Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 96


__ADS_3

Zahwa dan mertuanya segera menuju ruang bersalin, dan mereka sempat menemui Anisa disana.


"Ma." sapa Anisa yang langsung mengulurkan tangannya dan mencium tangan orang tuanya itu.


"Kamu harus kuat ya sayang, Allah pasti akan melancarkan persalinan mu." ucap mamanya lalu mencium pipi kiri kanan putrinya itu.


"Aamiin." jawab Anisa.


"Za, do'a kan kakak ya." ucap Anisa pada Zahwa dengan tersenyum." iya kak pasti jawab Zahwa.


"Sus bawa Anisa kedalam." ucap Anita memerintahkan para suster.


"Baik dok." jawab mereka lalu membawa Anisa kedalam ruang bersalin.


"Ma, mama tenang saja ya, aku akan pastikan Anisa baik baik saja." ucap Anita yang melihat wajah mamanya berubah menjadi sangat menghawatirkan adiknya itu.


"Iya nak." jawab mamanya, lalu Anita pun masuk dan mengajak suami Anisa untuk mendampingi istrinya didalam.


Anisa memilih jalan melahirkan dengan cara normal seperti Anita, dan sama sekali tidak mau di caesar meski akan terasa sakit, karna dia ingin benar merasakan menjadi seorang ibu seutuhnya, yang bisa melahirkan secara normal dan menyusui anaknya dengan asi eksklusif.


Setelah hampir setengah jam berada di dalam ruang persalinan, akhirnya keheningan dan kecemasan dipecahkan karna terdengar suara tangis bayi dari dalam sana.


"Alhamdulillah." ucap Zahwa dan mama mertuanya secara bersamaan.


Mereka yang sedari tadi duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang persalinan itu, berdiri dan menghampiri pintu ruang bersalin, mereka berusaha melihat dari kaca yang berukuran kecil di pintu ruangan itu.


"Ma, itu bayinya lucu banget." ucap Zahwa yang bisa melihat anak Anisa sedang di bersihkan oleh perawat.


"Iya sayang." jawab mertuanya.


Setelah bayi itu dibersikan dan di pakaikan kain bedongnya, suami Anisa pun segera mengAzani anak mereka, dan membawanya keluar untuk menemui sang nenek.


Dengan senang hati sang nenek menyambut dan menggendong cucunya, lalu menghujani bayi mungil itu dengan ciuman.

__ADS_1


"Subhanallah ma, bayi kak Anisa cantik sekali." puji Zahwa.


"Iya sayang, hidungnya dan bibirnya persis skali dengan papanya." ucap mama Melinda, dan itu membuat suami Anisa tersenyum mendengarnya.


"Anita, bagaimana keadaan Nisa sayang?" tanya mamanya yang melihat anak Sulungnya itu keluar dari ruang bersalin.


"Alhamdulillah Nisa baik baik saja ma, suster akan memindahkannya ke ruang perawatan, kalau keadaannya sudah benar benar setabil, nanti sore juga sudah boleh pulang." ujar Anita.


Anisa pun di pindahkan ke ruang perawatan, di sana pak Gunawan juga sudah tampak hadir dan segera melihat cucu keduanya itu.


"Ma, aku keluar dulu ya mau telpon mas Anton" ucap Zahwa kepada mamanya.


"Iya sayang."


Zahwa pun keluar ruang dan mencoba menghubungi Anton dengan ponselnya.


"Assalammualaikum Sayang." ucap Anton.


"Waalaikum salam mas. Mas kapan ke rumah sakit? Kak Anisa sudah melahirkan, bayinya cantik sekali." ujar Zahwa.


"Oh iya mas, hati hati ya mas." ucap Zahwa lagi.


"Iya Sayang."


"Assalammualaiku."


"Waalaikum salam''


Tanpa terasa ternyata Zahwa berdiri cukup jauh dari ruang perawatan Nisa, karna sejak tadi rupanya ia berbicara dengan suaminya dengan berjalan tidak sadar, hal itu membuat Zahwa jadi tersenyum sendiri dengan tingkahnya.


