
Sarah yang sangat terkejut saat mendapatkan telpon dari papanya, akhirnya memutuskan untuk segera pulang dari Bali bersama Rudi esok pagi. Papanya mengatakan bahwa Mamanya tertangkap polisi karna kabur setelah tidak sengaja menabrak seseorang, tapi papa Sarah masih merahasiakan siapa korban dari tabrak lari mamanya itu.
"Ma.! Apa yang telah mama lakukan, kenapa mama bisa bertindak seperti ini ma.?" tanya papa Sarah saat ia telah bertemu dengan istrinya itu di kantor polisi.
"Mama tidak sengaja pa, awalnya mama cuma mau kasih dia sedikit pelajaran saja, tapi ehh dia malah tersungkur dan terkena trotoar deh sepertinya kepalanya itu." jelas mama Sarah dengan sikap masa bodoknya.
"Mama ini kenapa sih, kenapa masih saja cari masalah dengan keluarga pak Gunawan, mama itu tau gak, kalau mama itu bermain main dengan nyawa orang lain ma, kalau sudah seperti ini papa harus berbuat apa ma.?" ucap papa Sarah yang terlihat kesal dan kebingungan.
"Pa mama lakukan ini karna tidak terima dengan apa yang telah mereka lakukan dengan Sarah, sudah itu saja tidak ada maksud lain." jawab mama Sarah lagi.
"Ma, bukan mereka yang salah, tapi Sarah yang memilih jalan hidupnya seperti ini. Sekarang papa harus bagaimana ma, semua bukti jelas menunjukan bahwa mamalah pelakunya, dan pak Gunawan pasti tidak akan mencabut tuntutannya ma." jelas suaminya kesal.
"Pa, mama mohon lakukan sesuatu, mama tidak mau tidur disini. Pa, sewa pengacara yang handal dan mahal saja ya pa." rengeknya kepada suaminya itu dengan menangis yang sengaja ia buat agar suaminya merasa iba.
"Iya ma, papa akan usahakan, tapi untuk malam ini mama terpaksa harus menginap disini, karna papa tidak bisa memberikan jaminan apa apa untuk membawa kamu pulang ma." ujar suaminya lagi, dan hal itu membuat mama Sarah menjadi takut dan menangis sungguhan.
Seorang polisi akhirnya membawa kembali mama Sarah kedalam selnya, karna sudah habis jam besuk, meski memohon dengan air mata yang berderai, tak akan membuat dirinya bisa keluar dari kantor polisi itu malam ini.
Papa Sarah pun meninggalkan kantor polisi dengan sangan sedih dan berat hati, meski mama Sarah adalah istri yang selalu membangkang dan tidak pernah mendengarkannya, namun tetap saja seorang suami akan merasa sedih bila melihat istrinya harus tertidur di dalam sel karna harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Di rumah sakit, setelah pak Gunawa dan pak Rahmat kembali, mereka pun terlihat bersikap biasa seolah olah tidak terjadi apa apa, karna pak Gunawan meminta kepada pak Rahmat untuk tidak dulu menceritakan apa yang baru saja mereka ketahui kepada Anton, dan pak Rahmat pun bisa mengerti maksud dan tujuan besannya itu masih merahasiakan semua itu.
Karna tidak mungkin jika semuanya tinggal di rumah sakit, akhirnya pak Gunawan dan yang lainnya memutuskan untuk pulang kecuali Anton, karna ia tidak ingin meninggalkan istrinya itu sendiri sedetik pun, dan Nazwa pun membawa paman dan bibinya itu kembali kerumah Zahwa, meski kedua orang tua Zahwa merasa berat hati meninggalkan putrinya namun, mereka harus tetap pergi dari rumah sakit itu, demi kenyamanan pasien pasien lainnya juga.
