
Hari berikutnya adalah perayaan festival peony tahunan.
Jiang Xingyu memasuki Istana sekitar jam sembilan pagi.
Perayaan dimulai pada waktu makan siang. Tapi Puteri Yanning memintanya datang ke Istana lebih awal untuk mendiskusikan sesuatu.
Tiba di depan gerbang Istana, Jiang Xingyu disambut oleh dayang Puteri Yanning yang telah menunggu sejak tadi. Kemudian memasuki Istana Timur dengan dayang memimpin jalan didepan.
Istana Timur, Istana Ningze, Kamar Puteri Yanning
Dayang mengantar Jiang Xingyu sampai di depan pintu kamar, lalu memintanya untuk langsung masuk kedalam.
Di dalam kamar, Puteri Yanning duduk di depan guqin kesayangannya dalam keadaan linglung.
Mendengar suara langkah kaki, ia mengangkat kepalanya dan saat melihat siapa yang datang, ia segera berdiri dan menyapa sambil tersenyum. "Xingyu, kau sudah datang."
Setelah itu ia menariknya untuk duduk di sofa.
"Xingyu, menurutmu, seorang wanita yang tidak bisa menikah dengan orang yang dicintainya, apakah sangat menyedihkan?" Puteri Yanning bertanya tiba-tiba.
"Sejak zaman dahulu pernikahan seorang anak selalu atas perintah tetua dan mak comblang. Tentu saja kita bisa memilih menolak. Pada dasarnya tergantung pada diri kita sendiri." Ucap Jiang Xingyu.
"Ya. Ibundaku memilih seorang suami untukku, walaupun aku tidak mencintainya, aku tidak bisa menolak. Sedangkan orang yang kucintai ternyata mengkhianatiku." Puteri Yanning menanggapi dengan senyum pahit.
Mendengar ini, Jiang Xingyu meletakkan cangkir teh di atas meja lalu bertanya. "Ada apa?"
Puteri Yanning tidak menyembunyikannya, kemudian memberitahu semuanya.
Setelah mendengarkan, Jiang Xingyu terkejut dan pada saat yang sama menghela nafas lega.
"Menurutku, Tuan muda Chen bukan pilihan yang buruk. Selain tampan, dia merupakan pemuda berbakat dan memiliki reputasi yang bersih. Yang paling penting dia menyukaimu dan pasti akan memperlakukanmu dengan baik." Setelah mendengar fakta yang sebenarnya, Jiang Xingyu berharap Puteri Yanning bisa menerima Chen Ziyue dari lubuk hatinya.
Benar saja! Puteri Yanning sangat terkejut. "Apa? saudara Chen menyukaiku?"
"Ya. Tapi dia tidak berani mengungkapkannya padamu. Mungkin saja dia takut kau tidak akan setuju. Selain itu dia tidak ingin memaksamu." Ucap Jiang Xingyu.
Kini perasaan Puteri Yanning sangat rumit. Tidak tahu apa yang dia pikirkan.
Setelah hening beberapa saat, suaranya terdengar lagi. "Saudara Chen sangat baik padaku. Tapi aku selalu menganggapnya sebagai saudara. Bahkan dalam pikiran terliarku, aku tidak pernah membayangkan akan terikat dengannya dalam hubungan pernikahan. Meskipun aku tidak menolak untuk bersamanya, namun aku setuju untuk menikah karena suatu kepentingan. Bukankah ini tidak adil baginya?"
__ADS_1
"Tidak. Saat kau setuju untuk menikah dengannya, apapun alasannya, Tuan muda Chen pasti bersedia tanpa mengeluh, dan pastinya dia sangat bahagia." Kata Jiang Xingyu.
Membuat Puteri Yanning terdiam lagi.
Beberapa saat setelahnya, emosinya menjadi lebih baik. Bahkan tidak menyebutkan masalah ini lagi.
"Xingyu, siang nanti adalah perayaan festival peony. Bisakah kau membantuku untuk memainkan musik? lalu aku akan menari?" tanyanya dengan senyum bersemangat.
"Baiklah." Jiang Xingyu mengangguk setuju.
Dua orang yang bekerja sama, tidak membutuhkan banyak waktu untuk memilih pertunjukan sesuai dengan gaya yang diinginkan Puteri Yanning. Jiang Xingyu memilih sebuah lagu dan memainkannya sekali, lalu Puteri Yanning melengkapinya dengan sebuah tarian.
Kemudian saat dayang memberitahu bahwa perayaan akan dimulai satu jam lagi, keduanya berhenti berlatih dan Puteri Yanning mulai berdandan.
Dia mengenakan gaun berwarna merah, gaya rambutnya diikat tinggi ekor kuda. Riasan sederhana yang dilengkapi dengan lukisan bunga peony di dahinya. Setelah selesai berdandan, dia mengenakan jubah luar yang berwarna senada.
"Hari ini penampilan dan pertunjukanmu akan mengejutkan semua orang." Ungkap Jiang Xingyu.
"Hahaha! Itu berkat seseorang yang membantuku berdandan dan memainkan musik." Puteri Yanning memuji tanpa ragu.
