Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 147


__ADS_3

Setelah selesai bersiap siap dengan setelan pakaian santai mereka, Anton dan Zahwa kini terlihat telah berada didalam mobil mereka.


"Sudah siap?" tanya Anton lagi kepada istrinya dengan tersenyum manis.


"Iya mas." jawab Zahwa juga dengan tersenyum.


Lalu Anton pun mulai menginjakkan gas pada mobilnya, dan melaju dengan kecepatan sedang menuju toko kue milik Zahwa yang sudah lama tidak pernah di kunjungi olah dirinya itu.


Saat hari minggu biasanya toko kue milik Zahwa akan selalu tetap buka, karena akan lebih banyak pelanggan yang datang dari hari hari biasa untuk membeli kue kuenya sebagai oleh oleh, atau sebagai bekal pergi berlibur.


Para karyawan pun biasanya akan bergilir untuk berlibur, karena sebagian dari mereka merasa enggan untuk pergi dan malah ingin tetap bekerja menambah penghasilan, dan Zahwa juga akan membagikan keuntungan lebih kepada karyawan tokonya yang tetap bekerja di saat hari libur sebagai bonus tambahan.


Perjalanan Anton dan Zahwa menuju toko kue tidak memakan waktu lama, karena kondisi jalanan yang masih cukup sepi hingga hanya butuh waktu dua puluh menit saja untuk mereka sampai ketempat tujuan.


Setelah Anton memarkirkan kendaraannya, Zahwa segera turun dari dalam mobil, dan tanpa menunggu Anton turun dari mobilnya, Zahwa pun segera masuk dan memberikan salam kepada karyawan tokonya.


"Assalam mualaikum." ucap Zahwa memberikan salam.


"Waalaikum salam." jawab dua karyawan yang terlihat berada di sana, mereka membalikan tubuh, untuk melihat siapa yang datang.


Seketika wajah mereka tampak bahagia saat melihat kedatang Zahwa, senyuman manis terlihat begitu lebar menghiasi wajah mereka dan dengan segera mereka berhamburan berebut untuk mendekat dan menyapa Zahwa.


"Mba apa kabar, tumben kemari?" tanya salah satu pegawainya itu.


"Kenapa tidak memberitahu kami kalau mau kemari, kami kan bisa menyiapkan camilan kesukaan mba." ujar pegawai satunya lagi yang tahu dengan kebiasa dan camilan kesukaan Zahwa.


Raut wajah bahagia Zahwa pun semakin terpancar, hatinya begitu senang ketika melihat karyawanya dengan begitu bahagia menyambut kedatangannya.


"Tidak perlu repot repot, aku cuma ingin melihat lihat sebentar, rasanya aku sudah sangat rindu dengan suasana dan aroma kue dari toko kita, apa lagi dengan kalian semua." ujar Zahwa.


"Ayo silahkan masuk mba." ujar salah satu karyawanya mempersilahkan Zahwa untuk masuk.


Zahwa pun membalikan tubuhnya untuk melihat keberada Anton yang telah berdiri di belakangnya.


"Mas mau ikut masuk juga?" tanya Zahwa dengan keraguan. "Tapi di dalam sedikit panas, dan beraroma kue mas, kalau mas tidak suka mas silahkan duduk disini saja." ucap Zahwa lagi, mempersilahkan suaminya untuk duduk dikursi tunggu yang sederhana.


"Tidak apa apa sayang, mas ikut kedalam saja, boleh?" tanya Anton lagi.


"Tentu saja mas, ayo silahkan masuk." ujar Zahwa dengan senang hati.

__ADS_1


Ia mengira bahwa suaminya itu akan enggan untuk masuk kedalam tempat pembuatan kuenya, karena selama ini Anton hanya terbiasa pergi ke kantor yang berhawa sejuk dan tidak pernah pergi ke tempat yang terbilang sedikit berantakan karena proses pembuatan beraneka kue.


"Assalam mualaikum." sapa Zahwa kepada Lina dan yang lainnya.


"Waalaikum salam." jawab Lina dan teman temannya sambil membalikan tubuh mereka, mencoba untuk melihat kesumber suara.


"Mba Zahwa." terik mereka bersamaan, lalu dengan segera menghampiri pemilik toko kue yang sangat ramah dan baik hati itu.


"Apa kabar mba?" tanya Lina.


"Alhamdulillah baik Lin, kalian apa kabar?" tanya Zahwa kembali.


"Alhamdulillah kami baik mba." jawab mereka.


"Syukur alhamdulillah." jawab Zahwa lagi.


Belum juga lama tiba di dalam ruangan itu wajah Anton terlihat sudah sedikit berwarna kemerahan, ruangan itu memang terbilang sedikit sempit, dan juga panas karena adanya beberapa oven pemanggangan kue, ditambah lagi pendingin ruangan itu yang hanya menggunakan kipas angin.


Zahwa yang tengah asik berbicara dengan karyawannya itu, terlihat memalingkan wajahnya mencoba melihat suaminya, dan saat melihat keadaan wajah Anton, Zahwa pun merasa kasihan melihat suaminya itu, dengan segera ia mengambilkan tisu yang ada di ruangan itu, lalu memberikannya kepada Anton.


"Mas berkeringat." ujar Zahwa sambil menyodorkan lembaran tisu ke hadapan suaminya.


"Maaf ya mas, disini memang sedikit panas, mas tunggu di mobil saja." ujar Zahwa memberikan saran kepada suaminya itu.


