
Dengan begitu siaga Anton terlihat mendampingi Zahwa, juga dengan begitu sabar menemani dan membantu Zahwa untuk berjalan naik dan turun dari tangga yang ada di dalam rumah sakit, agar pembukaan berjalan dengan cepat dan lancar saat persalinan.
Zahwa terlihat meringis kembali menahan sakit saat kontraksi di perutnya kembali terasa, sebagai seorang suami yang mencintai istrinya, Anton merasa sangat bersedih saat melihat Zahwa harus merasakan sakitnya.
"Sakit sayang?" tanya Anton sambil mengusap lembut pinggang istrinya.
"Iya mas." Zahwa menggigit bibir bawahnya.
"Mas gendong kedalam ya?" tanya Anton.
"Jangan mas, aku jalan saja, lagi pula sebentar lagi juga sakitnya hilang." jawab Zahwa.
Dan benar saja, hanya dalam hitungan menit sakit Zahwa kembali hilang, dan mereka mulai berjalan lagi menuju kamar persalinan.
"Sayang." Anton kembali memanggil istrinya yang berjalan dengan langkah yang lambat di sampingnya.
'Hmm." Zahwa menolehkan kepalanya.
"Apa kamu menyesal?" tanya Anton yang tiba tiba.
"Untuk apa mas?" Zahwa bertanya sambil menaikan alisnya merasa bingung.
"Karena sudah merasakan kesakitnya mengandung anak dariku?" ujar Anton.
"Astaghfirullah mas, kenapa mas sampai berfikiran seperti itu?" tanya Zahwa dengan wajah yang sedih, ia pun menghentikan langkahnya, lalu menatap dalam wajah Anton.
"Sejak pertama kita menikah kamu selalu saja kesakitan oleh ku, bahkan sampai hari ini kamu harus merasakan fisik mu yang sakit, dan itu juga untuk melahirkan keturunan dari ku." jawab Anton dengan sedih, ia juga terlihat menatap wajah Zahwa yang berkeringat dengan sedih.
"Demi Allah, aku tidak pernah menyesal mas harus merasakan sakit demi anak kita, aku rela mengorbankan nyawa untuk melahirkan bayi kita ini kedunia, yang penting dia selamat. Bagi seorang wanita, dia akan menjadi prempuan yang sempurna apabila bisa melahirkan keturunan dari suaminya." jawab Zahwa, air matanya mulai berlinang.
"Maaf kan mas Zahwa belum bisa membuat mu bahagia, dan berjanjilah untuk terus ada disisiku selamanya." ujar Anton sambil menggenggam tangan istrinya yang ia angkat hingga kegadapan mereka.
"Sudah cukup aku merasakan kebahagiaan mas, bahkan aku yang kini merasa takut, takut tidak bisa menjadi istri yang baik untuk mu." jawab Zahwa.
__ADS_1
"Kamu sempurna untuk ku, aku bersyukur bisa memilikimu." Anton menarik Zahwa kedalam pelukannya.
Dan saat masih dalam pelukan Anton, Zahwa kembali merasa sakit yang mulai panjang ia rasakan.
Menyadari akan hal yang sedang dirasakan oleh istrinya, Anton pun dengan segera membawa Zahwa untuk masuk kedalam ruang persalinan.
"Mas." Zahwa menggenggam tangan Anton sambil menggigit bibirnya.
"Iya sayang, kamu mau gimana, bilang saja mas akan bantu selagi mas bisa." jawab Anton.
Namun Zahwa terlihat menggelengkan kepalanya.
Karingat mulai bercucuran di wajah Zahwa, kontraksi yang Zahwa rasakan durasinya semakin dekat dan semakin terasa panjang, membuat wajahnya memerah saat menahan rasa sakit.
Anton yang melihat istrinya menderita, sudah tidak dapat lagi bersabar dan menahan diri, ia terlihat menghubungi mamanya dan meminta mamanya untuk datang kerumah sakit agar bisa membantu istrinya, karena ia tidak tahu harus melakukan apa.
"Sayang, mas sudah tidak bisa bersabar lagi melihat kamu seperti ini, mas akan bilang dengan kak Anita agar menyiapkan operasi cesar saja." ucap Anton.
"Jangan mas, aku pasti bisa melahirkan normal." jawab Zahwa, berbicara sambil menahan sakit.
