
Setelah memadu cinta mereka, Anton pun menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya, begitu pula dengan Zahwa, ia terpaksa harus mandi kembali untuk membersihkan dirinya karna akan melaksanakan sholat maghrib.
Setelah mereka sholat maghrib, Anton dan Zahwa pun menuju meja makan. Zahwa menyiapkan makanan untuk suaminya dan ia sendiri terlihat sedang menyiapkan batagornya. Makanan itu terasa sangat nikmat sekali bagi Zahwa, mungkin karna ia sedang mengandung, setelah makan batagor Zahwa pun mulai menusuk dan memakan rujak buahnya, dan Anton pun terlihat ikut memakan rujak buah itu setelah selesai makan malam. Anton merasa sangat senang sekali melihat istrinya itu sangat lahap memakan makanan pembeliannya.
Setelah selesai makan dan juga sholat isya, Zahwa dan Anton membaringkan tubuh mereka ke atas tempat tidur. Anton terlihat memandangi wajah Zahwa terus menerus membuat istrinya itu tersipu malu karna merasa selalu di pandangi oleh suaminya.
Makin lama wajah Anton semakin mendekat ke wajah Zahwa, dan akhirnya ia mencium mesra kening istrinya itu, lama kelamaan ciuman itu turun kebawah dan berhenti di bibir Zahwa, Anton ******* habis bibir istrinya itu dengan lembut. Anton merasa seperti orang yang pertama kali sedang jatuh cinta, ia ingin kembali mengulangi pertarungannya tadi sore dengan Zahwa, dan akhirnya pertarungan babak kedua itu benar benar terjadi lagi tanpa ada penolakan dari Zahwa.
Setelah mengulang percintaan, mereka berdua masih terlihat ada di dalam satu selimut dengan keadaan tanpa busana, dan terlihat senyum malu malu dari keduannya.
Tapi tiba tiba Zahwa merasakan sakit di perutnya.
"Mas, perutku." ucap Zahwa.
"Maaf Za, mungkin mas terlalu bersemangat tadi." ucap Anton dengan masih mengelus elus kening Zahwa menggunakan ibu jarinnya dan tersenyum.
"Mas tapi ini beneran sakit." ucap Zahwa semakin meringis. Dan Anton pun menghentikan kegiatan tangannya itu.
"Za kita bukan baru sekali ini melakukannya, dan kamu tahu kan kalau memang begitu permainan mas.?" ucap Anton merasa heran, ia pun berusaha bangun dan menyibakkan selimut yang mereka pakai menyelimuti tubuh mereka.
Setelah menyibakkan selimut, Anton terlihat kaget bukan main, ia melihat ada bercakan bercakan darah diatas alas kasur mereka.
"Za kamu sedang datang bulan, kenapa tidak bilang Za.?" ucap Anton sambil mengusap usap wajahnya, ia merasa berdosa karna tahu di dalam Islam dilarang berhubungan dengan istri yang sedang haid.
Zahwa pun terkejud dengan ucapan Anton, ia yang sedang mengandung mana mungkin bisa haid, Zahwa pun berusaha bangun dari posisi tidurnya dan lagi lagi terkejut melihat bercak bercak darah itu, Zahwa pun mulai menangis tidak karuan.
"Mas, anak kita mas, anak kita." ucap Zahwa sambil mengguncangkan lengan Anton.
__ADS_1
"Anak.??? Maksud mu Za.?" tanya Anton dengan penuh keheranan.
”Mas, aku sedang mengandung anak mu, dan usiannya susah memasuki dua bulan.” Ucap Zahwa dan tentu saja hal itu membuat Anton sangat sangat terkejut."
"Ya Allah Zahwa, kenapa kamu tidak bilang. Tuhan dosa apa yang aku lakukan." ucap Anton terlihat panik, ia berusaha berlari menuju lemari pakaian dan mengambilkan baju untuk Zahwa.
"Ayo pakai dulu." ucap Anton sambil berusaha membantu istrinya memakai pakaian yang ia ambil, setelahnya Anton memakai pakaiannya sendiri.
Setelah mereka memakai baju, Anton terlihat sedang mencoba untuk menghubungi seseorang lewat ponselnya.
"Kak, Zahwa pendarahan.?” ucap Anton setelah telponnya tersambung, dan ia masih terlihat panik.
