
Hari berlalu begitu cepat, satu hari di habiskan Reyhan untuk saling mengenal dengan Agra putra Nadia, itu ia lakukan agar Agra menjadi akrab dengannya dan dapat menerima pelajaran yang dia akan berikan.
Reyhan sebenarnya sangat kebingungan bagaimana caranya untuk menjadi guru les, hal ini baru pertama kali ia lakukan, dan juga karena jalan satu-satunya agar ia bisa dekat dengan Aisyah, akhirnya mau tidak mau ia menerima cara yang di buat oleh Nadia dan Firman.
Untung saja Reyhan berfikir dengan cepat untuk mencari cara, ia membuka aplikasi YouTube dan mencari cara agar bisa dekat dengan anak kecil untuk menjadi seorang guru les, ia pun langsung mempraktekkan yang di ajarkan oleh seorang YouTuber, dan syukurnya cara itu berhasil berjalan lancar, dalam waktu beberapa jam saja Agra langsung bisa akrab dengannya, bahkan suatu berkah bagi Reyhan karena mertua Aisyah pun terlihat mulai dekat dengannya.
Reyhan pulang dengan perasaan senang, satu langkah usahanya telah berhasil, dan tentu saja ia berharap langkah-langkah selanjutnya juga akan berhasil. Mobil Reyhan berhenti di depan rumah Nazwa, dengan tersenyum ia turun dan menyerahkan kunci mobilnya dengan Rangga yang kebetulan duduk di teras rumah mertuanya itu.
"Mas, mau aku antar?" Tanya Rangga, ia menawarkan diri untuk menghantar Reyhan ke rumahnya.
"Gak deh, jalan kaki saja." Jawab Reyhan dengan tersenyum.
Ia pun melangkah pulang dengan riang gembira, hingga membuat Rangga bingung serta penasaran, apa yang sebenarnya terjadi dengan kakaknya itu.
***
Usai Sholat Dzuhur di masjid pesantren, Reyhan bergegas pergi dengan mengendarai mobilnya, ia sudah tidak sabar ingin memulai aktifitasnya sebagai seorang guru, dan juga bertemu dengan Aisyah tentunya.
Reyhan di sambut gembira oleh Agra, dan mereka pun segera memulai kegiatan belajar mengajar mereka. Disela-sela aktifitas Reyhan dan Agra, Aisyah terlihat muncul dengan membawa minuman dingin ke hadapan mereka, sontak saja Reyhan menjadi terpaku saat melihat Aisyah, ia tak berkedip saat Aisyah berada di hadapannya.
"Manis." Gumam Reyhan, dan ucapannya itu terdengar oleh Agra.
"Paman suka?" Tanya Agra, sambil memberikan minuman jeruk dingin kehadapan Reyhan.
"Tentu saja." Jawab Reyhan. Sementara Aisyah masih berdiri di hadapan mereka memperhatikan tingkah Agra.
"Minum." Ujar Agra sambil kembali mendekatkan minuman itu hingga mengenai wajah Reyhan, rasa dingin yang tiba-tiba menyentuh kulit wajahnya membuat Reyhan terkejut, dan tidak sengaja menyenggol minuman itu hingga tumpah membasahi tubuhnya.
"Yahh, basah." Ujar Arga bersedih, ia nampak merasa bersalah kepada Reyhan.
"Maaf mas, maafkan Agra." Ujar Aisyah sambil mengambil gelas minuman yang masih di genggam Agra, sementara Reyhan mengibas-ngibaskan sisa air yang masih ada di bajunya.
"Gak, gak apa-apa." Jawab Reyhan.
"Ada apa, Ai?" Tanya Nadia yang keluar dari dapur saat mendengar keributan.
"Agra tidak sengaja menumpahkan minuman mas Reyhan mba." Jelas Aisyah.
"Kamu gak apa-apa, Rey?" Tanya Nadia.
"Gak apa-apa mba." Jawab Reyhan.
"Maaf ya Rey." Ujar Nadia.
"Om maafin aku ya." Ujar Agra dengan raut wajah sedih.
"Gak apa-apa sayang." Jawab Reyhan sambil mengusap lembut kepala Agra.
