Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 178


__ADS_3

Sepeda yang digunakan Aisyah terlihat di salah satu halaman rumah yang sangat pamiliar di ingatan Reyhan.


Ya, rumah itu adalah rumah Umi Salma. Reyhan sempat bertanya di dalam pikirannya, sedang apa Aisyah ke rumah itu? Karena jelas-jelas Umi Salma sedang tidak ada, dan berada di rumah kedua orang tua Nazwa.


Aisyah terlihat keluar dari dalam rumah itu, sambil menenteng sebuah kantung plastik yang entah apa isinya, ia menutup pintu rumah Umi Salma, lalu Aisyah kembali mengayuh sepedanya keluar dari halaman rumah, dan terus melaju mengarah rumah yang Reyhan tempati.


"Aisyah." Kembali Reyhan memanggil, namun tetap saja sia-sia, karena Aisyah tak mendengarnya.


Tak mau kehilangan Aisyah kedua kalinya, Reyhan pun terus mengejar hingga berada di depan rumah yang ia tempati. Semula ia berfikir bahwa Aisyah pasti akan ke rumah itu, namun dugaannya ternyata salah, ia kembali harus menelan kekecewaan karena tidak melihat adanya tanda-tanda Aisyah mampir ke rumah itu.


"Dimana dia? Aku pikir dia mau kesini." Gumam Reyhan pelan, ia terlihat mengusap keringat yang mengalir di wajahnya karena berlari kecil.


"Cari siapa nak?" Tanya seorang laki-laki paruh baya yang terlihat mendekat dari hadapan Reyhan, kedatangannya yang tidak di sadari Reyhan membuatnya sedikit terkejut.


"Saya mencari gadis yang tadi menggunakan sepeda berjalan kearah sini pak." Jawab Reyhan dengan ramah.


"Oh, Aisyah?" Tanya laki-laki itu.


"Iya,Aisyah." Jawab Reyhan.


"Anaknya Umi Salma kan?" Tanya bapak itu.


Reyhan sedikit terkejut, namun karena ia tidak tahu pasti jadi ia hanya mengangguk saja saat di tanya bapak itu.


"Bapak tadi tidak sengaja bertemu di sana, sepertinya dia mengarah ke pemakaman." Laki paruh baya itu memberikan informasi sambil menunjukkan arak yang di maksudnya.


"Terima kasih pak." Ujar Rangga.


Sebenarnya ia belum tau pasti apa Aisyah yang di maksud laki-laki itu anak Umi Salma adalah Aisyah yang ia kenal. Namun ia mencoba untuk memastikan sendiri setelah mendapat petunjuk dari laki-laki paru baya itu.


Reyhan kembali melangkah menuju pemakaman umum setelah laki-laki itu pergi dari hadapannya, ia terus berpikir keras bertanya pada diri sendiri apakah benar Aisyah yang di maksud anaknya Umi Salma adalah Aisyah yang sedang ia cari.


Tiba di pemakaman, Reyhan melihat sepeda yang digunakan Aisyah benar-benar berada di sana, ternyata benar, bahwa Aisyah adalah anak dari Umi Salma, lantas mengapa Reyhan tak pernah melihatnya selama ini di rumah Umi Salma, bahkan Reyhan hampir tak pernah melihatnya berkunjung ke rumah Nazwa, pikiran Reyhan mulai menerka-nerka.


Reyhan berjalan mendekat, Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara tangis Aisyah di salah satu pusara yang ia tak ketahui. Reyhan berdiri di samping pohon yang tidak jauh dari Aisyah, namun ia belum mau mendekati gadis itu dan hanya berdiam diri memperhatikan.


Puas menangis, Aisyah pun bangkit dari duduknya sambil mengusap air mata yang mengalir dikedua pipinya dan mulai menaburkan bunga dari dalam kantung plastik yang ia bawa dari rumah Umi Salma. Dan saat membalikan tubuh, Aisyah sangat terkejut melihat Reyhan yang berdiri di samping pohon.


Aisyah hanya memberikan senyum sambil menganggukkan kepala, tak ada niat untuk menyapa, ia pun bermaksud pergi dari hadapan Reyhan.


