Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 108


__ADS_3

Zahwa terbangun saat mendengar Adzan subuh berkumandang, ia menoleh melihat Anton yang tertidur sambil duduk disampingnya dangan menggenggam tangannya dengan erat.


Anton nampak tidur begitu pulasnya meski dengan posisi duduk, mungkin karna beberapa hari ini ia kurang tidur akibat menghawatirkan keadaan Zahwa, dan kini ia baru bisa tidur dengan nyenyak saat istrinya telah sadar dari kritisnya.


Zahwa menyentuh dengan lembut wajah Anton dengan sebelah tangannya, hati Zahwa merasa sedih melihat suaminya harus tertidur dengan cara seperti itu, dan ternyata sentuhan Zahwa membuat Anton terbangun dari tidurnya, dan saat menyadari apa yang sedang dilakukan oleh istrinya, Anton pun tersenyum lalu meraih tangan istrinya yang ia gunakan untuk menyentuh wajahnya, dan menciumnya dengan lembut.


"Kamu sudah bangun sayang.?" tanya Anton.


"Sudah waktunya sholat subuh mas." ucap Zahwa sambil tersenyum.


"Iya sayang, kalau begitu mas tinggal sebentar ya." jawab Anton, dan Zahwa hanya mengangguk.


***


Setelah selesai melaksanakan sholat subuhnya, Nazwa terlihat sedang mempersiapkan pakaian dan juga peralatan lainnya yang akan ia bawa menuju kota XX bersama Rangga. Karna hanya akan pergi selama dua hari, ia memutuskan untuk membawa pakaia secukupnya saja, apa lagi perjalanannya ke kota tersebut hanya untuk urusan kerja.


Selesai berkemas Nazwa keluar dari kamarnya dan menuju meja makan untuk sarapan bersama paman dan bibinya.


"Pagi paman, bi.!" sapa Nazwa.


"Pagi sayang." jawab mereka.


"Bagaimana keadaan Zahwa bi.?"


"Alhamdulillah Zahwa sudah sadar dari keritisnya sayang, semalam paman dan bibik pergi kerumah sakit, tapi bibik tidak mengajak mu karna kamu pasti kelelahan sayang." jelas bibiknya.


"Syukur alhamdulillah kalau begitu bi. Oh ya bi hari ini Nahwa ditugaskan oleh mas Anton untuk menemani atasan ku keluar kota bi selama dua hari." jelas Nazwa.


"Kalau begitu berhati hati dan jaga diri mu saat disana sayang." jawab bibinya, lalu mereka mulai memakan sarapan mereka.


Nazwa merasa sangat ingin melihat kondisi Zahwa di rumah sakit, namun ia ragu apakan Rangga mau memberinya waktu sebentar untuk melihat kondisi Zahwa. Nazwa kembali ke dalam kamarnya untuk memeriksa sekali lagi barangnya yang akan ia bawa.

__ADS_1


Tok tok tok..


Terdengar ketukan dari pintu kamar Nazwa, ia pun keluar dan melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.


"Ada apa bi.?" tanya Nazwa yang melihat pembantu rumah Zahwa lah yang mengetuk pintu lamarnya.


"Non, di depan ada orang dia bilang dari kantor dan ingin menjempun nona." jawab pembantu itu.


"Oh sudah datang, baik bi terima kasih ya bi." ucap Nazwa lagi.


"Iya non, saya permisi dulu." jawabnya lalu pergi kembali menuju dapur.


Nazwa mengambil koper kecil yang berisi pakaiannya lalu keluar kamar dan berpamitan dengan paman dan bibinya, lalu setelahnya ia segera menuju mobil yang telah berada di luar pagar menunggunya.


Nazwa membuka pintu mobil bagian belakang tanpa memperhatikan mobil itu, ia memasukan koper kecilnya dan meletakanya di samping tempat duduknya.


Setelah merasa bahwa Nazwa telah siapa ditempat duduknya, sopir itu pun membawa Nazwa pergi.


Saat memasuki area parkir rumah sakit, mobil pun berhenti, dan Nazwa pun baru tersadar dari lamunanya saat merasa bahwa mobil telah berhenti. Nazwa menoleh melihat kearah kaca jendela mobil, dan ia merasa sangat terkejut karna melihat tempat dimana mereka berhenti adalah rumah sakit tempat Zahwa dirawat.


"Maaf pak, kenapa kita kemari, pak Rangga bisa memarahi saya kalau sampai saya terlambat pak." ucap Nazwa kepada supir itu.


"Apa kamu fikir kalau aku ini supir mu.?" tiba tiba terdengar suara kesal dari kursi kemudi, yang membuat Nazwa merasa terkejut karna ia sangat mengenali suara itu.


"Pak Rangga!" yang di panggil pun segera keluar dari mobil dan berjalan meninggalkannya menuju rumah sakit.