***
Matahari mulai terlihat memancarkan sinar terangnya, di ruang ICU Anton masih tampat tertidur disamping istrinya dengan posisi duduk dan meletakan kepalanya diatas tangannya yang ada diatas kasur termpat Zahwa terbaring lemah, sebelah tangan Anton pun terlihat selalu menggenggam tangan istrinya itu dan ia enggan untuk melepaskannya.
Entah sudah selarut apa matanya baru mau terpejam karna semalaman ia msih terlihat terjaga dan berusaha membuat istrinya sadar, berharap istrinya itu bisa membuka matanya. Kadang Anton pun tak kuasa menahan air matanya, saat mengingat semua tingkah laku istrinya, hingga penderitaan yang selalu dialami Zahwa.
Anton juga tak henti hentinya menyalahakkan dirinya sendiri, karna telah memperlakukan istrinya dengan kasar, bersikap tidak adil, bahkan menduakan istrinya itu, setelah badai rumah tangga berlalu pun, kini Zahwa masih saja mendapat penderitaan. Anton benar benar merasa lalai dan gagal menjaga istri dan anaknya itu.
Orang tua Zahwa pun telah kembali tiba dirumah sakit, mereka pun masih terlihat cemasnya karna keadaan Zahwa yang sampai kini belum juga sadarkan diri. Sedangkan orang tua Anton, menuju ruang perawatan Anisa untuk melihat keadaan anak dan cucu mereka.
"Ma.!" panggil Anisa.
"Iya Sayang."
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Zahwa ma.?" tanya Anisa.
"Zahwa masih dalam keadaan kritis nak, kita do'a saja semoga dia cepat sadar sayang."
"Aamiin.. Ma! Aku ingin melihat keadaan Zahwa." ujar Anisa.
"Baiklah, mama akan meminta kakak mu untuk membawakan kursi roda kemari ya." ujar mama Melinda kepada Anisa.
"Iya ma."
Mama Melinda pun menghubungi putri sulungnya itu, dan mengatakan keinginan Anisa. Dengan segera Anita memerintahkan kepada salah satu perawatnya untuk menghantarkan kursi roda ke dalam ruangan Anisa.
Anisa pun berjalan menuju ruang ICU tempat Zahwa dirawat bersama mamanya yang mendorong putrinya itu dengan kursi roda, dan saat tiba disana merekapun disambut oleh orang tua Zahwa yg sudah terlebih dahulu ada diruang tunggu.
"Anton masih berada didalam mba yu, sepertinya dia tertidur." ujar bu Ningsih kepada besanya itu.
"Iya, biar saya coba membangunkannya dulu." jawab Mama Melinda, dan bu ningsih pun terlihat menganggukan kepalanya.
Mama Melinda pun berusaha untuk masuk dan membangunkan Anton yang memang terlihat masih tertudur di samping Zahwa dalam posisi duduk.
"Hmm." Anton pun mencoba membuka matanya dan membalik tubuhnya untuk melihat mamanya, tampak sekali mata Anton terlihat membengkak akibat menangis dan menahan kantuknya.
"Nak, lebih baik kamu tidur saja di ruangan khusus kakak mu, biar Zahwa mama dan ibu mertua mu yang jaga." ujar mama Melinda.
"Tidak ma, aku tidak mau kalau nanti Zahwa siuman tapi tidak melihat aku disisinya." jelas Anton lagi sambil menggenggal dan mencium jemari tangan istrinya.
"Nak, kamu juga perlu beristirahat agar tidak ikut sakit." ucap mamanya lagi dengan rasa pilu dihatinya.
"Aku tidak apa apa ma, aku akan selalu kuat untuk menanti kepulihat istri ku." ujar Anton yang tampak tersenyum kecil.
Mama Melinda pun tak sanggup lagi meneruskan ucapannya karna sedih melihat kondisi Anton, ia pun memilih keluar lalu mendorong kursi roda yang ditumpangi Anisa masuk kedalam. Setelah melihat kondisi adik iparnya itu, Anisa pun kembali kekamar perawatanya dengan dibantu mamanya.