"Aisyah." Reyhan menyapa dengan menyebut namanya, yang mempunyai nama pun menghentikan langkahnya saat berada di samping Reyhan.


Aisyah hanya diam dan tak berniat untuk bertanya kepada Reyhan, ia menatap laki-laki yang nampak bingung di hadapannya.


"Assalamu'alaikum." Ucap Reyhan mencoba memperbaiki ucapannya saat bertemu seseorang.


"Waalaikum salam warohmatulahi wabarakatuh." Jawab Aisyah lagi dengan tersenyum.


"Maaf, aku tidak bermaksud.. " Belum selesai kata-kata Reyhan, tiba-tiba ia menghentikan ucapannya karena kehadiran pria dan wanita yang menghampiri Aisyah.


"Aisyah, kamu kemari?" Tanya seorang perempuan yang baru saja datang. Aisyah menganggukkan kepala sambil menjawabnya.


"Iya kak."

__ADS_1


"Syukur lah kalau kamu sudah bisa menerima semua kenyataan ini.'' Sambung perempuan itu lalu ia terlihat memeluk Aisyah, dan Aisyah pun kembali menangis di dalam pelukan perempuan itu.


Melihat kejadian di hadapannya Reyhan menjadi bingung, namun ia tak berniat untuk mengganggu mereka. Setelah berpelukan Aisyah berpamitan kepada perempuan tadi dan berniat untuk pergi.


Merasa akan di abaikan dan akan ditinggalkan Aisyah, Reyhan pun kembali menyapanya.


"Aisyah." Sapa Reyhan lagi. Aisyah pun menoleh dan menjawabnya. Namun terlihat sekali tatapan Aisyah menjadi berubah, tak Seramah sebelumnya.


"Maaf, tolong jangan mengganggu saya." Jawab Aisyah, lalu pergi begitu saja meninggalkan Reyhan.


Melihat sikap Aisyah, perempuan tadi mencoba menghampiri Reyhan dan bertanya.


"Siapa nama mu? " tanya perempuan itu.


"Saya Reyhan."


"Apa kamu teman Aisyah?"


"Tidak, saya baru mengenalnya, dan bertemu dengannya beberapa kali saat tidak sengaja." Reyhan mencoba menjelaskan dengan benar.


"Perkenalkan nama saya Nadia kakak ipar Aisyah, saya kakak dari suaminya." Perempuan cantik dengan rambut terurai itu mengulur tangannya untuk bersalaman dengan Reyhan. Namun kata-kata terakhir perempuan itu membuat Reyhan terkejut dan mematung untuk beberapa saat.


Sadar dari lamunannya, Reyhan pun menyambut uluran tangan wanita itu.


"Dan perkenalkan ini suami saya, mas Firman." ucap perempuan itu tadi, ia menunjuk laki-laki tampan disampingnya yang berdiri tegap, dan hanya sesekali melempar senyuman kepada Reyhan.


"Firman." Ucapan laki-laki itu sambil mengulurkan tangan.


Reyhan pun menyambut lalu memperkenalkan dirinya.


"Saya tidak pernah melihat kamu sebelumnya di desa ini, apa kamu warga baru disini?" Tanya perempuan itu lagi dengan ramah.


"Saya kakak ipar Nazwa, dan kebetulan saya tinggal di rumah mereka yang baru." Jawab Reyhan.


"Jadi kamu saudara dari Abi Zakaria?" Tanyanya dengan tersenyum, lalu wanita itu memalingkan wajahnya melihat suaminya dengan saling tersenyum.


"Iya benar." Jawab Reyhan.


"Kalau begitu kami ingin berziarah dulu ke makam adik kami, setelah itu kami ingin berbicara kepada mu. Apa kamu punya waktu untuk berbicara dengan kami?" Tanya Nadia.


"Iya bisa, kebetulan saya tidak sibuk." Jawab Reyhan.


Nadia dan Firman terlihat mengirim do'a dan menaburkan bunga di makam yang sama dengan Aisyah, sedangkan Reyhan, ia nampak berdiri di tempatnya dengan pikirannya yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan.


