
Adzan maghrib berkumandang, Anton dan Zahwa terlihat bersamaan berjalan menuju masjid yang ada di dalam pesantren itu, semua orang terlihat sudah berada disana termasuk kedua orang tua Zahwa. Mereka semua tersenyum, ikut merasa senang karna kini Anton dan Zahwa sudah terlihat bersama dan akur lagi.
Setelah melakukan sholat maghrib berjama'ah, mereka juga berkumpul untuk makan bersama. Anton terlihat sedikit terkejut melihat Nazwa, karna prempuan itu memiliki wajah yang mirip dengan istrinya, meski tidak sulit baginya membedakan antara mereka berdua, tapi tetap saja jika dilihat sekilas Nazwa sangatlah mirip dengan Zahwa.
Melihat suaminya yang tampak bengong, Zahwa jadi tersenyum sendiri, dia tahu apa yang sedang ada dipikiran suaminya hingga membuat Anton jadi bengong begitu, karna Anton memang bukan orang pertama yang akan terlihat heran melihat kemiripan dirinya dan juga Nazwa.
Usai makan malam, Zahwa dan Anton terlihat duduk di bangku yang ada didepan rumah pamannya, mereka menikmati pemandangan bulan dan bintang yang bertaburan diatas langit.
"Za." panggil Anton, ia menolehkan kepalanya menghadap istrinya.
"Iya mas." jawab Zahwa, namun ia terlihat masih mendongakan kepalanya ke atas langit, melihat pemandangan indah sang rembulan malam.
"Siapa gadis yang sangat mirip dengan mu tadi.?" tanya Anton yang masih sangat penasaran dengan prempuan itu, ia sempat berfikir bahwa itu adalah kembaran istrinya, tapi selama ini kenapa Zahwa tidak pernah cerita soal itu jika memang dia kembaran istrinya. Zahwa menurunkan kepalanya, pandangan beralih kepada Anton, lalu tersenyum menatap suaminya itu.
"Namanya Nazwa, dia sepupuku mas, Anak dari paman, adiknya ayah." jelas Zahwa.
"Ohh, mas fikir tadi dia kembaran mu, tapi jika benar kembaran mu, kenapa kamu tidak pernah cerita soal itu." ucap Anton lagi.
"Kamu memang bukan orang pertama yang bilang begitu mas, jadi aku tidak heran melihat mu bengong tadi melihatnya." ucap Zahwa dengan tersenyum.
"Hmm."
"Sayang." panggil Anton yang melihat istrinya kembali memalingkan wajahnya melihat langit.
__ADS_1
"Iya mas." jawab Zahwa.
"Aku sangat merindukan mu, apa kamu tidak merindukan mas selama kita berpisah.?" tanya Anton, lalu Zahwa menoleh menatap suaminya dengan tersenyum.
"Aku juga merindukan mu mas." ucap Zahwa.
Mata mereka saling bertemu, perlahan Anton mulai mendekatkan kepalanya, bermaksut untuk mencium istrinya, namun saat wajahnya hanya tinggal beberapa senti dari wajah Zahwa, ia malah mendapat pukulan di dahinya.
Plak..
"Aduhhh, Za kamu memukul mas.?" tanya Anton, yang segera mengusap dahinya, ia merasa sedikit kesal karna niatnya untuk mencium istrinya menjadi gagal.
"Maaf mas, tadi ada nyamuk di dahi mu." ucap Zahwa, ia pun menyodorkan bangkai nyamuk yang ada di telapak tangannya, senyuman pun mengambang di bibir Zahwa, dan menampakkan barisan gigi gigi putihnya.
"Sini biar aku tiup mas." ucap Zahwa lalu menarik kedua pipi suaminya dan memberikan sedikit tiupan di tempat ia memukul nyamuk itu.
"Tidak akan sembuh sayang kalau cuma ditiup, harusnya tuh kamu cium." ucap Anton menggoda istrinya. Tapi malah tiba tiba ia mendapat jerawat dari istrinya.