"Ai, coba carikan baju Arga, mungkin ada yang muat buat Reyhan." Pinta Nadia.
"Iya mba." Aisyah langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya, dan mencari baju suaminya untuk di berikan kepada Reyhan.
Setelah menemukan baju yang pas, Aisyah nampak terdiam sesaat menatap baju suaminya yang ada di tangannya, ia nampak bersedih karena teringat saat suaminya dulu pernah mengenakan baju itu untuk bertemu dengannya.
Sadar dari lamunannya, Aisyah segera keluar dan langsung memberikan baju itu kepada Reyhan, Dan Reyhan pun segera menuju kamar mandi yang ada di dapur untuk mengganti bajunya. Aisyah membersihkan tumpahan minuman dilantai, lalu ia membawa gelas-gelas minuman itu berniat untuk menggantinya dengan yang baru.
Di waktu yang bersamaan, Reyhan keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan baju Arga yang di berikan Aisyah. Sontak saja hal itu membuat Aisyah menjadi diam saat melihat Reyhan, bayangan tentang suaminya berlarian memenuhi isi kepalanya, rasa rindu yang sudah ia pendam bertahun membuat Aisyah tidak dapat membendung air matanya yang sudah akan tumpah, dan hal itu membuat Reyhan bingung.
Reyhan memperhatikan baju yang ia pakai, dan seketika itu ia pun paham, bahwa Aisyah pasti menangis karena merindukan suaminya.
"Aisyah." Reyhan berusaha mendekati Aisyah, dan tidak sengaja ia menyentuh tangan perempuan yang ada di hadapannya itu.
Aisyah pun terkejut saat tangan Reyhan menyentuh lengannya, tatapannya terlihat begitu tajam, dengan cepat ia menepis tangan Reyhan dan segera membalikkan tubuhnya.
"Ma, maaf aku tidak bermaksud." Belum Reyhan menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Aisyah segera pergi menjauh dari hadapannya saat ia mendengar suara batuk papa mertuanya yang sepertinya akan menuju ke dapur.
Reyhan segera kembali menemui Agra yang sudah mengganti baju karena ikut terkena air minum, lalu mereka memulai lagi pelajaran mereka.
__ADS_1
***
Beberapa hari setelah kejadian itu Aisyah jarang sekali muncul di hadapan Reyhan, dan terkesan menghindar, hal itu membuat Reyhan merasa bersalah, ia menceritakan kejadian itu kepada Nadia dan berniat untuk menghentikan semuanya karena tujuan Reyhan sebenarnya adalah mendekati Aisyah, namun Nadia berusaha dengan keras membujuk Reyhan agar tidak menyerah sampai di situ saja.
Nadia mencoba berbicara kepada Aisyah, ia mengatakan bahwa Reyhan ingin berhenti menjadi guru les Agra karena merasa bersalah kepada dirinya dan sikap Aisyah yang terkesan menghindar membuat Reyhan semakin merasa bersalah. Akhirnya karena tidak ingin Reyhan berhenti menjadi guru les buat Agra, Aisyah pun kembali bersikap seperti biasa, dan meminta maaf kepada Nadia atas sikapnya, yang hampir membuat Agra kehilangan guru lesnya. Sungguh semua ini dilakukan Aisyah semata-mata hanya untuk Agra.
***
Reyhan datang dengan wajah ceria, ia juga terdengar bernyanyi riang sambil memberikan kunci mobil kepada Rangga yang memang meminjam mobil Reyhan. Rangga berniat membawa Nazwa untuk memeriksakan kondisinya, sebelum keberangkatan mereka minggu depan ke Jakarta untuk memeriksakan ke rumah sakit tempat Nazwa dirawat.
"Mas dari mana? Seperti nya aku lihat akhir-akhir ini mas sering pergi selepas Dzuhur dan pulang petang begini?" Tanya Rangga yang sudah beberapa hari ini bingung melihat tingkah kakaknya itu.
"Mengajar." Jawab Rangga dengan tertawa kecil.
"Maksudnya?"
"Aku sekarang jadi guru les." Jawab Reyhan lagi dengan tersenyum.