Membuat Jiang Xingyu menyipitkan matanya. "Apa kau tidak takut aku akan merebut pujian yang seharusnya ditujukan padamu?"
Jiang Xingyu menanggapi dengan senyuman. Tentu saja ia tahu bahwa Puteri Yanning tidak akan repot-repot untuk memenangkan pujian dari semua orang. Karena dia memang tidak membutuhkannya.
Perayaan akan segera dimulai. Semua orang yang seharusnya berada di sana, sudah ada di sana.
Ketika hendak keluar dari kamarnya, Puteri Yanning tiba-tiba meraih tangan Jiang Xingyu. "Xingyu, dia juga menghadiri perayaan. Aku takut akan kehilangan ketenanganku saat melihatnya."
Jiang Xingyu berbalik memegang tangan Puteri Yanning sambil berkata. "Jangan khawatir, aku ada disini."
"Ya." Puteri Yanning menghela nafas lega.
Perayaan dilaksanakan di Istana Peony di samping Taman Kekaisaran. Istana Peony selain menjadi tempat untuk perayaan festival peony setiap tahunnya, juga ditempati sebagai jamuan kecil yang sering diadakan.
Penanggung jawab Istana Peony adalah Permaisuri. Tanpa izinnya, orang lain tidak diperbolehkan memasuki ataupun menempati untuk perayaan apapun. Tentu saja kecuali Kaisar.
Di tengah-tengah aula utama, ada panggung yang memiliki panjang sekitar sepuluh meter dengan lebar lima meter. Sederet tanaman pot ditempatkan di sekeliling panggung dan semuanya adalah tanaman bunga peony.
Di kedua sisi panggung terdapat meja dan kursi untuk para tamu. Sebelah kiri untuk laki-laki dan kanan untuk perempuan.
__ADS_1
Permaisuri saat ini duduk di kursi utama di sebelah kanan, sedangkan kursi utama di sebelah kiri adalah tempat duduk Kaisar.
Kemudian diikuti oleh keempat Selir yang sudah duduk ditempatnya masing-masing. Diantaranya ada Selir Ruan Yiyun, Selir Shu Fei, Selir Han Rong dan Selir Feng Hanxi.
Selir Ruan adalah Ibunda dari Pangeran tertua, Murong Yuche. Dia berasal dari Kediaman keluarga Ruan yang menjabat sebagai Perdana Menteri.
Selir Han Rong adalah Ibunda dari Pangeran kedua, Murong Yuxuan. Dia berasal dari Kediaman keluarga Han yang menjabat sebagai Kementrian Perang.
Selir Shu Fei adalah Ibunda dari Pangeran ketiga, Murong Yuhao. Dia berasal dari Kediaman keluarga Shu yang menjabat sebagai Sekretariat Resmi.
Selir Feng Hanxi adalah Ibunda dari Pangeran kelima, Murong Yufeng. Dia berasal dari Kediaman keluarga Feng yang merupakan keluarga terkaya di Ibukota.
Keempat Selir semuanya cantik dan memiliki kemuliaan yang sebanding, tetapi berbeda dalam temperamen.
Setelah para tamu memberi hormat, mereka semua duduk di tempat yang sesuai dengan identitas mereka. Tentu saja tidak ada yang berani berbicara.
Kemudian terdengar suara ejekan seorang wanita. "Perayaan akan segera dimulai, kenapa Puteri Yanning belum datang? sepertinya kita semua harus menunggunya untuk memulai perayaan."
Hanya Selir Ruan yang berani berbicara menggunakan nada ini di hadapan Permaisuri.
Ekspresi Permaisuri berubah dingin. Bukan karena ucapan Selir Ruan, tapi karena kebencian mendalam diantara keluarga mereka.
"Seorang gadis membutuhkan lebih banyak waktu untuk berdandan. Sangat normal untuk datang terlambat." Selir Feng berbicara dengan suara tenang.
"Ucapan saudari Feng salah. Seorang gadis membutuhkan lebih banyak waktu untuk berdandan, ini adalah fakta. Tapi ada banyak waktu sebelum perayaan dimulai, dia bisa menggunakannya untuk berdandan. Oh tidak! Mungkinkah dia akan berdandan sampai perayaan selesai?" Selir Ruan membalas.
"Masih ada beberapa waktu sebelum perayaan dimulai, apa yang kau cemaskan?" Permaisuri menatap Selir Ruan dengan dingin.
Yang seketika membuat ekspresi Selir Ruan berubah gelap. Tapi ia tidak bisa membantahnya karena memang belum waktunya perayaan dimulai.
Beberapa saat kemudian ketika waktu perayaan hampir tiba, suara laporan Kasim terdengar di luar aula utama.
"Puteri Yanning tiba, Puteri Ming tiba."
Mendengar ini, semua orang melihat ke arah pintu masuk aula. Terlihat dua gadis berjalan beriringan. Satu mengenakan pakaian merah dan satunya lagi mengenakan pakaian ungu.
.
.
__ADS_1
_____Happy Reading_____