
"Tidak apa-apa, Aku akan memakannya." Setelah berkata, Pangeran Yin menggerakkan sumpitnya, menjepit daging ikan tersebut dan memakannya.
Semua orang menatapnya dalam pandangan terpana.
Jiang Xingyu tidak bodoh, tindakan Pangeran Yin jelas memberinya wajah.
Selanjutnya Ia tidak mengambil makanan lagi untuknya.
Awalnya Ia berpikir bisa menikmati makan siang dalam damai, tapi siapa sangka sumpitnya bertemu lagi dengan sumpit milik Pria es batu itu. Tidak diragukan Ia kalah lagi.
Ia sangat marah karena tidak bisa berbuat apapun. Namun tiba-tiba tertawa hingga membuat wajahnya yang terlihat cantik, semakin memukau karena tawanya. Semua orang tercengang, juga kebingungan.
Tetapi sedetik berikutnya mereka mendengar suara yang sedikit salah. "Jadi ternyata Tuan sangat menyukaiku? bahkan daging yang telah ternoda oleh air liurku, juga dimakan dengan lahapnya. Nah ini disebut tindakan tipu muslihat, secara harfiah berciuman secara tidak langsung."
Ucapannya mengejutkan semua orang dan secara refleks Yuwen Junxiu memuntahkan daging yang masih dikunyah dimulutnya, wajahnya sangat suram seolah yang dimakannya bukanlah daging yang telah ternoda air liur orang lain, melainkan seekor lalat.
"Tidak tahu malu." Umpatnya sangat marah.
"Bagaimana bisa kau berkata aku tidak tahu malu? kaulah yang memakan air liurku. Seharusnya kau yang tidak tahu malu!" Balas Jiang Xingyu.
"Kau..." Yuwen Junxiu tidak bisa membantah.
"Oh! Kalau begitu saat Tuan Yin memakan makanan yang kau pilih, apakah juga sama? berciuman secara tidak langsung?" sela Ning Rui dengan raut wajah memerah karena malu.
"Uhuk-uhuk..." Jiang Xingyu sedang meminum semangkuk sup, setelah mendengarnya Ia terkejut dan terus terbatuk.
Sedangkan yang lain ada yang malu, ada yang memancarkan hawa dingin dan ada yang bersemangat.
Yang merasa malu adalah Pangeran Yin, Feng Yuqie dan Chen Ziyue. Sedangkan hawa dingin berasal dari tubuh Yuwen Junxiu. Yang paling menghebohkan adalah Puteri Yanning.
Namun mereka hanya mendengar Puteri Yanning mengatakan. "Jika Paman Yin menyukai Xingyu..." Itu bagus sekali!
Sayang sekali sebelum kalimat terakhir terucap, mulutnya diblokir oleh sepotong daging dan kemudian suara marah terdengar disampingnya. "Diamlah dan fokus saja pada makananmu."
Semua orang tidak bodoh. Menilai dari ekspresi Puteri Yanning, mereka menebak sesuatu.
Yang paling suka bergosip adalah Feng Yuqie. "Mengapa kau ingin Pamanmu menyukai Nona Jiang?"
"Karena menurutku mereka pasangan yang sangat cocok." Mulut Puteri Yanning benar-benar tidak bisa di blokir oleh makanan. Ia mengunyah sambil berbicara.
"Cih! Seorang Wanita yang memiliki kontrak pernikahan dan masih berhubungan dengan Pria lain, tidak tahu malu dan sangat konyol! Jangan sampai merusak reputasi Pangeran Yin." Kata Yuwen Junxiu disertai saskasme yang ekstrim.
Detik berikutnya suara 'BRAK!' terdengar sangat keras, berasal dari Jiang Xingyu yang menampar sendoknya diatas meja, menatap kearah Pria es batu sambil berkata penuh amarah. "Apa yang salah dengan pertunanganku? lagipula itu tidak ada hubungannya denganmu! Aku tidak menyukaimu! Dan hanya orang bodoh yang akan menikah dengan Pria pelit sepertimu!"
__ADS_1
Yuwen Junxiu tidak marah, hanya memicingkan matanya lalu berkata dengan sikap merendahkan. "Kalau begitu kau ditakdirkan untuk kecewa. Diluar sana ada begitu banyak wanita cantik yang mendambakan menikah denganku. Sedangkan kau ditakdirkan untuk menikah dengan Pria yang bahkan sangat membencimu."
"Kau..." Jiang Xingyu sangat marah dan gertakan giginya seakan ingin menendangnya.
Namun Ia tahu tidak bisa melakukannya. Untuk berharap Pria ini tidak akan menyakiti Wanita, Ia lebih percaya bahwa Babi bisa memanjat pohon.
Dalam kemarahan Ia berdiri lalu berkata. "Pangeran Yin, aku tidak bisa melanjutkan makan lagi karena Pria Brengsek itu! Lain waktu aku akan mengundangmu makan siang sebagai permintaan maaf. Aku pergi sekarang."
Setelahnya terlepas dari tanggapan Pangeran Yin, Ia berbalik pergi.
"Wanita, siapa yang kau sebut Brengsek?" Yuwen Junxiu marah dan tiba-tiba bangkit, berencana untuk menghentikannya.
Feng Yuqie yang duduk disebelahnya segera menahannya karena takut Dia benar-benar akan menyakiti Jiang Xingyu.
