
Adzan subuh mulai berkumandang, di dalam kamarnya Anton tampak terlihat masih tertidur di atas kasurnya, beberapa hari ini ia memang terlihat tidak bisa tidur dengan nyenyak karna terlalu bersedih atas kepergian Zahwa istrinya. Tiba tiba Anton merasa ada yang menggoyangkan tubuhnya, seperti ingin membangunkan dari tidurnya.
"Mas, mas, bangun mas, ayo kita sholat subuh." Sayub sayub terdengar seperti suara seseorang yang sedang berbisik di lembut telingannya.
"Iya sebentar Za." jawab Anton dengan mata masih terpejam setengah sadar, ia pun terlihat sedang menggosok gosok matanya pelan.
Dan setelah merasa benar benar sadar, Anton pun terperanjak kaget ia segera bangun dan berusaha mencari suara yang tadi seperti berbisik di telinganya.
"Zaa."Teriak Anton dengan matanya mengedar mencari ke segala penjuru ruang kamarnya.
Namun yang ia cari ternyata tidak ada di dalam kamar itu, Anton pun terlihat keluar dari dalam kamarnya menuruni anak tangga dengan tergesa gesa dan berteriak memanggil nama Zahwa.
"Za."
"Za."
"Zahwa, dimana kamu sayang." Anton berkeliling mencari istrinya di setiap ruangan, karna tak berhasih menemukan Zahwa, akhirnya Anton memutuskan untuk pergi ke dapur berharap menemukan istrinya disana.
"Bik dimana Zahwa.?" tanya Anton yang melihat para pembantu rumah itu sedang memasak. Mereka pun jadi terkejut melihat Anton yang tiba tiba datang dengan nafas tersengal sengal.
"Maaf den, tapi nona belum pulang kemari." ucap salah satu pembantunya, ia merasa bingung kenapa tiba tiba Anton menanyakan Zahwa.
"Tapi tadi dia ada di kamar ku bik, dan membangunkan aku untuk sholat." ucap Anton lagi, ia benar benar yakin bahwa Zahwa lah yang sudah membangunkannya tadi, dan menurutnya pasti istrinnya itu sudah kembali dirumah itu.
__ADS_1
"Tapi dari tadi tidak ada siapa siapa disini den, selain kami." sahut pembantu itu lagi, berusaha meyakinkan majikannya itu bahwa tidak ada orang lain yang sudah bangun, selain mereka bertiga.
Anton pun kembali ke dalam kamarnya, ia terlihat duduk termenung di pinggir tempat tidurnya dan mulai tampaklah lagi air mata yang menetes membasahi pipinya.
"Bahkan saat tertidur pun aku masih memikirkan mu, dimana kamu Za.? Pulang lah sayang, aku sangat merindukan mu." Anton teringat akan kebiasaan Zahwa yang selalu membangunkan dirinya untuk sholat.
Ia pun segera bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwuduk. Anton melaksanakan sholat dengan khusuk, dan setelahnya pun ia terlihat memanjatkan do'anya, memohon kepada sang pencipta agar disatukan lagi dengan istri yang ternyata sangat ia cintai itu.
Anton berniat untuk pulang ke rumah Zahwa, ia ingin mencari keberadaan istrinya disana, karna Anton merasa bahwa Zahwa tadi benar benar ada dan membangunkannya. Anton mengendarai mobilnya dan melaju menuju rumah Zahwa, dan selang beberapa menit akhirnya Anton tiba dirumah tersebut, ia memasuki rumah dan mencoba menelusuri setiap sudut yang ada dirumah itu.
"Bik, apakah Zahwa belum juga pulang kerumah ini bik.?" Tanya Anton saat ia menghampiri pembantu rumahnya yang sedang membersihkan rumah.
"Tidak tuan, nyonya sama sekali belum pulang tuan." jawab pembantunya.
"Baik tuan."
