
Jiang Xingyu mengatur Pamannya untuk tinggal di Halaman terpisah di Rumah Kayu, tidak ada yang tahu selain dirinya.
Pamannya merupakan Roh Jahat yang memiliki tubuh fisik seperti Manusia, juga bisa berubah kembali menjadi Tubuh Roh. Alangkah baiknya jika menjauh dari mereka.
"Oh ya, Pemilik Rumah itu juga Tubuh Roh, namanya Fang Xinxin. Beberapa hari yang lalu Dia terluka karena Roh Jahat dan sedang menyembuhkan diri. Paman, tolong bantu aku untuk merawatnya." Ucapnya mengungkapkan hubungannya dengan Fang Xinxin.
"Baiklah." Nalan Wangyu menanggapi.
Hari berikutnya adalah hari Ujian Besar Kekaisaran.
Pagi-pagi sekali Puteri Yanning mengunjungi Jiang Xingyu dan memintanya untuk pergi bersamanya. Keduanya bersenang-senang hingga akhirnya datang melihat situasi diluar Ruang Ujian.
Menilai dari penampilan gugupnya, Jiang Xingyu yakin Dia sedang mengkhawatirkan Pemuda bernama Tang Wenyuan.
Ujian berlangsung selama tiga hari. Dan selama itu juga, para Kandidat tidak diperkenankan bertemu orang luar.
Meski demikian, beberapa kerabat dan teman Kandidat masih menunggu diluar.
Dipertengahan hari, kedua Gadis cantik datang ke Restoran Chilan untuk makan siang.
Saat hendak memasuki pintu, mereka dihalangi oleh orang-orang yang baru saja keluar.
Itu adalah seorang Pria yang mengenakan Jubah brokat berwarna biru, memiliki fitur wajah sedikit rupawan.
Saat melihat Puteri Yanning, matanya berubah penuh cinta yang menggila. Bahkan kata-katanya terdengar ambigu. "Ternyata Puteri Yanning! Aku sudah lama tidak melihatmu. Aku sangat merindukanmu! Apa kau datang untuk makan siang? bagaimana kalau kita makan bersama?..."
Tentu saja tatapan Puteri Yanning berubah penuh kebencian, menghembuskan nafas kasar lalu berkata dengan kasar. "Enyah!"
Dari sudut pandang Jiang Xingyu, sepertinya Puteri Yanning tidak membenci Pria ini begitu saja. Lebih tepatnya memiliki kebencian yang dalam.
Senyum Pria itu seketika kaku, rasa malu serta amarah melintas dimatanya. Namun anehnya suaranya justru terdengar senang. "Puteri, jangan seperti ini. Bukankah kau tahu apa yang kuinginkan?"
"Cih! Sudah kukatakan aku tidak memiliki perasaan padamu." Puteri Yanning tersenyum ironis.
"Tapi perasaan bisa dikembangkan secara perlahan." Balas Pria itu tetap dengan senyumnya.
"Jika kau tidak enyah sekarang juga, aku akan menendangmu!" Ancam Puteri Yanning yang enggan berdebat.
Membuat Pria itu buru-buru menyerah. "Baiklah. Jangan marah, aku akan pergi..."
Kemudian Pria itu memberi jalan pada keduanya.
Disaat yang sama wajahnya berubah suram dan matanya menampakkan nafsu membara. "Murong Yanning, suatu hari aku akan membuatmu tunduk padaku!"
__ADS_1
Puteri Yanning menahan amarahnya sepanjang jalan. Setelah tiba di Ruangan, amarahnya meluap. "Ruan Jianmu sialan! Beraninya Dia berkata seperti itu padaku. Kenapa tidak mati saja! Huh! Membuatku sangat marah!"
"Mengapa tidak membunuhnya saja?" tanya Jiang Xingyu dengan santai.
Namun justru membuat kebencian dimata Puteri Yanning semakin dalam, tinjunya mengepal sembari berkata. "Tentu saja aku sangat ingin membunuhnya! Tapi aku tidak bisa! Aku lebih ingin melihat seluruh Keluarga Ruan hancur berkeping-keping!"
Akhirnya Jiang Xingyu menyadari keseriusan masalah ini. Kebencian Puteri Yanning bukan pada Ruan Jianmu, melainkan dengan seluruh Keluarga Ruan.
