Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 133


__ADS_3

Didalam kamarnya, Nazwa terlihat sedang mempersiapkan pakaian dan keperluan lainnya untuk keberangkatanya esok pagi, karena kepergian mereka yang cukup lama dari keberangkatan sebelumnya, Nazwa terlihat memakai koper yang sedikit lebih besar dari sebelumnya.


"Nazwa.!" Zahwa memanggil adiknya itu dari ambang pintu, lalu ia terlihat masuk kedalam kamar Nazwa yang terbuka lebar.


"Ada apa Za.!" Nazwa pun memalingkan wajahnya dan sekilas melihat Zahwa yang sudah duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Berapa lama kamu akan pergi.?" tanya Zahwa.


"Empat hari Za, mas Anton meminta agar semuanya selesai minggu ini, jadi pak Rangga memutuskan untuk menunggu sampai semua pekerjaan selesai, agar tidak repot karena harus bolak balik." jelas Nazwa dengan tersenyum.


"Apa kamu hanya berdua dengan pak Rangga.?" tanya Zahwa lagi.


"Ia Za, hanya aku dan pak Rangga, tapi disana kami bertemu dengan banyak orang dari perusahaan XX." jawab Nazwa lagi.


"Ohh.. Kalau begitu bisa sekalian liburan Na, dengan bos mu itu." ujar Zahwa sambil mengangkat angkat kedua alisnya.


"Astaghfirullah hal azim Za, aku pergi kesana karena pekerjaan bukan untuk liburan." jawab Nazwa sambil menukul pelan dahinya.


"Nazwa aku bilang sekalian liburan, bukan kamu kesana liburan." jawab Zahwa dengan senyum di bibirnya.


"Enggak, gak ada liburan, disana tu cuma buat kerja dan kerja." jawab Nazwa lagi.


"Kenapa Na, kan lumayan bisa refreshing sejenak." ujar Zahwa lagi.


"Enggak deh, aku maunya semua pekerjaan disana cepat selesai dan kembali lagi ke jakarta." senyum Nazwa pun terlihat dibibirnya.


"Kenapa Na, bukanya seharusnya kamu senang, bisa dapat kesempatan buat liburan." ujar Zahwa lagi, ia merasa bingung dengan ucapan Nazwa.


"Aku tidak nyaman berada di tempat asing Za, apa lagi tidak ada satupun dari mereka yang aku kenal." jawab Nazwa, kini ia terlihat memasang wajah yang terlihat sedih.


"Bukankah ada Rangga yang akan menemani mu Na." jawab Zahwa lagi.


"Tidak, dia itu orang yang sangat aneh, aku bingung dengan sikapnya, terkadang pak Rangga bisa sangan baik untuk dijadikan teman, tapi terkadang juga sikapnya sangat dingin terhadap orang lain." jelas Nazwa.


"Itu tantangan Na, kalau begitu kamu harus berkerja ekstra Na untuk mendapatkannya." goda Zahwa.


"Tidak.!" jawab Nazwa singkat, membuat Zahwa tertawa melihat tingkah Nazwa.


"Sebaiknya kita makan malam dulu Na, mas Anton pasti sudah lapar." ujar Zahwa.


"Baiklah, ayo.." mereka pun segera keluar dan Zahwa memanggil suaminya untuk makan malam bersama.


***

__ADS_1


Pagi ini Nazwa terlihat telah bersiap diri dengan kopernya, setelah selesai sarapan bersama, Anton pun mengajak Nazwa untuk pergi bersama menuju kantor.


"Sayang mas berangkat dulu ya." ujar Anton kepada Zahwa.


"Iya mas, hati hati ya." Zahwa terlihat menyalami suaminya.


"Iya Sayang. Oh ya, jangan lupa ya, nanti saat jam makan siang mas jemput ya." ujar Anton, ia telah membuat rencana kemana dirinya dan Zahwa akan pergi siang ini.


"Iya mas, aku ingat." jawab Zahwa.


"Syukurlah, Assalam mualaikum." ucap Anton.


"Waalaikum salam."


"Za, aku pergi dulu ya." Nazwa pun menghampiri Zahwa.


"Iya Na, kamu hati hati ya, jaga diri mu baik baik." ujar Zahwa.


"Iya, kamu juga ya, Assalam mualaikum." jawab Nazwa.


"Waalaikum salam."


Zahwa terlihat melambaikan tanganya kepada Nazwa, hingga akhirnya mobil yang di kendarai suaminya itu sudah tidak tampak lagi olah matanya.


