Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 63


__ADS_3

Di pesantren, Zahwa terlihat sedang duduk di sebuah bangku yang ada dibawah pohon rindang, ia menikmati pemandangan dan juga tingkah anak anak yang terlihat sedang bermain setelah selesai belajar di dalam kelas. Dari kejauhan Zahwa melihat saudarinya Nazwa yang terlihat berjalan mendekat kearah dirinya. Keduanya pun saling melemparkan senyuman manis mereka.


"Za, aku boleh bertanya sesuatu.?" tanya Nazwa setelah ia berada disamping Zahwa dan mendudukkan tubuhnya pada kursi yang sama, disamping Zahwa.


"Bertanyalah sesuka mu Naz," ucap Zahwa dengan senyuman lebar dibibirnya.


"Apa kamu senang berada disini.?" tanya Nazwa.


"Tentu saja, pemandangan disini sangat bagus, udarannya juga segar." jawab Zahwa, ia pun terlihat menarik nafas dalam lalu menghembuskannya pelan, menikmati udara yang begitu segar.


"Lalu kapan kamu akan kembali kerumah suami mu.?" tanya Nazwa lagi, dan Zahwa pun terlihat sedikit sedih dengan pertanyaan Nazwa.


"Apa kamu sudah tidak senang ya melihat aku disini.?" Zahwa kembali bertanya, meski ia tahu bahwa Nazwa tidak mungkin merasa keberatan dan malah senang dengan kehadirannya disana, namu tetap saja Zahwa merasa sedih dengan pertanyaan Nazwa.

__ADS_1


"Za, aku tidak bermaksud mengusir mu dari sini, tapi aku tidak ingin kamu melakukan dosa karna pergi meninggalkan suami mu terlalu lama, ingatlah Za di dalam islam sangat dilarang keras bagi seorang istri meninggalkan rumah saat terjadi sesuatu masalah dalam rumah tangganya." ucap Nazwa, ia terlihat menggenggam tangan Zahwa, berusaha membuat wanita itu menjadi tenang.


"Tapi mas Anton sudah sangat kelewatan dengan ku." ucap Zahwa yang terlihat mulai meneteskan air mata.


"Apapun yang dilakukan suami mu, semua itu pasti ada alasannya Za, tidak ada masalah yang datang tanpa sebuah alasan." ucap Nazwa lagi.


"Tapi dia sudah berusaha memberikan ku dengan seorang sahabatnya demi kebahagiaannya dengan prempuan lain, meski itu dengan mas Reyhan, orang yang pernah ada di hati ku." Zahwa merasa bahwa sekarang Nazwa sedang membela suaminya.


"Za, dia melakukan itu pasti ada alasannya, dan ingatlah Anton tidak sepenuhnya salah atas semua masalah yang terjadi dalam rumah tangga mu, karna apa.? Karna kamulah orang yang telah membawa perempuan lain hadir dalam rumah tangga mu." Nazwa berusaha menyadarkan Zahwa, dan terlihat dari raut wajah Zahwa bahwa ia tidak mau disalahkan.


"Kamu Salah Za, menurut mu tindakanmu itu sangat tepat karna kamu beralasan ingin membahagiakan suami mu, tapi kamu lupa bahwa suamimu itu hanya manusia biasa, kamu berusaha menghadirkan wanita lain katna ingin membuatnya bahagia, tapi kamu tidak mengukur seberapa kesanggupan suami mu itu untuk menjalaninya, karna berpoligami bukan lah sesuatu perkara yang mudah. Za tidak semua keinginan seseorang harus bisa terpenuhi, begitu juga dengan keinginan suami mu, tidak seharusnya kamu ikut menuruti keinginannya." Nazwa mengusap punggung Zahwa pelan.


"Tapi dia tidak pernah mencintai ku, dia hanya mencintai Sarah madu ku." Air mata pun terlihat mengalir deras dari mata Zahwa.

__ADS_1


"Za, seorang laki laki memang bisa meniduri seorang wanita tanpa harus adannya cinta, itu sebabnya lelaki bisa dengan mudah tidur dengan bergonta ganti pasangan, meski tidak semua lelaki begitu, berbeda terbalik dengan kita wanita, yang hanya akan tidur dengan laki laki yang kita cintai. Tapi jika seorang suami sudah sering melakukannya sampai membuat istrinya hamil, aku yakin meski tadinya menikah terpaksa seperti kalian, tapi pasti sudah tumbuh cinta di hatinya. Anton bukan tidak mencintai mu Za, tapi kamu yang belum memberinya kesempatan untuk menunjukan cintanya kepada mu." Ucapan ucapan Nazwa pun mampu membuat hati Zahwa menjadi luluh.


"Za, semua keputusan ada ditangan mu, tapi sebaiknya kamu fikirkan dulu sebulan mengambil suatu keputusan, karna saat ini kamu bukan harus memikirkan diri mu sendiri, namun ada janin di dalam perut mu yang butuh perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang utuh." Nazwa tersenyum sambil mengusap pelan air mata yang membasahi pipi Zahwa.


Setelahnya Nazwa pergi meninggalkan Zahwa sendiri disana, ia terlihat menemui ayahnya yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Bagai mana, apa kamu sudah berbicara dengannya.?" Tanya Ayah Nazwa saat putrinya itu sudah berada di hadapannya.


"Iya ayah, aku sudah berusaha berbicara dengan Zahwa." jawab Nazwa dengan tersenyum.


"Lalu.?" tanya ayahnya lagi. Namun Nazwa tidak menjawabnya, ia hanya terlihat mengangkat kedua bahunya, dengan senyuman di bibirnya.


Zahwa pun masuk ke dalam kamarnya, ia duduk di tepi tempat tidurnya, dan terlihat diam melamun. Zahwa memikirkan apa yang di katakan oleh Nazwa, bahwa Anton tidak sepenuhnya bersalah, keputusan Sarah untuk menolak ajakan Anton menikah dulu memang sudah tepat, namun ia lah yang telah membujuk Sarah agar mau menerima ajakan Anton, tanpa memikirkan seberapa kemampuan suaminya, Anton memang berjanji untuk bersikap adil, namun ia juga hanya manusia biasa yang bisa saja melakukan khilaf dan dosa.

__ADS_1


Begitu pun dengan semua hal yang terjadi, Anita telah menjelaskan kepadannya sebelum ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuannya, bahwa Anton melakukan ini semua karna tidak mau melihatnya menderita, harus berbagi suami dengan wanita lain, jadi ia berfikir bahwa keputusannya menyerahkan Zahwa kepada Reyhan adalah pilihan yang tepat.


"Tidak seharusnya aku merasa paling tersakiti, karna Sarah lah sebenarnya yang telah menjadi korban atas ke egoisan ku, seharusnya Sarah bisa hidup bahagia dengan pria lain, namun karna aku ingin memberikan kebahagiaan untuk suami ku, akhirnya meminta dirinya agar mau menikah dengan mas Anton dan berbagi suami bersama ku. Maaf kan aku Sarah, tidak seharusnya kamu ikut menderita seperti ini." Zahwa merasa benar benar bersalah atas situasi itu, air mata pun mulai mengalir kala ia teringat kepada madunya Sarah.


__ADS_2