
Sarah terlihat sedang sibuk di butiknya, membuat desain desain baju kini lebih sering ia lakukan agar tidak terlalu memikirkan masalah perceraiannya dengan Anton, juga agar bisa dengan cepat melupakan laki laki yang pernah menjadi suaminya itu. saat sedang asik menggambar, Sarah tiba tiba mendapatkan telpon dari pengacara Anton, yang ingin menemuinya untuk menyerahkan sertifikat rumah yang dititipkan oleh Anton.
"Halo." ucap Sarah saat menerima panggilan.
"Selamat siang ibu sarah, saya pengacara yang mengurus perceraian pak Anton." ucapnya.
"Siang pak, ada apa pak.?" tanya Sarah.
"Apa bisa kita bertemu bu.?" Ada yang harus saya sampaikan." tanyanya lagi.
"Bisa pak, saya sedang berada di butik saya, kalau bapak tidak keberatan bagaimana kalau bapak kemari saja.?" ucap Sarah.
"Baik buk tidak apa apa."
"Kalau begitu nanti saya kirim alamatnya pak."
"Baik bu terima kasih."
"Sama sama pak."
Sarah mengirim alamat butiknya kepada pengacara mantan suaminya yang baru saja menelponnya, ia menunggu dengan perasaan gelisah, karna merasa sebenarnya tidak ada lagi yang harus di bahas tentang rumah tangganya. Dalam waktu satu jam, akhirnya pengacara itupun tiba di butik milik sarah, ia segera menuju ruangan pemilik butik itu dengan dihantarkan oleh salah satu pegawainya.
Tok tok tok..
"Masuk." sahut Sarah.
"Maaf bu, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda." ucap karyawanya.
"Suruh dia masuk." jawab Sarah.
Lalu pegawai prempuan itupun mempersilahkan pengacara Anton untuk masuk dan menemui Sarah.
"Selamat siang ibu Sarah.!" ucapnya saat masuk, lalu menjulurkan tangan kepada prempuan yang ada dihadapannya itu.
"Selamat siang pak." jawab Sarah yang terlihat berdiri dari kursinya dan menyambut tangan pengacara itu.
__ADS_1
"Maaf saya mengganggu anda."
"Tidak apa apa pak, silahkan duduk." ucap Sarah mempersilahkan pengacara itu untuk duduk pada sofa yang ada di dalam ruangannya, lalu mereka pun terlihat duduk di sofa itu.
"Saya kemari karna diminta oleh pak Anton untuk menyerahkan ini bu." ucap pengacara itu dengan tangannya menyodorkan sebuah map.
"Apa ini pak.?" tanya Sarah, lalu mengambil dan berusaha melihat isi map itu.
"Ini adalah sertipikat rumah yang dulu pernah ibu tempati saat masih menjadi istri pak Anton. Beliau berkata bahwa ini memang sudah seharusnya menjadi hak milik ibu Sarah, dan beliau juga tidak ingin dikatakan sebagai laki laki tidak bertanggung jawab." jelas pengacara itu.
"Tapi pak, saya memang tidak pernah menuntut harta atau apa pun itu dari mantan suami saya." ucap Sarah.
"Benar bu, oleh sebab itu pak Anton meminta anda untuk menerima rumah itu, sebagai bentuk tanggung jawabnya, ia hanya ingin menjalankan kewajibannya." jawab pengacara itu lagi.
"Baik pak, saya akan terima rumah itu." ucap Sarah.
"Terima kasih bu Sarah, kalau begitu saya permisi dulu." ucap pengacara itu. Dan Sarah hanya terlihat mengangguk.
"Selamat siang bu." ucapnya lagi.
Setelah kepergian pengacara itu, Sarah masih tampak bingung harus berbuat apa, ia terlihat mondar mandir tidak jelas dan akhirnya meraih ponsel yang ada di atas meja kerjanya. Sarah mencari nomer ponsel Anton, namun ia masih merasa bimbang untung menghubungi laki laki yang pernah menjadi suaminya itu, setelah lama berfikir akhirnya ia pun berusaha menghubungi Anton.
"Assalamualaikum." terdengar Anton menjawab panggilannya, namun sungguh kali ini Sarah benar benar merasakan semuanya telah berbeda, biasanya Anton akan terdengar penuh kelembutan, tapi kali ini ia terdengar seperti sedang menerima telpon dari orang lain.