Suara bel rumah itu pun berbunyi menandakan ada seseorang yang datang ke rumah itu, lalu seorang pembantu lainnya bergegas untuk menuju pintu utama, melihat siapakah tamu yang datang itu. Dan tak lama pembantu itu pun terlihat masuk lagi dengan menggenggam sebuah amplop ditangannya, ia pun berjalan mendekat ke arah Anton.
"Maaf tuan, ini ada surat untuk tuan." pembantu itu menyodorkan sebuah Amplop yang ia genggam.
Anton pun mengambil amplop yang di serahkan oleh pembantunya tersebut, dan membuka lalu membacanya, ternyata surat tersebut adalah surat dari pengadilan Agama, surat cerai yang di ajukan oleh istri keduanya Sarah.
Kamu bahkan tidak memberikan aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuannya. Wajah Anton terlihat bersedih kembali.
__ADS_1
Anton duduk disofa, ia mengambil ponsel yang ada di dalam kantong celananya dan terlihat berusaha menghubungi seseorang. Dan ternyata Anton menghubungi pengacara handalan keluarnya, dan meminta pengacara tersebut untuk mengurus proses perceraiannya dengan Sarah.
Anton memang Sedih dan merasa hancur atas keputusan Sarah yang ingin bercerai, namun ia tidak mau egois dan menghambat proses perceraian itu, Anton ingin semuanya berjalan lancar agar Sarah segera bebas darinya. Karna ia ingin fokus mencari istrinya Zahwa, akhirnya Anton memutuskan untuk tidak mau terlalu sibuk mengurus perceraiannya dengan Sarah, lalu menyewa pengacara saja untuk membantu mempercepat proses perceraiannya dengan Sarah.
Setelah menelpon pengacara, Anton pun memberikan uang untuk berbelanja keperluan dapur kepada kedua pembantunya, meski pun dalam keadaan sedih ia tetap harus memikirkan orang orang di sekitarnya, Anton lalu memilih kembali menuju rumah orang tuanya, karna ingin menunggu kepulangan papanya, dan merasa tidak sanggup untuk tinggal sendiri di rumah Zahwa, ia pasti akan merasakan sedih yang mendalam akibat terlalu merindukan istrinya.
Dirumah orang tuanya Anita dan Anisa sudah berada disana, mereka berniat untuk menemui dan melihat keadaan Anton, sungguh mereka merasa kasihan dengan nasib yang dialami oleh adik laki laki mereka itu.
Anton masuk dengan menggenggam surat dari pengadilan, ia berjalan dan menuju ruang keluarga yang nampak terlihat ramai karna kedatangan ke dua kakaknya, ia pun duduk disofa disamping ibunya.
"Apa yang kamu pegang itu An.?" tanya Anita yang melihat sebuah amplop ditanya Anton.
"Surat dari pengadilan agama kak." jawab Anton, dan terlihat semua orang jadi terkejut mendengar ucapan Anton.
"Apa nak, surat dari pengadilan.?" mamanya terlihat berusaha mengambil dan membaca isi surat itu.
"An kamu yang sabat ya nak, mama yakin semua ini pasti ada hikmahnya sayang." mamanya terlihat mengusap usap punggung Anton dengan lembut.
"An, biarkan Sarah bebas, agar dia tidak merasa tertekan dengan semua ini, sarah berhak mendapat kebahagiannya." ucap Anita setelah ia juga membaca surat itu, ia berusaha membuat adiknya agar tidak terlalu bersedih.
"Dengan begini kamu bisa fokus untuk memperbaiki hubungan mu dengan Zahwa An, dan kamu juga tidak perlu merasa khawatir karna harus memikirkan perasaan Sarah." timpal Anisa.
"Iya kak, aku hanya ingin fokus mencari Zahwa dan Anakku kak, karna aku tidak mau kehilangan mereka juga. Dan aku sudah meminta pengacara kita intuk mengurus semua ini, aku ingin semuanya berjalan dengan cepat, agar Sarah bisa merasa bebas dengan ku." Jawab Anton, dan semua orang pun terlihat mengangguk mengerti dengan ucapan Anton.
__ADS_1