"Guru les?" Rangga terlihat semakin bingung dan tidak percaya dengan ucapan Reyhan.
"Iya. Mas jadi guru les seorang anak kecil, Agra Namanya. Ah sudah lah kamu gak akan tahu, mas pulang dulu ya." Ujar Rangga sambil mengibaskan tangannya pelan dihadapan wajahnya, ia pun melangkah pergi.
"Mas gak mau aku hantar?" Tanya Rangga menawarkan sebelum kakaknya itu melangkah jauh.
"Gak usah, nanti sebelum magrib mas kesini lagi." Jawab Reyhan sambil berlalu pergi.
Rangga masuk dan menemui Nazwa, mereka pun berangkat ke sebuah klinik untuk memeriksakan kesehatan Nazwa, dan saat dalam perjalanan Rangga pun menceritakan tentang Reyhan yang menjadi guru les.
"Sayang, apa kamu tahu anak yang bernama Agra?" Tanya Rangga kepada istrinya.
"Agra? Nama itu sepertinya gak asing mas, tapi aku lupa, memangnya kenapa mas?" Tanya Nazwa.
"Gak apa-apa, tadi mas Reyhan bilang dia sekarang jadi guru les seorang anak yang namanya Agra." Jelas Rengga.
"Guru les?'' Nazwa sedikit terkejut mendengar penjelasan Suaminya, lalu ia tampak berfikir dan berusaha mengingat-ingat sesuatu.
"Mas, aku ingat deh, Agra itu anak dari mba Nadia, kakak iparnya Aisyah." Ujar Nazwa sambil mengetuk- ngetukkan jari telunjuknya di dagunya.
"Nadia, Aisyah?" Rangga sepertinya baru mendengar nama-nama itu.
"Iya mas, anak Umi Salma." Jelas Nazwa, dan ia pun kembali teringat sesuatu. "Mas aku ingat sesuatu." Ujar Nazwa lagi membuat suaminya bingung melihat ekspresi nya yang seperti sedang menemukan sesuatu yang berharga.
Rangga yang sedang menyetir, sekilas memalingkan wajahnya melihat tingkah Nazwa, ia terlihat menaikan kedua alisnya seperti meminta penjelasan kepada istrinya itu.
"Aku pernah dengar mas Reyhan bilang kalau dia sedang jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Aisyah." Nazwa pun teringat ucapan Reyhan saat di bawah pohon, saat dirinya masih sakit dan sebelum kedatangan suaminya.
"O ya?" Rangga tersenyum, ia terlihat senang dengan cerita istrinya.
"Itu artinya sekarang mas Reyhan sedang berusaha mendekati Aisyah dengan mendekati anak mba Nadia kakak iparnya Aisyah." Ujar Nazwa, namun kata-kata terakhir Nazwa membuat wajah Rangga berubah bingung.
"Kakak ipar? Itu artinya Aisyah sudah bersuami sayang?" Tanya Rangga dengan raut wajah bingungnya.
"Iya sayang, tapi suami Aisyah sudah meninggal dua tahun yang lalu. Orang tuanya tidak percaya dengan hal itu dan meyakini anaknya masih hidup, Itu sebabnya Aisyah masih harus tinggal di rumah kedua orang tua suaminya, dan menanti kepulangan suaminya yang tidak akan mungkin terjadi itu.“ Jelas Nazwa dengan wajah sedih
"Kasihan sekali." Ujar Rangga.
"Paman dan bibi sudah pernah mencoba bicara agar Aisyah bisa keluar dari rumah itu dan tinggal lagi bersama mereka, tapi sayangnya mereka bukannya berhasil membawa Aisyah pulang, malah mendapatkan cacian." Nazwa menceritakan kronologi kejadian kepada suaminya.
Obrolan mereka terus berlanjut selama perjalanan dan baru berhenti setelah mereka tiba di klinik.
***
Sudah dua minggu Reyhan menjadi guru les Agra, anak itu terlihat semakin lengket saja kepada Reyhan, begitu juga dengan Aisyah, ia terlihat mulai biasa dengan kehadiran Reyhan dan sudah mulai akrab meski pun mereka harus tetap menjaga jarak.
