
Zahwa menghangatkan semua masakan yang ia buat tadi siang dan meletakkannya di meja makan. Setelah selesai melakukan sholat magrib, ia mengajak suaminya itu untuk makan malam. Zahwa mengambil nasi dan meletakkannya di piring milik Anton.
"Apa kamu tidak ikut makan Za." tanya Anton yang melihat Zahwa hanya menyiapkan nasi untuknya.
"Tidak mas, aku makan ini saja." ucap Zahwa lalu menarik sebuah piring yang berisi batagor pembelian Anton yang juga sudah ia hangatkan.
Anton mulai menyendoki makanannya dan merasa bahwa makanan yang ia makan terasa begitu enak.
"Za apa kamu membeli semua ini.?" tanya Anton dengan menunjukkan semua makanan yang ada di atas meja, disana nampak ada sambal udang, sop iga, dan juga cumi goreng tepung yang dibuat oleh Zahwa.
"Tidak mas, aku membuatnya sendiri, apa mas tidak suka dengan masakan ku.?" tanya Zahwa dengan penuh keheranan.
"Tidak, ini semua sangat enak, sama seperti masakan dirumah mama, akhir akhir ini masakan di rumah mama memang terasa lebih enak apa kamu yang memasaknya.?" tanya Anton, ia memang tidak pernah tahu bahwa selama ini Zahwa sering membatu memasak di rumah mamanya setelah ia pulang kerja. Zahwa pun hanya tersenyum senang mendengar ucapan suaminya, ia merasa puas karna suaminya menyukai masakannya.
Anton merasa sedikit heran dengan cara makan Zahwa, istrinya itu makan dengan begitu cepat ia sudah seperti orang yang tidak makan selama berhari hari, apa kah batagor itu terasa begitu enak fikir Anton hingga istrinya makan begitu lahap, dalam waktu singkat Zahwa pun menghabiskan batagornnya.
"Za tidak mau makan nasi juga, kamu makan begitu lahap seperti orang kelaparan.?" ucap Anton dengan tersenyum.
"Tidak mas ini saja sudah cukup." ucap Zahwa dengan sedikit malu malu, ia memang terlihat sangat kelaparan.
"Za, sekarang mas tidak bisa selalu di samping mu, jadi tolong jagalah dirimu dengan baik, jangan lupa untuk makan dan jangan terlalu banyak fikiran ya, agar kamu tidak sakit." ucap Anton memperingati istrinya.
"Iya mas, lagian apa yang harus aku fikirkan, aku banyak sekali pekerjaan jadi tidak punya waktu untuk memikirkan mas yang berpoligami." ucap Zahwa dengan tertawa dan Anton pun ikut tersenyum mendengar godaan istrinya itu. Zahwa tentu tidak akan mengakui bahwa selama ini ia memang selalu memikirkan semua tentang kehidupannya itu.
Setelah selesai sholat isya, mereka memutuskan untuk tidur. Anton dan Zahwa sudah membaringkan tubuhnya diatas kasur, bahkan Anton pun sudah memejamkan matanya. Namun Zahwa yang juga sudah hampir tertidur tiba tiba tersadar bahwa ia belum meminum Vitamin yang di berikan oleh dokter, ia pun kembali bangun dan mengambil obat yang ada di dalam nakas. Zahwa pun mengambil satu pilnya dan membawanya keluar untuk mengambil air putih, Anton yang sebenarnya belum tidur membuka kembali matanya, ia bangun dan mengambil kantong plastik obat Zahwa, disana ia melihat ada tulisan sebuah nama rumah sakit dan hal itu membuat Anton sangat terkejut.
__ADS_1
Apa Zahwa sedang sakit, obat apa ini.? Anton bertanya tanya dalam fikirannya.
Zahwa pun kembali kedalam kamar setelah meminum obatnya, ia terlihat kaget melihat Anton yang sedang memegang kantung obatnya.
"Mas belum tidur.?" tanya Zahwa.
"Ini obat apa Za, apa kamu sedang sakit.?" ucap Anton yang sedik khawatir.
