
Nazwa masuk kedalam kamar hotel yang telah disiapkan untuknya, dan saat memasuki kamar itu, Nazwa melangkah masuk dengan sedikit rasa takjub dihatinya karna mendapatkan kamar yang begitu mewah berkelas VIP.
Ia segera merebahkan dirinya diatas karus empuk, dan saat menatap kosok ke arah langit langit kamarnya, Nazwa teringat akan kejadian yang terjadi diatas pesawat, saat dirinya tiba tiba memeluk lengan Rangga, bersentuhan dengan laki laki yang bukan muhkrimnya baru kali ini terjadi di dalam hidupnya, dan itu membuat dirinya benar benar merasa malu.
Nazwa terlihat menggeleng gelengkan kepalnya, lalu menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, ia juga terdengar bergumam guman sendiri memaki dirinya, karna telah melakukan hal yang menurutnya mebuat dirinya malu.
"Ya Allah, apa yang terjadi kepada ku, apa aku sudah gila bisa melakukan hal seperti itu, ini benar benar memalukan." gumam Nazwa.
Nazwa memejamkan matanya untuk mengusir rasa lelah yang menghinggapi dirinya. Setelah tertidur selama tiga puluh menit, Nazwa kembali bangun dari tidurnya karna sebenarnya ia tidak benar benar bisa untuk tertidur dengan lelap, ia pun membuka kopernya dan menyiapkan pakaian yang akan ia kenakan saat pertemuan nanti, usai mempersiapkan pakainya, Nazwa memutuskan untuk membersihkan dirinya di kamar mandi.
Selesai memakai bajunya Nazwa pun sedikit menggunakan make up di wajahnya, hingga membuat wajah cantiknya makin terlihat begitu indah. Tak lama berselang tiiba tiba bel kamar yang ditepati oleh Nazwa pun berbunyi, Nazwa segera membuka pintu kamarnya dan mendapati Rangga di depan pintu kamarnya yang sudah tampak tampan dengan setelan jasnya.
"Waktunya makan siang, sebentar lagi kita akan bertemu klien." ujar Rangga dengan melihat jam tangan yang ada ditangannya.
"Baik pak." Nazwa masuk kembali kedalam kamarnya dan mengambil tas serta berkas kerja yang akan mereka presentasika dengan klien.
Mereka pun keluar dan menaiki mobil yang telah di kirim oleh prusahaan yang melakukan kerja sama dengan prusahaan Anton, mobil itu memang sudah disediakan untuk mempermudah perjalanan mereka selama di kota itu.
Sopir membawa mereka kesalah satu restoran ternama di kota itu atas permintaan Rangga, dan saat sopir memarkirkan mobilnya, Rangga dan Nazwa segera keluar untuk masuk kedalam restoran.
Didalam restoran Rangga dan Nazwa telah duduk di tempat yang Rangga pilih, lalu terlihat seorang pelayan segera menghampiri mereka. Setelah menulis menu pilihan Rangga dan Nazwa, ia pun pergi meninggalkan sepasang pelangganya itu.
"Mas Rangga.!" terdengar suara sapaan dari seorang wanita yang terlihat juga baru memasuki restoran itu, ia pun berjalan mendekati meja Rangga, dan tampak seorang laki laki tampan yang mengikutinya mendekati meja Rangga dan Nazwa.
Rangga terlihat memutar kepalanya, mencari sumber suara yang memanggilnya, dan setelah melihat seseorang yang menyapanya, Rangga pun terlihat tersenyum Lebar.
"Linda.!" Rangga pun berdiri dan segera mendekati prempuan yang langsung memeluknya itu.
Nazwa pun terlihat sedikit bengong melihat tingkah prempuan itu, yang juga terlihat begitu akrab dengan Rangga.
Linda. Fikiran Nazwa langsung teringat dengan ucapan Rina, yang mengatakan Linda adalah orang yang pernah terlihat begitu dekat dengan Rangga.
Apa mungkin dia Linda yang dulu dikatakan oleh Rina.? Ternyata memang cantik ya, ehh tapi siapa ya laki laki yang ada dibelakanganya, apa dia suaminya.? Fikiran Nazwa terus menerka nerka.
"Doni." sapa Rangga kepada suami Linda, yang langsung menyambut tangan Rangga.
__ADS_1
"Bagaimana kabar mu mas.?" tanya Linda.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat, mas baik baik saja." jawab Rangga.
"Syukurlah kalau begitu mas. Ini siapa mas.?" tanya Linda yang melihat kearah Nazwa.
"Dia Nazwa, staf mas dikantor yang menggantikan kamu." ujar Rangga.
"Hay.!" sapa Linda yang langsung mengulurkan tanganya.
"Linda." ucapnya lagi.
"Nazwa." jawab Nazwa dengan tersenyum.
"Cantik ya mas." ucap Linda kepada Rangga, dan Rangga terlihat membuang wajahnya karna merasa malu dengan ucapan Nazwa.
"Banarkan Sayang.?" tanya Linda lagi kepada suaminya, ia seperti meminta dukungan kepada suaminya untuk meyakinkan ucapanya.