Terkadang banyak kejadian yang sengaja di buat oleh Nadia agar Aisyah dan Reyhan bisa saling berbincang, bahkan tak jarang Nadia dapat melihat adanya tatapan cinta di mata Aisyah untuk Reyhan dan juga sebaliknya. Aisyah juga sering tertangkap olehnya mencoba mencuri-ciri pandang, bahkan Aisyah pernah tampak gelisah saat Reyhan tidak datang mengajar karena berhalangan.
Nadia sangat senang karena merasa usahanya tidak sia-sia, meski pun sampai saat ini hanya dia yang tahu tentang sikap Aisyah dan belum sanggup untuk memberitahu kedua orang tuanya tentang hal itu.
__ADS_1
Nadia pernah bertanya tentang perasaan Reyhan terhadap Aisyah dan juga pernah mendesak Reyhan untuk segera menyatakan perasaannya kepada Aisyah, karena sebentar lagi suaminya akan pulang dari tugasnya dan saat itu tiba, tidak akan ada lagi alasan Reyhan untuk ke rumah orang tuanya, karena mereka akan kembali ke rumah mereka. Namun sayangnya Reyhan masih belum punya keberanian untuk hal itu.
***
"Rey, besok mas Firman pulang dari luar kota, lusa kamu tidak perlu lagi kemari untuk mengajar." Ujar Nadia, mereka terlihat sedang bicara di ruang tamu, sebelum Reyhan pulang, karena tugasnya mengajar Agra hari itu telah usai.
Reyhan hanya terlihat menarik napas dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan.
"Apa kamu masih belum berniat menyatakan cinta mu dengan Aisyah?" Tanya Nadia. Sejenak Reyhan terdiam.
"Sepertinya aku memang harus mengatakannya, aku akan bicara kepada Aisyah, dan mengakui tentang perasaan ku, aku akan bilang bahwa aku menyukainya." Ujar Reyhan.
"Apa katamu?" Tanpa disadari oleh Nadia dan Reyhan, laki-laki paru baya yang dipanggil papa oleh Nadia itu pun sudah berdiri di dekat mereka, dan mendengar semua yang di katakan oleh Reyhan.
Seketika keduanya pun berbalik dan melihat siapa yang ada di belakang mereka. Wajah Nadia nampak begitu pucat saat melihat papanya, tubuhnya gemetar menerima rasa takut yang sedang menghantui dirinya. Begitu pun dengan Reyhan, ia tidak kalah takutnya saat itu, namun tidak ada pilihan lain, karena tidak mungkin lagi mundur, akhirnya ia pun mencoba untuk mengakui perasaanya kepada Aisyah kepada orang tua Nadia itu.
"Katakan sekali lagi apa yang aku dengar tadi, agar aku tidak salah paham." Wajah lelaki itu tampak memerah menahan amarahnya, namun ia masih berusaha tenang karena ingin mendengar sekali lagi pengakuan Reyhan, mungkin saja ia salah dengar pikir nya.
Karena suaranya yang cukup langtang, akhirnya mengundang istrinya dan juga Aisyah keluar dan mendekat kepada mereka bertiga yang sedang terlihat berdiri saling menghadap.
Aisyah terlihat sedang membaca situasi dengan melihat wajah Nadia dan Reyhan secara bergantian, ia pun dapat melihat bahwa sedang terjadi kesalahan kepada Nadia dan Reyhan, karena wajah mereka dapat menunjukan hal itu dengan jelas, namun sungguh ia belum tahu semua itu karena dirinya. Aisyah dan ibu mertuanya itu pun terlihat mendekat.
"Sa, saya mencintai Aisyah." Ujar Reyhan yang langsung menatap Aisyah yang berdiri di belakang mertua laki-lakinya itu.
"Apa maksud dari ucapan mu?" Wajah papa Nadia terlihat semakin memerah dan kedua matanya terlihat membulat sempurna seperti akan menelan Reyhan.
"Ya, saya mencinta Aisyah, saya menyukai menantu anda, maaf kan saya tapi saya tidak bisa bohong bahwa saya mencintainya saya mencintai, Ais.. "
Plak..
