Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 71


__ADS_3

Sang surya tersenyum cerah, bersinar terlihat begitu terang dan memberikan kehangatan kepada seluruh penghuni bumi. Anton dan Zahwa terlihat sedang berjalan kaki dengan santai, sambil bergandengan tangan dan mereka mengelilingi rumah rumah warga yang ada di perkampungan itu.


"Mas." panggil Zahwa.


"Iya sayang." Jawab Anton, lalu mengalihkan pandangannya menghadap Zahwa.


"Bagaimana keadaan mama.?" tanya Zahwa.


"Alhamdulillah mama baik baik saja." jawab Anton dengan tersenyum."


"Syukurlah. Mas, apa tidak sebaiknnya kita kembali kerumah ayah sore ini saja, lalu besok pagi pagi sekali kita bisa pulang ke Jakarta." ucap Zahwa memberikan usulan kepada suaminya.


"Terserah kamu saja sayang, kalau kamu masih mau disini, mas juga tidak masalah." jawab Anton.


"Tidak mas, lebih cepat lebih baik kita sampai di Jakarta, bukannya mas harus ke kantor, aku juga sudah tidak sabar untuk bertemu dan meminta maaf dengan Sarah." ucap Zahwa lagi. Dan seketika Anton menghentikan langkahnya, membuat Zahwa merasa heran dan ikut menghentikan langkah kakinya.


"Apa kamu yakin ingin bertemu dengan Sarah.?" tanya Anton dengan sedikit ragu.


"Iya mas, tentu saja aku harus menemui Sarah, aku yakin sikap ku tempo hari pasti membuat hatinya jadi terluka." ucap Zahwa dengan tersenyum, tapi seketika wajahnya berubah menjadi sedih ketika ia mengingat kejadian saat itu.


"Za, sebenarnya ada yang harus mas sampaikan dengan mu." ucap Anton lalu mendekat dan menghadapkan tubuhnya kepada Zahwa, lalu ia pun menggenggam kedua tangan istrinya itu.


"Ada apa mas, kenapa mas seperti menyembunyikan sesuatu.?"tanya Zahwa yang sedikit heran melihat tingkah suaminya itu.


"Tapi sebelumnya kamu harus berjanji dulu." ucap Anton lagi, dan terlihat Zahwa mengernyitkan alisnya.

__ADS_1


"Janji apa mas, ada apa sebenarnya.?" Zahwa makin penasaran.


"Berjanjilah untuk tidak menyalahkan dirimu sendiri, setelah kamu mengetahui apa yang akan mas katakan nanti." ucap Anton, ia berusaha untuk bisa menjaga perasaan istrinya itu.


"Iya mas baiklah, aku janji." ucap Zahwa.


"Za, sebenarnya Sarah menggugat cerai mas, bahkan ia sudah mengajukan permohonan cerai ke pengadilan." Ucap Anton dengan sedikit ragu, ia takut akan membuat Zahwa merasa bersalah lagi.


Dan benar saja, Zahwa sangat terkejut mendengar ucapan Anton, ia menutup mulutnya dengan tangan, dan air mata mulai terlihat keluar dari kedua matanya.


"Mas, kenapa bisa begitu." ucap Zahwa tidak percaya.


"Dia merasa sangat bersalah kepadamu, dan kejadian kemarin dia menganggap itu semua karna ulahnya, Sarah juga tidak sanggup, jika suatu saat semua orang akan menyalahkan dirinya atas semua kejadian itu." jelas Anton, lalu menarik Zahwa kedalam pelukannya.


"Mas, aku jadi merasa makin bersalah padanya." ucap Zahwa dengan tangisnya.


"Tapi mas, kita tidak bisa terima begitu saja keputusan Sarah, kalau masih bisa di perbaiki kita harus usahakan itu mas." jawab Zahwa, ia merasa benar benar sangat bersalah.


"Mas tidak tahu harus berbuat apa, mas sudah berusaha mempertahankannya, tapi dia sudah tidak mau mempertahankan rumah tangga ini." jelas Anton lagi.


"Biar aku yang bicara padanya nanti mas." jawab Zahwa, dan Anton hanya mengangguk pelan.


"Sudah jangan menangis lagi sayang, semua ini tidak sepenuhnya salah mu." ucap Anton, lalu mengusap air mata yang mengalir di pipi Zahwa dengan kedua ibu jarinya, lalu mencium pucuk kepala istrinya.


Sinar matahari terasa semakin panas saat menyentuh kulit tubuh, Anton pun mengajak Zahwa untuk kembali kedalam pesantren. Dan ketika mereka sampai di depan rumah pamanya, meraka melihat Nazwa yang sedang berdiri disana dengan tersenyum melihat ponselnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum." ucap Anton dan Zahwa bersamaan menyapa Nazwa.


"Waalaikum Salam." jawab Nazwa lalu mengalihkan pandangannya kepada saudarinya itu dengan masih tersenyum manis.


"Ada apa Na, kenapa kamu tersenyum sendiri begitu." tanya Zahwa penasaran.


"Ini lho, minggu lalu aku mencoba mengirim lamaran kepada sebuah perusahaan yang membuka lowongan secara online, dan aku mendapat panggilan untuk interview lusa." jawab Nazwa memberikan penjelasan kepada saudarinya itu.


"Ohh, dimana Na.?" tanya Zahwa lagi, makin penasaran.


"Di Jakarta Za, ini nama alamat dan perusahannya." ucap Nazwa menyebutkan alamat dan nama perusahaannya, membuat Zahwa dan Anton jadi terkejut.


"Itu kan." jawab Zahwa lalu tiba tiba ucapannya terhenti, karna saat ia menoleh kepada suaminya, Anton mengedipkan matanya, memberikan isyarat kepada istrinya, untuk meneruskan ucapannya.


"Kenapa Za, kamu tahu ya tempatnya.?" tanya Nazwa heran, karna ucapan Zahwa yang tiba tiba terhenti.


"Ah tidak Na, kalau begitu bagaimana kalau kita berangkat ke Jakarta bareng saja Na, dan dari pada kamu cari cari kontrakan lebih baik kamu tinggal dirumah saja. Gimana mas, boleh kan.?" tanya Zahwa lalu mengalihkan pandangannya kepada suaminya itu.


"Iya sayang tentu saja boleh, lagiankan masih banyak kamar kosong dirumah kita, dan pula sepertinya Alamat perusahaan itu tidak jauh deh dari rumah kita." ucap Anton dengan tersenyum kepada istrinya.


"Baiklah, kalau kalian tidak keberatan." jawab Nazwa dengan tersenyum.


"Tentu saja tidak, dan semoga kamu cepat diterima ya." ucap Zahwa.


"Aamiin." ucap mereka bersamaan, dengan tersenyum.

__ADS_1


"Oh ya Na, rencananya aku dan mas Anton akan berangkat kerumah ayah sore ini, biar besok bisa pagi pagi berangkat ke Jakarta." ucap Zahwa.


"Baiklah, kalau begitu aku akan siap siap sekarang, lalu setelah itu aku akan bicara dengan abi dan umi dulu." jawab Nazwa lagi, lalu Zahwa hanya terlihat mengangguk.


__ADS_2