
Seminggu setelah kepulangannya kerumah, Rangga kembali mendatangi rumah sakit tempatnya menjalani pengobatan untuk melakukan cek up, memeriksakan kembali keadannya.
Dengan ditemani Nazwa dan juga tante Rita, mereka pun berangkat dihantarkan oleh sopir yang bekerja di rumah itu.
Setelah memeriksa keadaan Rangga, dokter pun mengatakan bahwa keadaan Rangga sudah cukup membaik dihadapan semuanya, dan menyarankan agar Rangga cukup istirahat dan mengurangi beban fikirannya, karena itu akan berpengaruh pada kesehatan jantungnya.
Tenta Rita menghantar Nazwa dan Rangga menuju mobil yang ada diarea parkir rumah sakit, dan menyuruh mereka agar pulang terlebih dahulu, sedangkan tante Rita menuju ruangan dokter kembali untuk menemui dokter yang menangani Rangga di ruangnya. Tapi ia beralasan ingin singgah ke rumah sahabatnya.
"Nazwa, Rangga, tante berniat untuk singgah ke rumah teman tante, jadi sebaiknya kalian pulang duluan saja ya." ujar tante Rita.
"Tante, kan bisa dihantar sopir sekalian." jawab Rangga memberikan saran.
"Tidak perlu, kita berlainan arah, nanti kalian jadi kelamaan dijalan, lagi pula dokter menyarankan kamu untuk banyak istirahat sayang." jawab tante Rita.
Meski wajahnya tersenyum, namun tante Rita menyimpat pertanyaan besar yang masih ia tutupi. Diam diam dokter itu meminta tante Rita untuk menemuinya kembali, karena ada suatu hal yang harus ia sampaikan.
"Baiklah tante." jawab Rangga.
"Hati hati sayang." tante mengusap lembut lengan Nazwa yang terlihat masuk kedalam mobil.
Setelah memastikan mobil yang membawa Rangga dan Nazwa benar benar telah jauh dan tidak lagi tampak oleh matanya, tante Rita dengan segera masuk kembali ke dalam rumah sakit, dan menuju ruangan dokter yang menangani Rangga.
"Maaf menunggu lama dok." tante Rita masuk kedalam ruangan dokter setelah dipersilahkan masuk.
"Tidak apa apa bu, silahkan duduk." dokter kembali mempersilahkan.
Tante Rita duduk di kursi yang ada di depan meja dokter itu, dengan perasaan yang khawatir, beberapa pertanyaan telah menghiasi isi kepala tante Rita.
"Ada apa dokter meminta saya menemui dokter, ini pasti ada hubungannya dengan Rangga kan dok?" tante Rita mulai mencecar dokter dengan pertanyaan pertanyaannya.
Dokter itu terlihat mengambil nafas, lalu ia mencoba membetulkan posisi kacamatanya, lalu mulai berbicara kepada tante Rita.
"Saya tidak tahu ada masalah apa dengan kehidupan Rangga, tapi kondisi Rangga sebenarnya tidak semakin membaik."
Dokter memberikan penjelasan.
__ADS_1
"Maksud dokter?" tante Rita mulai terlihat bingung.
"Kondisi Rangga saat ini menunjukan bahwa ia sepertinya sedang tertekan, detak jantungnya semakin melemah, dan semakin memburuk. Saya hanya menyarankan agar ia tidak terlalu banyak berfikir, karena keadaan seperti ini, bisa saja memperpendek usianya." jelas dokter.
"Tapi saya rasa Rangga baik baik saja dok, tidak ada masalah, rumah tangganya pun baik, saya lihat mereka juga tidak pernah bertengkar, bahkan ia sudah tidak bekerja lagi untuk saat ini, agar tidak memperburuk kondisinya." jawab tante Rita yang masih bingung.
"Kalau begitu ibu harus mencari tahu ada masalah apa dengan Rangga, karena hasih pemeriksaan tidak dapat berbohong, dan melihat kondisi Rangga sekarang, jelas sekali bahwa ia tidak sedang dalam keadaan baik." jawab dokter lagi.
"Baik dok, saya akan berusaha bertanya kepada Rangga pelan pelan, saya yakin dia pasti akan cerita kepada saya." jawan tante Rita, dokter pun menganggukan kepalanya.
Tante Rita pulang dengan rasa sedih sekaligus bingung, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tante Rita merasa keadaan di rumah semuanya baik baik saja, tapi kenapa kondisi Rangga bisa semakin memburuk?
Sesampainya dirumah tante Rita mencari Rangga di dalam kamarnya, namun ia tidak menemukan keponakannya itu, ia terus mencari Rangga keruangan lainnya, tapi masih belum menemukannya. Tante Rita pun pergi menuju taman yang ada di belakang rumahnya, tempat biasanya Rangga suka menghabiskan waktunya sambil mengerjakan pekerjaan kantor.
Dan benar saja, tante Rita melihat Rangga yang tengah duduk seorang diri disana, termenung melihat ke arah tanaman bunga bunga yang terlihat begitu cantik.
Tante Rita pun mendekatinya, dan dari kejauhan tante berusaha membuat Rangga sadar akan kehadirannya, agar Rangga tidak terkejut dengan kehadiran tante Rita yang tiba tiba, karena itu bisa membahayakan Rangga.
Rangga yang mendengar langkah kaki, segera menoleh untuk melihat, begitu ia tahu siapa yang sedang berjalan mendekatinya, Rangga langsung melemparkan senyuman sambil bertanya.
