nazwa yang terlihat langsung masuk untuk menemui putri mereka.


Ami Nazwa membelai lembut rambut putrinya yang tidak tertutup hijabnya itu, ia berusaha mengajak putrinya itu berbicara, namun Nazwa tidak merespon apa-apa, matanya hanya terlihat menatap kosong kearah langit-langit kamar ruangan itu.

__ADS_1


Seketika tangisan seorang ibu kembali terdengar, tak kala melihat putrinya yang hanya mematung dan tidak dapat memberikan reaksi apapun.


"Maaf Bu, tolong agar tidak membuat pasien merasa terganggu dulu ya, biarkan pasien beristirahat agar bisa kembali pulih."


Seorang suster yang tengah melepas alat medis yang tidak diperlukan Nazwa lagi, mencoba memperingati Umi Nazwa dengan lembut, ia mengerti sekali bagaimana perasaan ke dua orang tua itu, karena sudah berhari-hari mereka menunggu ke sadaran dari putri mereka.


"Umi yang sabar, yakin kepada Allah Nazwa pasti kembali seperti sediakala." Hibur suaminya, yang berusaha menenangkan.


"Dokter akan kembali lagi untuk memeriksakan keadaan pasien, jika keadaan pasien semakin membaik, maka kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan." Suster kembali memberi penjelasan kepada kedua orang tua Nazwa.


"Terima kasih nak." Jawab Abi Nazwa.


"Saya permisi dulu pak, bu." Pamit suster dengan ramah, lalu pergi keluar dari ruangan ICU Nazwa.


***


Sejak pertama masuk dan sampai saat ini, sudah terhitung hampir enam jam Rangga berada di ruangan operasi, namun belum juga ada satu pun dokter yang keluar.


Sampai akhirnya lampu indikator pun padam, dan nampak lah seorang suster keluar dari ruangan operasi dengan buru-buru pergi menuju ruang ICU.


sepuluh menit kemudian, satu persatu dokter yang ikut menangani operasi Rangga keluar dari ruangan itu, namun tidak satu pun yang memberikan penjelasan tentang keadaan Rangga kepada paman dan juga pak Gunawan yang berada di depan ruangan operasi.


Hati dan pikiran paman Rangga mulai gusar, kenapa tidak satu pun dokter menghampiri meraka dan memberikan penjelasan, hingga akhirnya dokter yang menangani Rangga juga ikut keluar.


Dengan tersenyum ramah ia berjalan mendekati kedua keluarga Rangga yang sejak lama menunggu di depan ruangan operasi. Dan senyuman dokter itu pun dapan diartikan pertanda baik oleh paman dan juga pak Gunawan.


"Bagaimana operasinya dok?" Tanya paman yang berbicara kepada dokter dengan menggunakan bahasa Inggris.


"Operasi berjalan dengan begitu baik, semua berjalan dengan sangat lancar, namun kita harus menunggu beberapa jam untuk melihat perkembangannya, apakah transfusi jantung ini dapat di terima oleh tubuh juga benar-benar bekerja dengan baik di dalam tubuh pasien, dan lagi butuh waktu dua sampai tiga bulan untuk pasien memulihkan bekas operasi, dan kembali normal seperti sedia kala."


"Syukurlah, kami sangat berterima kasih sekali dokter, anda sudah sangat banyak membantu kami." Ujar paman.


"Tidak masalah, ini sudah menjadi perkerjaan kami. Pasien akan segera di pindahkan ke ruangan ICU, karena ia perlu pantauan khusus dari kami." Jelas dokter lagi.


Setelah selesai memberikan penjelasan, dokter itu pun pergi meninggalkan Paman Rangga dan juga pak Gunawan, dan selang beberapa menit, Rangga pun di bawa keluar oleh para perawat menuju ruangan ICU.


***

__ADS_1


Hari semakin merangkak maju, setelah satu minggu kemudian Nazwa semakin hari semakin menunjukkan kesembuhannya, meski demikian hati kedua orang tuanya masih merasakan pilu yang mendalam, karena meski pun kondisi putri mereka semakin membaik, namun Nazwa menjadi pendiam dan tidak mau berbicara.


Meski dokter sudah berulang kali memeriksakan kondisi Nazwa, tetap saja dokter tidak menemukan masalah dalam tubuh Nazwa, semua kondisinya normal bahkan pita suara Nazwa pun baik-baik saja, tapi entah mengapa wanita itu tidak dapat berbicara bahkan merespon setiap ucapan


__ADS_2