Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 181


__ADS_3

Reyhan mengemudikan mobilnya dengan perasaan kecewa dan juga malu, masih teringat jelas di wajahnya raut wajah Aisyah yang terlihat marah kepadanya. Ia membanting pintu mobil saat tiba di depan rumahnya, ia sengaja membawa mobilnya dan tidak singgah di rumah Nazwa karena tidak ingin bertemu dengan siapapun.


Wajahnya tampak begitu kusut, perasaanya sungguh sangat kacau, tersirat rasa menyesal di pikirannya karena telah mengikuti ide yang di buat Nadia dan Suaminya. Namun penyesalan sudah tiada guna, semua sudah terlanjur terjadi.


Sungguh Reyhan tidak pernah menyangka Aisyah akan semarah itu kepadanya. Reyhan memang sudah membayangkan sulitnya meluluhkan hati dan kemarahan dari orang tua Nadia, namun untuk kemarahan Aisyah, sungguh Reyhan tidak pernah menyangka hal itu terjadi, apa lagi akhir-akhir ini ia merasa bahwa Aisyah mulai dekat dan bahkan Reyhan merasa bahwa Aisyah menyukainya. Tapi sungguh di sayang ternyata semua dugaannya itu salah.


Reyhan masuk dan langsung membanting tubuhnya ke atas kursi, ia mengusap dan mengacak-acak rambutnya. Kekesalannya memuncak dan akhirnya membanting kunci mobil yang ada di atas meja ke lantai.


Reyhan bersandar sambil menatap langit-langit rumah, tangannya bergerak memijat dahinya, lalu ia mulai memejamkan mata. Saat ia merasa sudah cukup rileks dan dapat menguasai hatinya, Reyhan pun bangkit dan segera menuju kamar mandi.


***


Seperti biasa, selepas sholat magrib di masjid pondok, Reyhan makan malam di rumah Nazwa. Dan saat makan malam mereka hampir selesai, Rangga berniat menyampaikan niatnya untuk meminjam mobil kepada Reyhan, karena ia akan pergi ke Jakarta beberapa hari untuk melakukan kontrol di rumah sakit bersama Nazwa.


Tapi tak seperti biasanya, kali ini Reyhan tampak tidak berselera makan, ia juga terlihat murung. Rangga dan Nazwa merasa heran dengannya, mereka pun saling melempar tatapan satu sama lain, dan bertanya-tanya di dalam hati masing-masing apa yang sebenarnya terjadi kepada Reyhan?


"Mas, rencananya besok aku dan Nazwa mau ke Jakarta untuk cek up, bisa aku pinjam mobil?" Tanya Rangga. Ia memberanikan diri untuk bertanya ke pada kakaknya.


"Aku ikut." Jawab Reyhan tiba-tiba, membuat Rangga dan Nazwa kembali terkejut, lagi-lagi sepasang suami istri itu saling menatap.


"Mas mau ikut pulang ke Jakarta?" Tanya Rangga lagi meyakinkan pendengarannya.


"Hmm, gak baik kamu bawa mobil terlalu lama, lagian kan butuh beberapa jam untuk sampai di Jakarta." Ujar Reyhan, alasannya sangat masuk di akal.


"Iya mas, tapi bagaimana dengan les.." Belum selesai Rangga berbicara, Reyhan langsung memotong ucapannya.


"Aku sudah gak ngajar lagi, dan aku sudah putuskan untuk pulang ke Jakarta bantu-bantu papa lagi di perusahaan." Jawab Reyhan.


Reyhan bangkit dari tempat duduknya, dan mengatakan bahwa ia akan menemui abi Nazwa untuk berpamitan, dan akan membereskan semua pakaiannya di rumah yang ia tempati. Rangga hanya terlihat menganggu, dan setelah kakaknya itu pergi dari hadapannya dan Nazwa, barulah ia membuka suara.


"Ada apa dengan mas Reyhan, kenapa mendadak sekali dia ingin pulang?" Ujar Rangga.


"Aku juga gak tau, mungkin ada urusan mas, besok saja coba tanyakan dengan mas Reyhan, mungkin saja mas Rey mau cerita sayang." Usul Nazwa.


"Hmm, iya." Jawab Rangga.


Keesokan paginya, setelah selesai melaksanakan sholat subuh, Reyhan, Rangga dan juga Nazwa segera berangkat ke Jakarta, setelah berpamitan kepada kedua orang tua Nazwa.