Nazwa juga terlihat buru buru keluar dan segera menyusul Rangga yang berjalan dengan cepat didepannya, dan Nazwa pun sedikit berlari kecil untuk mengejar Rangga.


"Pak Rangga, terima kasih ya telah mengantarkan saya kemari, sebenarnya saya memang sangat ingin sekali melihat kondisi Zahwa sebelum berangkat." ucap Nazwa yang kini telah berada tepat di belakang Rangga.


Tiba tiba Rangga menghentikan langkah, dan membalikan badanya menghadap Nazwa yang juga sudah menghentikan langkahnya karna melihat Rangga berhenti lalu menatap wajahnya bingung.

__ADS_1


"Apa kamu bilang, saya kemari bukan karna ingin menghantarkan mu, tapi karna saya memang ingin menemui pak Anton sebelum kita pergi." ucap Rangga, lalu terlihat senyum tipis di ujung bibinya.


"Maaf pak." senyum malu malu pun terlihat jelas diwajah Nazwa yang juga sedikit memerah karna menahan malunya.


Rangga membalikan badanya lagi dan terlihat sedikit menggelengkan kepalanya, ada senyuman di wajahnya yang tidak ingin ia tunjulan kepada Nazwa, karna ia merasa lucu melihat tingkah Nazwa yang sedang menahan malu begitu.


Mereka kembali melanjutkan langkah menuju ruangan Zahwa, dan saat tiba diruangan ICU, mereka melihat Zahwa yang akan di pindakan keruang perawatan VIP, Nazwa dan Rangga pun mengikuti Anton yang terlihat sedang membantu memindahkan istrinya. Setelah Zahwa selesai di pindahkan, Nazwa pun mendekati Zahwa dan memelu kakak sepupunya itu.


"Apa kalian ingin pergi ke kota XX.?" tanya Anton kepada Rangga yang berdiri di dekatnya.


"Iya pak. Saya kemari karna ingin meminta bapak untuk menandatangani beberapa berkas yang belum sempat bapak tanda tangani waktu itu, karna saya akan membawanya untuk dipersentasikan." jelas Rangga.


"Baiklah." ucap Anton lalu mengajak Rangga untuk duduk disofa yang ada diruangan itu, lalu mulai memeriksa dan menandatangani semua berkas laporan yang akan dibawa oleh Rangga.


Selesai dengan urusan mereka, Rangga dan Nazwa pun berpamitan untuk segera pergi ke bandara, karna mereka tidak ingin ketinggalan pesawat. Mereka tiba dibandara den segera masuk, setelah dilakukan pemeriksaan mereka segera menuju pesawat yang akan membawa mereka menuju kota XX.


Seperti halnya Zahwa dulu, ini adalah kali pertamanya Nazwa menaiki pesawat terbang, ada rasa takut yang menghampiri Nazwa, namun ia tidak mungkin mengatakannya kepada Rangga dan lebih memilih untuk diam berpura pura terlihat santai.


Nazwa duduk tepat disamping Rangga, dan untuk memasang seatbeltnya, ia harus diam diam memperhatikan Rangga saat memasang seatbelt, karna lagi lagi Nazwa merasa malu jika harus mengatakan kepada Rangga bahwa ia tidak bisa memakai seatbeltnya sendiri.


Pesawat pun mulai bergerak jalan, di dalam hati Nazwa tidak henti hentinya mengucapkan do'a, ia sering mendengar berita pesawat jatuh, dan sungguh ia benar benar tidak ingin hal itu terjadi pada dirinya saat ini.


Ketika pesawat mulai lepas landas, Nazwa merasa jantungnya berdenyut dengan cepat karna merasakan sesuatu yang belum pernah ia alami, seketika Nazwa meraih lengan Rangga yang ada disampingnya, dan ia pun sedikit memutar tubuhnya lalu membenamkan wajahnya karna merasa takut, hal itu ia lakukan secara sepontan membuat Rangga merasa terkejut, namun ketika Rangga menoleh melihat Nazwa, ia pun tersadar bahwa Nazwa baru perta kali naik pesawat dan sedang mengalami ketakutan.


Rangga membiarkan Nazwa yang sedang menyembunyikan wajahnya dibalik lengannya, hingga keadaan pesawat sudah benar benar terbang dengan tenang.


Rangga pun memukul dengan pelan punggung tangan Nazwa yang mencengkram lengannya.


"Duduk lah dengan benar, atau kita akan terjatuh bersama sama dari sini." ujar Rangga dengan sedikit tersenyum menggoda Nazwa.


"Maaf pak." secepat kilat Nazwa melepaskan tangannya, dan merasa malu dengan tindakan yang ia lakukan tanpa sadar itu.

__ADS_1


__ADS_2