Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 158


__ADS_3

Di rumahnya, Reyhan terlihat mengetuk kamar Rangga, ia tahu jika adiknya itu pasti sedang mempersiapkan diri untuk pergi kekantor.


"Rangga, bisa mas masuk?" tanya Reyhan dari luar.


"Tidak terkunci mas masuk saja." jawab Rangga dari dalam.


Reyhan pun membuka pintu lalu masuk dan duduk di tepi tempat tidur Rangga, sedangkan Rangga masih terlihat memakai dasinya.


"Ada apa mas?" tanya Rangga yang memalingkan wajahnya untuk melihat Reyhan sebentar, lalu kembali fokus memasang dasi sambil melihat dirinya yang ada didepan cermin. Rangga tahu sekali jika Reyhan menemuinya pagi pagi sekali seperti itu, pasti ada sesuatu hal yang akan ia sampaikan.


"Mas cuma mau memberitahu mu, kalau hari ini rumah impian kita akan segera dibangun." ujar Reyhan dengan semangat.


"Mas serius?" tanya Rangga yang hampir tidak percaya.


"Iya dong, kemarin aku minta papa untuk menghubungi ustad, dan beliau setuju, beliau juga bilang kalau dia akan membantu untuk mengawasi pembangunan rumah itu." jawab Reyhan.


"Alhamdulillah mas, aku senang." jawab Rangga.


"Tapi sayang, sepertinya rumah itu tidak bisa kamu gunakan untuk bulan madu, karena mas gak yakin rumah itu akan selesai sebelum acara pernikahan mu." jelas Reyhan, membuat Rangga tertawa mendengarnya.


"Jangan fikirkan itu mas, aku hanya bercanda." jawab Rangga


"Kamu sih pake sakit segala, mas jadi bungung merancangnya sendiri." jawab Reyhan menggurauwi.


"Aku minta mas." jawab Rangga dengan tersenyum.


Usai berbicara dan mempersiapkan dirinya, Rangga dan Reyhan pun turun kebawah untuk sarapan, lalu setelahnya Rangga pun pergi kekantor.


***


Pukul sebelas siang, Zahwa terlihat mulai mempersiapkan dirinya, ia sudah tidak sabar menunggu kehadiran suaminya untuk membawanya melihat toko kue yang telah selesai di renovasi.


Dan seperti biasa, setelah jam menunjukan waktunya untuk istirahat, Anton segera keluar dari kantornya dan segera pulang untuk menemui istrinya dan membawanya ketoko kue.


"Sudah siap?" tanya Anton kepada istrinya itu, yang terlihat duduk di tepi tempat tidur mereka, menunggu Anton mengganti pakaiannya.


"Iya mas." jawab Zahwa sambil menganggukan kepalanya.


Mereka pun segera turun, dan masuk kedalam mobil, perlahan lahan kendaraan yang dikendarai oleh Anton pun meninggalkan halaman rumah merek, dan menuju toko kue milik Zahwa.


Sesampainya di lokasi, Zahwa terlihat tertegun saat melihat pemandangan tokonya dari luar. Bertambah besar, itulah hal pertama yang ia sadari perubahan dari toko kuenya.


"Ayo." Anton mengajak istrinya itu untuk masuk dan melihat kedalam. Ia pun berjalan mendekati Zahwa, lalu menggandek tangan istrinya itu.


Saat berada di dalam, Zahwa benar benar terpukau melihat tokonya. Tampak elegan, dan kini berlantai dua, dibagian atas terlihat sebuah ruangan yang cukup besar dibuat untuk sholat, mengingat semua kartawan Zahwa yang semuanya seorang muslim, dan taat selalu terbiasa menyempatkan diri untuk beribadah.


"Mas, ini cantik sekali." ucap Zahwa.


"Kamu suka?" tanya Anton.


"Iya mas, terima kasih." jawab Zahwa.

__ADS_1


"Iya sayang." jawab Anton dengan tersenyum. Ia merasa sangat senang karena bisa membuat istrinya senang.