"Aku.." Belum sempat Zahwa menyelesaikan ucapannya, Anton tiba tiba pergi meninggalkannya dari ruangan itu, sambil berujar.
"Jangan membantah, mas akan panggil kak Anita." ujar Anton sambil keluar meninggalkan ruangan.
"Mas, mas." berkali kali Zahwa memanggil suaminya, namun Anton tetap pergi menuju ruangan Anita.
Anton berjalan sambil berlari menuju ruangan kakaknya yang tidak begitu jauh, dan tanpa permisi ia pun membuka pintu kakaknya itu dengan keras.
"Kak." panggil Anton dengan sedikit keras.
"Ada apa An?" tanya Anita yang terlihat terkejut.
"Aku sudah tidak bisa melihat Zahwa menderita kak, tolong lakukan sesuatu untuk istriku." ujar Anton.
__ADS_1
"Kamu harus sabar An, bukankah tadi sudah kakak katakan waktu Zahwa melahirkan itu sekitar satu jam lagi." jawab Anita mencoba menenangkan adiknya.
"Apa tidak bisa di percepat, Zahwa sudah sangat kesakitan, aku tidak mau terjadi sesuatu kepada istriku kak." ujar Anton lagi.
"Kita bisa melakukan operasi jika melahirkan normal tidak memungkinkan, tapi kondisi Zahwa sejauh ini stabil dan baik baik saja." jelas Anita dengan sabar, ia tahu rasa khawatir yang tengah dirasakan adiknya, karena suaminya pun dulu begitu.
"Tapi kak, aku kasihan." Anton terlihat memelas.
"An, kembali dan temani Zahwa, kamu harus bisa kuat dan menyemangati istrinya, agar Zahwa bisa mendapatkan kekuatan, kakak akan menyusul sebentar lagi." ujar Anita.
Anton pun keluar dengan perasaan kesal, ia terlihat membanting pintu riangan kakaknya dan dengan berlari kembali menuju ruang persalinan Zahwa.
Anton mendekati Zahwa yang masih terbaring, lalu mendekat dan bertanya kepada istrinya.
"Masih sakit?" tantanya lagi.
"Hmm." Zahwa mengangguk pelan.
"Minum dulu." Anton memberikan Air putih kepada istinya dan langsung di minum oleh Zahwa.
Kedua orang tua Anton datang dan memberikan semangat kepada Zahwa. Setelah tiga puluh menit berlalu sakit yang di rasakan oleh Zahwa pun semakin hebat.
Anita bersama dua orang suster pun datang ke dalam ruangan persalinan Zahwa, dan setelah memeriksa kembali Zahwa, anita pun mengatakan sudah saatnya Zahwa melahirkan.
Anton berada disamping istrinya saat proses persalinan berlangsung, ia dapat melihat dengan jelas bagaimana istrinya itu bertaruh nyawa untuk melahirkan buah hatinya, rasa bersalah dan takut pun menyelimuti Anton, sungguh ia benar benar merasa khawatir terhadap istrinya itu.
Anton kembali meneteskan air mata, tak kala mendengar teriakan yang timbul dari bibir istrinya, sakit yang tengah di rasakan Zahwa dapat terlihat jelas dan juga dirasakan oleh Anton saat mendengar teriakan Zahwa, bahkan ia merasa hatinya seakan tersayat melihat perjuangan istrinya.
Kesakita Zahwa pun Akhirnya lenyap seketika saat tangisan kecil dari bayi mungil yang berhasil ia lahirkan dengan normal itu terdengar, ucapan syukur pun berulang kali di ucapkan oleh Anton dan juga Anita.
"Alhamdulillah, terima kasih sayang." ujar Anton sambil berulang kali mencium kening dan wajah istrinya, tangis bahagia pun terlihat jelas di wajah Zahwa.
"Alhamdulillah bayi kalian terlahir sehat dan sempurna." ujar anita kepada adik dan adik iparnya itu.
__ADS_1
"Sus tolong bersihkan bayinya ya." Anita memberikan bayi Zahwa untuk di bersihkan, sedangkan ia memeriksa kembali kondisi Zahwa.
Usai di bersihkan dan memakaikan pakaian bayi, Anton pun mendekat dan menghampiri bayinya untuk di Adzankan.