-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas

-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas
Bab 10 - Bocah lelaki


__ADS_3

Jiang Xingyu sangat yakin bahwa wajahnya walaupun bukan kecantikan yang bisa menghancurkan Negara, setidaknya dianggap sebagai kecantikan yang menawan. Tapi mengapa ia terlihat seperti gadis jelek dihadapan bocah ini?


Apa yang tidak diketahuinya adalah dalam perjalanannya keluar dari hutan bagian dalam, ia secara tidak sengaja menyeka wajahnya dengan tangannya yang kotor. Walaupun ia tidak terlihat seperti pengemis, kecantikannya telah tertutup debu sehingga tidak salah jika bocah itu menyebutnya sebagai gadis jelek.


Ia menyeringai dan memandang bocah itu. "Beraninya kau bocah yang masih bau susu memarahi gadis dewasa sepertiku!" walaupun nadanya terdengar kesal, sesungguhnya ia tidak tersinggung ataupun marah.


Bocah lelaki memandang Jiang Xingyu dari ujung rambut hingga ujung kakinya, lalu berkata dengan nada kebingungan. "Kau? gadis dewasa? dari segi mananya kau terlihat seperti gadis dewasa?"


"Kau..." Jiang Xingyu tidak pernah menyangka akan mendapatkan respon tak terduga.


Ia menghela nafas panjang kemudian berdiri dari tempat duduknya, menepuk pantatnya yang kotor seraya berkata. "Kau menang! Sekarang waktunya aku pergi. Namun terima kasih untuk ikan panggangmu yang cukup lezat."


Namun bagaimana mungkin bocah lelaki itu membiarkannya pergi begitu saja?


"Tunggu!" Ucapnya.


"Masih ada yang lain?" Jiang Xingyu menghentikan langkahnya, bertanya seraya mengernyitkan kedua alisnya.


"Tidak semudah itu kau pergi setelah memakan ikan panggangku." Bocah lelaki berkata dengan raut wajah tenang.


"Aku sudah mengucapkan terima kasih." Ucap Jiang Xingyu.


"Ucapan terima kasihmu tidak akan mengembalikan ikan panggangku." Balas bocah lelaki yang terlihat kesal.


"Pelit sekali! Tapi bukan masalah besar, aku akan mengembalikan ikanmu." Jiang Xingyu mendengus tidak senang. Kemudian ia berbalik dan pergi menuju sungai kecil disekitarnya.

__ADS_1


"Baiklah! Aku akan membiarkanmu pergi jika kau menangkap ikan yang sama persis seperti milikku."


Ucapan bocah lelaki membuat Jiang Xingyu marah. "Aku sedang terburu-buru, mana mungkin aku bisa menangkap ikan yang sama persis?"


"Aku tidak peduli! Yang aku inginkan hanyalah ikan milikku kembali." Balas bocah lelaki sambil mengangkat kedua bahunya.


"Terlalu malas meladenimu." Jiang Xingyu memutuskan untuk pergi.


"Berhenti!" Tegas bocah lelaki itu dan bersiap untuk menghentikan Jiang Xingyu.


Hanya saja setelah mengambil satu langkah, langkah berikutnya terhenti karena sebuah kalimat. "Aku ingin mandi di sungai. Apa kau ingin ikut mandi bersamaku?" Ucap Jiang Xingyu tanpa menoleh.


Bocah lelaki sontak terdiam. Kedua pipinya bersemu kemerahan seperti gadis pemalu yang bertemu pria pujaan hatinya.


"Kau, kau gadis tidak tahu malu!" Ucapnya lalu segera berbalik kebelakang sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa nada bicaramu ambigu sekali? aku tidak menginginkan ikan lagi, kau pergilah sekarang!" Bocah lelaki mendengus tidak senang, kemudian kembali ketempat api unggunnya.


Jika bukan karena sedang menunggu seseorang, ia pasti akan mengikutinya sampai mendapatkan kembali ikan miliknya.


"Hahaha! Bocah yang patuh sekali. Aku pergi sekarang." Jiang Xingyu menampakkan senyum manis. Kemudian pergi kearah lain tanpa menoleh kebelakang lagi.


-Satu jam kemudian-


"Untunglah aku masih berada di wilayah Kuil Yun. Jika bukan, aku tidak tahu harus pergi kemana." Jiang Xingyu menghela nafas lega.

__ADS_1


Ia berencana langsung kembali ke Ibukota. Namun ia sakit kepala lantaran jarak dari Kuil Yun ke Ibukota sekitar 30 mil, dan akan memakan waktu kurang lebih sekitar empat jam untuk sampai jika hanya berjalan kaki.


"Dua jam lagi hari akan segera gelap dan gerbang Ibukota akan segera ditutup." Ia memijit pelipis kepalanya yang terasa sangat sakit.


Kemudian ia melanjutkan langkah kakinya dengan tujuan mencari sebuah penginapan atau Desa untuk menginap malam ini.


Namun setelah berjalan satu jam lamanya, ia tidak menemukan penginapan ataupun sebuah Desa.


"Sepertinya malam ini aku harus menginap di alam liar." Ucapnya dengan helaan nafas tak berdaya.


Kemudian ia melanjutkan langkah kakinya menuju arah depan, berharap ia masih menemukan gubuk ataupun Kuil kecil.


Memanfaatkan hari yang masih belum sepenuhnya gelap, ia terus berjalan hingga akhirnya melihat sebuah harapan. Benar! Secara tak terduga ia menemukan sebuah Kuil yang tak berpenghuni.


Tanpa berpikir panjang ia langsung masuk. Segera setelah itu ekspresinya yang awalnya bahagia tiba-tiba waspada ketika hidungnya samar-samar mencium bau darah.


Berdasarkan pengalamannya sebagai Agen Pembunuh, ia sangat yakin bahwa darah yang diciumnya adalah darah manusia. Selain itu yang membuatnya waspada adalah darah ini masih segar.


Tidak peduli apakah ada orang yang terluka ataupun meninggal didalam Kuil, ia tidak ingin ikut campur dan memutuskan untuk pergi.


Tepat saat berbalik, sikapnya yang sudah waspada tiba-tiba merasakan ada keanehan.


Benar saja! Detik berikutnya beberapa bayangan hitam muncul dihadapannya.


Melihat empat pria bertopeng menghalangi langkahnya, ekspresinya tetap tenang namun seketika membangunkan aura Pembunuh Medali Emas yang telah tertidur lelap dalam dirinya.

__ADS_1


Walaupun begitu ia tetap berpikir kemungkinan keempat pria bertopeng ini tidak mendatanginya, tapi mendatangi seseorang yang mungkin sedang bersembunyi didalam Kuil.


-----Terima kasih sudah membaca----


__ADS_2