
Anton pulang kerumahnya saat jam makan siang, dan sebelumnya ia sudah berpesan kepada sekertarisnya bahwa ia tidak lagi kembali kekantor karna harus menghantar Zahwa bertemu dengan Sarah.
Saat tiba dirumah, Anton disambut oleh Zahwa yang sudah lama menunggunya, lalu Zahwa pun mengajak suaminya itu untuk makan siang terlebih dahulu.
"Apa kamu sudah siap sayang.?" tanya Anton saat mereka telah selesai makan siang dan akan segera berangkat menemui Sarah.
"Iya mas, aku sudah siap." Jawab Zahwa dengan tersenyum.
Lalu keduanya pun berangkat untuk menemui Sarah, namun saat berada di perjalanan, tiba tiba Zahwa meminta Anton menghentikan mobilnya saat melintasi toko bunga.
"Mas, berhenti sebentar ya." pinta Zahwa. Dan Anton pun menghentikan mobilnya.
"Ada apa sayang.?" tanya Anton sedikit bingung.
"Aku ingin beli sesuatu dulu mas, mas tunggu saja dimobil." ucap Zahwa, lalu ia turun dan masuk kedalam toko bunga.
Dari dalam mobil, bola mata Anton hanya mengikuti langkah kaki istrinya, dan makin bingung saat istrinya masuk dalam toko bunga itu.
Zahwa sepertinya sedang menginginkan bunga, tapi kenapa dia tidak minta dibelikan saja tadi. Fikir Anton dengan sedikit bingung.
Karna penasaran, Akhirnya Anton pun memilih keluar dari mobilnya dan masuk kedalam toko bunga yang di kunjungi Zahwa.
Anton melihat Zahwa yang sedang memilih beberapa buket bunga mawar segar, tapi ia tidak segera menemui istrinya itu, Anton malah terlihat mengambil setangkai bunga mawar merah yang sudah terbungkus rapi.
Anton berjalan mendekati istrinya, dan tiba tiba dia menyerahkan setangkai bunga cantik itu kepada istrinya, membuat Zahwa tersenyum malu.
"Ini untuk mu sayang." ucap Anton dengan tersenyum.
"Terima kasih mas." Zahwa pun mengambil bunga itu dari tangan Anton, lalu mencium aroma bunga yang diberikan suaminya itu.
"Kenapa kamu tidak bilang sih kalau kamu lagi ingin di belikan bunga.?" ucap Anton lagi, dan Zahwa hanya menggeleng pelan dengan tersenyum membuat Anton semakin bingung.
"Mba, saya ambil ini ya." ucap Zahwa pada penjaga toko lalu menyerahkan satu buket bunga mawar berwarna merah.
__ADS_1
"Baik mba." jawab penjaga toko itu.
"Mas, tolong dibayarin ya." ucap Zahwa sambil tersenyum lebar.
"Iya sayang, pasti." jawab Anton tersenyum.
Setelah membayar semua bunga yang mereka inginkan, Anton dan Zahwa pun kembali melanjutkan perjalanannya untuk menemui Sarah. Namun Anton terlebih dahulu singgah di butik Sarah untuk memastikan keberadaan istri keduanya itu, tapi sayangnya karyawan yang berjaga mengatakan bahwa Sarah telah kembali ke apartemennya, dan akhirnya mereka pun kembali melaju menuju apartemen Sarah.
Anton memarkirkan mobilnya ketika sampai di gedung Apartemen milik Sarah, lalu mengajak Zahwa untuk keluar dari mobil, saat keluar Zahwa membawa buket bunga yang mereka beli di toko saat dalam perjalanan.
"Kenapa bunganya di bawa sayang.?" tanya Anton penuh keheranan.
"Ini nanti mas berikan kepada Sarah ya." ucap Zahwa, lalu menyerahkan bunga itu kepada Anton.
"Tidak, mas tidak mau." ucap Anton menolak.
"Mass..ayolah, aku mohon." ucap Zahwa lagi memelas. Membuat Anton terpaksa mengikuti keinginan istri tuanya itu.
"Huuuhh.." terdengar Anton menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu mengambil buket bunga itu dari Zahwa.
"Iya mas terima kasih ya." Zahwa tersenyum melihat suaminya, yang terlihat jelas memenuhi keinginannya dengan terpaksa.
Mereka masuk dan segera munuju apartemen Sarah, dan ketika sampai disana Zahwa segera memencet bel apartemen milik madunya itu.