"Tidak apa apa sayang, mas suka dengan aroma roti dan kue di dapur ini, dapurnya juga terlihat sangat bersih, hanya saja sedikit sempit." jawab Anton dengan tersenyum.


"Terima kasih mas, mereka memang rajin." ujar Zahwa sambil memalingkan wajahnya melihat Lina dan juga teman temannya yang telah melanjutkan pekerjaan mereka. Lina dan yang lainnya pun tersenyum malu mendengar pujian yang di berikan oleh Zahwa.


Anton duduk di kursi yang ada di ruangan itu, dan tidak berapa lama Zahwa pun datang dengan minuman segar dan beberapa aneka kue yang ia siapkan untuk suaminya.


Anton meminum minuman yang diberikan oleh istrinya, lalu memakan kue yang di buat oleh Lina dan juga teman temanya. Anton merasa takjub dengan rasa dari kue kue itu, karena selain lembut rasanya pun sangat enak, Anton tentu saja sering makan kue dari toko toko besar dan mewah yang ada di kotanya itu, dan kue dari toko istrinya yang sederhana ini, tidak kalah enaknya dari toko toko kue mewah lainnya.


"Sayang." panggil Anton yang melihat Zahwa berdiri di dekat karyawannya.


"Iya mas." jawab Zahwa. Dan Anton pun bangkit dari duduknya, lalu mendekati istrinya itu.


"Sepertinya toko kue ini perlu di perluas." ujar Anton sambil melihat di sekeliling ruangan itu.


"Hmm." Zahwa pun mengikuti gerakan Anton yang melihat ke setiap sudut ruangan tokonya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau di buat seperti caffe saja sayang, orang orang bisa menikmati kue sambil bersantai disini." ujar Anton lagi memberikan ide.


"Sepertinya itu ide yang bagus mba, kita juga bisa buatkan minuman sebagai temannya, pasti toko ini akan semakin ramai." sambung Lina yang mendengar pembicaraan Anton dan Zahwa.


"Nah..mas setuju, orang orang tidak cuma memesan dan membeli kue yang tersedia saja, tapi juga bisa menikmati kue kue itu sambil bersantai disini. Kue kalian ini sangat enak, mas yakin pasti akan semakin ramai pengunjung" jelas Anton lagi.


Zahwa pun senang dengan pendapat Anton, namun Zahwa tentu saja merasa tidak mampu untuk membuat tempat seperti itu, bisa membuka toko saja itu sudah suatu berkah dan kebahagiaan baginya.


Pendapatan Zahwa terbilang cukut lumayan dengan keadaan toko yang selalu laris manis, namun selama ini ia tidak pernah memikirkan untuk memperbesar tokonya, dan bahkan keuntungan yang terkadang lebih, selalu ia bagi bagikan kepada karyawannya sebagai bonus tambaha, mengirimi kedua orang tuannya, dan juga selalu bersedekah.


Melihat istrinya yang terdiam pun, Anton bisa menangkap apa yang sedang di fikirkan oleh Zahwa, ia tahu benar berapa jumblah dari keuntungan istrinya itu, apa lagi Anton juga tahu kebiasaan Zahwa yang suka berbagi dengan karyawan lainnya.


Anton menggenggam jemari istrinya itu, lalu membawa Zahwa duduk di kursi yang ada diruangan itu. Melihat perlakuan suaminya, Zahwa pun menurut dan melangkah mengikuti Anton.


"Kenapa melamu?" tanya Anton, saat mereka telah duduk.


"Tidak apa apa mas." jawab Zahwa.


"Jangan bohong sayang, mas tahu kamu sedang memikirkan sesuatu." ujar Anton lagi.


Mendengar ucapan Anton, Zahwa pun tersadar bahwa ia memang harus selalu jujur dengan suaminya, apa lagi dengan sikap Anton yang telah jauh berubah kepadanya, tentu saja Zahwa harus menjaga perasaan suaminya itu, dengan bersikap selalu jujur.


"Sebenarnya aku sangat setuju dengan saran yang mas berikan, tapi.." ujar Zahwa menggantung.


"Tapi apa sayang?" tanya Anton, ia tahu bahwa istrinya pasti memikirkan tentang biaya, tapi ia ingin mendengar Zahwa bicara langsung kepadanya, dengan berpura pura tidak paham.


"Tapi aku tidak memiliki dana mas." jawab Zahwa, dan Anton pun tersenyum mendengar pengakuan istrinya itu. "Selama ini penghasilan toko memang lumayan mas, tapi aku selalu membaginya dengan yang lain." jelas Zahwa lagi.


"Sayang, kenapa kamu harus fikirkan itu, biar semuanya mas yang urus, kamu jangan khawatir ya." jawab Anton sambil mengusap lembut sebelah wajah istrinya.


"Tapi mas.." Zahwa merasa tidak enak, ia tahu bahwa sumainya itu orang kaya, namun Zahwa tentu saja tidak ingin mereporkan suaminya, apa lagi jika berurusan dengan uang.


"Tapi kenapa? Dengar sayang, aku ini suami mu, jadi uang ku adalah milik mu juga, mas akan marah jika kamu menolaknya." jawab Anton sedikit mengancam Zahwa.


"Mas tidak keberatan?" tanya Zahwa lagi mencoba meyakinkan dirinya.


"Tentu saja tidak sayang." jawab Anton dengan tersenyum lebar.


"Terima kasih ya mas, kalau begitu aku setuju." jawab Zahwa dengan tersenyum juga.

__ADS_1


__ADS_2