Selesai berziarah, Nadia dan Firman mengajak Reyhan masuk kedalam mobil mereka, lalu mereka terlihat pergi keluar kampung dan berhenti di sebuah rumah makan yang cukup besar di sana.


Mereka masuk ke rumah makan itu dan memesan minuman hangat, setelah minuman mereka datang Nadia pun mulai berbicara dengan Reyhan.


"Maaf jika kami mengganggu waktu mu, kami membawa mu kemari karena ingin membicarakan sesuatu, kami harap kamu bisa membantu kami." Ucap Nadia.


"Apa yang bisa saya bantu?" Reyhan bertanya sambil menaikan kedua alisnya.


Nadia terlihat memalingkan wajahnya melihat suaminya yang duduk tepat di sampingnya, setelah laki-laki itu terlihat menganggukkan kepalanya pelan, Nadia pun memulai ceritanya.

__ADS_1


"Aisyah." Kata-kata Nadia terhenti, sepeti memikirkan beban yang sangat berat, ia pun menundukkan kepalanya untuk beberapa saat. Dan hal itu membuat Reyhan semakin dihantui tanda tanya.


"Apa kamu menyukai Aisyah?" Tanya Nadia lagi.


"Sebagai seorang laki-laki hal yang sangat wajar bila saya menyukainya, tapi bukankah anda bilang bahwa Aisyah adalah adik ipar anda, jadi tidaklah mungkin jika saya masih menginginkannya." Jelas Reyhan dengan jujur, menurutnya tidak ada yang salah dengan hal itu.


Tapi ketika mendengar kata-kata Nadia saat memperkenalkan diri, sungguh Reyhan merasa sangat terkejut, ia pun berfikir bahwa ia harus segera meninggalkan Aisyah, itu sebabnya ia tak lagi berusaha untuk mengejar Aisyah.


"Adik saya sudah meninggal dua tahun yang lalu, dan makam tadi, itu adalah makan adik saya, suami Aisyah." Ucap Nadia.


Lagi-lagi ucapan yang keluar dari bibir Nadia membuat Reyhan terkejut, pantas saja Aisyah terlihat nangis tersedu-sedu di makan itu tadi pikir Reyhan.


Reyhan masih terlihat diam saja, ia memilih untuk menunggu cerita dari Nadia selanjutnya, meskipun sebenarnya dia sangat- sangat terkejut.


"Adik saya seorang TNI Angkatan Udara." Nadia melanjutkan ceritanya tapi dengan mata yang mulai berkaca-kaca, dan suaminya terlihat mengusap pundaknya dengan lembut, untuk memberi kekuatan kepada istrinya.


"Dua tahun yang lalu adik saya di pidah tugaskan, tapi satu hari sebelum keberangkatannya ia meminta papa untuk menikahkannya dengan Aisyah, karena mereka sudah lama menjalin hubungan. Kedua keluarga kami pun sudah setuju dengan usulan itu, akhirnya mereka menikah meski tidak ada persiapan sama sekali, dan hanya melakukan ijab kobul yang disaksikan kedua belah pihak keluarga." Nadia menghentikan ceritanya dan menyapu air matanya dengan tisu yang di berikan suaminya, lalu ia kembali melanjutkan ceritanya.


"Entah mungkin sudah takdir dari yang kuasa, selesai melaksanakan ijab kobul, adik saya mendapat telpon yang mengharuskannya berangkat hari itu juga, dan mereka berdua pun berpisah." Sambung Nadia.


"Lalu?" Reyhan yang sejak tadi hanya diam dan mendengarkan cerita Nadia, merasa penasaran dengan kelanjutan cerita hidup Aisyah.


"Lalu Aisyah dan Arga hanya saling memberi kabar melalui telpon. Tapi setelah dua minggu di pindah tugaskan, kami mendapatkan kabar buruk dari tempatnya bertugas, helikopter yang Arga kendarai menghilang di sebuah gunung saat sedang bertugas." Ucap Nadia sambil terisak dan tak mampu lagi untuk membendung rasa sedihnya kehilangan adik laki-laki satu-satunya itu meski sudah dua tahun yang lalu.


Reyhan pun tak kalah terkejutnya mendengar penuturan Nadia, tampak dari wajahnya yang juga terlihat begitu bersedih mendengar cerita hidup Aisyah.


