
Polisi yang sudah berada di TKP berusaha mencari informasi kepada beberapa orang yang menjadi saksi kecelakaan yang menimpa Zahwa, mereka pun berusaha meminta rekaman CCTV yang ada di rumah Sakit dan minimarket yang tepatnya ada di seberang rumah sakit milik keluarga Anton, polisi sangat berharap bisa menemukan petunjuk dari rekaman tersebut.
Setelah mendapatkan petunjuk dan juga rekaman dalam CCTV, pihak kepolisian pun segera menghubungi pihak keluarga korban, yang kini diwakili oleh pak Gunawan selaku ayah dari korban.
"Selamat siang pak Gunawan." ucap komandan yang bertugas menangani kasus tabrak lari Zahwa, ia menghampiri pak Gunawan yang kebenaran sedang ada di tempat kejadian, berusaha melihat kerja polisi dalam mengolah TKP.
"Selamat siang, bagai mana komandan, apakah anda sudah mengetahui siapa pelaku yang menabrak menantuku.?" tanya pak Gunawan.
"Kami belum mengetahui pasti, tapi kami sudah mendapatkan petunjuk dan juga rekaman CCTV dari rumah sakit dan minimarket di depan kejadia." ucap sang komandan.
"Tolong segera temukan pelakunya, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya ini, karna dia hampir menghilangkan nyawa menantuku." ucap pak Gunawan lagi.
"Pasti, kami akan segera mengetahui dan menangkap pelakunya." ujar komandan itu dengan penuh percaya diri.
"Terima kasih." ujar pak Gunawan.
"Sama sama pak, kalau begitu saya permisi dulu." ujar komandan itu, lalu mengulurkan tangannya kepada pak Gunawan. Setelah mereka bersalaman, komandan itu pun pergi meninggalkan TKP dan menuju kantornya.
Setelah kepergian Komandan yang bertugas menangani kecelakaan yang dialami Zahwa, pak Gunawan berniat untuk menghubungi pak Rahmat, ayah dari Zahwa. Bagaimana pun kedua orang tua Zahwa harus diberitahu tentang keadaan putri mereka, karna pak Gunawan tidak ingin ada penyesalan di kemudian hari. Pak Rahmat dan istrinya pun terdengar syok mengetahui berita tentang putri semata wayang mereka, dan mereka pun memutuskan untuk segera berangkat ke Jakarta pada hari itu juga.
__ADS_1
***
Di dalam rumah sakit, tubuh Zahwa yang terbaring lemah tidak berdaya akhirnya dibawa keluar dari ruang IGD menuju ruang opresi. Anton dan mamanya pun berusaha untuk mendekati Zahwa, lalu terlihat Anton berusaha memegang dan membelai lembuy wajah Zahwa, ia terlihat berbicara lembut di dekat telinga istrinya itu, berusaha untuk membangunkan istrinya.
"Sayang, bangun sayang, maafkan mas karna tidak bisa menjagamu dengan baik, ayo buka matamu sayang" ujar Anton dengan berlinangan air mata.
"Zahwa kamu harus kuat nak, ayo buka mata mu sayang, mama disini nak, ayo kita pulang bersama." ujar mama mertuanya yang juga terlihat menangis sesengukan karna tak sanggup melihat menantu kesayangannya terbaring lemah tidak berdaya.
"An, ma, sudah ya, biarkan perawat membawa Zahwa ke ruang oprasi segera, agar Zahwa segera mendapatkan penanganan." ujar Anita yang juga tidak bisa menahan air matanya, namun ia harus terlihat lebih tegar.
Anton dan mamanya pun membiarkan suster membawa Zahwa ke ruang operasi dan dengan diiringi mereka semua. Setibanya di ruang operasi, lagi lagi Anton meminta untuk berhenti sebentar, lalu ia pun terlihat menghujani wajah istrinya itu dengan ciuman lembutnya.
Anita pun segera memberikan aba aba kepada para suster untuk membawa Zahwa segera masuk, dan sekali lagi Anita memohon do'a kepada mamanya, agar bisa menyelamatkan Zahwa dan juga anaknya.
Pintu oprasi pun tertutup dan beberapa dokter pun mulai melakulan tindakan oprasi terhadap Zahwa yang akan memakan waktu sekitar hampir delapan Jam.