"Aduhhh sakit sayang, kenapa malah aku di jewer.?" tanya Anton yang kini memindahkan tangannya dan mengelus pelan telinga yang terkena jerawat dari istrinya.
"Mas ini mintanya yang aneh aneh saja sih, ini kan tempat umum bayak anak kecil lagi, tidak baik kalau mereka melihatnya." ucap Zahwa sedikit kesal.
"Ohh, kalau begitu kamu maunya di dalam kamar saja ya.?" ucap Anton lalu ia tergelak tertawa melihat ekspresi wajah istrinya yang makin kesal karna godaan darinya.
__ADS_1
"Apa sih mas, gak lucu." ucap Zahwa lalu membuang pandangannya menatap ke arah lain. Kini hubungan mereka semakin membaik, bahkan rasa canggungpun sudah terada mulai hilang dari keduanya.
Setelah melakukan sholat isya, kini Zahwa dan Anton masuk kedalam kamar yang sama, meraka merebahkan tubuhnya dan Zahwa menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Za." Panggil Anton.
"Iya mas." jawab Zahwa lalu memiringkan tubuhnya menghadap Anton.
Tiba tiba Anton mendekatkan kepalanya, lalu kecupan mendarat pada kening Zahwa. Anton terlihat tersenyum senyum malu, berniat untuk menyampaikan isi hatinya. Karna merasa ada yang aneh denga tingkah suaminya, membuat Zahwa mengerti dengan apa yang sedang difikirkan oleh suaminya.
"Rasanya kita sudah cukup lama sekali kan sayang." ucap Anton dengan tersenyum.
"Jangan macam macam mas, kita sedang berada dirumah paman." jawab Zahwa.
"Tapi kan mereka semua pasti sudah tidur sayang, jadi tidak apa apakan, sedikit saja." rengek Anton.
"Tidak mas, jangan macam macam, atau aku tidak akan ikut pulang bersama mas." ancam Zahwa.
"Baiklah kalau begitu kita tidur sekarang." ucap Anton, lalu menarik Zahwa kedalam pelukannya. Rupanya ancaman Zahwa begitu ampuh, hingga membuat Anton mengurungkan niatnya. Di dalam fikiranya, ia bisa melakukannya kapan saja nanti, jika mereka sudah berada di rumah meraka sendiri, tapi jika Zahwa tidak mau ikut bersamanya pulang, itu adalah masalah besar bagi Anton.
Malan semakin larut, hembusan nafas istrinya terdengar sudah begitu pelan, menandakan bahwa kini ia sudah benar benar terlelap dalam tidurnya. Tapi tidak dengan Anton, ia terlihat masih belum bisa memejamkan matanya, fikirannya masih saja melayang mengingat permintaan istrinya, yang ingin dihantarkan ke rumah Sarah jika nanti mereka sudah berada di Jakarta.
Ya Allah aku baru saja bisa merasakan kebahagian lagi bersama Zahwa, tapi bagaimana nanti jika ia mengetahui kalau Sarah meminta cerai dariku, Zahwa pasti akan tambah merasa bersalah. Tidak tidak aku tidak akan kehilangan istriku lagi, aku akan berusaha memberi pengertian pada Zahwa nanti jika dia tahu semuanya, aku tidak bisa hidup tanpanya. Batin Anton, Ia terlihat terus saja memandangi wajah Zahwa, lalu mencium kening istrinya dengan lembut.
__ADS_1
Ahh, aku hampir saja kehilangan dirimu sayang, maafkan aku telah bermaksud menyerahkan mu kepada Reyhan. Rey.! Terima kasih atas usahamu menyadarkan ku, aku hampir saja kehilangan berlian yang sudah ada dalam genggamanku, aku berhutang besar padamu. Kamu memang sahabat yang paling baik, bahkan kamu mengorbankan perasaanmu demi kebahagiaan ku. Anton terikat akan wajah sahabatnya.