
Jiang Xingyu tahu siapa kenalan tersebut. Bukankah pemuda bernama Tang Wenyuan?
Puteri Yanning melihat seorang gadis mengambil sepotong daging dan menaruhnya di mangkuk Tang Wenyuan. Sementara Tang Wenyuan tersenyum lembut serta penuh kasih sayang pada gadis itu sebagai balasan.
Adegan ini menyebabkan tubuhnya bergetar hebat, matanya menunjukkan keterkejutan dan ketidakpercayaan.
Saat Jiang Xingyu melihat reaksinya, ia yakin Puteri Yanning tidak mengenal gadis itu.
"Ada apa?" tanyanya berpura-pura tidak tahu.
Puteri Yanning segera bereaksi. "Tidak, tidak ada."
Ia sangat penasaran dan ingin bertanya siapa gadis itu, namun egonya mengalahkan kegelisahan dihatinya. Lagipula sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya, jadi ia hanya bisa melarikan diri. "Ayo pergi."
Jiang Xingyu merasa hal ini tidak sesederhana seperti yang ia pikirkan sebelumnya. Jelas ada masalah besar antara Puteri Yanning dan Tang Wenyuan.
Setelah keluar dari Restoran Xianju, Puteri Yanning tiba-tiba berkata. "Xingyu, sekarang aku tidak bisa pergi ke tempatmu untuk menulis partitur lagu. Aku ingat masih ada sesuatu yang harus kulakukan, jadi aku akan kembali dulu ke Istana."
Dengan alasan yang kikuk, ia segera pergi tanpa menunggu tanggapan.
"Tunggu!" Jiang Xingyu menghentikannya. "Aku ingin makan roti goreng yang di jual di pinggir jalan shangtou. Kebetulan kita searah, ayo pergi bersama."
Dengan ini, Puteri Yanning hanya memiliki dua pilihan, yaitu benar-benar kembali ke Istana atau berinisiatif untuk memberitahunya mengenai masalahnya.
"Aku..." Puteri Yanning ragu-ragu.
"Ada apa?"
"Aku..." Puteri Yanning bimbang apakah harus memberitahu atau tidak.
Jiang Xingyu tidak mendesak dan menunggu jawaban dengan tenang.
Disaat yang sama Tang Wenyuan dan Yun Zhijia keluar dari Restoran Xianju. Melihat mereka, Puteri Yanning merasa cemas lalu segera berkata. "Ada yang harus kulakukan. Tapi aku tidak akan kembali ke Istana. A-aku tidak bisa menjelaskan padamu sekarang. Setelah aku memikirkannya, aku akan memberitahumu."
Faktanya ia bukan sengaja menyembunyikannya, hanya saja ia sangat malu untuk mengatakannya.
"Bolehkah aku ikut denganmu?" sekarang Jiang Xingyu benar-benar khawatir Puteri Yanning akan melakukan sesuatu yang gegabah.
"..." Puteri Yanning ingin menolak, tapi ia merasa Jiang Xingyu pasti sudah tahu.
"Baiklah. Ayo pergi." Ucapnya.
Kemudian mereka mengikuti target dari kejauhan.
Beberapa saat kemudian, di dekat pinggiran Kota, mereka melihat target berhenti di depan sebuah Kediaman sederhana.
"Saudara Tang, aku kembali dulu. Pertama aku ingin memastikan apakah Ayah setuju atau tidak. Jika Ayah setuju, baru kita memanggil Bibi dan Paman untuk mendiskusikan pernikahan kita." Ucap Yun Zhijia dengan malu-malu.
__ADS_1
Jiang Xingyu dan Puteri Yanning bersembunyi di dekat dinding Kediaman tertentu. Walaupun sedikit jauh dari target, mereka berdua merupakan praktisi beladiri dan indra pendengaran mereka lebih tajam dari orang biasa, oleh karena itu mereka mendengar seluruh ucapan tersebut.
Mendengar kalimat terakhir, tubuh Puteri Yanning seketika lemas dan hampir terjatuh. Untung saja ada Jiang Xingyu yang memapahnya.
"Baiklah. Hati-hati di jalan." Ucap Tang Wenyuan dengan penuh kasih sayang.
Sampai sosok kekasihnya tidak terlihat lagi, barulah ia berbalik memasuki Kediamannya.
Namun berhenti saat melihat dua wanita berjalan ke arahnya.
Tatapan pertamanya tertuju pada wanita berpakaian ungu. Kecantikan yang alami membuatnya terkesima tanpa sadar.
Namun wanita itu menatapnya dengan dingin. Ia tidak mengenalnya, tapi tatapan wanita itu seakan sangat bermusuhan dengannya.
"Ning Er, kau, kenapa kau ada disini?" Ia terkejut saat melihat wanita berpakaian merah melepas cadarnya.
"Jika aku tidak datang kesini, aku tidak akan tahu kalau kau akan menikah." Suara Puteri Yanning terdengar tenang, tapi sesungguhnya hatinya sangat hancur.
Tang Wenyuan merasa bersalah dan membuka mulutnya ingin menjelaskan. Tapi pada akhirnya hanya kata 'Maafkan aku' yang terucap.
