
Rudi dan Sarah memutuskan untuk pulang dari butik, mereka berjalan keluar dengan beriringan menuju areka parkir tempat mobil mereka terparkir, namun sebelum memasuki mobilnya, Rudi bermaksud untuk membicarakan sesuatu hal ke pada Sarah. Sebenarnya Rudi sudah sejak tadi ingin menyampailan keinginannya itu, namun entah mengapa ia masih merasa ragu untuk mengatakannya dengan Sarah karna takut akan kecewa, tapi ia sangan ingin sekali mengajak Sarah untuk pergi, dan akhirnya Rudi memberanikan diri untuk menyampaikan keinginannya itu.
"Sarah.!" panggilnya.
"Iya."
"Apa aku bisa meminta bantuan mu.?'' ujar Rudi.
"Apa itu Rud.?"
"Aku ingin meminta bantuan mu untuk menemani ku, pergi ke acara pernikahan relasiku." ucap Rudi dengan sedikit keraguan.
"Kapan, dan dimana Rud.?"
"Dua hari lagi, di Bali." jawab Rudi.
"Di Bali.?" Sarah mengerutkan dahinya.
"Hmm, sekalian refreshing. Tapi kalau kami tidak bisa ya tidak apa apa." ucap Rudi tersenyum, lalu ia pun membuka pintu mobilnya dan masuk kedalam, karna takut mendapatkan jawaban yang mengecewakan.
"Baiklah Rud, aku bersedia." ucap Sarah tersenyum, sambil menundukkan kepalanya melihat laki laki itu melalui kaca mobil yang terbuka lebar, ia tidak ingin membuat Rudi merasa kecewa, apa lagi selama ini laki laki itulah yang selalu menghibur dan membantunya.
Senyum kebahagiaan pun terpancar dari wajah Rudi, setelah berpamitan ia pun pergi meninggalkan Sarah. Dan Sarah pun segera masuk kedalam mobilnya lalu pulang menuju apartemennya.
***
Setelah selesai sholat magrib, Anton dan Zahwa terlihat keluar dari dalam kamar, mereka menuruni anak tangga dan menuju meja makan, Namun karna belum melihat Nazwa disana, Zahwa pun berniat memanggil saudarinya itu untuk makan malam bersama.
Tok tok tok..
"Na.!" panggil Zahwa sambil mengetuk pintu, dan tak lama pintu pun terbuka.
"Ada apa Za.?"
"Ayo kita makan malam." ajak Zahwa
"Kamu dan mas Anton duluan saja ya, aku masih sangat kenyang, nanti kalau sudah merasa lapar aku akan makan sendiri." ujar Nazwa.
"Apa kamu yakin tidak mau makan bersama kami.?" tanya Zahwa lagi.
__ADS_1
"Hmm, duluanlah." jawab Nazwa.
Lalu Zahwa pergi meninggalkannya. Bukan tanpa sebab Nazwa menolak untuk makan bersama, hari ini Zahwa memasak makan malam sendirian, karna ingin memasak makanan special untuk suaminya, jadi ia pun membiarkan saudarinya itu untuk makan malam romantis bersama suaminya tampa gangguan darinya, di tambah lagi kejadian yang dilihatnya sore tadi, membuat Nazwa masih merasa malu sendiri melihat kemesraan Anton dan Zahwa, kadang Nazwa menjadi merinding bila mengingat kejadian tersebut, maklum saja karna ia sama sekali belum pernah berpacaran.
Ya tuhan maafkan aku yang kadang jadi berfikiran ingin segera menikah karna melihat kemesraan mereka, segerakan memberi ku jodoh yang terbaik tuhan, agar bisa merasakan indahnya menjalankan ibadah mu dalam berumah tangga. ucapnya dalam hati namun setelahnya ia pun terlihat menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum, karna merasa malu sendiri dengan isi kepalanya.
Sehabis makan malam, Zahwa dan Anton memilih kembali ke dalam kamarnya. Mula mula mereka hanya duduk disofa dan sedikit bercanda, hingga akhirnya mereka terlihat sibuk masing masing dengan pekerjaan mereka. Anton terlihat fokus mengerjakan laporan dengan labtop yang ada di pangkuannya, sedangkan Zahwa sibuk memilih pakaian yang akan ia bawa untuk nanti Anton dan dirinya kenakan saat pesta pernikahan relasi suaminya itu.
Zahwa terlihat memilih baju yang akan ia kenakan saat perta, namun ia sedikit merasa heran karna entah mengapa baju yang pernah ia pakai dulu kini sudah hampir sempit semua, apa lagi pada bagian perutnya.
Apakah sekarang aku bertambah gendut.? fikirnya.