Dari kejauhan mobil Rangga perlahan juga memasuki area parkir, dan saat ia turun dari mobilnya, Rangga segera menemui Anton yang juga nasih berada di halaman parkir.


"Selamat pagi pak.!" sapa Rangga.


"Selamat pagi Rangga. Apa kalian sudah siap.?" tanya Anton.


"Ia pak saya sudah siap." jawab Rangga.


"Sopir akan menghantar kalian pergi ke bandara." ujar Anton.


"Baik pa." jawab Rangga. Lalu mereka pun masuk kedalam kantor untuk mengambil semua berkas dan laporan yang akan mereka bawa ke kota XX.


Setelah semua persiapan selesai, Rangga dan Nazwa pun segera berangkat menuju bandara dengan di hantarkan oleh sopir kantor.


Mereka pun tiba di bandara tepat waktu, meski sempat terhalang kemacetan jalan, namun hal itu tidak membuat mereka terlambat. Rangga dan Nazwa segera masuk kedalam gedung bandara, setelah melalui pemeriksaan dan berbagai macam prosedur, akhirnya kini mereka bisa menaiki pesawat.


Ini bukan lagi pengalaman pertama bagi Nazwa menaiki sebuah pesawat terbang, kini ia sudah tahu bagaimana cara memasang seatbelt tanpa harus memperhatikan Rangga secara diam diam. Pesawat pun mulai lepas landas, dan untuk membuang rasa takutnya Nazwa terlihat memejamkan matanya.


Secara diam diam Rangga terlihat memperhatikan Nazwa, ia menoleh melihat wajah Nazwa yang terlihat memejamkan matanya, dan hal itu membuat Rangga tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


Tidak terasa mereka telah menempuh perjalanan lebih dari dua jam, dan kini Rangga dan Nazwa telah berada di sebuah hotel yang perna mereka tempati saat pertama kali datang ke kota itu.


"Ini kamar mu, jam dua belas kita akan keluar untuk makan siang dengan klien, jadi beristirahatlah, kita masih ada waktu satu jam sebelum pergi." ujar Rangga.


"Iya pa, terima kasih." jawab Nazwa, lalu ia pun membuka pintu kamarnya, dan segera masuk ke dalam.


"Hemm, kamar yang sama mewahnya seperti waktu itu, hotel ini memang sangat bagus." Nazwa meletakan kopernya di samping tempat tidurnya, sambil memperhatikan setiap sudut ruangan itu.


Nazwa pun membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur yang empuk dan nyaman, lalu ia mencoba memejamkan matanya untuk mengusir lelah yang ia Rasakan.


***


Di kantornya Anton terlihat sedang memeriksa dan menandatangani berkas yang ada diatas meja kerjanya, sesekali ia juga melihat jam tangan yang ada ditangannya.


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga." Anton bergumam sambil tersenyum senang.


Anton telah berjanji kepada Zahwa untuk membawanya pergi hari ini, jadi ia berusaha keras untuk menyelesaikan semua pekerjannya secepat mungkin.


Anton pun mengeluarkan ponselnya dari dalam kantung jasnya, lalu segera menghubungi istrinya.


"Assalam mualaikum mas." Terdengar jawaban itu dari seberang sana.


"Waalaikum salam. Sayang, sebentar lagi mas pulang untuk menjemput mu, bersiap siaplah." ujar Anton kepada istrinya.


"Iya mas, hati hati dijalan mas." jawab Zahwa.


"Iya sayang. Assalam mualaikum."


"Waalaikum salam." Zahwa pun meletakkan ponselnya, lalu segera mempersiapkan dirinya.


Sedangkan Anton memanggil sekertarinya, dan menyerahkan semua berkas yang telah ia selesaikan, lalu ia pergi meninggalkan gedung kantornya.


Anton segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia berusaha datang tepet waktu menjemput istrinya, meski sesekali ia harus dihadapkan dengan kemacetan.


Akhirnya ia pun tiba dirumahnya dengan tepat waktu, Anton terdengar memberikan salam lalu masuk untuk menemui istrinya.


"Assalammualaikum."


"Waalaikum salam." jawab Zahwa yang telah berada di kursi ruang keluarga menunggu suaminya itu datang.


"Sayang, sudah siap.?" tanya Anton sambil melangkah mendekati istrinya.


"Iya mas, mas mau ganti baju dulu? Biar aku siapkan ya." tanya Zahwa.

__ADS_1


"Tidak perlu sayang, biar mas sendiri, kamu tunggu disini saja ya." jawab Anton, dan di jawab anggukan oleh Zahwa.


__ADS_2