"Kenapa?" tanya Puteri Yanning dengan pandangan berkaca-kaca.
"Aku..." Sebelum melanjutkan ucapannya, Tang Wenyuan memandang wanita berpakaian ungu.
Jiang Xingyu tentu mengerti dan segera mundur lima meter dari keduanya.
Mendengar ucapan ini, Jiang Xingyu menyipitkan matanya. Ternyata Tang Wenyuan dan orang tuanya tidak mengetahui Puteri Yanning.
Dan inti kesalahan dari kejadian ini adalah orang tuanya, yang menggunakan ancaman ekstrim untuk memaksa Tang Wenyuan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hatinya.
Mendengar penjelasan tersebut, Puteri Yanning tidak terkejut karena ia sangat memahami sifat orang tua Tang Wenyuan. Hanya saja dirinya memiliki identitas istimewa sehingga tidak bisa memberitahu mereka secara sembarangan.
Awalnya ia berencana menunggu Tang Wenyuan selesai mengikuti ujian Istana, untuk memberitahu indentitasnya yang sesungguhnya. Namun ia tidak menyangka akan melihat sesuatu yang sangat menyakitkan.
"Hahaha!" Ia menertawakan dirinya sendiri saat memikirkan semua rencana yang telah disiapkannya.
Ia bertemu Tang Wenyuan di Kota Jiangnan setengah tahun yang lalu saat menyaksikan sebuah pertunjukan. Ia sangat mengagumi bakat sastra Tang Wenyuan dan secara perlahan mereka menjalin hubungan kekasih.
"Seandainya aku tidak mengetahuinya sekarang, kapan kau berencana untuk memberitahuku?" tanyanya dengan senyum getir.
"Setelah kembali ke Kota Jiangnan." Ucap Tang Wenyuan.
Dengan jawaban ini, Puteri Yanning tidak berkata apa-apa lagi.
"Kalau begitu, aku mendoakan yang terbaik untuk pernikahanmu." Setelah bersusah payah mengatakan kalimat ini, ia berbalik dan melarikan diri.
"Ning Er..."
__ADS_1
Takut Puteri Yanning akan melakukan sesuatu yang berbahaya, Tang Wenyuan bergegas mengejarnya tapi dihentikan oleh Jiang Xingyu.
"Tidak perlu mengejarnya. Seharusnya kau memberitahu Ning Er terlebih dahulu sebelum menjalin hubungan dengan wanita lain. Tindakanmu bukan hanya menyakitinya, tapi juga mempermalukannya. Kau akan menyesali keputusanmu." Jiang Xingyu menatapnya dengan dingin, lalu berbalik mengejar Puteri Yanning.
Tiba-tiba ia sangat menantikan momen dimana Tang Wenyuan mengetahui indentitas asli wanita yang telah disakitinya.
Puteri Yanning tidak kembali ke Kota, sebaliknya berlari ke pinggiran Kota untuk meluapkan emosinya.
"Ah..." Jeritan bergema di udara, membuat sekawanan burung terbang ke segala arah.
Setelah berteriak, Puteri Yanning berjongkok di tanah dan menangis.
Jiang Xingyu yang berjarak lima meter darinya, tidak segera pergi menghiburnya. Karena saat ini yang dibutuhkan Puteri Yanning adalah meluapkan semua emosinya.
Baru setelah mendengar tangisannya berkurang, ia menghampiri sambil memanggilnya.
Puteri Yanning mengangkat kepalanya dan berkata disertai isakan tangis. "Xingyu, apa aku terlihat jelek?"
"Ya. Bukan hanya jelek, tapi juga sangat menyedihkan." Ucapnya berterus terang. "Setiap orang pasti akan merasakan patah hati. Tapi kita tidak boleh membiarkan diri kita terjerat dalam kesedihan terlalu lama. Hidup masih sangat panjang, kita harus menikmati semua momen dengan hati bahagia."
"Tapi sekarang aku sangat sedih." Puteri Yanning masih terisak.
"Jadi, apa kau ingin bertarung denganku? anggap saja sebagai pelampiasan." Jiang Xingyu menyarankan.
Puteri Yanning mendengus. "Huh! Aku tidak bisa mengalahkan-mu."
"Ayolah, aku pasti akan mengalah." Ucap Jiang Xingyu seperti membujuk anak kecil.
"Bukankah artinya kau hanya ingin bermain denganku? huh! Aku tidak mau!"
"Uh..." Jiang Xingyu tercengang sesaat, kemudian bertanya lagi. "Lalu, apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku tidak ingin melakukan apa-apa."
Pada saat yang sama pupil Jiang Xingyu tiba-tiba menyusut dikala merasakan aura yin mendekat.
Sedangkan saat melihat wajahnya yang suram, Puteri Yanning bingung dan bertanya-tanya apakah ia membuatnya marah?
"Xingyu..." Ia ingin berbicara tapi terganggu oleh teriakan seorang wanita.
"Tolong... Tolong..."
Teriakan minta tolong yang terdengar dari arah hutan.
.
.
__ADS_1
_____Happy Reading_____