Anton tidak bisa membohongi perasaannya, berkali kali ia mencoba untuk menenangkan dirinya, namun berkali kali juga ia gagal untuk melakukan hal itu, air matanya jatuh lagi dan lagi, Anton merasa bahwa dirinya telah gagal menjaga Zahwa, bahkan ia sudah beberapa kali diberikan peringata melalui mimpi mimpinya namun tetap saja ia gagal menjaga istrinya.
Mama Melinda pun merangkul putranya, ia berusaha memberikan kekuatan keada Anton, meski sebenarnya ia juga terlihat begitu rapuh, di dalam hatinya mama Melinda merasa benar benar terpukul, karna semenjak hadir di dalam keluarganya, hanya penderitaan yang dialami oleh Zahwa, dan saat sinar kebahagian itu mulai datang kepada menantunya, cobaan pun kembali datang menimpa Zahwa.
__ADS_1
"Tenangkan diri mu nak, kita do'a kan agar oprasi berjalan dengan lancar ya." ucap mamanya berusaha menguatkan Anton.
"Ini semua salah ku ma, aku lagi lagi gagal menjadi suami yang baik untuk Zahwa, aku tidak bisa menjaganya, bahkan meski sudah mendapatkan peringatan aku masih saja lalai menjaganya." ujar Anton yang menangis dalam pelikan ibunya.
"Tidak sepenuhnya ini salah mu nak, istighfar An, kita do'a kan yang terbaik buat anak dan istri mu ya." ucap mamanya lagi memberikan ketenangan.
Pak Gunawan terlihat datang dan mendekat kearah mereka, ia menyerahkan paperbag kepada mama Melinda yang berisikan pakaian Anton, sebelumnya pak Gunawan telah meminta sopirnya untuk mengambil pakaian Anton dirumahnya, karna mengingat pakaian yang dikenakan oleh Anton berlumuran dengan darah.
Mama Melinda pun membujuk Anton untuk mengganti pakaiannya, meski dengan bersusah payah ia meminta kepada Anton untuk mengganti pakaiannya namun akhirnya ia berhasil juga membujuk anaknya itu, hal itu terjadi karna Anton tidak ingin meninggalkan ruang operasi itu sedetikpun.
Jam telah menunjukkan pukul dua belas siang, dan oprasi Zahwa baru saja dua jam yang lalu dilakukan, Anton benar benar masih terlihat gusar bahkan air matanya pun kadang masih terlihat membasahi pipinya, di sela sela ketegangan mereka, terdengar suara Adzan yang berkumandang sangat merdu, memberikan panggilan kepada umat islam untuk segera bersujut menghadap ilahi.
"Nak, sholatlah dulu segera, mama akan disini menunggu." ujar mamanya kepada Anton.
"Iya ma." jawab Anton sambil menganggukan kepalanya.
Ia pun segera melangkah menuju musholah yang ada di seputaran rumah sakit, lalu segera melaksanakan kewajibanya itu untuk bersujut kepada sang khalik.
"Ya Allah, hanya kepadamulah tempat hamba mengadu, meminta dan memohon pertolongan, karna sesungguhnya engkaulah sang maha pengasih lagi maha penyayang, kau pula maha mengetahui dan maha melihat, dan engkau pulalah yang telah mengatur kehidupan dan kematian seseorang. Hamba, cimpataan mu yang hina ini meminta pertolongan kepada mu ya Allah, meminta agar engkau memberikan pertolongan kepada istriku ya Allah, jangan biarkan dia pergi meninggalkan ku ya Allah, karna hamba sangan mencintainya dan belum sempat sembuatnya bahagia." ujar Anton dalam do'anya.
__ADS_1
"Hamba memang orang yang sangat bodoh, karna tidak sadar dengan peringatan yang telah engkau tunjukkan lewat mimpi hamba. Hamba juga merasa, bahwa hamba suami yang sangat egois kepada istri hamba. Hamba mohon ya allah berikanlah keselamatan kepada Zahwa, agar hamba bisa menebus kesalahan kesalahan yang pernah hamba lakukan kepadanya, dan memberinya kebahagiaan." suara isak tangis Anton masih jelas terlihat dan bahkan ia tidak lagi merasam malu saat orang lain melihatnya dan menatapnya yang tengah menangis dengan begitu kuat.