Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 97


__ADS_3

Langkah kaki Anton terhenti seketika, sekujur tubuhnya terasa lemas seperti habis tersengat aliran listrik, ia menatap Zahwa dari kejauhan dengan rasa sakit dan sesak didadanya, perlahan lahan ia menapaki kakinya berusaha untuk mendekati tubuh Zahwa yang terbaring dengan darah yang bersimbah di kepalanya.


Sementara itu Mobil yang menabrak Zahwa pun melaju dengan sangat kencang, si pengendara itu pun berusaha lari dari tanggung jawabnya.


Anton mengangkat tubuh istrinya itu kepangkuannya, dan seketika tangisnya pun pecah, Anton tak henti hentinya berteriak memanggil nama istrinya, berharap Zahwa dapat membuka matanya.


Keruman manusia pun mulai terlihat, ada yang berusaha menutup matanya karna tidak sanggup untuk melihat, ada juga yang mencoba mengabadikan kejadian itu, dan ada pula yang berusaha membantu Anton mengangkat tubuh istrinya itu untuk di bawa kerumah sakit milik keluarga Wijaya yang ada di depan tempat kejadian.


Seketika keadaan rumah sakit itu pun menjadi ramai, dan sedikit tegang karna yang membawa korban kecelakaan tersebut adalah Anton wijaya, anak dari pemilik rumah sakit itu, dengan cepat para suster memberikan pertolongan kepada Anton yang sedang menggendong tubuh Zahwa, lalu membawanya ke ruang IGD, dan ada juga petugas yang segera menghubungi dokter dokter ahli yang bertugas di rumah sakit itu, untuk menindak lanjuti korban kecelakaan.


Diruang perawatan Anisa, tiba tiba ponsel Anita berbunyi, dilihatnya si penelpon adalah suster yang biasa membantunya dalam melakukan tindakan.


"Ya ada apa sus?" tanya Anita.


"Dok ada pasien yang mengalami kecelakaan dan dia dalam kondisi hamil, tolong dokter segera ke ruang IGD segera dok, karna dokter Anuwar membutuhkan dokter untuk memeriksa kandungan pasien." ujar suster itu.


"Baik sus saya akan segera kesana." jawab Anita.


"Dok, satu hal lagi." ujar perawat itu menggantung.


"Apa sus?" tanya Anita bingung.


"Yang membawa pasien kemari adalah pak Anton dok, dan beliau terlihat begitu syok, mungkin saja prempuan tersebut orang yang dekat dengan pak Anton." ujar suster itu.


"ZAHWAA." ucap Anita berteriak dengan cukup keras, ia baru menyadari bahwa adik iparnya itu menghilang dari pandangan mereka, ia pun dengan segera mengakhiri panggilan dari suster dan berusaha menanyakan keberadaan adik iparnya kepada mamanya.


"Ada apa Ta.?" tanya orang tuannya bersamaan.


"Dimana Zahwa ma.?" ucap Anita.


"Dia sedang keluar untuk menghubungi Anton, tapi sampai saat ini belum juga kembali." jawab mamanya yang juga terlihat bingung.


"Ma, suster bilang Anton membawa korban kecelakaan dalam keadaan hamil, dan ia terlihat sangat syok." jelas Anita.


"APA. Tidak mungkin Zahwa kan Ta.?" semuanya pun terlihat panik.

__ADS_1


"Aku akan menuju ruang IGD, mama disini saja dulu." ucap Anita, lalu berlari meninggalkan ruang perawatan Anisa


"Papa ikut Ta." ucap papanya berteriak dan Anita pun menoleh sambil menganggukan kepalanya.


Anita segera berlari menuju ruang IGD bersama papanya, dan saat mereka sampai disana, Anita dan papanya pun melihat Anton yang terlihat begitu panik mondar mandir di depan ruang tindakan.


"Anton." teriak Anita.


"Kak." ujar Anton segara menghampiri kakaknya.


"Apa yang terjadi." ucap papanya yang terlihat begitu terkejut karna darah yang menempel di baju dan juga lengan putranya itu.


"Kak, tolong selamatkan Anak dan istriku, mereka adalah sumber kehidupanku ka." ucap Anton dengan bersimpuh dihadapan Anita.


"Apa maksud mu, ada apa ini An, kenapa dengan Zahwa.?" Anita dan papanya memberi pertanyaan bertubi tubi, dan mereka pun terlihat panik.


"Zahwa mengalami kecelakaan tambrak lari." jelas Anton terbata bata.


"Apa.?" teriak Anita. Seketika Anita berlari masuk keruang IGD, ia pun ikut menangani adik iparnya itu dengan dokter lain dan juga para suster.


"Bangun nak, kita do'a kan istrimu agar di beri keselamatan oleh allah." ujar pak Gunawan berusaha memberi kekuatan kepada putranya.