***


Sementara itu, karena tahu suaminya akan tiba hari ini juga, Nadia terlihat membereskan segala pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper miliknya, ia ingin segera pergi dari rumah orang tuanya saat suaminya tiba.


"Mba Dia." Suara lembut Aisyah terdengar dari balik pintu, beberapa kali ia terdengar mengetuk pintu kamar Nadia.


"Masuk Aisyah, pintunya tidak di kunci." Jawab Nadia.


Aisyah membuka pintu dan mendapati Nadia yang tengah sibuk membereskan pakaiannya. Aisyah terdiam sejenak memperhatikan Nadia, ia merasa bersalah atas pertengkaran Nadia dan juga papa mertuanya, ia sadar bahwa sebenarnya Nadia berniat baik kepadanya, namun ia tidak mungkin menerima begitu saja pernyataan cinta Reyhan karena rasa takutnya kepada Ayah mertuanya lebih besar dari rasa sukanya terhadap Reyhan yang mulai tumbuh dan terpendam.


"Mba Dia, aku minta maaf, semua ini karena ulahku." Aisyah menundukkan kepalanya, air matanya tidak bisa lagi ia tahan.


Mendengar ucapan Aisyah, Nadia menghentikan aktivitas nya, ia menarik nafas berat, lalu kemudian membalikan tubuhnya menghadap Aisyah yang tertunduk saja. Nadia sebenarnya sangat kesal dengan sikap Aisyah terhadap Reyhan, tapi Nadia tidak ingin menyalahkan Aisyah, ia tahu bahwa sebenarnya perempuan yang ada di hadapannya ini sangatlah tertekan dengan segala keadaan ini.


Nadia menggenggam kedua tangan adik iparnya itu, lalu menariknya dalam pelukannya, Nadia pun ikut menangis saat itu.

__ADS_1


"Ini bukan salah mu, Ai. Tapi setelah ini mba gak bisa bantu kamu lagi untuk lepas dari belenggu papa." Ujar Nadia, dan tangis Aisyah pun semakin pecah.


Nadia melepaskan pelukannya dan memegang kedua belah pipi Aisyah.


"Mba tahu kamu sebenarnya menyukai Reyhan, dan ini kesempatan kamu untuk melepaskan diri dari keluarga ini. Kamu sebenarnya mau bebas kan menjalani hidup normal seperti wanita lainnya? Mba tau itu, tapi sekarang mba gak bisa buat apa-apa lagi. Aisyah, mba harap kamu mau memaafkan sikap papa ya, dan berdo'a lah semoga suatu hari nanti hatinya akan luluh." Ucap Nadia.


"Mba." Aisyah kembali berderai air mata mendengar kata-kata Nadia, dan kembali memeluk kakak iparnya itu.


"Mba akan menemui Reyhan dan meminta maaf dengannya." Ucap Nadia, lalu melepaskan pelukan mereka.


Nadia dan juga putranya segera pergi meninggalkan rumah orang tuannya setelah suaminya tiba, mereka pergi tanpa berpamitan kepada papanya, dan di dalam perjalanan pulang ia pun menceritakan semuanya kepada Firman suaminya. Mendengar cerita Nadia, Firman langsung mengajak istrinya itu untuk menemui Reyhan dan meminta maaf, ia merasa bersalah kepada pria itu, karena bagaimana pun itu adalah idenya dan juga istrinya untuk membantu Aisyah.


Firman menghentikan mobilnya ketika berada di depan pondok, mereka turun dan ingin menanyakan keberadaan Reyhan kepada orang tua Nazwa, karena sudah berulang kali mereka berusaha menelpon ponsel Reyhan tetapi tidak bisa.


"Assalamu'alaikum." Nadia dan Firman bersama-sama memberikan salam saat bertemu dengan Abi Nazwa yang kebetulan ada di halaman depan pondok.


"Wa'alaikumu salam." Ustadz Zakaria membalikan tubuhnya.


"Abi." Firman menyapa sambil menyalami laki-laki paruh baya itu. Sedangkan Nadia hanya menyatukan kedua telapak tangannya di dadanya.


"Eee, kalian ini Nak Firman dan Nadia kan?" Tanya Ustad kepada keduanya sambil mengingat-ingat, maklum saja sudah lama mereka tidak saling bertemu.


"Iya Abi benar." Jawab Firman dengan tersenyum.


"Wah, tumben sekali, ayo silahkan nak kita masuk ke dalam rumah saja." Ajak ustad Zakaria sambil ingin membalikan tubuhnya membawa tamunya itu menuju rumahnya. Tapi ajakan itu segera di tolak Firman, karena tujuan mereka adalah ingin menanyakan Reyhan.


