Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 170


__ADS_3

"Bagaimana keadaan mereka om?" tanya Anton kepada orang tua Reyhan.


"Reyhan dan Nazwa sekarang berada di ruangan ICU, dokter bilang mereka sedang dalam keadaan kritis, dan kemungkinan tertolong hanya 50 persen." jawab papa Reyhan, ia terlihat menundukan kepalanya dan menggeleng pelan, menahan air mata sungguh hal yang sulit baginya sekarang.


"Astaghfirullah hal azim." terdengar kalimat istighfar dari Anton dan papanya.


"Lalu bagaimana dengan Rangga?" kali ini pak Gunawan yang bertanya.


Papa Reyhan sempat terdiam sejenak. Untuk menjelaskan kondisi Reyhan dan Nazwa saja ia sudah hampir tak mampu menahan kesedihan, dan kini ia harus memberitahukan juga kondisi Rangga yang kini telah menjadi bagian dari keluarga Gunawan juga.


Papa Reyhan mengngkat kepalanya, lalu mencoba menjelaskan kondisi Rangga kepada Anton dan papanya.


"Kondisi Rangga juga sama mengkhawatirkannya, mungkin karena Rangga sangat syok mendengar Nazwa kecelakaan, jadi kondisinya juga ikut memburuk." jawab papa Reyhan.


Tante Rita yang tidak mampu lagi untuk berkata kata, hanya duduk di kursi tunggu dengan suara isa tangis yang terdengar jelas.


***


Sementara itu, di rumah sakit keluarga Wijaya, Zahwa terlihat menangis di dalam pelukan mama mertuanya, kecelakaan yang dialami Nazwa membuatnya merasakan kecemasan. Namun karena kondisinya yang baru saja habis melahirkan, membuatnya tidak dapat melihat keadaan adik sepupunya.


"Sudah sayang, sekarang kita berdo'a saja semoga tidak terjadi hal yang buruk kepada mereka ya." mama Melinda yang mencoba menenangkan menantunya.


"Za, kamu harus jaga kondisi kesehatan mu, agar kamu cepat pulih." sambung kak Anita.


"Iya kak, tapi aku sangat mencemaskan Nazwa." jawab Zahwa sambil menangis sesengukan.


"Sebentar lagi bibi akan kemari untuk menemani mu, setelah itu mama dan kak Anita akan pergi untuk melihat Nazwa. Kamu tidak apa apa kan sendiri?" ujar mama Melinda.


"Kakak akan meminta suster untuk menjaga mu dan anak baby." sambung kak Anita. Dan Zahwa terlihat mengangguk.


"Za, bagaimana dengan kedua orang tua Nazwa, apa kamu sudah mencoba untuk memberitahu mereka?" tanya mama Melinda lagi.


"Belum ma. Zahwa bingung ma, Zahwa takut paman dan bibik akan syok." ujar Zahwa.


"Sayang, kamu harus segera memberitahu mereka, bagaimana pun kedua orang tua Nazwa harus segera di beritahu." jawab mama Melinda.


"Benar Za." sambung kak Anita.


Zahwa pun melepaskan pekukannya dari pinggang mama Melinda yang berdiri di samping tempat tidurnya, ia terlihat menatap mama mertuanya itu, dan mama Melinda pun menganggukan kepalanya pelan, meyakinkan menantunya itu untuk segera menelpon kedua orang tua Nazwa.

__ADS_1


Zahwa mencoba mengambil ponsenya yang ada diatas nakas di samping tempat tidurnya, Zahwa mencari nomer telpon pamannya dan setelah menemukannya, ia pun mencoba menghubungi kedua orang tua Nazwa, dengan jari jemari yang gemetaran Zahwa mencoba menghubungi nomer telpon pamannya.


Sambungan telpon pun terhubung, dengan jantung yang berdebar Zahwa menunggu panggilannya terangkat, Zahwa masih membayangkan hal buruk apa yang akan terjadi saat ia memberitahu paman dan bibinya.


Panggilan Zahwa pun berakhir tanpa ada yang menjawab, ia pun menggenggam erat ponselnya itu, lalu kembali menatap mama mertua dan kakak iparnya.


"Gimana?" tanya mama Melinda.


"Tidak ada yang menjawab ma, mungkin paman dan bibi sedang sibuk." jawab Zahwa.


"Ya sudah, tapi kamu harus terus menghubungi mereka sampai bisa sayang, mereka akan kecewa dan marah kalau sampai tidak ada yang memberitahu." sambung mertuanya.


"Iya ma." jawab Zahwa.


Selang beberapa menit pembantu Zahwa datang kerumah sakit untuk menemani Zahwa. Mama Melinda dan Anita pun segera berangkat menuju rumah sakit tempat Rangga dan Nazwa dirawat, karena untuk saat ini keluarga Anton lah keluarga terdekat Nazwa.


Setelah kepergian mama mertua dan juga kakak iparnya, ponsel Zahwa tiba tiba berbunyi. Zahwa pun mengambil ponselnya dan melihat panggilan masuk.


"Paman." guman Zahwa, perasaannya semakin kacau, ia pun kebingungan untuk menyampaikan kondisi Nazwa.


Namun mau tidak mau Zahwa harus tetap memberitahukan kondisi adik sepupunya itu kepada orang tuannya.


