
"Tapi karena kebahagia yang tengah ia rasakan setelah mengenal kamu, membuat Rangga jadi melupakan kesehatanya, ia terlihat begitu gembira dan tidak lagi menghiraukan dirinya sendiri. Rangga rela bekerja tanpa henti hanya agar bisa bertemu dengan mu, dan ia juga sering makan sembarangan diluar tanpa memperhatikan kesehatanya. Tante juga senang sekali melihat perubahan Rangga yang jauh berbeda, itu sebabnya tante tidak mau menceritakan tentang penyakit Rangga kepada mu, karena tante takut kamu akan meninggalkan Rangga, hingga menimbulkan kesedihan lagi kepada dirinya." Kata kata itu masih teringat jelas di telinga Nazwa, dan kata kata tante Rita itu pula membuat Nazwa jadi merasa bersalah, menyangka bahwa ia lah penyebab Rangga kembali drop, karena Rangga yang tidak memperhatikan kesehatannya setelah bertemu dengannya.
Hari mulai terlihat gelap, kedua orang tua Reyhan menyarankan Nazwa untuk segera pulang, karena rumah sakit juga melarang terlalu banyak keluarga pasien yang menunggu. Merasa tidak mungkin jika membiarkan Nazwa pulang sendirian dengan perasaan yang sedang sedih dan kacau, maka Reyhan pun menawarkan dirinya untuk menghantar Nazwa pulang, dan kedua orang tua Reyhan pun menyetujuinya.
Selama dalam perjalanan, Nazwa tampak terdiam tanpa sepatah kata pun keluar dari bibir manisnya, namun Reyhan bisa mengerti dengan kesedihan yang tengah Nazwa rasakan itu. Setelah sampai di depan Ruamah Anton, Nazwa pun segera turun sementara Reyhan juga segera pergi menuju rumahnya.
***
Sementara itu, dirumah kediamannya Anton dan Zahwa terlihat sedang duduk di ruang keluarga sambil menunggu adzan maghrib tiba, namun Zahwa tampak sangat gelisah karena menghawatirkan Nazwa yang belum juga pulang kerumah, meski ia tahu jika Nazwa pergi bersama Rangga untuk fitting baju pengantin, namun tidak biasanya Nazwa pergi sampai tidak mengenal waktu seperti ini. Zahwa pun berusaha menghubungi nomer ponsel Nazwa, namun nomer telpon adiknya itu tidak bisa ia hubungi.
"Mas, Nazwa kemana ya, jam segini belum pulang?'' Zahwa mencoba bertanya kepada suaminya.
"Mungkin saja Nazwa singgah ke rumah Reyhan sayang." jawab Anton, ia terlihat mengusap lembut lengan istrinya, mencoba untuk menenangkan istrinya itu.
"Tapi ini sudah hampir magrib mas, dan biasanya Nazwa pasti memberitahu ku, ponselnya juga tidak bisa dihubungi." ujar Zahwa lagi.
"Mungkin saja ponselnya lowbatt sayang." jawab Anton lagi dengan tersenyum.
Dan tidak beberapa lama, terdengar suara Nazwa yang memberikan salam sebelum ia masuk kedalam.
"Assalam'mualaikum." ujar Nazwa dengan suara paraunya yang terdengar begitu pelan.
"Waalaiku salam.'' jawab Zahwa, lalu ia pun segera bangkit dari tempatnya duduk dan menghampiri Nazwa yang baru saja masuk kedalam rumah.
Zahwa yang melihat mata sembab dan juga keadaan Nazwa yang tampak berantakan, merasa begitu heran, ia pun segara menghampiri Nazwa dan memberi banyak pertanyaan.
"Nazwa, ada apa dengan mu, kamu habis menangis ya, aku sejak tadi berusaha menelpon mu, tapi kenapa ponsel mu tidak bisa dihubungi?" tanya Zahwa dengan penuh kekhawatiran.
Nazwa yang belum mampu menjawab dan memberikan penjelasan pun, tiba tiba langsung memeluk Zahwa.
"Kamu kenapa Nazwa, ayo bicaralah, apa yang terjadi?" tanya Zahwa dengan lembut, namun di dalam hati ia makin merasa khawatir.
Mendengar suara istrinya yang berkali kali bertanya kepada Nazwa, membuat Anton merasakan ke khawatiran juga, ia pun segera bangkit dari sofanya dan segera menghampiri kedua kakak beradik itu yang tengah berada di ruangan depan.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" tanya Anton, ia pun melihat Nazwa yang tengah berada dalam pelukan istrinya. Zahwa menjawab dengan menggelengkan kepalanya pelan, memberitahu bahwa ia pun belum tahu apa yang terjadi.
Zahwa betusaha membawa Nazwa keruangan keluarga mereka, lalu duduk di sofa dan kembali mencoba bertanya kepada Nazwa.
"Tenangkan diri mu, lalu coba ceritakan apa yang terjadi dengan mu." ujar Zahwa.
"Apa Rangga menyakiti mu?" tanya Anton yang ikut bersuara.
"Tidak." buru buru ia menjawab karena tidak ingin terjadi kesalah pahaman.
"Lalu apa yang membuat mu seperti ini?" tanya Zahwa sambil mengusap lembut lengan adiknya itu.
"Mas Rangga. Mas Rangga mengidap penyakit gagal jantung." jawab Nazwa, lalu selesai berucap tangisan Nazwa pun kembali pecah.