"Mba juga gak kalah cantik." jawab Nazwa dengan tersenyum.
"Kalau tidak mengganggu kencan mas." ucap Linda lagi menggoda Rangga, dan Rangga terlihat sedikit kesal dengan ucapan Linda yang malah terlihat terkekeh melihat tingkahnya.
Akhirnya Linda dan Doni memutuskan untuk bergabung dengan meja yang ditempati Rangga dan Nazwa, mereka pun akhirnya memesan makanan kembali untuk Linda dan Doni.
"Oh ya, Mas Rangga sedang apa dikota ini.?" tanya Doni.
"Prusahaan mendapatkan proyek dikota ini, dan rencananya hari ini akan diadakan metting dengan klien." jawab Rangga.
"Lalu berapa lama kalian disini mas." Tanya Linda lagi.
"Besok setelah melihat lokasi proyek dikerjakan, aku dan Nazwa akan kembali ke Jakarta."Jawab Rangga.
Nazwa hanya diam membisu, sesekali ia terlihat menoleh menatap Rangga, Nazwa dapat melihat dengan jelas perubahan sikap Rangga yang selama ini hanya terlihat diam dan tidak banyak bicara, tapi ketika bersama Linda, Rangga benar benar terlihat begitu ceria dan sepertinya hanya Linda lah yang mampu membuatnya bisa merubah sikap cueknya itu.
"Nazwa, kenapa diam saja." tanya Linda yang membuatnya sedikit terkejut.
__ADS_1
"Ah, tidak apa apa mba." jawab Nazwa sedikit gugub karna sepertinya Linda mengetahui bahwa ia sedang memperhatikan Rangga.
"Mas Rangga itu jarang sekali lho mau membawa staf prempuan untuk menemaninya saat keluar kota, dulu dia selalu menolak jika pak Anton memerintahkanya pergi dengan staf prempuan, dan sepertinya baru kamu yang jalan dengan mas Rangga." ujar Linda.
"Bagus dong kalau begitu." jawab Doni juga dengan tersenyum manis.
"Linda.!" Rangga begitu kesal dengan ucapan Linda, rona merah diwajahnya pun nampak begitu jelas karna menahan malu.
"Kalau mas tidak keberatan, singgah dulu dirumah sederhana kami mas." ujar Doni.
"Insya Allah ya, mas tidak bisa janji, karna masih banyak pekerjaan di Jakarta." jawab Rangga.
Beberapa pelayanpun datang dengan membawa pesanan mereka, dan setelah meletakkan makanan mereka, para pelayan restoran itu pun segera pergi. Rangga beserta yang lainnya segera makan, dan sesekali terdengar obrolan diantara mereka, hanya Nazwa yang tidak banyak bicara karna ia merasa bingung harus bicara apa.
Setelah selesai makan dan mengobrol, Rangga segera mengajak Nazwa untuk pergi, karna mereka harus bertemu dengan klien.
Saat berada di parkiran, Linda terlihat memanggil Nazwa, dan ia pun membawa Nazwa untuk menyingkir sedikit lebih jauh dari Rangga, karna sepertinya ingin menyampaikan suatu hal dan tidak ingin Rangga mendengarnya.
"Nazwa, mas Rangga sangan jarang sekali dekat dengan seorang prempuan dan mungkin hanya aku selama ini prepuan yang dekat dengannya, mas Rangga melakukan itu karna ia tidak ingin suatu hari meninggalkan luka dihati orang lain apa lagi pasangannya, Naswa aku mohon jangan pernah membuatnya terluka dan biarkan mas Rangga bahagia walau hanya dengan waktu yang singkat." ujar Linda.
"Lalu kenapa mba sendiri melukain hatinya.?" tanya Nazwa.
"Maksud mu.?" Linda merasa bingung dengan ucap Nazwa.
"Bukankah selama ini mba dekat dengan mas Rangga, tapi kenapa tiba tiba mba meninggalkannya dan menikah dengan laki laki lain. Itu yang ku dengar dikantor." jelas Nazwa lagi, membuat Linda tertawa mendengarnya.
"Mas Rangga itu sepupuku dan selama ini selain tante rieta hanya akulah yang memperhatikan kehidupan dan kesehatan mas Rangga." jelasnya lagi.
"Apa kalian butuh waktu lebih lama, aku bisa terlambat." teriak Rangga dari dekat mobilnya.
"Iya iya mas, kami sudah selesai." teriak Linda.
"Aku titip mas Rangga Na." ujar Linda, lalu mereka pun berpisah, karna Nazwa dengan segera menghampiri Rangga yang sudah tampak sedikit kesal menunggunya. Setelah masuk kedalam mobil, sopir pun segera menghantar mereka menuju tempat metting.
Di dalam mobil Nazwa hanya terlihat diam melamun, ia masih memikirkan semua ucapan Linda saat mereka di parkiran. Ia pun sebenarnya sedikit terkejut dengan pernyataan Linda, yang mengatakan dirinya dan Rangga ternyata bersaudara sepupu.
__ADS_1