***


"Gila lu jeng, kalau sampai terjadi apa apa sama tu perempuan gimana? Aku gak mau ya sampai di bawa bawa dalam masalah hukum kalau sampai kamu ketangkep." ujar seorang perempuan paruh baya dengan penik.


"Berisik, aku juga gak sengaja, tadi aku pikir gak bakal separah itu jadinya, aku cuma mau kasih dia pelajaran dikit." ujar mama Sarah yang juga terlihat panik.


"Pokoknya lu jangan pernah bawa bawa aku kalau sampai ketahuan polisi, aku gak mau di penjara, apa lagi tadi lu bilang kalau dia menantu dari keluarga Gunawan Wijaya, mereka pasti tidak akan tinggal diam." ujar perempuan itu lagi.


"Ahh, semoga saja tidak ada yang melihat kejadian itu, apa lagi sampai mengenali mobil ini." ucap mama Sarah berusaha menenangkan dirinya.


***


Mama Melinda pun sudah tampak hadir disana, air matanya tak henti hentinya mengalir membasahi pipinya. Ia terlihat merangkul Anton dan memcoba memberi semangat dengan kata kata lembutnya kepada Anton.

__ADS_1


"Kak, gimana keadaan Zahwa.?" ujar Anton, yang langsung berdiri dan menghampiri kakaknya itu saat Anita baru saja terlihat keluar daru ruang IGD,


"An, Zahwa banyak sekali mengeluarkan darah dari kepalanya, dan karna keadaannya kini kritis jadi dokter Anwar menyarankan untuk melakukan oprasi segera kepada Zahwa, agar tidak terjadi kelumpuhan otak, yang bisa lebih membahayakan nyawa istrimu" jelas Anisa.


"Kritis.?" bak tersambar petir di siang hari, mama Melinda begitu terkejut mendengar ucapan anaknya itu.


"Lakukan kak, laku kan apa saja agar bisa menyelamatkan istri ku." ujar Anton.


"Tapi jika harus dilakukan operasi, resikonya juga sangat besar." ujar Anita lagi.


"Maksud mu nak.?" mama Melinda terlihat mendekat dan bertanya kepada putri sulungnya.


"Kandungan Zahwa sangan lemah ma, mungkin ini karna kondisi Zahwa yang juga makin lemah. Jika harus dilakukan operasi maka kemungkinan bayi Zahwa tidak dapat diselamatkan." ujar Anita mencoba menjelaskan.


Anton makin terpukul mendengar ucapan kakaknya barusan, seketika sekujur tubuhnya terasa begitu lemas kembali, dan ia hampir saja jatuh kelantai. Dengan segera Anita, papa dan mamanya berusaha menopang tubuh Anton, lalu membawanya duduk di kursi tunggu.


"Lalu apa yang harus dilakukan agar bisa menyelamatkan mereka nak.?" tanya mamanya yang juga terlihat makin deras air matanya.


"Operasi harus tetap dilakukan ma, agar bisa menyelamatkan nyawa Zahwa, karna kalau tidak dilakukan kemungkinan keduanya yang tidak akan selamat, atau mungkin saja Zahwa akan mengalami kelumpuhan. Tapi kami juga tidak bisa memastikan kalau bayinya juga bisa selamat, saat menjalani operasi." ujar Anita, yang juga sudah terlihat menangis dihadapan orang tuanya itu.


Semuanya tampak terdiam, namun suara isak tangis masih terdengar cukup jelas.


"Selamatkan istri ku kak, aku mohon kepada mu." ucap Anton yang terlihat begitu lemas.


"Kamu sudah ikhlas.?" ucap Anita lagi.


"Iya kak, aku sudah ikhlas bahkan aku sanggup bertukar nyawa asal istri ku bisa diselamat." ucapnya lagi, air mata yang mengalit terasa begitu menyakitkan kali ini bagi Anton.


"Tolong selamatkan menantu mama nak." ujar mama Melinda lagi dengan menangis sesengukan.


"Baik ma, aku akan berusaha sebisa ku untuk menyelamatkan keduanya. Aku minta restu papa dan mama, dan jangan pernah berhenti untuk mendo'akan kami." ujar Anita, lalu menghamburkan diri memeluk mamanya.


"Mama selalu merestui mu nak, mama akan memehon kepada Allah agar operasi Zahwa berhasil, dan kamu juga bisa menyelamatkan cucu mama." ujar mama Anton.


"Ini permintaan pertama papa nak, dan papa mohon selamatkan mereka." ucap pak Gunawan menimpali, lalu di jawab Anggukan oleh Anita.

__ADS_1


"Insya Allah, Anita dan dokter dokter lainnya akan berusaha menyelamatkan mereka." ucap Anita lagi.


Ia memberikan ciuman hangatnya tepat di kepala adiknya itu, mencoba memberikan kejuatan kepada Anton, lalu ia pun kembali masuk keruang IGD dan memerintahkan para suster untuk mempersiapkan ruang operasi.


__ADS_2