
Keluarga silih berganti datang untuk melihat keadaan Rangga yang telah sadar paska operasi, dan di hari kedua setelah siuman Rangga pun di pindakan keruang rawat.
Kedua orang tua Nazwa tampak disana menjenguk Rangga, dan sekalian mereka pun akan berpamitan untuk pulung ke kampung karena merasa keadaan Rangga yang sudah semakin membaik.
"Nazwa, abi dan umi berencana untuk pulang ke kampung besok pagi." ujar uminya kepada Nazwa.
"Kenapa buru buru sekali umi, tinggalah disini sebentar lagi." jawab Nazwa sedikit memelas.
"Nazwa, abi tidak bisa berlama lama untuk meninggalkan pesantren, dan lagi pula keadaan Rangga kan sudah semakin membaik." jawab abinya.
"Lain kali umi akan ke Jakarta lagi untuk menjenguk kalian." ujar uminya.
"Iya umi." jawab Nazwa. Dia memang wanita yang terlihat begitu mandiri diluar sana, tapi jika di dekat kedua orang tuanya, Nazwa adalah seorang anak perempuan yang sangan manja kepada abi dan uminya.
Melihat tingkah Nazwa membuat Rangga yang sejak tapi mendengar percakapan kedua metua dan istrinya itu merasa lucu, tapi ia juga merasa kasiha dengan Nazwa yang akan ditinggal pulang kampung oleh kedua orang tuanya.
"Tidak perlu bersedih." ujar uminya lagi sambil membelai kepala putrinya itu.
"Sekarangkan ada aku, yang akan selalu bersama kamu." ujar Rangga dengan manis, ia juga mencoba menggenggam tangan istrinya yang tengah berdiri disamping tempat tidurnya itu.
"Rangga benar, jangan sedih seperti itu, pengantin baru harua selalu ceria." jawab uminya menggoda Nazwa dengan sebutan pengantin baru, membuat Nazwa tersipu malu.
"Sudah mi kasihan Nazwa, lihat saja wajah putri mu itu, memerah karena menahan malu." jawab abinya yang ikut tersenyum mendengar ucapan istrinya.
"Umiii.." Nazwa semakin menundukan kepalanya karena malu, dan ibunya pun menyadari bahwa putrinya sedang merasa sangat malu.
Setelah cukup lama disana, kedua orang tua Nazwa pun memutuskan untuk pulang, dan sekali lagi mengatakan bahwa mereka akan segera pulang kampung.
__ADS_1
***
Hari demi hari pun mulai di lewati Nazwa dengan merawat suaminya itu dengan baik, setiap harinya tante Rita akan datang untuk membesuk dan menghantarkan makanan juga pakaian untuk Nazwa, ia melarang Nazwa untuk terlalu sering membeli makanan diluar dengan alasan kesehatan, dan memilih untuk memasak sendiri lalu menghantarnya kerumah sakit untuk Nazwa.
Setelah menjadi istri Rangga, Nazwa juga memang tidak lagi berkerja di perusahaan Anton, karena dirinya memang harus fokus menjaga Rangga. Meski begitu Nazwa tetap akan diterima kapan saja ia ingin kembali bekerja.
Begitu juga dengan Rangga, perusahaan bahkan membiayai semua pengobatan yang di lakukan untuk Rangga, mengingat kerja keras dan juga pengabdian Rangga yang telah ia lakukan selama ini untuk membuat perusahaan Anton lebih maju.
Setalah satu bulan menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya Rangg pun di izinkan dokter untuk pulang kerumah, namun harus tetap melakukan cek up satu minggu sekali, sampai dinyatakan benar benar sembuh.
Reyhan terlihat menjemput Rangga dan Nazwa di rumah sakit, setelah mengurus administrasi dan segala sesuatunya, mereka pun menuju mobil yang terparkir di bawah pohon rimbun yang ada di area parkir itu.
Reyhan mendorong kursi roda yang dinaiki oleh Rangga, karena kondisinya yang masih belum setabil membuat Rangga harus memakai kursi roda itu untuk menuju mobil. Reyhan membantu Rangga masuk kedalam mobil, dan setelah memastikan semuanya telah berada di dalam mobil, ia pun segera melajukan kendaraannya itu keluar dari area rumah sakit dan menuju rumah mereka.
Tante Rita yang tidak ikut menjemput Rangga, mempunyai rencana sendiri untuk menyambut kedatangan keponakan dan istrinya itu. Selain ia membuat beberapa menu makanan sehat dengan pembantunya, ia juga merapihkan dan mengganti gorden dan sperei yang ada di dalam kamar Rangga, untuk membuat suasana menjadi lebih baik saat Rangga masuk kedalam kamarnya itu.