"Tidak perlu Abi, kami cuma sebentar." Ucap Firman.


Ustaz Zakaria pun kembali menghadap keduanya.


"Kami kemari ingin mencari Reyhan, Abi." Jawab Firman.


"Reyhan? Kalian mengenalnya?" Tanya abi Nazwa. Tentu saja ia merasa bingung karena bagaimana bisa mereka saling mengenal sementara Reyhan tergolong baru menjadi keluarganya.


"Iya kami mengenalnya, beberapa hari ini dia menjadi guru les putra Kami, Agra." Sambung Nadia.


"Guru les?" Laki-laki itu menunjukan rasa bingungnya. "Oh, begitu ya. Tapi sayang sekali, Reyhan sudah pulang ke Jakarta bersama Nazwa dan juga Rangga." Jelas Abi Nazwa.


"Kapan?" Nadia yang terkejut spontan bertanya dengan cepat, membuat Abi Nazwa juga ikut terkejut mendengar pertanyaannya yang seperti kilat.


"Baru tadi pagi, selepas subuh mereka segera pergi, agar tidak terlalu lama terkena macet." Ujar Ustad Zakaria menjelaskan.


Wajah Nadia nampak lesu setelah mendengar ucapan laki-laki paru baya itu, jangankan untuk memberikan imbalan atas jasanya yang telah menjadi guru les putranya biarpun hanya pura-pura, berterima kasih pun ia belum sempat. Namun tujuan utama Nadia menemui Reyhan adalah untuk meminta maaf tentunya.


Mereka pun pergi setelah berpamitan dengan Abi Nazwa, Nadia nampak begitu sedih namun suaminya berusaha untuk menghiburnya.


"Mas, aku benar-benar merasa bersalah." Ucap Nadia.


"Sabar sayang, Reyhan orang yang baik, dia tidak akan menyalahkan mu." Firman mengusap lembut lengan istrinya, sambil mereka berjalan menuju mobil.


* * *


Hari terus berjalan, tidak terasa sepekan demi sepekan pun berlalu begitu cepat, semenjak kembali ke kantor papa nya, sikap Reyhan berubah menjadi begitu dingin, bayangan wajah Aisyah dan kejadian di rumah orang tua Nadia pun masih sering mengganggu pikiran Reyhan.

__ADS_1


Ia masih belum bisa menghapus nama Aisyah, tapi dia juga benci jika harus mengingat-ingat kejadian hari itu.


Terkadang Reyhan terlihat sangat kacau dan mengacak-acak Rambutnya sendiri, tapi terkadang ia juga tampak senyum-senyum sendiri kala membayangkan wajah dan manisnya senyuman milik Aisyah. Pernah sekali dua kali papanya menangkap kejadian aneh itu dari Reyhan, namun saat di tanya, Reyhan tidak pernah mau menjawab dan hanya bilang kalau ia tidak apa-apa.


Malam hari, Reyhan dan keluarganya tampak sedang menyantap makan malam mereka, dan di sela-sela makan, papa Reyhan mengatakan bahwa mereka akan pergi ke kampung halaman Nazwa esok pagi karena akan ada acara keluarga di rumah Nazwa, dan papanya pun mengajak Reyhan untuk turut serta pergi bersama mereka.


Seketika wajah Reyhan terlihat muram, nafsu makanya pun menjadi hilang, setiap kali mendengar nama kampung halaman Nazwa membuatnya merasa jengah, ingatan-ingatannya tentang kejadian di rumah Nadia langsung berlarian memenuhi isi kepalanya. Reyhan pun mencoba untuk menolak ajakan kedua orang tuanya, ia mengatakan bahwa ada urusan penting di kantor dan dia tidak dapat ikut serta.


"Pa, sepertinya Aku tidak bisa ikut." Ucap Reyhan, ia terlihat meletakkan sendok dan garpu nya pelan lalu menyatukan jari-jemarinya satu sama lain.


"Kenapa Rey?" Papa dan mamanya bertanya secara bersamaan, membuat Rangga dan Nazwa saling menatap saat mendengar reaksi paman dan tante mereka.


"Besok ada urusan yang gak bisa aku tinggalkan di kantor." Reyhan menjawab asal saja.


