Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 171


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan hampir empat jam, kedua orang tua Nazwa tiba dirumah sakit Sejahtera. Mereka disambut keluarga Anton yang kebetulan tengah berkumpul disana dan juga kedua orang tua Reyhan.


Mereka segera bergilir untuk melihat anak dan juga menantu mereka. Kesedihan tidak dapat di bendung oleh kedua orang tua Nazwa, saat melihat putri dan juga menantu mereka dalam keadaan lemah tidak berdaya.


Puas melihat keadaan buah hati mereka, kedua orang tua Reyhan mencoba untuk mengajak kedua orang tua Nazwa untuk berdiskusi perihal pengobatan Rangga, bagaimana pun juga mereka harus meminta pendapat kedua orang tua Nazwa terlebih dahulu sebagai mertua Rangga.


Usai lama berdiskusi dan juga bayak pertimbangan, akhirnya mereka sepakat untuk membawa Rangga keluar Negeri dan melakukan pengobatan di Taiwan, karena kondisi Rangga yang juga mendesak mereka untuk harus memisahkan suami istri itu sementara waktu.


Dokter yang menangani Rangga pun segera menghubungi temannya yang bertugas di salah satu rumah sakit di Taiwan, dan setelah mendapat persetujuan ia pun segera memberitahu keluarga Rangga.


"Ma, untuk pengobatan Rangga biar papa yang pergi. Mama tolong disini untuk mengurus segala sesuatu apapun itu untuk kesembuhan Reyhan dan Nazwa. Segera kabari papa ya jika ada perkembangan, dan jangan lupa jaga kesehatan mama." ujar Papa Reyhan saat berdiskusi dengan istrinya.


Dengan berderai air mata, mama Rita pun mengangguk lalu berhambur kedalam pelukan suaminya.


"Papa juga hati hati, dan jaga kesehatan." jawab tante Rita.


Meski berat dan sedih harus meninggalkan kondisi putranya yang masih kritis, namun papa Reyhan harus tetap pergi untuk menghantar Rangga berobat ke luar negeri, bagaimana pun Rangga sudah mereka anggap sebagai anak sendiri yang mereka besarkan sejak kecil, dan mereka juga bertanggung jawab atas kesembuhan Rangga.


"Aku akan ikut menemani mu." ujar Pak Gunawan yang saat itu masih berada disana dengan istri dan juga putranya. "Mama tidak keberatan kan?" ia pun bertanya kepada istrinya yang berada di sampingnya..


"Ia pa, mama tidak keberatan, tapi papa hati hati ya dan juga jaga kesehatan." jawab mama Melinda.


"Iya pa, aku setuju papa pergi menemani om Anwar, untuk semua urusan disini biar Anton yang tangani." sambung Anton. "Om tidak perlu khawatir ya."


"Alhamdullah, terima kasih Gun." ujar papa Reyhan yang merasa senang akan ditemani pak Gunawan. "Terima kasih juga ya An, om titip tante mu."


"Tentu om." jawab Anton lagi.


"Ustad Zakaria, saya titip Nazwa dan juga Reyhan, dan mohon do'a nya, agar Allah memberikan kelancaran dan juga keselamatan kepada putra dan putri kita." ujar papa Reyhan kepada kedua orang tua Nazwa.


"Aamiin, insya Allah semua akan baik baik saja." jawab Abi Nazwa.


Papa Reyhan segera mengurus biaya untuk keberangkatan mereka, sedangkan pak Gunawan yang mengurus keperluan pesawat yang akan membawa mereka ke negara tetangga itu. Karena untuk urusan transportasi mereka sendiri yang mengurusnya.


Satu jam setelah kepergian Rangga, kini terlihat hanya kedua orang tua Nazwa dan juga mama Rita yang berada di ruang tunggu, sementara Anton dan juga mamanya memutuskan untuk pulang, karena Zahwa yang juga masih berada di rumah sakit.

__ADS_1


"Dok, kondisi pasien semakin mengkhawatirkan." terdengan ucapan seorang suster yang berlari masuk kedalam kamar ICU Nazwa bersama seorang dokter. Sebelumnya suster itu sempat memeriksa keadaan Nazwa.


"Segera siapkan ruangan operasi kita harus segera melakukan oprasinya." jawab dokter yang terlihat terburu buru masuk ruangan Nazwa.


Mendengan percakapan suster dan dokter, kedua orang tua Nazwa dan juga mama Rita terlihat terkejut, mereka pun bangkit dari kursi tunggu, dan segera mendekati ruangan Nazwa.


"Sus, ada apa sus?" mama Rita bertanya kepada suster yang keluar dari dalam ruangan Nazwa.


"Kondisi pasien sangan drop nyonya, dokter harus melajukan operasi untuk menyelamatkan nyawa pasien." jawab suster.


Orang tua Nazwa pun terlihat begitu syok mendengar ucapan suster itu, umi Nazwa pun maju dan meraih tangan suster tadi.