"Gagal jantung?" wajat terkejud Zahwa terlihat dengan jelas, sekilas ia pun memalingkan wajahnya menatap Anton yang juga terkejud mendengar ucapan Nazwa. "Bagaimana bisa, bukankah selama ini dia terlihat baik baik saja?" tanya Zahwa lagi.
"Aku juga tidak tahu, tadi mas Rangga tiba tiba pingsan, lalu setelah di bawa kerumah sakit dokter mengatakan bahwa mas Rangga harus segera di oprasi." jawab Nazwa lagi, dengan segera Zahwa kembali memeluk erat adiknya itu, ia tahu betapa sedang hancurnya perasaan Nazwa sekarang.
Anton yang menyaksikan dan mendengar ucapan Nazwa tidak mampu berbuat apa apa, ia hanya bisa melihat meski sebenarnya ia juga merasakan kesedihan yang tengah terlihat dihadapannya.
Setelah keadaan Nazwa mulai membaik, Zahwa pun mencoba untuk memberitahu paman dan bibinya yang merupakan kedua orang tua Nazwa di kampung, bagaimana pun mereka harus tahu tentang keadaan Rangga calon menantu mereka.
Mendengar kabar yang disampaikan oleh Zahwa, kedua orang tua Nazwa pun sangat terkejud mendengar berita itu, mereka pun berencana untuk pergi keJakarta melihat kondisi Rangga, dan juga putri mereka.
***
Ke esokan harinya, sejak pagi Nazwa telah bersiap untuk pergi kerumah sakit, ia tidak bisa tidur dengan tenang karena terus memikirkan keadaan Rangga. Zahwa dan Anton pun memutuskan untuk ikut bersama Nazwa, karena mereka ingin menjenguk dan mengetahui keadaan Rangga.
Sesampainya dirumah sakit, Anton dan Zahwa disambut baik oleh kedua orang tua Reyhan, mereka pun mengatakan bahwa Rangga telah sadarkan diri dan ingin bertemu dengan Nazwa. Dengan segera Nazwa masuk kedalam kamar rawat Rangga, dan berusaha untuk membangunkan calon suaminya itu.
"Assalam'mualaikum mas." ucap Nazwa saat berdiri disamping tempat tidur Rangga.
Rangga yang telihat sedang tidur itu, segera membuka matanya dengan perlahan setelah mendengar suara Nazwa.
__ADS_1
"Waalaikum salam." jawab Rangga berbicara dengan terbata bata.
"Mas." air mata tidak dapat lagi dibendung oleh Nazwa saat melihat kondisi Rangga, meski sudah sekuat hati ia berusaha untuk menahanya air matanya itu agar tidak tumpah.
"Hei, kenapa menangis?" tanya Rangga dengan berusaha tersenyum. Ia pun berusaha menyandarkan tubuhnya, dan dibantu oleh Nazwa.
"Kenapa tidak pernah bilang kalau mas sedang sakit?" tanya Nazwa lagi.
"Karena aku tidak ingin kamu pergi meninggalkanku." jawab Rangga masih dengan senyumannya.
"Aku tidak akan mungkin meninggalkan mu." jawab Nazwa.
"Maafkan aku, maaf kalau sudah membuatmu bersedih." ujar Rangga, yang juga mulai terlihat mengalir air mata bening disudut matanya.
"Tidak perlu meminta maaf seperti itu mas." jawab Nazwa.
"Maaf juga untuk pernikahan kita, pernikahan kita terancam batal, maafkan aku Nazwa." Rangga pun menutup kedua bibirnya setelah berucap dengan terbata, ia berusaha menahan rasa sakit dan tangisannya.
"Tidak mas, pernikahan kita tidak akan dibatalkan." ujar Nazwa. Rangga pun terkejud mendengar ucapan Nazwa, bagaimana mungkin Nazwa masih bisa berbicara seperti itu, mengingat kondisinya yang tidak memungkinkan untuk meneruskan pernikahannya itu.
"Tapi kondisi ku.." ujar Rangga yang mencoba mengingatkan Nazwa dengan kondisinya.
"Mas, aku mohon izinkan aku untuk merawat mu sebagai istri sah mu." ujar Nazwa yang berbicara dengan sungguh sungguh.
"Maksud mu?" Rangga masih belum mengerti dengan ucapan Nazwa.
"Tolong nikahilah aku mas sebelum operasi mu di laksanakan, agar aku bisa merawatmu setelah kamu selesai operasi." jelas Nazwa lagi.
Rangga yang terkejut pun seketika merasa senang sekaligus sedih. Ia merasa senang karena Nazwa masih mau menerimanya meskipun dengan kondisinya yang seperti itu, namun ia juga bersedih karena akan membebani orang yang paling ia sayangi.
"Apa kamu bersungguh sunggu dengan ucapan mu, apa kamu tidak akan menyesal dikemudian hari?" tanya Rangga.
"Tidak ada yang akan disesali mas, aku akan lebih menyesal jika tidak diberi kesempatan untuk merawat mu." jawab Nazwa.
__ADS_1
Semalaman tidak bisa tidur karena gelisah memikirkan kondisi Rangga, membuat Nazwa memiliki pemikiran seperti itu, rasa bersalah yang ia rasakan membuatnya semakin mantap untuk meminta Rangga menikahinya sebelum operasi Rangga dilaksanakan, dan akhirnya Rangga pun menyetujui keinginan Nazwa itu.