Nadia kembali melanjutkan bercerita.


"Satu minggu setelah kejadian, jenazah adik saya baru di temukan dengan kondisi yang tentunya sudah hampir tidak dikenali. Dan ternyata papa saya tidak Terima dengan kenyataan ini dan meyakini bahwa Arga masih hidup sampai sekarang. Saat pemakaman adik saya, papa pun tidak ingin menyaksikannya dan melarang Aisyah untuk ikut, papa bilang kepada Aisyah bahwa itu bukan suaminya dan suaminya masih hidup."


"Apakah Aisyah juga meyakini itu?" Tanya Reyhan dengan antusias.


"Karena rasa sedih yang mendalam Aisyah juga sempat meyakini hal yang sama dengan papa, apa lagi saat itu papa jatuh sakit, jadi Aisyah berusaha untuk menjaga kondisi papa agar tetap stabil dan meyakini bahwa suaminya memang masih hidup." Sambung Nadia.


"Tapi dia berziarah ke makam suaminya?" Tanya Reyhan yang masih sangat penasaran dengan cerita Nadia.


"Satu minggu yang lalu tepat peringatan kejadian kematian adik saya, ada banyak teman angkatannya berziarah kemari, saya dan suami memang meminta adik saya di makamkan di TPU desa kami, agar hal itu bisa menyakinkan papa dan juga Aisyah, tapi sayangnya papa masih tetap pada pendirian dan bersikeras bahwa anak laki-lakinya masih hidup. Meski begitu, sepertinya Aisyah sudah bisa menerima kenyataan ini, dan tadi juga saya terkejut melihat dia datang berziarah untuk pertama kalinya setelah kepergian suaminya." Sambung Nadia lagi.


"Syukurlah." Ujar Reyhan. "Lalu, bantuan apa yang kalian harapkan dari saya?" Reyhan menanyakan hal yang di ucapkan Nadia saat belum bercerita tentang adiknya tadi.


"Kami ingin meminta bantuan mu agar melepaskan Aisyah dari keegoisan papa kami." Ucap Nadia.


"Maksudnya?" Reyhan pun nampak kebingungan.


"Karena keyakinan papa Aisyah jadi tertekan, meskipun ia tidak pernah bilang dengan kami, tapi saya sebagai seorang perempuan tentu tau bagaimana perasaan Aisyah. Kami ingin kamu bisa membantu kami dengan cara mendekati Aisyah." Ujar Nadia. "Kami sudah pernah meminta kepada pemuda desa sini yang menyukai Aisyah, tapi tidak ada yang berhasil Karena ulah papa." Jelas Nadia lagi.


"Lalu bagaimana dengan Aisyah?" Tanya Reyhan.


"Aisyah tidak pernah memperdulikan setiap laki-laki yang mencoba mendekatinya, tapi saya yakin itu hanya karena dia tidak mau melukai papa, di dalam hati kecilnya Aisyah pasti ingin keluar dari penderitaan ini, Aisyah butuh seseorang yang mencintainya." Jelas Nadia lagi.


"Saya tidak bisa berbuat banyak dalam hal ini, saya memang mempunyai niat untuk mendekati Aisyah, itu karena saya pikir dia masih sendiri, tapi jika Aisyah sendiri tidak mau membuka hatinya untuk orang lain, maka akan sulit untuk saya mendekatinya." Jawab Reyhan.


"Setelah kepergian suaminya, Aisyah sangat jarang memperlihatkan senyumnya apa lagi terhadap laki-laki. Tapi saat di pemakaman tadi, saya melihat ada senyum yang terlihat, meskipun ia berusaha untuk menutupinya. Saya yakin, Aisyah juga menyukaimu." Jelas Nadia.

__ADS_1


"Tolong bantulah kami, kami tidak ingin Aisyah berlarut-larut dalam kesedihan." Setelah beberapa saat hanya menjadi pendengar Reyhan dan istrinya, kini Firman terdengar ikut berbicara.


"Baiklah, saya akan pikirkan lagi." Hanya itu jawaban yang terdengar dari Reyhan.


__ADS_2