
Di perusahaan milik kakak iparnya, sejak pagi Nazwa terlihat sudah menyibukan diri, ia berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, bahkan Nazwa tidak pernah terlihat sekedar berbicara sejenak dengan rekan kerjannya.
Nazwa pun menyelesaikan tugak kantornya itu dengan cepat, dan ia mengkoreksi sekali lagi hasil kerjanya untuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang dia kerjakan sudah baik dan benar, lalu setelah benar benar yakin bahwa perkerjaannya sudah benar, Nazwa pun berniat untuk menyerahkan hasil kerjanya kepada atasannya, Rangga.
Nazwa melangkah nenuju ruangan Rangga, dan setelah ia sampai di depan pintu ruangan Rangga, Nazwa mengambil nafas dalam lalu mengeluarkannya dengan pelan berusaha menyemangati diri, kini Nazwa pun terdengar mengetuk pintu ruangan pak Rangga.
Tok tok tok..
Nazwa mengetuk pintu ruangan kerja Rangga, namun entah mengapa tidak ada jawaban sama sekali dari dalam ruangan itu, bahkan Nazwa terdengar mengetuk pintu itu untuk kedua kalinya dengan sedikit keras tapi hasilnya tetap saja sama. Nazwa pun mendekati meja kerja Rina, berusaha untuk menanyakan atasan mereka itu.
"Rin, apa kamu melihat pak Rangga keluar dari ruangannya.?" tanya Nazwa, tapi Rina malah terlihat memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri, seperti tengah mencari seseorang.
"Tidak, aku tidak melihatnya dari tadi, sepertinya sejak dia masuk ruangan tadi pagi, sampai saat ini dia belum terlihat keluar sama sekali." jelas Rina.
"Lalu dimana ya kira kira pak Rangga.?" ucap Nazwa terlihat seperti orang kebingungan, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tertutup hijabnya.
"Memangnya ada apa kamu mencari pak Rangga, apa kamu mulai menyukainya.?" ucap Rina, lalu disusul dengan suara tawanya yang sedikit keras.
"Huss, sembarangan. Aku cuma mau menyerahkan ini." jelas Nazwa sambil menunjukan map hasil kerjanya.
"Ohh, kalau begitu kamu masuk saja kedalam, dan letakkan saja diatas meja kerja pak Rangga, nanti juga dia pasti lihat." ucap Rina lagi.
"Tapi itu kan tidak sopan Rin, masuk ruangan orang lain tanpa seizin dari yang punya." bantah Nazwa.
"Ya terus, kamu mau nunggu sampai kapan.? Pak Rangga di mana dan kapan kembalinya saja kan kita tidak tahu." ucap Rina lagi sambil memajukan bibirnya.
"Tapi nanti pak Rangga bisa marah, kalau ada yang masuk ruangannya tanpa izin darinya." Nazwa mulai dilema.
"Tidak, aku sering melakukan hal seperti itu saat pak Rangga tidak ada diruangannya." jelas Rina lagi.
"Apa kamu yakin.?" tanya Nazwa lagi, dan Rina hanya mengangguk nganggukkan kepalnya. "Baiklah, akan aku coba masuk dan meletakkan ini di meja kerjanya." ucap Nazwa, lalu ia terlihat meninggalkan meja kerja Rina dan melangkah menuju ruangan kerja manajernya itu.
Di depan ruangan kerja pak Rangga, Nazwa tampak merasa ragu untuk masuk kedalam ruangan itu, karna masuk tanpa izin dari pemilik ruangan itu hal yang sangat salah menurutnya, namun karna harus menyerahkan hasil kerja dan dia juga tidak tahu kapan atasannya itu akan kembali keruangannya, akhirnya Nazwa pun memberanikan diri untuk masuk kedalam ruang kerja pak Rangga.
"Assalammualaikum." ucap Nazwa pelan, dengan suara hampir tidak terdengar saat ia membuka dan ingin memasuki ruang kerja Rangga.
__ADS_1
Dan karna masih tidak melihat Rangga di kursi kerjanya, akhirnya Nazwa memberanikan dirinya dan melangkah masuk. Langkah Nazwa terlihat begitu pelan, ia sangan hati hati dalam berjalan, karna takut mengganggu atasannya jika ternyata pak Rangga ada didalam ruangannya.
Nazwa menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri, berusaha untuk mencari keberadaan Rangga, tapi ia masih tidak melihatnya. Saat kakinya baru saja tiga kali melangkah kedalam, tiba tiba terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, dan dengan segera Nazwa membalikkan tubuhnya, ia begitu ketakutan dan mencoba untuk keluar dari ruangan itu.
Namun usaha Nazwa untuk pergi sia sia, karna ternyata Rangga sudah melihat keberadaannya terlebih dahulu di dalam ruangannya.
"Apa yang kamu lakukan.?" ucap Rangga dan terdengar sangat tegas.
Brak..
Map hasik kerja Nazwa tiba tiba terjatuh kelantai, Nazwa yang baru saja ingin melangkahkan kakinya keluar tiba tiba merasa terkejut sekaligus takut mendengar ucapan atasannya itu dan tanpa sengaja ia menjatuhkan apa yang ada ditangannya.