"Maksud mu.?" ucap Anita bingung, karna memang tidak pernah tahu kalau Zahwa sedang hamil.
"Zahwa hamil kak, dan sekarang dia mengeluarkan bercak darah." ucap Anton sambil menatap kasihan pada istrinya yang sedang berbaring diatas tempat tidur.
Setelah mengakhiri panggilannya, Anton pun mengangkat istrinya dan membawa Zahwa kedalam mobil menuju rumah sakit milik keluarga Wijaya. Anton menyalakan mobilnya dan menuju rumah sakit dengan perasaan khawatirnya.
"Apa masih sakit.?" tanya Anton sambil memegang perut istrinya.
"Sudah berkurang mas." ucap Zahwa, namun ia masih terlihat syok.
"Mas aku takut anak kita kenapa napa." lanjut Zahwa sambil terlihat sudah mengeluarkan air mata.
"Tidak tidak, mas akan cari pengbatan terbaik dimanapun bahkan kalau perlu kita keluar Negri." ucap Anton yang juga masih terlihat syok.
"Za, mau kamu apa sih kenapa kamu sampai tidak pernah bilang dengan mas, kalau kamu sedang mengandung anak ku.?" ucap Anton sedikit kesal, ia ingin memarahi istrinya itu namun karna melihat Zahwa yang sedang seperti itu ia jadi tidak tega sendiri.
__ADS_1
”Maaf kan aku mas, mas jangan marah ya.? Aku cuma takut kalau mas tidak terima dengan kehamilannya ku." ucap Zahwa yang mulai terlihat menangis, ia membalik ke hadapi suaminya dan memegang lengan Anton mencoba membjuk agar suaminya itu tidak marah.
"Apa kamu bilang, tidak terima.? Za itu Anak ku, Bagaimana bisa aku tidak menerimanya.?" Anton menoleh menatap Zahwa, ia sangat terkejud mendengar ucapan Zahwa.
"Bukannya mas tidak pernah suka dengan pernikahan kita.? Jadi aku fikir kalau mas juga tidak akan pernah menerima jika tahu kalau aku sedang mengandung anak mas." ucap Zahwa lagi sambil menangis.
Anton terkejud bukan main, ucapan istrinya bagaikan cambuk yang sedang memukuli tubuhnya. Anton pun menghantika laju mobilnya, dan kini mulai terlihat sisi kelemah dari Anton.
"Za, bukan begitu sayang." ucap Anton, ia membalik kan tubuhnya menghadap Zahwa, kini air matanya pun sudah mulai menetes ke pipinya, ia meraih dan menggenggam erat tangan istrinya itu.
"Lalu apa mas.? Aku mengetahui kehamilan ku saat mas dan Sarah sedang berbulan madu, jadi aku tidak mungkin menghancurkan kebahagiaan kalian dengan kabar kehamilan ku, aku tidak ingin anak kita di jadikan tameng untuk mendapatkan perhatian dari mu mas, itu sebabnya aku menyembunyikan kehamilan ku dari mu." jelas Zahwa dengan air mata yang berderai mengalir dengan deras.
"Maafkan aku Zahwa, mas minta maaf." Anton menghambur memeluk erat istrinya, ia merasa kan betapa rapuh dan tersiksanya Zahwa selama ini. Sungguh semua ucapan yang di katakan oleh Zahwa, bagaikan pisau yang sedang menyayat nyayat dirinya.
"Kita perbaiki semuanya dari awal Za." ucap Anton. Dan Zahwa hanya diam tanpa sepatah kata ia hanya berfikir untuk mencoba sekali lagi bertahan disisi suaminya, bukan kah ia sudah berkata akan mencoba memperbaiki semuanya.
Saat keduanya masih saling memeluk, tiba tiba terdengar ponsel Anton berdering, ia pun melepaskan pelukannya dan meraih ponsel yang ada di dalam celananya.
"Iya kak." jawab Anton di dalam ponselnya setelah mengangkat dan melihat yang menelponnya adalah Anita.
"Kalian dimana An, kenapa belum sampai juga.?" tanya Anita yang masih terdengar panik.
"Kami sedang dalam perjalanan kan, sebentar lagi sampai." jawab Anton.
”Cepatlah sedikit." pekik Anita.
"Iya kak." ucap Anton lalu mematikan ponsel dan mulai melajukan mobilnya lagi menuju rumah sakit.
__ADS_1