Belum sempurna Reyhan menyebut namanya, tiba-tiba Aisyah mendekat dan langsung melayangkan tamparan keras ke wajah Reyhan.
"Jangan kurang ajar kamu, jangan pernah kamu mengucapkan kata-kata itu lagi di rumah ini. Pergi kamu." Dengan bergetar bibir Aisyah mengucapkan kata-kata, tangannya terlihat menunjuk ke arah pintu keluar kepada Reyhan.
"Aisyah." Melihat tindakan adik iparnya itu, Nadia pun maju mendekat.
Tidak mau kalah, papa Nadia pun mendekat ke arah menantunya yang masih terlihat emosi.
"Saya rasa Anda sudah tahu jawabannya, jadi silahkan Anda keluar." Ujar papa Nadia.
Dengan perasaan hancur dan malu akhirnya Reyhan melangkahkan kakinya untuk keluar, dan belum sampai di ambang pintu, ia pun memutar tubuhnya untuk melihat Aisyah yang mungkin akan menghentikan langkahnya, namun bukanya memanggil, Aisyah malah terlihat membuang mukanya dan berbalik meninggalkan ruangan itu ke arah dapur.
Merasa tidak ada kesempatan untuk dirinya, Reyhan pun melangkah pergi dan mengendarai mobilnya pulang.
Sementara itu, Nadia yang melihat kepergian Reyhan dengan perasaan hancur, merasa begitu bersalah, dirinya yang memaksa Reyhan untuk masuk ke dalam kehidupan keluarganya dan meminta pria itu untuk membantu membebaskan Aisyah dari belenggu orang tuanya, akhirnya hanya mendapat kekecewaan dan rasa malu yang disebabkan oleh Aisyah.
"Papa jahat." Ucap Nadia sambil menyapu Air mata yang mengalir di wajahnya.
"Papa jahat? Apa kamu fikir tindakan mu yang mendatangkan seorang pria dan menjodohkan dengan istri adik mu sendiri itu perbuatan baik, papa gak nyangka kalau ini semua rencana mu, apa Firman juga terlibat dalam hal ini?" Jawab papanya.
"Pa, berilah Aisyah kebebasan biarkan dia hidup dengan normal, sampai kapan papa akan menutup mata dan menyadari bahwa Arga itu sudah gak ada pa, Arga sudah meninggal." Nadia tidak dapat mengontrol ucapannya yang semakin membuat papanya marah.
"Tutup mulut mu Nadia, anak kurang ajar kamu berani bicara seperti itu kepada papa." Laki-laki itu semakin meninggikan suaranya sembari menunjuk wajah putrinya. Sementara itu, melihat suaminya yang semakin emosi, dengan cepat istrinya mendekat dan mencoba meredam emosi suaminya dengan mengusap lembut lengan suaminya.
"Pa, tenang pa jangan emosi, nanti papa sakit lagi." Ucapnya. "Nadia, sebaiknya kamu masuk ke kamar mu." Ucapnya lagi kepada putrinya yang masih terlihat menangis.
Nadia pergi kedalam kamarnya dan memeluk putranya yang tengah asik dengan smartphone nya.
"Mama kenapa nangis?" Tanya Agra dengan polos.
"Mama lagi kangen dengan papa." Jawab Nadia berbohong kepada putranya.
"Besok kan papa pulang." Ucap anak laki-laki itu lagi sambil mengusap wajah ibunya yang berlinang air mata.
"Iya sayang." Jawab Nadia sambil mencium putranya berkali-kali.
Sementara Aisyah, saat mendengar perdebatan Nadia dan papanya tengah berlangsung, tanpa terasa air matanya pun terjatuh berlinang dan terasa mengalir semakin deras, ia sadar bahwa yang dilakukan Nadia itu semata-mata untuk kebaikannya, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa.
__ADS_1
Rasa bersalah atas sikapnya terhadap Reyhan pun mulai menyelimuti hatinya, tanpa ia sadari bahwa sebenarnya ia pun sudah jatuh cinta kepada Reyhan, dan saat melihat kepergian Reyhan pun, sebenarnya hatinya terasa sakit dan tersayat.