Saat berusaha memasukan kembali ponselnya kedalam tas yang ia baws, tanpa sengaja seseorang menabrak dirinya, dan membuat ponselnya terjatuh.


"Maaf, maaf saya tidak sengaja." ucap Zahwa, meskipun jelas bukan dia yang salah. Zahwa berdiri lagi saat telah memungut ponselnya yang terjatuh.

__ADS_1


"Kamu.?" ucap seorang prempuan yang ternyata mamanya Sarah, dia bersama seorang prempuan yang sebaya dengannya, sedang memeriksakan kesehatan mereka yang dilakukan rutin.


"Tante." ucap Zahwa juga merasa terkejut, iya berusaha menyalimi prempuan itu, namun tangannya ditepis oleh mama Saah.


"Apa kamu mengenalinya jeng?" tanya prempuan satunya.


"Tentu saja, asal kamu tau jeng, dia ini seorang pelakor, yang sudah merebut suami Sarah, dan membuat anakku kini menjadi janda." ucap mama Sarah, dengan raut wajah marahnya.


"Wah cantik cantik tetnyata pelakor ya, percuma dong pakai hijab gini." jawab teman mamanya Sarah sinis.


"Maaf tante, tante jangan sembarangan kalau berbicara, saya tidak pernah merebut mas Anton dari Sarah, karna saya adalah istri pertama mas Anton, dan bukan saya yang meminta mereka untuk bercerai." ucap Zahwa berbicara berusaha menjelaskan dengan air mata yang sudah mulai jatuh berlinang di pipinya.


"Alah, itu semua akal akalan kamu saja kan, kamu berusaha membujuk sarah agar mau menikah dengan Anton, lalu kamu juga yang menyebabkan perceraian itu terjadi, biar terkesan putriku lah yang bersalah, licik kamu." ucap mama Sarah dengan seenknya.


"Saya tidak pernah punya pikiran seperti itu tante." jawab Zahwa.


"Sudahlah saya tau apa yang ada di fikiran kamu, sekarang kamu senangkan sudah membuat putriku menjadi janda, dan kamu orang yang dulu hidup miskin kini menjadi istri seorang pengusaha kaya. Dasar pelakor." ucap mama Sarah.


"Cukup tante, meski pun saya orang miskin, tapi saya tidak serendah itu, saya masih punya harga diri." hati Zahwa makin terasa sakit mendengar ucapan mama Sarah.


"Sudah jeng ayo kita pergi, malu tuh diliatin banyak orang." ucap temannya dan berusaha membawa mama Sarah pergi dari hadapan Zahwa.


Sementara itu, Zahwa masih menangis mendengar semua ucapan yang di lontarkan kepadanya, hatinya begitu sakit dan air mata pun tak dapat ia tahan, Zahwa pergi dari sana karna menahan rasa malunya, ia pun berniat untuk pergi dari rumah sakit itu.


Zahwa yang berjalan dengan perasaan sedih tanpa sadar kini telah berada di tengah jalan, dan tanpa sadar sebuah motor hampir saja menabrak dirinya.


"Mba kalu jalan hati hati dong." teriak si pengendara itu.


Zahwa pun tersadar dari lamunanya, dan meminta maaf kepada pengendara motor itu. Dengan cerat Zahwa berusaha menyeberangi jalan karna tanpa ia sadari dia sudah berada di tengah jalan.


"Itukan Zahwa, kenapa dia ada disana.?" ucap Anton yang juga sudah berada di sana, ia segera turun dari mobilnya dengan perasaan khawatir dan berusaha menghampiri istrinya yang berada di tengah jalan.


"Zahwa awas Sayang." teriak Anton dan,

__ADS_1


Bruk..


Zahwa yang sedang berusaha menepi, seketika menoleh mendengar panggilan suaminya, hingga tanpa dengaja sebuah mobil menyenggol tubuh Zahwa, dan membuatnya tersungkur dengan kepalan mengenai trotoar pinggir jalan.


__ADS_2