"Waalaikum salam." jawab Sarah
"Ada apa Sarah.?" tanya Anton.
"Maaf aku mengganggu mu mas, aku hanya ingin membahas soal sertifikat yang diberikan oleh pengacara mu." jelas Sarah.
"Ohh, aku hanya ingin memenuhi kewajiban sebagai laki laki yang bertanggung jawab, apa lagi kamu tidak menuntut nafkah bulanan yang seharusnya masih kamu dapatkan." Anton pun memberi penjelasan.
"Aku tidak ingin menjadi beban dari orang lain, apa lagi ada Zahwa yang harus kamu jaga perasaannya, aku harap dia tidak akan merasa keberatan karna aku menerima rumah itu dari kamu mas." jawab Sarah.
"Kamu tenang saja, aku tahu istriku itu bagaimana, dia tidak akan pernah mempunyai fikiran seperti itu." ia berbicara dengan sangat datarnya, namun ucapan Anton itu membuat hati Sarah jadi bergetar, karna Anton terdengar begitu memahami istrinya Zahwa.
__ADS_1
"Baiklah, kalu begitu terima kasih. Assalamualaikum." ucap Sarah lagi, ia tidak ingin lagi berlama lama berbicara dengan Anton, berusaha menjaga suasana hatinya.
"Waalaikum salam." lalu Anton terlebih dahulu memutus sambungan telpon itu.
Sarah terlihat diam mematung dengan perasaan yang tidak jelas setelah menelpon mantan suaminya itu, ia tidak menyangka kalau kini sikap Anton akan terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Meskipun ia yang meminta percerai itu terlebih dahulu, tapi bukan berarti rasa cintanya terhadap Anton sudah benar benar menghilang, namun hal berbeda malah kini ia dapatkan dari Anton, karna mantan suaminya itu kini menganggapnya seperti orang asing.
Lamunan Sarah tiba tiba di buyarkan dengan suara ketukan di pintu ruang kerjanya.
Lalu entah mendapat angin dari mana, tiba tiba mamanya pun singgah di butik milik anaknya itu.
"Ada apa kemari ma.?" tanya Sarah lalu mencium punggung tangan ibunya, setelah prempuan itu masuk ke dalam ruanganya.
"Tidak ada apa apa, mama hanya ingin tahu bagaimana hasil sidang perceraian mu dengan si brengsek itu.?" ucap mamanya dengan santai.
"Ma tidak usah menyimpan dendam begitu, perceraian ku dengan mas Anton berjalan dengan lancar." Jawab Sarah yang terlihat menggandeng tangan mamanya, dan menyandarkan kepalanya pada bahu prempuan yang telah melahirkannya itu.
"Lalu apa yang kamu dapatkan Sarah.?" tanya mamanya sambil membelai wajah putrinya.
"Aku tidak menuntut apa apa ma, berpisah dengannya jauh lebih penting dari apa pun, tapi tadi pengacara mas Anton kemari, memberikn sertifikat rumah yang pernah aku tempati." jelasnya lagi sambil menunjuk sertifikat yang ada diatas meja.
"Hanya itu.? Kenapa kamu seceroboh itu Sarah, seharusnya kamu miminta yang lainnya, yang sudah seharusnya menjadi milik mu, kamu sudah mengorbankan masa depan mu demi menikah dengan si brengsek itu. tapi belum juga satu tahun kamu sudah bercerai." cerocos mamanya terlihat kesal.
"Mah, kenapa harus memikirkan hal hal seperti itu, aku yang memutuskan untuk bercerai, itu pun aku tidak pernah memintanya" jelas Sarah lagi, namun tetap tidak bisa menghilangkan amarah dari mamanya itu.
"Sudahlah terserah kamu, tapi mama tetap tidak bisa memaafkan mereka." ucap mamanya lagi.
"Sarah mohon ma, jangan menyimpan dendam." ucap Sarah dengan tersenyum menghadap mamanya.
"Kalau begitu mama mau keluar dulu." pamit mamanya lagi.
"Mau kemana ma.?" tanya Sarah yang melihat mamanya akan segera keluar dari ruangan.
"Mau berbrlanja dulu, karna kemarin mama tidak sempat membeli apa apa." jelas mamanya. Karna kemarin ia mengurungkan niatnya berbelanja, setelah memaki Zahwa.
"Baiklah hati hati ma." jawab Sarah. Lalu ia meraih sertipikan rumah itu dan menyimpannya.
__ADS_1