"Sus, tolong selamatkan nyawa anak saya." ujarnya dengan air mata yang mulai berlinang deras.


"Baik bu, dokter akan melakukan yang terbaik, keluarga tolong bantu do'a ya." ucap suster itu dengan lembut. Setelah itu ia pun pergi untuk menyiapkan keperluan operasi.


"Abi, Nazwa bi." sambil memeluk suaminya, air mata umi Nazwa terus berderaian.


"Umi, yang sabar ya, kita harus banyak berdo'a. Nazwa pasti akan baik baik saja, dia anak yang kuat dan pemberani." ujar suaminya, meski sebenarnya ia pun rapuh, namun abi Nazwa terlihat begitu tegar, untuk memberi semangat kepada anak dan istrinya.


Nazwa di bawa keluar dari ruangannya, dan saat berada diluar, kedua orang tuanya dan juga mama Rita segera mendekat brankar yang membawa Nazwa dengan isak tangis.


"Nazwa, yang kuan nak, abi yakin kamu pasti bisa melewati ini semua nak." bisik abinya.


"Maaf pa, bu. Pasien harus segera di bawa ke ruangan operasi, tolong beri jalan ya." ujar seorang suster yang sedang ingin membawa Nazwa.


Kedua orang tua Nazwa pun menjauh untuk memberikan jalan, namun mereka tetap mengikuti Nazwa menuju ruangan operasi. Sesampainya di depan ruangan operasi, kedua orang tua Nazwa dan juga tante Rita segera di cegah untuk tidak ikut masuk oleh suster, dan meminta mereka untuk tetap berada diluar selama operasi berjalan.


***


Selama hampir enam jam Nazwa menjalani operasi, selama itu pula perjalanan pesawat yang membawa Rangga menuju rumah sakit yang berada di Taiwan. Sesampainya di rumah sakit, Rangga yang di dampingi oleh dokter dan juga yang lainnya, langsung disambut oleh dokter dirumah sakit itu. Rangga segera di bawa kedalam sebuah ruangan dan segera mendapatkan tindakan.


Setelah hampir setengah jam memberikan pertolongan kepada Rangga, seorang dokter yang tak lain adalah teman dokter yang menangani rangga di rumah sakit Indonesia itu pun keluar dan menemui keluarga Rangga.


"Kami akan segera mencangkok jantung pasien, namun perlu menunggu waktu beberapa hari untuk menemukan donor yang benar benar cocok untuk pasien." seorang dokter berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris.

__ADS_1


"Apa bisa di percepat dok?." ujar dokter yang mendampungi Rangga dan keluargannya.


"Untuk biaya, kami akan membayar berapapun itu." ujar paman Rangga.


"Itu bukan masalah, memastikan pasien mendapatkan pengobatan terbaik itu tujuan utama kami. Tapi untuk saat ini, belum ada pendonor yang cocok untuk pasien." jawab dokter itu dengan tersenyum. "Kalian jangan khawatir, rumah sakit akan mendapatkan pendonor yang cocok dengan pasien secepat mungkin." ujar dokter itu.


"Kami sangat mengharapkan itu." jawab papa Reyhan.


Dokter itu pun memberikan senyuman kembali, lalu melangkah pergi meninggalkan keluarga Rangga.


Papa Reyhan terlihat mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, ia pun berusaha menghubungi istrinya untuk memberi kabar dan juga menanyakan kondisi putranya yang masih belum sadarkan diri.


"Halo ma." ujarnya saat telponya telah tersambung.


"Pah, papa sudah sampai?" tanya istrinya dari seberang telpon.


"Alhamdulillah kita semua sudah sampai dengan selamat, Rangga sudah mendapat pertolongan dari tim dokter." jawab papa Reyhan.


"Syukurlah kalau begitu pa."


"Bagaimana keadaan disana ma?"


"Kurang baik pa.." mama Rita mencoba menarik nafas.


"Ada apa ma? Coba jelaskan." Papa Reyhan terlihat khawatir.


"Setelah keberangkatan kalian, Nazwa mengalami kritis pa, dan sekarang sedang berada di ruang operasi." jelas istrinya.


"Astaghfirullah hal'adzim. Mama yang sabar ya, semua ini pasti akan baik baik saja ma." ujar suaminya mencoba memberikan kekuatan.


"Iya pa."


"Lalu begaimana dengan Reyhan ma?"


"Sejauh ini belum ada perubahan pa." jawab mama Rita dengan menangis.

__ADS_1


"Mama yang sabar, yakinlah tidak akan terjadi apa apa kepada putra kita." papa Reyhan mencoba memberikan kekuatan lagi kepada instrinya.


Selesai menghubungi istrinya, papa Reyhan pun mengajak pak Gunawan untuk mencari hotel yang tidak begitu jauh dengan rumah sakit itu untuk beristirahat. Perjalanan yang cukup jauh membuat mereka merasa begitu lelah.


__ADS_2