
Anton kembali melanjutkan pekerjaannya, kini ia dapat berkerja dengan penuh konsentrasi setelah mendengar suara istrinya melalui telepon. Keadaan Zahwa dan juga bayi yang masih di dalam kandung istrinya, benar benar membawa pengaruh besar untuk kehidupan Anton, kini mereka berdua menjadi penyemangat baru untuk Anton saat ini.
Kurang lebih dua puluh menit, Reyhan telah tiba di halaman parkir perusahaan Anton, ia memang selalu tepat waktu saat memberikan janji kepada setiap orang. Reyhan pun segeda turun lalu masuk ke dalam gedung kantor, dan seperti biasa, ia tidak perlu bertanya kepada resepsionis untuk bertemu dengan Anton, dan begitu juga sebaliknya, resepsionis tentu saja sudah tahu siapa Reyhan dan sedekat apa ia dengan pemilik perusahaan itu.
Tok tol tok..
Terdengar suara ketukan dari pintu ruangan Anton.
"Masuk." jawab Anton yang masih terlihat fokus menatap layar labtobnya.
"Assalam mualaikum An." sapa Reyhan, saat telah membuka pintu dan melangkah masuk kedalam ruangan Anton.
"Waalaikum salam, Rey silahkan duduk." jawab Anton, ia mempersilahkan Reyhan untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya, Anton ingin mereka membicarakan soal proyek mereka dengan santai, jadi ia memilih sofa sebagai tempat mereka berbicara.
"Hmm." jawab Reyhan, lalu melangkah menuju sofa.
Anton segera merapikan berkas laporan yang ada diatas meja kerjanya, lalu ia menghampiri Reyhan yang terlihat mulai sibuk dengan labtobnya.
Anton dan Reyhan mulai membicarakan masalah kerja sama mereka, pro dan kontra terlihat hadir di dalam obrolan mereka, meski begitu Anton dan Reyhan akhirnya menemukan solusi terbaik untuk pekerjaan mereka.
Kini mereka sepakat untuk bekerja sama, dan memutuskan agar lebih cepat pekerjaan mereka di mulai, karena mereka sudah tidak sabar untuk melihat hasil kerja sama mereka itu.
Sementara itu diruangan Rangga, Nazwa dan Rangga juga tampak asik menyelesaikan satu persatu pekerjaan mereka, meski rasa malu masih menghinggapi Nazwa, namun Nazwa berusaha agar bisa menguasai perasaan dirinya.
Tidak terasa waktu pun bergulir dengan cepat, hingga waktu mununjukan pukul dua belas siang, saatnya untuk para karyawan beristirahat dan makan siang. Rangga terlihat mengangkat tangannya dan melihat jam yang ada di tangannya itu.
"Ini sudah waktunya untuk istirahat, silahkan beristirahat." ujar pak Rangga.
"Iya pak, kalau begitu saya permisi dulu." jawab Nazwa dengan tersenyum.
"Silahkan." jawab Rangga.
Nazwa pun keluar dari ruangan Rangga, dan berjalan menuju kantin yang berada disekitar kantornya, ia berniat untuk menemui Rina yang pasti telah terlebih dahulu berada disana.
Tanpa Nazwa sadari, Reyhan yang baru saja keluar dari ruangan Anton, terlihat sedang berjalan dibelakanya, Reyhan juga tampak memperhatikan Nazwa untuk memastikan bahwa gadis yang ada dihadapannya adalah benar Nazwa.
__ADS_1
"Nazwa.!" Reyhan memberanikan diri untuk menyapa. Nazwa pun berhenti, dan membalikan tubuhnya mencoba untuk mengetahui siapa yang telah memanggil namanya.
"Mas Reyhan." jawab Nazwa, ia nampak terkejut melihat Reyhan yang berada di kanton kakak iparnya itu.
"Kamu mau kemana.?" tanya Reyhan.
"Aku mau ke kantin mas, mas Reyhan kenapa ada disini.?" tanya Nazwa.
"Aku dan Anton berniat untuk melakukan kerja sama." jawab Reyhan.
"Oh..begitu." Mereka pun berbicara sambil berjalan bersama.
Rangga yang baru saja keluar dari ruangannya, terlihat jalan dengan terburu buru, ia berniat untuk menemui Nazwa, meminta perempuan itu untuk kembali ke ruangannya setelah jam makan siang selesai, karna mereka harus prepare untuk keberangkatan esok hari.