Nazwa yang terlihat sedikit panik pun membalikkan tubuhnya dan berusaha memberikan penjelasan kepada Rangga.
"Ma, maafkan saya pak, karna lancang masuk ke ruangan bapak tanpa izin, saya sudah berusaha mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari dalam." jelas Nazwa, ia berbicara dengan terbata bata karna merasa bersalah dan juga takut.
"Lalu kenapa kamu ingin kemari.?" tanya Rangga lagi, dengan nada suara yang masih sama membuat Nazwa semakin merasa takut.
"Sa, saya mau menyerahkan." tiba tiba ucapannya terhenti karna merasa tidak lagi memegang apapun di tangannya, Nazwa pun berusaha mencari dan mengambil laporan hasil kerjanya yang terjatuh.
"Saya ingin menyerahkan hasil kerja saya ini pak." ucapnya sambil tertunduk karna tak ingin melihat wajah Rangga, dan keduan tangannya berusaha meletakkan map hasil kerjanya dengan hati hati.
"Apa kamu yakin sudah mengerjakannya dengan teliti.?" tanya Rangga lagi masih dengan nada tegasnya.
"Insya Allah, saya sudah memeriksanya membali tadi, sebelum saya bawa kemari." jelas Nazwa.
"Baiklah saya akan melihatnya kembali nanti, silahkan keluar." ucap Rangga.
"Permisi." Nazwa pun membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar ruangan, dan Rangga pun masih terlihat menatap punggung Nazwa saat keluar ruangannya hingga gadis itu menutup kembali pintu, setelah pintu tertutup Rangga pun terlihat menggelengkan kepalanya pelan.
Perasaan takutnya sedikit demi sedikit mulai menghilang, meski di dalam hatinya masih ada rasa bersalah karna telah lancang memasuki ruangan atasannya tanpa izin.
Nazwa kembali dan duduk dikursi kerjanya, ia terlihat mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan mencoba untuk menetralisir perasaannya. Tapi baru saja ia merasa sedikit tenang, tiba tiba telpon yang ada diatas meja kerjanya berbunyi, membut Nazwa kembali terkejut, dan dengan segera Nazwa mengangkat telpon kantor yang letaknya ada di hadapannya.
"Hallo, selamat siang." ucap Nazwa yang tidak mengetahui siapa penelpon tersebut, namun yang pasti tentunya orang sesama pekerja di perusahaan itu.
__ADS_1
"Keruangan manajer sekarang." ucap penelpon itu tanpa basa basi, dan jelas sekali bahwa si penelpon adalah Rangga.
Nazwa meletakkan kembali gagang telponnya dengan perasaam yang tidak menentu dihatinya, pikirannya langsung tertuju pada hasil kerjanya yang baru saja ia serahkan. Tanpa pikir panjang Nazwa pun berdiri kembali dan berjalan menuju ruangan atasannya itu.
Ya Allah, mungkinkah semua yang aku kerjakan tidak benar, atau pak Rangga kurang puas dengan hasil kerja ku.? fikirnya.
Tok tok tok..
"Masuk." terdengar jawaban Rangga dari dalam ruangan, yang makin membuat perasaan Nazwa semakin tidak karuan.
"Assalammualaikum." ucap Nazwa saat membuka pintu dan melangkahkan kakinya menuju meja kerja Rangga.
"Waalaikum salam." ucap Rangga hampir tidak terdengar karna berucap sangat pelan dan seperti berbisik.
Nazwa berdiri di hadapan Rangga dengan menundukkan kepalannya, jantungnya berdegup kencang dua kali lipat dari biasannya, namun Nazwa sudah pasrah bila harus di marahi karna pekerjaannya yang mungkin saja salah.
"Duduk." ucap Rangga, namun sama sekali tidak melihat ke arah Nazwa.
"Baik pak." jawab Nazwa dengan tangan yang sedikit gemetaran, ia pun dengan segera duduk di kursi yang ada dihadapan meja kerja Rangga.
"Aku sudah melihat hasil kerja mu, dan ini lumayan baik karna mengingat kamu yang baru saja dua hari berkerja di perusahaan ini, kamu bisa diandalkan meski belum benar benar sehebat orang yang sekarang kamu gantikan tempatnya." jelas Rangga tegas.
"Terima kasih pak, saya akan berusaha lebih baik lagi." jawab Nazwa.
"Harus. Dan ini ada perkerjaan lagi untuk mu, dan harus kamu kerjakan secepatnya." Rangga pun menyerahkan lagi beberapa pekerjaan yang harus di kerjakan oleh Nazwa."
"Baik pak."
"Hmm, silahkan keluar dan selesaikan pekerjaan mu." ucap Rangga dengan acuh. Nazwa pun seketika langsung berdiri dari kursinya.
"Saya permisi pak." ucapnya sambil berjalan meninggalkan ruangan Rangga, namun tidak ada jawaban dari atasannya itu.
Kenapa sikap pak Rangga jauh berbeda dari sebelumnya.?
Saat ia tiba di meja kerjanya, saat itu juga Rina menghampirinya dan mengajak Nazwa untuk pergi makan di kantin, karna ternyata jam telah menunjukkan waktunya untuk makan siang, keduanya pun pergi dan makan bersama.
__ADS_1