Zahwa masih melihat lihat bagian dapur pembuatan kue di tempatnya itu, sementara Anton terlihat menemui pekerja dan juga kontraktor yang mengurus renovasi toko istrinya itu.


Selesai melihat toko milik istrinya itu, kini Anton terlihat membawa Zahwa, menuju mall besar yang biasa mereka kunjungi, disana Anton membawa Zahwa menuju toko perhiasan yang ada di dalam mall itu.


Sebelumnya, Anton sempat menanyakan kepada Zahwa, apakah sudah mendapatkan ide untuk kado pernikah Nazwa, dan karena Zahwa menjawab belum, maka Anton pun memberikan ide kepada istrinya, untuk membelikan perhiasan saja untuk Nazwa.


***


Senentara itu di kantor, Rangga dan Nazwa terlihat keluar dari gedung prusahaan, lalu mereka menaiki mobil dan pergi menuju butik milik Sarah.


"Mas, akhir akhir ini aku lihat mas tampak kurusan." ujar Nazwa bertanya memecah keheningan saat mereka dalam perjalanan menuju butik Sarah. Rangga pun tersenyum mendengar ucapan Nazwa, lalu ia pun berusahan untuk menjawab.


"Itu mungkih hanya perasaan mu saja." jawab Rangga dengan tersenyum, ia pun memalingkan wajahnya dan melihat Nazwa yang tampak tidak puas dengan jawabanya.


"Tidak mas, aku benar benar melihat perubahan drastis dengan dirimu. Mas tidak sedang diet kan?" tanya Nazwa yang bertanya dengan serius.


"Tidak Nazwa, kamu tidak perlu khawatir aku baik baik saja." jawab Rangga lagi.


"Aku tahu persiapan pernikahan kita sangat melelahkan, ditambah lagi pekerjaan mu yang begitu banyak, tapi jangan sampai melalaikan kesehatan mas, aku takut terjadi sesuatu dengan mu." ujar Nazwa lagi.


"Iya.." jawab Rangga, senyuman pun masih tampak di wajahnya.


Wajah Rangga memang tersenyum manis, namun hati rangga terasa begitu sakit karena harus berbohong kepada kekasihnya. Sungguh ia tidak ingin membuat Nazwa merasa khawatir, hingga ia terpaksa membohongi Nazwa dan mengatakan kalau dirinya baik baik saja.


Saat tiba di butik Sarah, Rangga dan Nazwa disambut baik oleh pegawai yang berkerja di butik itu, mereka memang sudah menunggu kedatangan Rangga dan Nazwa untuk melakukan fitting baju pengantin.


"Assalam'mualaikum." ucap Nazwa.


"Terima kasih." jawab Nazwa, lalu mereka pun menunggu diruang tunggu.


Tidak perlu menunggu lama, Sarah pun akhirnya keluar dari dalam ruangnya lalu segera menemui Nazwa.


"Nazwa, apa kabar?" tanya Sarah berbasa basi.


"Alhamdulillah baik mba." jawab Nazwa.


"Sebentar ya." ujar Sarah, lalu ia memanggil karyawannya untuk mempersiapkan gaun Nazwa yang mereka pasang di sebuah patung manekin.


Dua orang pegawai Sarah datang dengan membawa gaun pernikah Nazwa, dan tampak dengan jelas wajah Nazwa terlihat begitu terpukau melihat baju pengantinya.


"Subhanallah, ini cantik sekali mba." ucap Nazwa sambil berjalan mendekati manekin.


"Kalau kamu yang pakai pasti akan bertambah cantik." puji Sarah.


"Mba bisa aja." jawab Nazwa dengan tersenyum malu.


"Kalau begitu ayo di coba dulu." ujar Sarah, lalu ia pun meminta pegawainya untuk melepas gaun itu dari manekin, dan memberikanya kepada Nazwa untuk ia kenakan diruang pas yang tersedia.


Setelah selesai memakai gaunnya, Nazwa pun keluar untuk menunjukan kepada Sarah dan Rangga yang berada diluar ruangan menunggunya. Rangga sangat terpukau saat melihat Nazwa keluar, karena gaun yang di kenakan oleh Nazwa terlihat begitu cocok dan cantik saat ia kenakan, meskipun tanpa riasan make up di wajah Nazwa, namun gaun itu sudah cukup membuat Nazwa tampak sangat cantik.

