
Tidak terasa waktu pun telah berganti kembali, pagi ini Nazwa dan Rangga terlihat lebih sebuk mempersiapkan diri mereka tidak seperti hari hari biasanya. Acara yang akan di mulai pukul sembilan pagi, membuat mereka tergesa gesa, terlebih lagi Nazwa, ia takut jika penampilannya akan terlihat buruk, yang tentu akan membuat Rangga menjadi malu di depan kliennya.
Usai membersihkan dirinya di dalam kamar mandi, Nazwa dengan segera memakai gaun yang telah ia pilih kemari, lalu tak lupa ia pun memolesi wajahnya dengan make up yang sengaja ia bawa, hanya saja hari ini ia memakai perlengkapan wajib wanita itu sedikit lebih banyak dari biasanya.
Sementara itu di dalam kamar miliknya, Rangga terlihat lebih tenang mempersiapkan dirinya, mungkin karena ini bukan kali pertama ia menghadiri acara acara besar seperti ini, berbeda dengan Nazwa yang baru pertama kali menghadiri acara yang diadakan sebuah perusahaan, karena tamu yang hadir pun tentu saja berbeda, tidak seperti acara pernikah atau lainnya.
Rangga mengirim pesan kepada Nazwa untuk menanyakan apakah dirinya telah selesai besiap siap, dan setelah mendapatkan balasan dari Nazwa, Rangga pun keluar dari dalam kamarnya dan segera menemui Nazwa yang saat itu belum keluar dari dalam kamarnya, Rangga berdiri tepat di hadapan pintu kamar milik Nazwa, dan ketika dirinya hendak membunyikan bel, tiba tiba pintu terbuka karena Nazwa yang terlihat akan segera keluar menemui dirinya.
Saat tubuh gadis itu telah keluar dari dalam kamarnya, tampaklah penampilan Nazwa yang begitu berbeda, selain karena baju yang ia kenakan sangan cocok untuknya, riasan wajahnya pun sangat mendukung, hingga menampilkan kecantikan yang luar biasa.
Masya Allah. Kata itu yang terucap dilubuk hati Rangga saat melihat penampilan Nazwa dihadapannya, ia nampak begitu mengagumi kecantikan dari kekasih hatinya itu, namun Rangga berusaha tetap terlihat santai, dan seolah olah tidak memperdulikan penampilan Nazwa yang tampak berbeda hari ini.
Mereka pun segera pergi menuju tempat acara dilangsungkan, dan saat tiba disana, semua mata tampak memperhatikan kedatangan mereka, bahkan beberapa klien pun terlihat menyambut kedatangan mereka dengan begitu antusias. Acara berlangsung dengan begitu meriah, Nazwa pun tampak menikmati acara itu dengan senang hati, karena Rangga memperhatikan dan menemani Nazwa samapi akhir acara, hingga tidak ada kecanggungan terhadap diri Nazwa meski ini kali pertamanya menghadiri acara besar sebuah perusahaan.
***
Siang ini Anton pulang lebih awal seperti hari hari biasanya, ia selalu berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, dan terkadang ia membawa pekerjaannya yang belum selesai pulang kerumah, untuk mengerjakannya dirumah, karena tidak ingin Zahwa merasa kesepian berada dirumah sendirian
Tawa renyah kedua insan itu terdengar menghiasi ruangan keluarga, bahkan suara TV yang sedang menyala, terkalahkan oleh tawa dari Anton dan juga Zahwa.
"Mas, kapan Nazwa akan pulang?" tanya Zahwa, disela obrolan mereka.
"Hari ini sayang, setelah acara peresmian selesai, mereka akan mengambil penerbangan sore nanti." jawab Anton, dan Zahwa pun tersenyum senang mendengar jawaban dari suaminya itu.
Saat sedang kembali bercanda, tiba tiba ketukan terdengar dari pintu utama rumah mereka, Zahwa pun berinisiatif untuk membukakan pintu, namun dengan cepat Anton mencegah istrinya itu dan berkata bahwa ia yang akan membukakan pintu, karena tidak ingin istrinya itu terlalu lelah berjalan kesana kemari.
"Biar mas saja sayang." ucap Anton.
"Iya." jawab Zahwa sambil mengangguk.
Anton segera melangkah menuju pintu utama, dan pada saat pintu terbuka, tampaklah mantan istri keduanya disana, yang tak lain adalah Sarah dan datang bersama dengan Rudi.
"Assalam mualaiku." ucap Sarah dan Rudi bersamaan.
__ADS_1
"Waalaikum salam, kalian?" jawab Anton.
"Zahwa ada mas?" tanya Sarah dengan tersenyum.
"Dia ada di dalam, silahkan masuk." jawab Anton, setelah mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk dan duduk diruang tamu, Anton pun segera menemui istrinya untuk memanggil dan mengatakan siapa tamu mereka kepada Zahwa.
"Siapa mas?" Zahwa yang bertanya terlebih dahulu saat suaminya itu menemuinya di ruang keluarga.
"Sarah sayang, dia datang bersama Rudi." jawab Anton.
"O ya, ada apa ya mas, tumben sekali mereka datang kemari?" Zahwa terlihat terkejut sekaligus penasaran.
Sarah memang tidak pernah lagi berhubungan dengan Anton maupun Zahwa, terakhir mereka bertemu dirumah itu untuk menemani mamanya, untuk meminta maaf kepada Zahwa atas kesalah mamanya Sarah dulu, wajar saja jika kedatangan mereka kerumah itu, menimbulkan pertanyaan bagi Anton dan Zahwa.