Rangga pun langsung di bawa menuju ke dalam kamarnya, dan saat tiba di dalam kamar itu, senyum Rangga tampak menghiasi wajahnya.
"Aku sudah sangat merindukan tempat ini." ucap Rangga dengan suara pelan namun masih dapat di dengar oleh yang lain.
"Tante tau itu." jawab tante Rita dengan tersenyum.
Setelah membantu Rangga berbaring di atas tempat tidurnya, tante Rita pun keluar untuk mengambilkan bubur yang telah ia buat untuk keponakannya itu, lalu membantu Rangga untuk memakan bubur.
"Nazwa, tante dibantu bibi sudah masak makanan untuk kita, setelah kamu mandi nanti kita makan bersama ya." ujar tante Rita.
"Terima kasih tante." jawab Nazwa.
__ADS_1
Nazwa segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dan setelah selesai ia pun segera keluar dan mendapati ruangan itu telah sepi, hanya terlihat Rangga yang berbaring di tempat tidurnya.
"Tante dan yang lain sudah menunggu di bawah." ujar Rangga.
"Iya mas." jawab Nazwa.
Setelah mengenakan jilbab instannya, Nazwa pun berpamitan dengan Rangga, lalu turun kebawah untuk makan bersama di meja makan dengan yang lainnya. Ini untuk pertama kalinya Nazwa makan dirumah itu sebagai menantu di dalam rumah keluarga Reyhan, kecanggungan diatas mejah makan tampak jelas terlihat, namun tante Rita yang menyadari kecanggungan Nazwa, segera membuat suarana menjadi hangat dan ceria.
Hari pun berlalu, malam yang dingin datang menyelimuti kulit. Untuk pertama kalinya Nazwa naik keatas tempat tidur suaminya, dengan wajah merona Nazwa mencoba untuk menyembunyikan rasa malu yang tengah menerpa dirinya.
Maklum saja, meski sudah menjadi istri Rangga selama satu bulan, namun malam ini adalah malam pertamanya tidur satu tempat tidur bersama lelaki yang telah menjadi suaminya itu.
"Kamu belum tidur?" Rangga bertanya saat ia mendapati Nazwa yang tampak masih duduk bersandar diatas tempat tidur Rangga.
"Mas sendiri belum tidur?" Nazwa balik bertanya kepada suaminya.
"Kalau begitu ayo tidur." jawab Rangga. Lalu Nazwa pun menganggukan kepalanya, dan merebahkan tubuhnya.
Nazwa memejamkan matanya, dan seketika ia pun mulai lelap dalam tidurnya. Mungkin karena terlalu lelah setelah berhari hari menjaga suaminya, Nazwa pun tertidur dengan begitu cepat dan pulas, sampai sampai ia tidak menyadari bahwa ia telah merubah posisi tidurnya menghadap Rangga yang sebenarnya masih belum bisa tertidur.
Saat melihat wajah cantik milik istrinya, Rangga pun menggerakkan tangannya menyentuh dengan lembut wajah Nazwa, dan memandangi setiap lekukan wajah wanita miliknya itu. Seketika fikiran Rangga menjadi kalut, perasaan perasaan aneh menerpa dirinya, bahkan timbul pertanyaan pertanyaan yang aneh di dalam dirinya.
Bagaimana bisa aku menerima keingan mu untuk menikah tampa memikirkan masa depan mu. Ya Allah, apa aku ini laki laki yang begitu jahat, suatu hari entah itu esok atau nanti aku pasti akan pergi, aku akan meninggalkan wanita yang sangat aku cintai ini, dan kehidupannya akan menjadi kelam karena menyandang setatus janda, kenapa aku tidak memikirkan ini sebelum menerima permintaannya untuk menikah?
Rangga mulai dihantui rasa bersalahnya, dalam diam ia menangis, ia tidak bisa membuat wanita yang ia cintai ini kehilangan masa depannya setelah ia tinggalkan pergi, perasaan bersalah itu pun mulai menyiksanya.
Rasa sesak mulai dirasakan kembali oleh Rangga, mungkin karena ia terlalu tertekan oleh perasaan bersalahnya. Rangga seharusnya tidak boleh tertekan perasaan begitu, mengingat kondisinya yang masih belum stabil, ia pun memejamkan matanya mencoba untuk tidur agar mengurangi rasa sesak yang ia rasakan
__ADS_1