***
Sementara itu, Sarah dan Rudi terlihat telah tiba dibandara, mereka sengaja mengambil penerbangan awal agar bisa segera sampai di Jakarta. Rudi pun telah meminta supir pribadinya untuk menjemput mereka dibandara dan segera menghantarkan Sarah menuju rumah orang tuanya agat bisa bertemu dengan ayahnya.
Setelah tiba di rumah, Sarah dan Rudi disambit oleh ayah Sarah, dan terlihat air mata pun mengalir dari sudut mata keduanya, papa Sarah mengajak keduanya masuk dan duduk di sofa, lalu setelahnya mereka pun mulai membahas tentang penabrakan yang dilakukan oleh mamanya.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi pa.?" tanya Sarah.
"Papa juga tidak mengerti apa yang ada didalam fikiran mama mu nak." jawabnya.
"Lalu bagaimana dengan keadaan korban pa.?"
"Papa juga tidak tahu pasti, tapi yang papa dengar korban dalam keadaan keritis karna kepalanya membentur trotoar jalan, dan korban juga dalam keadaan hamil." jelas papanya.
"Astaghfirullah. Apa keluarga mereka menuntut pa.?" tanya Sarah lagi.
"Tentu saja nak, dan papa rasanya tidak bisa membantu mama mu nak, karna memang mama mu terbukti bersalah." jelas papanya lagi.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita coba untuk temui keluarga korban pa, bila perlu kita akan tanggung jawab dengan seluruh biaya pengobatanya." ucap Sarah.
"Tidak perlu nak, karna papa yakin merek akan menolaknya, apa lagi mereka bukan keluarga sembarangan, lagi pula setelah kamu tau siapa korbannya, apa kamu yakin masih mau untuk menemui keluarga korban.?" tanya papanya.
"Kenapa pa, memangnya siapa korbannya pa.?" Sarah terlihat bertanya dengan antusias, karna binging dengan ucapan papanya itu.
Papa Sarah pun terlihat menundukkan kepalanya, setelah mengambil nafas dalam dan menghembuskannya kembali, papa Sarah kembali menatap wajah putrinya, dan mencoba memberikan penjelasan.
"Dia bekas madu mu nak, istri dari Anton Putra Wijaya." ucap papanya.
"APA." Bagai tersambar petir, saat mendengar ucapan papanya, Sarah pun membanting tubuhnya kepada sandaran sofa tempatnya duduk.
"Iya nak, mama mu sepertinya menyimpan dendam dan berusaha melampiaskannya terhadap istri Anton." ucap papanya lagi.
"Kenapa pa, kenapa mama tega sekali melakukan ini kepada ku. Aku yakin keluarga itu pasti akan semakin membenci ku." ucap Sarah lagi dan kali ini dia tidak bisa lagi menahan air matannya.
"Sabar Sarah, kita harus hadapi semua ini, aku yakin keluarga Anton tidak akan secepat itu menyimpulkan semuannya ini adalah kesalahan mu." ujar Rudi mencoba memberikan dukungan kepada Sarah.
"Semoga saja Rut, tapi untuk urusan mama, aku yakin mereka juga pasti tidak akan mau membebaskan mama begitu saja." Sarah kembali meneteskan air matanya saat mengingan nasib yang harus diterima oleh mamanya itu.
"Hmm, papa juga yakin begitu nak, tapi mungkin ini memang jauh lebih baik untuk mama mu, karna menyimpan dendam kepada yang tidak seharusnya dia salahkan." ucap papanya lagi.
"Iya pa, mau tidak mau mama harus mempertanggung jawabkan perbuatanya." ucap Sarah lagi.
Siang itu juga Sarah berniat untuk menuju kantor polisi bersama Rudi, ia berniat untuk menemui mamanya yang ada didalam tahanan.
__ADS_1