-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas

-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas
101 - Menyambut Pangeran Yin


__ADS_3

"Apanya yang akan menimbulkan masalah? justru menjadi masalah besar jika aku tidak menanyakannya. Jika Pamanku benar-benar menyukai sesama Pria, lalu bagaimana dia akan meneruskan garis keturunannya?" Puteri Yanning frustasi.


Jiang Xingyu menyesalinya. Seharusnya ia tidak menanyakannya. Namun sudah terlambat untuk mencegahnya, jadi sekarang ia hanya bisa mengingatkan sekaligus mengancam. "Baiklah! Jika kau ingin menanyakannya, ingatlah bertanya hanya saat ada kau dan Pangeran Yin. Selain itu jika dia bertanya padamu tentang siapa yang mengangkat masalah ini, kau tidak boleh mengatakan kalau akulah yang mengatakannya. Jika tidak, aku tidak akan berteman denganmu lagi."


"Jangan khawatir! Aku tidak akan memberitahu Paman." Saat Puteri Yanning mendengar ancaman, ia langsung menyatakan sikap tegasnya.


....


Setelah beberapa saat Gerbong akan tiba di Gerbang Kota Dalam, tapi seseorang yang ingin disambut Puteri Yanning belum juga tiba. Karena itulah kini keduanya menunggu didalam Gerbong didekat Kedai kecil.


Namun menunggu seperti ini sangatlah membosankan, oleh karena itu Puteri Yanning meminta Kusirnya untuk membeli buah-buahan serta beberapa makanan ringan.


Dengan beraneka camilan, keduanya melanjutkan mengobrol.


"Xingyu, tahukah kau, Beladiri Paman Yin sangat luar biasa dan dialah yang telah mengajariku Beladiri sejak kecil."


"Juga, ketika aku berulang tahun yang ketiga belas tahun, Paman memberiku Pedang yang sangat indah. Pedang itulah yang pernah kau potong sebelumnya. Aku sangat menyayanginya karena Pedang itu dibuat khusus oleh Paman dari Paviliun Pedang Jiazhen."


"..."


Jiang Xingyu tidak lagi bisa mengimbangi topik, ia hanya bisa menjadi pendengar setia.


Tiba-tiba terdengar teriakan dari luar dan kalimat yang paling jelas adalah. "Pangeran Yin telah kembali."


Kemudian suasana berisik diluar dalam sekejap berubah hening. Mungkin karena kebanyakan orang takut pada Pangeran Yin.


Ketika Puteri Yanning mendengarnya, ia begitu bersemangat hingga lupa bahwa sedang berada didalam Gerbong. Saat berdiri kepalanya membentur atap Gerbong hingga menimbulkan suara keras disertai teriakan menyakitkan.


"Ah! Sakit sekali." Ia merengek sedih sambil menyentuh kepalanya.


"Kau pantas mendapatkannya." Jiang Xingyu tidak bersimpati dan sikapnya justru sembrono.


Puteri Yanning memelototinya sebagai bentuk ketidakpuasannya. Tapi segera ketika memikirkan Pamannya, semua ketidakpuasannya terlempar menjauh dan ia segera menyeret tangan Jiang Xingyu keluar Gerbong. "Ayo pergi sambut Pamanku."


Saat keduanya keluar, pusat jalan telah dibersihkan dan semua orang spontan berdiri diam di pinggir.


Pada saat ini sekelompok orang masuk melalui Gerbang Kota. Di bagian paling depan terlihat dua Penjaga Berkuda, diikuti sebuah Gerbong yang tidak mewah tapi cukup elegan. Dikedua sisi Gerbong ada dua Penjaga berkuda lagi.


Sedangkan dibelakang Gerbong ada empat orang Penjaga yang sedang menunggang Kuda. Singkatnya, Gerbong dijaga ditengah dengan sangat ketat.


Semua orang mengenal Gerbong Pangeran Yin, jadi walaupun mereka tidak mengenal para Penjaganya, mereka masih yakin kalau Pangeran Yin benar-benar telah kembali.

__ADS_1


Disisi lain Puteri Yanning langsung menabrak kerumunan dan bergegas ketengah jalan, memblokir bagian depan kelompok lalu berteriak. "Paman Yin, Ning'er ada disini untuk menyambut Anda."


Awalnya orang-orang yang ditabrak Puteri Yanning ingin membentaknya, tapi begitu mendengar teriakan tersebut, nyali mereka langsung menciut.


Hanya seseorang yang bosan hidup yang akan membentak satu-satunya Puteri Kekaisaran Ling Timur.


Namun Jiang Xingyu yang semula bersama Puteri Yanning, entah bagaimana justru terpisah. Sekarang dia terlihat menutupi wajahnya dan berkerumunan dengan yang lain.


Disaat bersamaan terdengar teriakan, seluruh kelompok juga berhenti.


Sebagai Penjaga khusus Pangeran Yin, mereka langsung bertindak saat ada yang tidak beres. Namun setelah melihat ternyata Puteri Yanning, Pedang mereka yang semula bergerak kini berhenti dan kembali ketempatnya.


Setelah teriakan Puteri Yanning, seorang Pria mengulurkan tangannya dari tirai Gerbong, kemudian membuka seluruh tirai hingga memperlihatkan tubuh bagian atasnya.


Pria itu mengenakan Jubah brokat berwarna perak, fitur wajah tampan tiga dimensi serta setajam bilah Pedang. Sepasang mata bunga persik berkilau, dipadukan dengan sebuah senyum menggoda. Tangan kanannya memegang kipas bulu yang secara lembut mengipasi wajahnya.