"Iya, sayang sekali yang ingin tante temui ternyata sedang tidak berada di rumahnya." jawab tante yang memberi alasan palsu, bibir tante Rita bergetar, karena tidak mampu berbohong kepada keponakannya itu.
"Dimana Nazwa?" tante terus berjalan sambil mendekati Rangga, dan ikut duduk di kursi panjang yang sama dengan Rangga.
"Sedang memasak, membuatkan bubur." jawab Rangga.
"Ohh." tante Rita menjawab singkat, lalu ia pun terdiam sejenang, mencoba berfikir untuk mencari kata kata yang tepat untuk mencari tahu masalah Rangga.
Karena tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya, akhirnya tante Rita pun membuka suara dan mulai berbicara kepada keponakannya itu.
"Rangga, tidak baik menyimpan masalah sendiri, aku sudah menganggap mu seperti anak ku sendiri, jadi aku tidak akan mungkin membiarkan mu kesusahan, dan menanggung beban sendiri." tante Rita menatap Rangga dalam, air mata masih ia coba untuk menahannya.
Seketika Rangga tersentak dengan ucapan bibinya itu, Rangga pun menoleh lalu melihat wajah wanita yang telah ia anggap sebagai ibunya itu dengan penuh keharuan. Rangga tersadar bahwa selama ini tante Rita salah satu orang yang paling dekat dan peduli kepadanya, jadi bagaimana mungkin tante Rita tidak tahu kalau ia sedang dalam kesedihan.
"Tante, aku baik baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan, tante bisa lihat sendirikan aku sedang bahagia sekarang." Rangga masih mencoba untuk tidak membuat tantenya khawatir.
__ADS_1
"Kamu memang bisa bicara seperti itu sayang, tapi kamu lupa bahwa kamu tidak pandai bohong kepada tante. Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan mu sayang?" tante Rita tidak ingin menyerah dan terus mencari jawaban dari Rangga.
"Mana mungkin aku tidak bahagia tante, tante tahu sendiri bukan, kalau Rangga sangat mencintai Nazwa, dan hanya Nazwa yang bisa membut aku merasa nyaman." Rangga pun terus berusaha membuat tantenya itu percaya.
"Rangga, kesedihan terbesar dalam hidup tante adalah, ketika kehilangan kedua orang tua tante, dan juga kedua orang tua mu. Setiap kali melihat wajahmu tante selalu teringat akan mendiang ibu mu, tante selalu berjanji kepada diri tante untuk menjaga kamu dengan baik, agar ibu mu tenang melihat mu bahagia disini." tante Rita mulai tidak bisa lagi membendung air matanya, yang akhirnya tumpah dihadapan Rangga, melihat reaksi tantenya, Rangga pun ikut bersedih dan merasa bersalah kepada tante Rita karena sudah bersikap tidak jujur padanya.
"Tante bahagia sekali bisa merawat kamu sampai sekarang, dan melihat mu menikah dengan orang yang kamu cintai. Tapi tante akan bersedih jika kamu mulai menjaukan diri dan menanggung beban mu sendiri, karena itu akan membuat tante merasa kehilangan darimu." tante Rita pun mulai terisak.
Rangga menggenggam tangan orang yang telah menjaganya dengan baik saat kehilangan ibunya itu, melihat tante Rita menangis, Rangga pun ikut meneteskan air mata.
"Rangga minta maaf tante, Rangga tidak bermaksud untuk menyembunyikan apapun dari tante, Rangga hanya tidak ingin membebani tante terus menerus." jawab Rangga.
"Sejak kapan tante menganggap kamu sebagai beban?" tante Rita menatap dalam keponakannya itu, seolah tidak menerima jika Rangga mengatakan bahwa dirinya adalah beban keluarganya.
"Bicaralah yang jujur kepada tante." tante Rita sangan berharap agak Rangga terbuka dengannya.
Rangga pun terdiam sejenak, ia mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, Rangga masih menggenggam tangan tante Rita, lalu menoleh melihat tante Rita dan mulai berbicara.
"Aku hanya merasa bahwa diriku ini terlalu egois tante." Rangga menghentikan ucapannya sejenak.
"Egois?" tante Rita tidak bisa mengerti dengan ucapan Rangga.
"Aku menerima Nazwa untuk menikah begitu saja tanpa memikirkan masa depannya." jawab Rangga.
"Maksud mu?" tante Rita masih tidak mengerti.
"Tante, cepat atau lambat aku pasti akan meninggalkan Nazwa dengan setatus sebagai seorang janda, dan saat itu terjadi, bagaimana dengan nasibnya kedepan? Masihkah ada pria diluar sana yang akan menerima dirinya dengan baik?" Rangga meneteskan air mata kesedihanya.
Seketika tante Rita menarik Rangga kedalam pelukannya, lalu mengusap lembut punggung Rangga, mencoba untuk menghibur dan menenangkan fikiran Rangga yang mengganggu kesehatanya. Tante Rita melepas pelukannya, mengusap air mata kesedihan Rangga.
"Kamu harus yakin bahwa kamu akan sembuh, dan hidup bahagia dengan Nazwa, tante akan melakukan apapun untuk kesembuhanmu." ujar tante Rita.
"Terima kasih tante. Rangga sudah menerima apapun ketentuan Allah untuk diriku, aku hanya ingin meminta, jika suatu hari nanti aku pergi, tolong jaga Nazwa dan perlakukan istriku seperti tante memperlakukan aku selama ini dengan baik." ujar Rangga.
"Itu pasti sayang, kamu tidak perlu fikirkan itu." jawab tante Rita, lalu menarik Rangga kembali kedalam pelukannya.
__ADS_1