"Assalam mualaiku paman." jawab Zahwa.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh." jawab pamannya. "Paman melihat ada panggilan dari mu, tapi tadi paman sedang ada urusan, ada apa nak kamu perlu sesuatu?" tanya pamannya dari seberang sana dengan suara yang begitu lembut.


"Paman." lalu terdiam sejenak. "Zahwa ingin menyampaikan sesuatu paman." ujar Zahwa, namun bagaimana pun ia berusaha menahan isaknya, ia tetap tidak bisa.


"Menyampaikan apa nak? Paman merasa kalau kamu tengah bersedih, ada apa Zahwa apa terjadi masalah dengan mu?" tanya pamannya khawatir.


"Tidak paman, aku baik baik saja." masih berusaha terdengar kuat.


"Lalu ada apa Zahwa? Apa adik mu tidak mengunjungimu? Sejak tadi perasaan bibik mu tidak tenang, namun bibik sangat kesulitan untuk menghubungi Nazwa." ujar paman yang menanyakan.


"Paman Zahwa ingin menyampaikan kalau sebenarnya Nazwa mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan pulang setelah menjenguk ku di rumah sakit." Zahwa menyampaikan kabar tentang Nazwa dengan perasaan sedih dan isak tangis yang begitu sulit untuk ia tahan.


"innalillahi wainnailaihi rojiun". Lalu bagaimana keadaannya Nak?" tanya pamannya dengan suara yang mulai terdengar lemah.


"Zahwa belum tahu paman, mas Anton sedang menuju rumah sakit tempat Nazwa di rawat untuk melihat keadaannya sekarang." jawab Zahwa.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu paman dan bibik akan segera ke kota, tolong beritahu paman secepatnya bila ada kabar tentang Nazwa." jawab pamanya.


"Iya paman. Paman dan bibi hati hati di jalan." ujar Zahwa.


"Iya nak, assalammualaikum."


"Waalaikum salam paman."


Setelah memutus sambungan telpon, abi Nazwa segera menemui istrinya dan memberitahukan prihal berita tentang putri mereka yang baru saja di sampaikan Zahwa.


Air mata tak dapat lagi di bendung oleh umi Nazwa saat mendengar kabar tentang putrinya, namun suaminya pun mencoba menghibur dan menguatkan istrinya meskipun ia juga merasakan kesedihan yang sama.


Setelah mempersiapkan segala keperluan mereka, akhirnya dengan perasaan sedih kedua orang tua Nazwa segera berangkat menuju kota.


***


Di rumah sakit, ketegangan kembali terlihat saat dokter mengatakan keadaan Rangga yang semakin memburuk.


"Dok, adakah cara pengobatan lain untuk menyelamatkan Rangga, masalah biaya dokter jangan khawatir, berapapun akan saya bayar." ujar Pak Gunawam.


Kedua orang tua Reyhan hanya terlihat duduk tidak berdaya mereka masih terlihat syok dengan kejadian-kejadian yang menimpa anak-anak mereka secara berasamaan.


Pak Gunawan memang sudah lama menjalin pertemanan dengan papa Reyhan, hal itu yang membuat kedua anak mereka menjadi sangat akrab, ditambah lagi hubungan Rangga dan Nazwa yang semakin mempererat mereka, wajar saja jika pak Gunawan merasa sangat sedih dan ingin membantu keluarga Reyhan.


"Untuk saat ini kami tidak bisa berbuat apa apa, tapi jika kalian bersedia, saya akan mencoba menghubungi teman saya yang berada di Taiwan, dan pengobatan pun harus dilakukan disana." jawab dokter.


"Taiwan dok?" tanya Anton.


"Benar. Banyak rumah sakit terbaik dan juga terbukti sangat bagus di Taiwan untuk pengobatan penyakit jantung kemungkinan berhasil pun 90% . Untuk mendapatkan donor jantung di Indonesia masih sangat sulit, dan butuh waktu yang sangat lama. Saya mempunyai teman yang juga seorang dokter ahli jantung disana, jika keluarga bersedia saya akan menghubunginya untuk meminta bantuan. Selain cepat mendapatkan donor jantung, biaya rumah sakit juga terbilang cukup murah disana. Bagaimana?" ujar dokter.


Belum ada yang memberikan jawaban atas usulan dokter, termasuk kedua orang tua Reyhan, mereka masih terlihat bingung, kesedihan membuat jalan fikiran meraka kebingungan.


"Baik dok, kami akan diskusikan dulu." jawab Anton.


"Baik, tapi saran saya, keluarga harus segera memutuskan secepatnya, mengingat kondisi pasien yang semakin memburuk, saya takut terjadi hal yang tidak di inginkan." ujar dokter itu lagi.


Anton hanya terlihat mengangguk, dan setelah itu dokter pun pengi meninggalkan mereka semua.


Pak Gunawan mendekati kedua orang tua Reyhan, dan mencoba berbicara kepada keduannya. Mereka masih sulit untuk memutuskan kesimpulan, mengingat kondisi Nazwa yang juga masih dalam keadaan kritis, dan harus memisahkan keduanya dalam waktu yang lama dan juga jarak yang cukup jauh.

__ADS_1


__ADS_2