"Mas." panggil Zahwa.
"Hmm." Anton melihat sekilas istrinya, lalu kembali menatap layar laptopnya.
"Apa sekarang aku tambah gendut.?" tanya Zahwa.
Anton pun kembali melihat kearah istrinya dengan mengerutkan dahinya. "Ada apa sayang, kenapa kamu tiba tiba bertanya begitu.?" ucap Anton.
"Aku bingung mas harus memakai baju yang mana saat nanti pesta pernikahan relasi mas itu, karna hampir semua baju ku terasa sempit mas." ucap Zahwa dengan sedikit memasang wajah memelasnya.
"Itukan sama saja mas, berarti sekarang berat badan ku bertambah naik." jawabnya, membuat Anton tertawa keras.
"Kalau begitu besok tidak perlu membawa pakaian dari rumah sayang." ujar Anton lagi.
"Lalu.?" Zahwa bingung.
"Besok saat tiba di bali, kita beli saja baju untuk mu dan juga mas, agar kamu juga tidak terlalu repot membawa bawa koper pakaian kita." jelas Anton lagi.
"Iya mas."
Anton pun terlihat kembali mencubit lembut pipi Zahwa, entah mengapa setelah ia benar benar memperhatikan wajah istrinya, kini Anton menjadi merasa gemas dan selalu ingin mencubit pipi Zahwa, ia seakan akan mendapatkan mainan baru.
Adzan isya berkumandang, keduanya pun segera melakukan Sholat berjamaah dikamar, dan setelah selesai, Zahwa memutuskan untuk menemui Nazwa, bermaksud memberi tahu saudarinya tentang perjalan dirinya dan Anton besok pagi.
"Na." panggilnya, lalu segera masuk karna melihat pintu kamar Nazwa yang sedikit terbuka, dan duduk di tepi tempat tidur Nazwa.
"Ada apa Za.?" tanyanya, Nazwa terlihat baru saja selesai melaksanakan sholat isya, karna saat memasuki kamarnya, Zahwa melihat ia sedang membuka mukenanya.
__ADS_1
"Aku dan mas Anton besok akan pergi keluar kota. Kamu tidak apa apakan tinggal sendiri dirumah.?" ucap Zahwa.
"Memangnya kalian mau pergi kemana Za.?" ucapnya sedikit heran, karna tadi siang Zahwa tidak pernah bicara apa apa kepadanya.
"Mas Anton mengajak ku untuk menghadiri pesta pernikahan relasi kerjanya di Bali." jelasnya.
"Ohh begitu, aku tidak apa apa sendiri dirumah, lagiankan ada bibi. Mana mungkin juga aku ikut bersama kalian, besok kan hari pertama aku masuk kerja. " jawabnya.
"Iya." lalu saling melempar senyuman.
"Berapa hari kalian disana Za.?"
"Aku belum tau na, karna mas Anton bilang, dia ingin sekalian liburan." jelasnya.
"Ohh. Ya sudah." mengangguk mengerti
"Aku ke kamar dulu ya." pamitnya.
"Hmm."
Zahwa pun kembali ke dalam kamarnya. Anton yang semula terlihat sibuk dengan ponselnya, segera meletakkan ponselnya itu ke atas nakas saat melihat istrinya telah kembali ke dalam kamar, lalu ia terlihat memukul pelan kasur tempat tidur di sebelahnya, mengisyaratkan agar istrinya segera naik ke atas tempat tidur.
"Sudah bicara dengan Nazwa.?" tanyanya sambil menjulurkan tangan ke arah Zahwa yang ingin menaiki tempat tidur.
"Iya mas." menyambut dan menggenggam uluran tangan suaminya, lalu naik ke atas tempat tidur.
Dan saat istrinya sudah berada disampingnya, lagi lagi Anton terlihat mencubit lembut dan mengelus ngelus pipi Zahwa, Anton benar benar merasa senang saat melakukan itu semua.
"Mas, apa aku benar benar terlihat gendut sekarang.?" tanyanya lagi.
"Tidak sayang, kamu hanya sedikit lebih imut sekarang." jawab Anton tersenyum.
"Mas, menggoda ku.?" tanya Zahwa. Lalu Anton tertawa pelan.
"Aku tidak sedang menggoda sayang, lagi pula mau seperti apa dirimu nanti, aku akan tetap menyayangimu, karna kamu seperti ini demi buah hati kita, keturunanku." jawab Anton.
"Terima kasih mas." ucapnya tersenyum.
"Iya sayang." mencium lembut kening istrinya. "Ayo tidur."
__ADS_1
"Iya mas." dan berbaring disamping suaminya. Anton menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya, lalu terlelap bersama dengan saling berpelukan.