Keseluruhan penampilannya seperti Pria ramah, namun justru membuat semua orang merasakan bahaya kematian. Seperti jika menatapnya terlalu lama akan membuat mereka mati berdiri.


Sedangkan bagi Jiang Xingyu penampilan Pangeran Yin justru memberinya semacam kesan keindahan tanpa memandang jenis kelamin.


Terutama saat dia menatap Puteri Yanning, sudut bibirnya memunculkan sentuhan senyuman yang mampu membuat seseorang terpesona tanpa sadar.


"Ning'er sangat baik. Setelah Paman memasuki Istana untuk bertemu Kaisar dan Permaisuri, Paman akan membawamu makan besar di Restoran Chilan." Suara yang sangat indah seperti akan membuat para Wanita hamil saat mendengarnya.


"Temanmu?" hal ini membuat Pangeran Yin sedikit terkejut. Selama ini Puteri Yanning tidak pernah berteman walaupun ada banyak Nona Resmi yang ingin berteman dengannya.


"Ya! Ini... Huh, dimana dia? bukannya tadi bersamaku?" Puteri Yanning berencana mengenalkan Jiang Xingyu pada Pamannya. Tapi setelah berbalik ia tidak melihatnya ada dibelakangnya.


Setelah melihat kesekitarnya, akhirnya ia melihat orang yang dicarinya sedang berada bersama kerumunan.


Namun yang dilihatnya justru Jiang Xingyu tak berkedip saat memandangi Pamannya, pemandangan ini membuatnya hampir menjerit gembira.


Apakah ini berarti dia menyukai Pamannya?


Dengan pikiran ini ia segera berlari dan menariknya keluar dari kerumunan. Tindakannya sontak membuat Jiang Xingyu kembali keakal sehatnya. Saat Puteri Yanning menarik tangannya, ia bahkan melihat pandangan berkelip yang disertai senyum main-main.


"Paman, dia temanku." Puteri Yanning memperkenalkan. Tapi matanya penuh arti seperti sedang mengungkapkan sesuatu.


Saat melihat siapa teman yang dimaksud, Pangeran Yin justru terpana dan tidak melihat tatapan penuh makna dari Keponakannya.


"Benarkah? Jiang Xingyu?" tanya Pangeran Yin. Lebih tepatnya hanya memastikan.

__ADS_1


Meskipun tidak berada di Ibukota, ia masih mengetahui tentang urusan Ibukota, terutama siapa saja yang terlibat dengan Keluarga Kekaisaran. Sebagai Tunangan Murong Yuhao, Jiang Xingyu secara alami sangat diperlukan dalam setiap pesan Murong Yuhao.


Oleh karena itu ia tahu bahwa Jiang Xingyu sudah berubah, baik dari segi penampilan ataupun sikap. Ia juga mengetahui tentang semua konflik keduanya. Namun tidak disangka ternyata dia telah berteman dengan Keponakannya.


Awalnya Jiang Xingyu tertegun karena tidak menyangka Pangeran Yin akan mengenalnya. Tapi kemudian menjadi jelas.


Ia yakin Pangeran Yin mengenalinya bukan karena memang mengenalnya, tapi hanya karena wajahnya yang mirip dengan Ibunya.


Saat Jiang Xingyu belum menjawab, Puteri Yanning justru sangat bersemangat berkata. "Paman, kau mengenal Xingyu? luar biasa!"


Pangeran Yin tidak mengerti apa yang dimaksud Keponakannya, sedangkan Jiang Xingyu tahu sangat jelas.


Khawatir Puteri Yanning akan mengatakan sesuatu yang keterlaluan, ia segera memelototinya sebagai peringatan.


Tindakannya berhasil membuat Puteri Yanning mengatupkan bibirnya tanpa mengatakan sepatah katapun.


Kini dalam menghadapi Pangeran Yin, Jiang Xingyu dengan bodohnya tiba-tiba berkata. "Halo Yang Mulia Pangeran, aku Jiang Xingyu."


Setelah berbicara ia mengulurkan tangan kanannya sebagai bentuk perkenalan.


Tapi...


Ekspresi Pangeran Yin berkilat keraguan serta hanya memandangi tangan yang terulur padanya. Apa ini?


Tidak hanya Pangeran Yin yang kebingungan, semua orang juga sama.


Merasakan suasana canggung disekitarnya, Jiang Xingyu segera mengerti lalu segera menjelaskan. "Berjabat tangan sebagai bentuk perkenalan."


"Berjabat tangan? tapi apakah Pria dan Wanita bisa bersentuhan secara langsung? dan dimanapun?" Puteri Yanning berteriak kaget.


Walaupun Ia sengaja menjodohkan Jiang Xingyu dengan Pamannya, tapi dalam pikirannya Ia masih sangat konservatif tentang hubungan sentuhan secara langsung antara Pria dan Wanita.


Semua orang juga kaget. Mereka memandang Jiang Xingyu dengan jijik karena menganggap tindakannya terlalu sembrono.


Selain itu pihak Pria bukanlah orang biasa, melainkan seorang Pria yang sangat mereka hormati.


Tentu saja mereka juga mengira Pangeran Yin tidak akan berjabat tangan dengan sembarang orang. Dengan begitu Jiang Xingyu akan mempermalukan dirinya sendiri.


Namun kenyataannya...


.

__ADS_1


.


_____Happy Reading_____


__ADS_2