__ADS_1


"Cantik sekali.." puji Sarah saat melihat Nazwa dengan gaunnya.


"Tetima kasih mba." jawab Nazwa dengan senyum malu diwajahnya.


"Rangga, gimana menurut mu?" tanya Sarah.


"Bagus, cocok sekali." jawab Rangga, meski sebenarnya ia sangat terpesona melihat penampilan Nazwa, namun Rangga berusaha tetap tenang dan bersikap cool.


"Kalau begitu sekarang giliran Rangga." ujar Sarah sambil menunjukan setelah jas berwarna putih yang senada dengan gaun Nazwa kepada Rangga. Ia pun mencoba baju pernikahanya dan setelah merasa tidak ada yang kurang ia pun membuka kembali bajunya dan memberikanya kembali dengan pegawai Sarah.


Rangga dan Nazwa keluar dari butik setelah mereka selesai fitting dan melakukan pembayaran kepada Sarah, untuk gaun dan juga setelan jas pernikahan mereka, akan di hantarkan oleh karyawan Sarah menjelang pernikahan mereka.


"Kita makan siang dulu ya." ujar Rangga.


"Iya mas." jawab Nazwa.


"Setelah makan siang, kita akan kerumah mas Reyhan, hari ini akan ada orang yang menghantar contok kartu undangan untuk pernikahan kita." ujar Rangga lagi.


"Iya mas." jawab Nazwa lagi dengan tersenyum.


Usai makan siang, Rangga dan Nazwa menuju rumah kediaman Rangga, disana tampak tante Rita pun telah menunggu kedatangan mereka.


"Assalam'mualaikum." ucap Rangga dan Nazwa bersamaan.


"Waalaikum salam. Ayo masuk sayang." ajak tante Rita setelat Nazwa mencium punggung tanganya.


Dan tidak lama berselang, seorang utusan dari WO yang rangga pakai pun datang dengan membawa contoh kartu undangan mereka.


"Gimana Rangga, kamu suka?" tanya tante Rita.


"Iya tante aku suka." jawab Rangga. "Gimana, kamu juga suka kan?" kini Rangga yang terdengar bertanya kepada Nazwa.


"Iya mas aku juga suka." jawab Nazwa.


"Syukurlah, kalau begitu kami mau yang seperti ini saja ya, dan tolong buatkan seribu undangan." ujar tante Rita kepada pria yang menghantar contoh undangan itu.


"Baik bu, kalau begitu saya permisi dulu, besok siang insya allah semuanya akan selesai dan akan kami hantarkan kemari." jawab pria itu.


"Baiklah terima kasih." jawab tante Rita.


"Sama sama bu, kalau begitu saya permisi dulu." jawab pria itu lalu pergi meninggalkan rumah kediaman Reyhan itu.


"Tante senang sekali, akhirnya pernikahan kalian tinggal menghitung hari." ujar tante Rita.


"Alhamdulillah tante." jawab Nazwa dengan malu malu.


"Aku permisi kekamar dulu tante." ujar Rangga yang berniat untuk mengganti bajunya dan meminum obatnya yang ada didalam kamar, Rangga pun terlihat ingin menuju lantai atas.


Baru saja berjalan beberapa langkah menuju tangga yang menghubungkan lantai bawah dan lantai atas, Rangga tiba tiba merasakan sesak lagi didadanya, dan seketika Rangga pun jatuh ambruk kelantai.


"Ranggaaa.." teriak tantenya saat mendengar dan melihat Rangga yang jatuh pingsan itu.

__ADS_1


Seketika Nazwa dan tante Rita berlari mendekati Rangga, mereka pun berteriak histeris sambil meminta bantuan kepada pembantu yang berkerja disitu.


Dibantu satpam dan juga sopir tante Rita akhirnya mereka pun pergi membawa Rangga yang masih tidak sadarkan diri menuju rumah sakit terdekat rumah kediaman Rangga.


__ADS_2