"Assalamualaikum." ucap Zahwa saat melihat Sarah membukakan pintu.
"Waalaikum Salam, Za." panggil Sarah, lalu keduanya pun terlihat saling berpelukan.
"Bagaimana kabar mu Za." tanya tanya Sarah lagi.
"Aku baik baik saja."Jawab Zahwa.
"Mas." ucap Zahwa melirak bunga yang ada ditangan Anton, memberikan isyarat kepada suaminya, agar Anton menyerahkan buket bunga yang dia pegang, karna dari tadi Anton terlihat hanya terdiam.
__ADS_1
"Eh, ini untuk mu Sar." ucap Anton lalu menyerahkan buket bunga itu.
"Terima kasih." ucap Sarah, namun dengan raut wajah yang terlihat berubah datar, mungkin karna Sarah menganggap itu adalah pembelian suaminya, yang sebenarnya adalah ide Zahwa.
"Ayo masuk Za." ajak Sarah. Dan ketiganya pun masuk bersama.
Zahwa duduk di samping Sarah sedangkan Anton terlihat duduk dihadapan mereka.
''Sarah, aku kemari ingin meminta maaf dengan mu, aku yakin kamu pasti sangat terluka atas sikap ku tempo hari." ucap Zahwa, dan matanya pun sudah tampak berkaca kaca.
"Za, tidak perlu meminta maaf begitu, kamu tidak salah Za, mungkin aku juga akan menunjukkan sikap yang sama jika hal seperti itu terjadi padaku." ucap Sarah, membuat suasana makin menyedihkan.
"Tapi aku memang sudah keterlaluan saat itu, aku tidak bisa mengontrol emosi ku." ucap Zahwa lagi dan mulai berderai air mata.
"Tidak Za, sudah jangan menyalahkan dirimu sendiri." ucap Sarah. Namun Anton terlihat hanya tertunduk mendengar obrolan kedua istrinya itu.
"Mas." panggil Zahwa sambil memalingkan wajahnya menatap suaminya itu, Anton pun mengangguk pelan dan sudah mengerti apa yang di inginkan istrinya dengan panggilan itu.
Anton pun terlihat melempar pandangannya kepada Sarah, dan mulai ingin membujuk istri mudanya itu.
"Sarah, kedatangan kami kesini juga untuk meminta mu agar mengurungkan niat mu untuk bercerai, dan mau kembali rujuk bersama ku." ucap Anton lirih. Dan Sarah hanya terlihat menggeleng pelan dengan tersenyum tipis.
"Maaf mas aku tidak bisa, niat ku sudah bulan untuk berpisah." ucap Sarah tegas.
"Sarah aku mohon, kita coba perbaiki semuanya lagi dari awal." Zahwa terlihat memelas meminta Sarah mengurungkan niatnya.
"Tidak Za, mungkin tidak ada salahnya kita mulai perbaiki semuanya dengan perpisahan." ucap Sarah lagi.
"Sarah aku mohon maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengulangi ke egoisanku. Dan kembalilah kepada mas Anton." Zahwa mulai terisak dalam tangisnya, membuat Sarah pun merasa bersedih.
"Za, tidak perlu meminta maaf begitu, dari awal aku lah yang salah, tidak seharusnya saat itu aku menemui mas Anton yang sudah menikah dengan mu, semestinya aku bisa menahan diriku dan tidak lagi masuk kedalam kehidupan kalian. Tapi percayalah, saat itu aku hanya ingin menjelaskan alasan kepergianku, juga bukan bermaksut untuk menghindari pernikah dengannya. Dan untuk menebus semua kesalahan ku ini, tolong biarkan aku lepas darinya, lalu hiduplah bahagia dengan mas Anton Za, agar aku tidak selalu dihantui rasa bersalah ku." air mata Sarah pun sudah tidak dapat ia tahan lagi.
Zahwa menggeleng pelan mendengar semua perkataan Sarah, dan Anton hanya tertunduk melihat kedua istrinya itu berderai air mata.
__ADS_1
"Mas, besok sidang terakhir putusan perceraian kita." ucap Sarah lagi kepada Anton, dan Anton hanya mengangguk pelan dan meneteskan air mata.
Meski rasa cintanya telah memudar terhadap Sarah, namun ia tetap tidak menyangka dengan keputusan Sarah untuk bercerai darinya secepat ini, apalagi diusia pernikahan mereka yang terbilang masih begitu baru.