Saat melihat sosok Nazwa dari kejauhan, Rangga terlihat heran melihat Nazwa yang berjalan dengan seorang lelaki, dan yang anehnya lagi, Rangga tampak seperti mengenali laki laki itu. Rangga pun berjalan lebih cepat lagi, sebenarnya ada rasa penasaran juga di dalam hatinya, dan ia ingin tahu siapa yang tengah bersama dengan Nazwa.
"Nazwa.!" panggi Rangga dengan sedikit berteriak, karena jarak mereka yang sedikit berjauhan.
mendengar panggilan itu, secara bersamaan Nazwa dan Reyhan memutar tubuh mereka, mencoba mencari sumber suara yang memanggil nama Nazwa.
"Mas.!" wajah Rangga terlihat samakin bingung dengan kehadiran kakak sepupunya itu di tempatnya berkerja, karna ia belum mengetahui jika prusahaan yang baru saja di pegang oleh Reyhan akan melakukan kerja sama bersama prusahaan Anton.
"Rangga.!" ucap Reyhan dengan tersenyum.
"Maaf pak, bapak memanggil saya.?" tanya Nazwa.
"Oh, ya. Nazwa tolong setelah makan siang kamu kembali keruangan saya, karna kita harus prepare untuk keberangkatan besok." jelas Rangga.
"Baik pak." jawab Nazwa.
"Kalau begitu saya permisi dulu."
"Kamu mau kemana Rangga.?" tanya Reyhan.
"Makan siang mas." jawab Rangga.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama." ujar Reyhan, dan seketika wajah Rangga menatap wajah Nazwa.
"Tidak perlu mas, saya makan di sini saja." tolah Nazwa.
"Jangan begitu Nazwa, tidak baik menolah tawaran dari orang." ujar Reyhan dengan tersenyum, ia terlihat berusaha untuk membujuk Nazwa.
"Tapi.."
"Tidak usah pakai tapi tapi, aku akan menghantar mu kembali ke sini usai makan siang." bujuk Reyhan lagi. "Rangga, kamu juga harus ikut dong." Reyhan juga berusaha membujuk adiknya itu.
"Baik mas." jawab Rangga, sedangkan Nazwa mau tidak mau ia pun terpaksa harus menerima ajakan Reyhan.
Mereka berjalan menuju parkiran mobil, namun Rangga lebih memilih berjalan di belakang Reyhan dan Nazwa yang terlihat asik berbicara, bahkan sesekali terdengar suara tawa dari Nazwa mendengar setiap ucapan lelucon dari Reyhan.
Rangga begitu memperhatikan Nazwa dan Reyhan yang berjalan terlebih dahulu didepannya, dan entah mengapa ada rasa yang aneh di dalam hatinya, Rangga merasa seperti kesal dan ingin marah, namun ia sendiri tidak bisa memahami kenapa perasaan itu bisa timbul.
Kenapa dengan ku, kenapa tiba tiba aku merasa sangat kesal begini, ada apa ini apa ini yang dinamakan cemburu? Tapi kenapa? aku tidak mungkin cemburu kepada mas Reyhan. Rangga seperti perang batin dengan dirinya sendiri.
Akhirnya mereka pun tiba di parkiran, Reyhan segera mengeluarkan mobilnya dari area parkir, dan setelah Rangga juga Nazwa masuk kedalam mobil, mereka segera menuju restoran yang berada tidak jauh dari gedung perusahaan Anton.
Setelah mereka tiba di dalam restoran, Reyhan segera memanggil pelayan untuk memesan makanan, dan setelah semua pesanan sampai mereka pun menyantapnya.
Reyhan dan Nazwa masih terlihat begitu asik berbicara, namun Rangga terlihat hanya diam saja, bahkan ia menyantap makanannya dengat tidak begitu bersemangat.
"Rangga.!" panggil Reyhan.
"Iya mas."
"Kamu kenapa, sejak tadi mas lihat kamu diam saja, kamu baik baik saja kan.?" tanya Reyhan yang melihat keanehan pada adiknya itu.
"Iya mas, aku baik baik saja." jawab Reyhan.
"Kalau kamu kurang sehat sebaiknya tidak usah memaksakan diri untuk bekerja Rangga." ucap Reyhan lagi.
"Tidak mas, aku tidak apa apa." jawab Rangga lagi.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Reyhan kembali menghantar Nazwa dan Rangga, sedangkan Reyhan memilih untuk pulang kerumahnya, karena urusanya dengan Anton memang telas selesai.