Sebelum melangkah keluar ruangan, Jiang Xingyu tidak takut mati dengan berkata. "Kau mengakuinya dalam keadaan sadar, mengapa repot-repot bertanya?"
Setelah itu Ia pergi membawa segudang kemarahan di hatinya.
"Kau..." Yuwen Junxiu sangat marah! Jika bukan karena penahanan Feng Yuqie, Ia benar-benar tidak bisa menahan diri untuk bergegas mencabik-cabik Wanita itu.
"Paman, Aku akan pergi juga." Puteri Yanning khawatir dan setelah mengatakan sepatah kalimat, Ia bergegas pergi.
Beberapa waktu kemudian saat kemarahan Yuwen Junxiu mereda, Pangeran Yin bertanya sambil bercanda. "Hei, tampaknya sikapmu berbeda pada Jiang Xingyu?"
Disisi lain setelah Jiang Xingyu keluar dari Restoran Chilan dalam keadaan marah, Puteri Yanning segera menyusul kemudian bertanya. "Hei Xingyu, apa kau baik-baik saja?"
"Apakah menurutmu aku sedang baik-baik saja?" karena kemarahan masih tercekik dihatinya, secara alami suaranya terdengar tidak ramah. Tapi Ia tidak bermaksud marah pada Puteri Yanning.
Puteri Yanning juga mengerti. Ia tidak berbicara lagi karena kini diam adalah cara terbaik saat menghadapi orang yang sedang marah.
Namun saat melihat Jiang Xingyu tidak menuju arah pulang, Ia bergegas bertanya. "Kemana kau akan pergi?"
"Rumah Judi." Ucap Jiang Xingyu sekilas.
"Apa? pergi ke Rumah Judi? tapi..." Puteri Yanning sangat terkejut. Bagaimana mungkin seorang Gadis bisa pergi ketempat seperti itu.
"Jika kau tidak mau ikut, kembalilah ke Istana." Kali ini sikap Jiang Xingyu acuh tak acuh.
"Aku..." Sebenarnya Ia memang tidak ingin pergi, tapi karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada temannya, Ia pun memutuskan. "Baiklah, aku akan ikut denganmu."
Selanjutnya kedua Gadis cantik pergi bersama menuju Rumah Judi Yiyuan.
Sama seperti terakhir kali Jiang Xingyu datang, Aula Judi dipenuhi dengan teriakan, suara bising dan bau keringat yang tidak sedap.
__ADS_1
Jiang Xingyu tidak peduli, namun Puteri Yanning tidak tahan lagi dan ingin segera pergi, tapi tetap saja Ia mengurungkannya.
Meski ada banyak Wanita di Aula Judi, kebanyakan dari mereka hanyalah Wanita biasa. Saat dua Wanita berbunga-bunga masuk, sungguh aneh dan menarik perhatian semua orang.
Namun inilah Rumah Judi Yiyuan, mengingat ketakutan masyarakat terhadap Keluarga Feng, mereka tidak berani berbuat onar.
Apalagi menilai dari kualitas pakaian kedua Wanita itu, mereka yakin keduanya bukan orang biasa.
Jiang Xingyu melangkahkan kakinya menuju Meja Judi terbesar.
Saat melihat Bandar Judi akan membuka mangkuk yang berisi dadu permainan, Ia segera mengeluarkan dompet miliknya, mengeluarkan semua isinya lalu meletakkannya disini kanan sambil berkata. "Semua, bertaruh besar!"
"Yo! Pada pandangan pertama Gadis ini sepertinya tidak tahu cara berjudi. Bagaimana Dia bisa mempertaruhkan semuanya? apa tidak takut kalah?"
"Benar! Kita telah bertaruh besar berulang kali dan kita belum memenangkannya. Aku tidak percaya Gadis ini akan menang saat baru pertama bertaruh."
Walaupun orang-orang disekitarnya mencibir, Jiang Xingyu menutup telinga mengabaikannya.
Karena khawatir Puteri Yanning berkata. "Hei, mereka bilang..."
"Aku akan tetap bertaruh yang besar! Ayo segera dibuka..." Jiang Xingyu menyela.
Bersamaan dengan ucapannya, suasana di meja permainan berubah menjadi antusias. Beberapa orang berteriak sesuai taruhan mereka, namun ada banyak orang yang lebih meneriakkan angka kecil.
"Buka!"
Begitu mangkuk permainan dibuka, semua orang mencondongkan tubuh mereka kedepan.
"Apa?! Sebenarnya besar?" semua orang sangat terkejut. Mereka tidak menyangka kali ini angka besar yang menang.
Akibatnya semua orang menatap Jiang Xingyu dengan pandangan berapi-api dan skeptis.
Yang berapi-api adalah mereka yang sebelumnya telah bertaruh besar namun tetap kalah. Jadi pada kemenangan kali ini mereka menganggap Jiang Xingyu sebagai Bintang Keberuntungan.
Jiang Xingyu tidak peduli pada pandangan dan reaksi semua orang, sikapnya biasa saja seolah hanya kemenangan biasa. Sedangkan Puteri Yanning dengan penuh semangat berkata. "Ah! Besar menang! Menang, menang, menang..."
Sangat antusias seperti dirinyalah yang memenangkan permainan, namun juga menunjukkan bahwa Ia sangat bahagia untuk Jiang Xingyu.
.
.
______Happy Reading_____
__ADS_1