
Setelah sampai dan masuk kedalam kamar yang di tunjuk oleh pamannya, Anton hanya diam mematung di tepi tempat tidur itu, ia sama sekali tidak bisa tidur dan beristirahat, karna terus memikirkan bagaimana nasib rumah tangganya dengan Zahwa.
"Za maafkan aku sayang, pulanglah bersama ku Za, aku merindukan mu." kata kata itu selalu terlontar dari bibirnya, entah sadar atau tidak namun kata kata itu sungguh tulus keluar dari dalam lubuk hatinya.
Didepan kamarnya ibu dan bibi ikut menghantarkan Zahwa yang ingin menemui suaminya itu di dalam kamar, setelah sampai di depan pintu kamar Anton, mereka pun meninggalkan Zahwa sendiri, tapi sebelumnya bu Ningsih sempat mencium kening putrinya itu, lalu sedikit memberikan pesan kepada Zahwa.
"Nak selesaikan semuanya segera, agar dirimu tidak berlarut larut tenggelam dalam dosa karna membuat suami mu menderita dan tersiksa batinnya." ucap bu Ningsih.
"Iya bu." ucap Zahwa dengan tersenyum dan mengelus pelan lengan ibunya. Semua orang pergi meninggalkan dirinya, mereka membiarkan Zahwa menemui Anton, untuk berbicara berdua, berusaha untuk menyelesaikan urusan rumah tangga mereka di dalam kamar tersebut.
Tok tok tok..
Pintu kamar Anton terketuk dari luar namun ia sama sekali tidak memperdulikannya, bahkan mungkin Anton tidak mendengar ketukan itu karna tenggelam dalam lamunannya. Zahwa yang tidak mendengar ada jawaban dan bahkan tidak melihat pintu itu terbuka, seketika memindahkan tangannya pada handle pintu, dan berniat untuk membuka pintu kamar tersebut, namun ntah mengapa seperti masih ada keraguan di dalam dirinya hingga membuat Zahwa jadi terdiam sejenak.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim." Zahwa pun memantapkan hatinnya dengan menyebut basmalah. Lalu ia pun membuka pintu kamar Anton dengan perlahan.
Ketika pintu kamar terbuka, Zahwa dapat melihat suaminya yang tengah diam mematung, dan duduk di tepi tempat tidurnya, bahkan Anton tidak bereaksi sama sekali, karna ia tidak menyadari ada yang membuka dan masuk kedalam kamarnya itu, melihat keadaan suaminya Zahwa jadi mengerti mengapa tidak ada jawaban, bahkan kenapa Anton tidak membukakan pintunya saat ia mengetuknya tadi. Zahwa melangkah masuk dengan perlahan, dan saat berada disamping suaminya, Zahwa mencoba duduk di tepi tempat tidur yang sama dengan Anton.
"Assalamualaikum." ucap Zahwa saat sudah berada dan duduk di samping suaminya, ia berusaha memecah keheningan di kamar itu.
Namun, entah mengapa sama sekali tidak terlihat reaksi dari Anton, bahkan ia sama sekali tidak bergerak dan juga tidak menyadari kehadiran istrinya itu disampingnya. Zahwa menarik perlahan tangan Anton dan berusaha menyematkan jemarinnya kedalam jari jari tangan Anton hingga menyatu dalam genggaman, perlahan lahan Zahwa mengeratkan genggaman tangannya, hingga membuat Anton terkejut dan dengan cepat menoleh kearahnya, ia melihat dan memperhatikan seksama wajah Zahwa, dan ketika Anton sudah benar benar yakin bahwa yang berada di hadapannya bukan bayangan tapi benar benar istrinya, Anton pun melepaskan genggaman tangan Zahwa, lalu dengan cepat menghambur memeluk istrinya itu.
Setelah cukup lama berada dalam pelukan Zahwa, akhirnya Anton pun melepaskan istrinya itu, dan dengan cepat ia meraih kedua tangan istrinya itu. Anton pun menciumi tangan Zahwa, dan deraian air mata yang masih terlihat mengalir pun, akhirnya membasahi kedua tangan Zahwa.
"Za, mas mohon maaf kan mas sayang." ucap Anton dengan menatap bola mata istrinya.
"Iya mas, aku akan memaafkan mu, tapi dengan satu syarat." ucap Zahwa masih menggantung.
__ADS_1
"Katakan sayang, apapun yang kamu mau mas akan lakukan." secepat kilat Anton menjawab ucapan istrinya, ia ingin segera mengetahui apa yang di inginkan istrinya itu, agar bisa cepat mendapatkan maaf dari Zahwa. Mendengar ucapan suaminya yang begitu antusian membuat Zahwa jadi tersenyum mendengarnya.
"Syaratnya adalah, mas harus mau juga memaafkan aku." jawab Zahwa. Mendengar ucapan istrinya membuat Anton kembali terharu dan lagi lagi ia menarik istrinya itu hingga jatuh kembali dalam pelukannya.
"Kenapa bicara seperti itu sayang, kamu tidak bersalah, mas lah yang selama ini sudah bersalah kepada mu Za, bahkan mas merasa pantas mendapat hukuman ini dari mu sayang." Ucap Anton.
"Tidak mas, aku juga bersalah dalam hal ini, aku ikut andil membuatmu jadi berbuat seperti itu. Dan aku juga bersalah besar kepada mu karna beberapa hari ini aku telah menelantarkan mas, aku tidak menjalankan kewajiban ku sebagai istri yang baik." jawab istrinya itu, dan bisa ia rasakan dekapan Anton terasa semakin erat kepada dirinya
"Jangan bicara seperti itu sayang, kamu adalah istri yang sempurna, mas lah yang sudah salah dan bodoh karna menyia nyiakan istri sesempurna mu selama ini, kamu bahkan masih melayani mas dengan baik meski pun mas selalu mengabaikan mu. Mas pantas mendapatkan hukuman apapun dari mu sayang, asalkan jangan pernah lagi kamu berniat untuk meninggalkan mas sendiri lagi Za. Mas tidak bisa hidup tanpa mu sayang." ucap Anton lagi, kata kata yang keluar terdengar begitu tulus dari dalam hatinya.
"Iya mas, aku memaafkan mu." ucap Zahwa dengan tersenyum.
Sejak menikah Anton tidak pernah mengucapkan kata kata manis kepadanya, bahkan ia tidak pernah memperlakukan istrinya itu dengan romantis, hubungan mereka pun terlihat masih begitu canggung selama ini. Namun ucapan Anton yang baru saja ia lontarkan, mampu membuat hati Zahwa menjadi luluh dan benar benar merasa yakin dengan pilihannya untuk kembali lagi kepada suaminya dan memperbaiki hubungan rumah tangga mereka.
__ADS_1