"Ayo sayang, kita memui mereka." ajak Anton.
"Tunggu sebentar mas, aku mau meminta bibik untuk membuatkan minuman." ujar Zahwa, lalu ia pun pergi kedapur dan meminta pembantunya membuatkan dua minuman untuk tamunya, lalu ia dengan segera menyusul Anton menemui Sarah dan juga Rudi.
"Zahwa!" sapa Sarah lalu bangkit dan mendekati bekas madunya itu.
"Alhamdullah aku baik. Lalu gimana keadaan mu Za?" Sarah kembali bertanya.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat, aku jauh lebih baik sekarang Sarah." jawab Zahwa.
"Syukurlah aku senang mendengarnya." ujar Sarah, meski hanya sekedar basa basi, tapi dari dulu memang mereka terlihat begitu akur.
"Ayo silahkan duduk Sarah." ucap Zahwa mempersilahkan, saat dirinya dan Sarah masih terlihat sama sama berdiri setelah melepas kerinduan.
"Maaf jika kehadiran kami kemari mengganggu kalian.'' ujar Sarah membuka pembicaraan, lalu ia melirik ke pada Rudi.
"Tentu saja tidak Sarah, aku senang kamu masih bersedia menyambung tali silaturahmi kita." jawab Zahwa dengan tersenyum. Sedangkan Anton dan Rudi terlihat hanya diam, namun mereka terlihat tersenyum saat melihat kedua wanita itu berbicara.
"Tentu saja Za, aku tentu tidak akan pernah lupa atas semua kebaikan mu kepada ku." ujar Sarah lagi. Dan Zahwa pun hanya terlihat tersenyum menanggapi ucapan Sarah.
__ADS_1
Saat sedang berbasa basi ringan, minuman dan cemilan pun datang dihantarkan, setelah pembantu Zahwa pergi dari hadapan mereka, barulah mereka kembali berbincang.
"Ngomong ngomong kalian tumben kemari, ada apa Sarah, apa kalian membawa kabar bahagia?" tanya Zahwa. Ia bisa menebak begitu karena melihat Sarah dan Rudi yang tampak begitu mesra.
Sarah terlihat tersenyum mendengar pertanyaan Zahwa, ia pun lantas membuka tasnya, dan merogoh selembar undangan yang ada di dalam tas itu.
"Kali ini tebakan mu sangan benar Za, dan aku berharap kalian berdua bisa hadir di acara pernikahan kami." ujar Sarah, dia berbicara sambil meletakkan selembar undangan yang ia ambil dari tasnya itu keatas meja.
"Alhamdulillah hirobbil allamin. Selamat ya Sarah, semoga Allah mempermudah semuanya sampai hari H, dan kalian menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah." ucap Zahwa.
"Aamiin." jawab Anton, Rudi, dan juga Sarah bersamaan.
"Terima kasih Za." ucap Sarah lagi.
"Sama sama Sarah, ayo silahkan diminum dulu." ucap Zahwa kepada Sarah dan Rudi, lalu ia terlihat mengambil undangan itu, dan mencoba melihatnya bersama dengan Anton.
Setelah menghabiskan minuman yang disuguhkan, Sarah dan Rudi pun pamit undur diri, Sarah dan Zahwa kembali terlihat berpelukan sebelum akhirnya, Sarah dan Rudi pergi meninggalkan rumah milik mantan suaminya itu.
Sepeninggalan Sarah dan Rudi, kini Zahwa dan Anton tampak masih berdiri di depan teras rumah mereka, saat akan melangkah masuk, Zahwa tiba tiba tersenyum sambil menahan tangan suaminya, Anton pun menghentikan langkannya lalu berbalik menghadap istri yang ada disampingnya.
"Duh gimana ya mas rasanya, ditinggal mantan istri yang akan menikah dengan laki laki lain." Zahwa berucap seperti itu dengan tersenyum, ia bermaksut untuk menggoda suaminya itu.
"Hmm gimana ya." Anton menghentikan ucapannya itu, ia bersikap seolah olah sedang berfikir keras mencari jawaban, terlihat ia juga menaikan sebelah alisnya.
"Kamu cemburu ya mas?" tanya Zahwa lagi masih mermaksud menggoda suaminya.
Mendengar ucapan istrinya itu, Anton pun tertawa dibuatnya, Anton malah merasa senang karena sebenarnya ia tahu bahwa Zahwa kini menghawatirkan dirinya, yang mungkin saja masih menyimpan rasa terhadap Sarah, meski Zahwa terlihat sedang bercanda, tapi ucapan Zahwa itu bisa dikatakan mewakili perasaannya.
"Kenapa tertawa mas?" tanya Zahwa.
"Kamu curiga ya, kalau mas masih menyimpan perasaan untuk Sarah. Kamu tenang saja sayang, tidak akan ada yang mampu menggantikan posisi kamu dihatiku sekarang dan selamanya, sekali pun itu Sarah." jawab Anton, lalu ia pun mengangkat tubuh istrinya itu dan membawa Zahwa masuk kedalam rumah.
"Mas turunin dong, malu nanti ada yang melihat." ujar Zahwa berusaha meminta agar Anton menurunkan dirinya dari gendongan Anton.
__ADS_1
"Oke, mas akan turunkan asal kamu mau janji, tidak akan membahas masalah seperti ini lagi." jawab Anton.
"Iya mas aku janji." jawab Zahwa, lalu Anton pun menurunkan tubuh istrinya itu.