"Memangnya ada hal penting apa di kantor Rey, biar papa yang urus, papa akan hubungin manajer papa untuk urus semua keperluan kantor besok." Papa Reyhan tahu bahwa putranya hanya mencari alasan untuk tidak ikut, karena semua urusan kantornya ia pasti mengetahuinya dan menurutnya saat ini tidak ada urusan kantor yang begitu mendesak.


"Gak bisa gitu dong pa, aku kan harus tetap profesional dan gak bisa sembarangan biarpun anak papa.'' Reyhan masih berkilah dan mencari alasan.


" Rey, kamu harus tetap ikut ke sana, inikan acara di rumah keluarga adik ipar mu, kalau kamu gak ikut papa dan mama akan merasa tidak enak dengan orang tua Nazwa. Nazwa juga pasti akan sedih kan?" Mamanya pun menoleh kepada Nazwa, sambil mengedipkan matanya, memberikan sedikit isyarat agar Nazwa ikut membujuk kakak iparnya itu.


"I iya mas, mas Rey ikutan ya biar mas Rangga ada temannya di sana." Nazwa tampak berbicara dengan gugup, ia harus berbicara asal mencari cara membujuk Reyhan, karena tidak kompromi sebelumnya kepada tante Rita.


"Ayolah mas, ikut saja." Kali ini Rangga ikut membujuk kakaknya itu.


"Ah ya sudah, tapi jangan lama-lama di sana, bila perlu selesai acara kita langsung pulang, aku banyak urusan." Ujar Reyhan, kemudian dia langsung bangkit meninggalkan meja makan.


***


Keesokkan paginya, setelah selesai sholat subuh, Reyhan dan keluarganya langsung berangkat, mereka sengaja melakukan perjalanan pagi, agar tidak terlalu siang tiba di sana, karena perjalanan mereka hampir memakan waktu lima sampai enam jam. Reyhan membawa mobil yang di tumpangi mama dan papanya, Sedangkan Rangga dan Nazwa memilih untuk membawa mobil mereka sendiri.


Reyhan sudah melarang Rangga untuk menyetir sendiri dan menyarankan untuk menggunakan satu mobil saja, tapi Rangga menolak dan mengatakan bahwa mereka membawa banyak barang di bagasi mobilnya.


Sesampainya di sana, setelah bersalaman dengan kedua orang tua Nazwa, Reyhan langsung berpamitan dan pergi menuju rumah baru yang dulu ia tempati dengan menggunakan mobilnya, di sana ia bisa beristirahat sambil melihat pemandangan di belakang rumah.


Reyhan membuka pintu rumah dan segera masuk kedalam, ia duduk di sofa menyadarkan tubuhnya sambil menutup mata, aroma segar dari pewangi ruangan membuatnya semakin rileks dan nyaman duduk di sana.


Tidak terasa hari terus merangkak menuju petang, Reyhan yang merebahkan tubuhnya di atas sofa pun terbangun saat mendengar suara Adzan Ashar, rasa lelah di tubuhnya sudah cukup terbayar dengan beristirahat beberapa jam itu.


Reyhan segera kembali menuju kediaman orang tua Nazwa untuk melaksanakan sholat, setelah selesai sholat di masjid yang ada di pondok, Reyhan memutuskan untuk berkumpul dengan keluarganya yang ada di dalam rumah Nazwa, di sana ia mendapati mereka terlihat begitu sibuk mempersiapkan perlengkapan yang biasa di gunakan untuk orang melakukan lamaran.


"Jadi ini acara lamaran ya?" Tanya Reyhan yang baru saja duduk bergabung bersama mereka.


"Iya. Memang Nak Reyhan gak tau ya?" Tanya Umi Nazwa kepadanya.


Reyhan pun menggelengkan kepalanya dengan tersenyum kepada Umi Nazwa.


Nazwa nampak begitu cekatan membentuk berbagai barang perlengkapan yang akan di masukan ke dalam kotak seserahan.


"Memangnya siapa yang mau lamaran?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir Reyhan, membuat yang lain terkejut dan saling menatap saat mendengarnya.


Reyhan yang tak mendapatkan jawaban, merasa bingung melihat reaksi orang-orang yang ada di sekelilingnya, ia pun merasa bingung dan mencoba mengingat-ingat apakah pertanyaannya tadi mungkin saja salah. Tapi menurut Reyhan pertanyaannya itu tidak salah.


"Ee itu, saudaranya Na Nazwa." Jawab mamanya dengan gugup, membuat Reyhan semakin bingung dengan tingkah mamanya.

__ADS_1


"Nanti juga mas Rey tahu sendiri." Jawab Nazwa dengan cepat.


__ADS_2