"Eee, tidak mas. Kemarin aku sedikit pusing dan ternyata dokter bilang aku terkena darah rendah." ujar Zahwa.
"Kenapa obatnya begitu banyak begini kalau kamu cuma terkena darah rendah." tanya Anton lagi.
"Ini obat pusing dan vitamin mas, dokter bilang aku harus banyak minum vitamin agar tekanan darah ku kembali normal." ucap Zahwa lagi yang sudah kembali duduk diatas kasur, ia mencari cari alasan karna tidak mau sampai suaminya itu tahu kalau ia sedang mengandung, Zahwa sangat takut kalau Anton akan menolak kehamilannya.
Anton pun meletakkan kembali kantong plastik itu, dan mengajak Zahwa untuk kembali tidur. Zahwa tidur dengan lengan Anton menjadi bantalnnya, ia pun tidur dengan nenghadap ke arah suaminya. Anton melihat den memperhatikan wajah istrinya, entah mengapa hatinya terasa begitu sakit melihat keadaan Zahwa, wanita itu memang terlihat lebih kurus dibandingkan saat pertama kali menjadi istrinya, mungkin karna begitu banyak beban yang ia hadapi, Anton pun akhirnya terlelap dengan sebelah tengannnya memeluk tubuh Zahwa.
Setelah selesai dengan semua urusannya di dalam kamar mandi, Zahwa pun keluar dan melakukan sholat subuh tak lupa sebelumnya ia pun membangun kan Anton untuk melaksanankan Sholat juga.
Zahwa pun membuatkan sarapan untuk Anton, ia memasak nasi goreng seafood dan meletakkannya di atas meja setelah suaminya itu sudah duduk disana.
"kamu tidak ikut sarapan juga Za.?" tanya Anton yang melihat Zahwa hanya menyediakan satu piring nasi goreng.
"Tidak mas, tadi aku sudah sarapan roti dan juga susu." ujar Zahwa.
"Sejak kapan kamu suka minum susu Za, sepertinnya waktu di rumah mama kamu hanya minum teh pagi pagi.?" tanya Anton lagi penuh keheranan.
__ADS_1
"Oh itu mas, dokter menyarankan agar aku banyak banyak menkonsumsi susu agar tekanan darah ku kembali normal." ucap Zahwa lagi meyakinkan suaminya.
"Ohhh, kalau begitu jagalah diri mu baik baik Za." ucap Anton.
"O ya, nanti tidak usah buatkan aku makanan karna pulang dari kantor aku akan langsung ke rumah Sarah." ujar Anton.
"Iya mas." Zahwa terlihat sedih mendengar ucapan suaminya itu.
"Apa kau ingin pergi ke toko, ayo ikut dengan mobil ku saja." Ajak Anton.
"Baik mas, aku bersiap siap dulu." ujar Zahwa lalu pergi ke kamar untuk mengambil tasnya.
Mereka pun terlihat memasuki mobil dan Anton mulai melajukan mobilnya. Zahwa belum menceritakan semua barang pemberian Anton sehingga ia merasa ada yang mengganjal dihatinnya.
"Mas." panggil Zahwa.
"Hmm." sahut Anton yang terlihat menoleh ke arah Zahwa sekilas. Terlihat Zahwa mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, ia pun mulai bercerita.
"Jangan marah ya mas.? dua hari yang lalu mas Reyhan tidak hanya membelikan ku boneka tapi dia juga membelikan ku pakaian, tas dan juga sepatu mas." ujar Zahwa dengan gemetar sungguh ia takut membuat suaminya itu akan marah.
"Lalu." ujar Anton yang terlihat cemberut.
"Apa aku boleh menerimannya, kalau tidak biar nanti aku kembalikan saja.?" ujar Zahwa lalu menggigit sedikit bagian bawah bibirnya.
"Jangan kau pakai saja sesukamu, lagian itu juga tidak seberapa berlebihan kan." ucap Anton, namun di dalam hati ia merasa kesal.
__ADS_1
"Iya mas." Sahut Zahwa, ia tidak ingin membahasnya terlalu penjang karna takut suaminya itu akan semakin kesal.