Keluarga Ruan, bukankah itu Keluarga Perdana Menteri?
Jika begitu...
Sebuah cerita tiba-tiba muncul dibenaknya...
Permaisuri awalnya memiliki seorang Putera, Putera keempat Kaisar, Murong Yulin.
Murong Yulin lahir bergelar Pangeran Keempat, tapi sudah meninggal tiga tahun yang lalu.
Adapun penyebab kematiannya, Ia tidak begitu tahu. Kini saat melihat kebencian Puteri Yanning pada Keluarga Ruan, mungkinkah kematian Pangeran Yulin berkaitan dengan Keluarga Ruan?
Hal ini bukannya tidak mungkin, alasannya karena Anak Selir Ruan adalah Pangeran Pertama.
Tanpa Pangeran yang dilahirkan oleh Permaisuri, akan lebih banyak kesempatan bagi Pangeran Pertama untuk mewarisi Tahta.
Tentu saja ini semua hanyalah tebakannya saja.
.....
Malam ini Jiang Xingyu tidak keluar seperti biasanya. Ya! Itu karena rencana tertentu sedang dimainkan.
Wewangian aromaterapi tengah berhembus di Kamarnya serta Kamar Bibi Rong, membuat keduanya tertidur nyenyak. Walaupun seseorang datang, mereka berdua tidak akan bangun.
Langit penuh dengan bintang berkilauan, terhampar di langit malam seperti Bima Sakti yang dilapisi pasir apung halus. Bumi sedang tertidur, kecuali angin sepoi-sepoi yang bertiup ke segala arah, kecuali anjing yang menggonggong beberapa kali.
Jiang Mansion jatuh dalam keadaan sunyi, semua orang telah tertidur, kecuali Penjaga yang mengawasi malam di setiap Halaman.
Bayangan gelap menyelinap memasuki Jiang Mansion, melewati Taman Belakang, kemudian berjalan kearah Paviliun Weiyang.
Dan didalam Gerbang Halaman Timur, sesosok tubuh menyelinap keluar.
Setelah melihat bayangan gelap memasuki Paviliun Weiyang, Ia menutup Gerbang.
Bayangan gelap melompati dinding Paviliun Weiyang, kemudian berjalan mendekati Rumah Utama. Tanpa disadari, sosok lain sudah berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
Sosok lain tersebut mengangkat tongkat kayu ditangannya dan memukul bagian belakang kepala bayangan gelap.
'BANG!'
Bayangan gelap yang merupakan seorang Pria, seketika jatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri.
Sosok dibelakangnya meletakkan tongkat kayu. Secara mengejutkan Dia adalah Bibi Rong.
Melihat Pria yang terkapar dilantai, wajah Bibi Rong berubah suram.
Meskipun Ia tahu semua ini direncanakan oleh Nonanya, tapi yang menjalankannya adalah Selir Mo.
Pada saat yang sama, mengikuti suara derit pintu terbuka, Jiang Xingyu keluar mengenakan Hanfu tidur.
"Bawa Dia ke Kamar Jiang Linyao." Perintahnya.
Awalnya Ia ingin Selir Mo menanggung akibatnya. Setelah berpikir kembali, terlalu murah bagi Selir Mo jika hancur karena rencana sepele. Sekarang Ia ingin Selir Mo melihat Puterinya jatuh satu persatu, membuatnya menderita hingga akhirnya kehilangan segalanya.
"Ya, Nona." Jawab Bibi Rong.
Keesokan harinya, fajar perlahan membuka tirainya. Menyambut pagi yang cerah serta penuh warna. Tapi hari ini ditakdirkan untuk menjadi bencana bagi orang-orang tertentu.
Hari ini Selir Mo bangun lebih awal dari biasanya, menantikan kabar buruk dari Paviliun Weiyang.
"Aku berharap rencana kali ini berhasil." Ucapnya.
"Selir tidak perlu khawatir. Rencana kali ini pasti berhasil." Sahut Bibi He meyakinkan Nyonyanya.
"Kuharap begitu." Selir Mo masih khawatir, alasannya karena setiap kali melawan Jiang Xingyu selalu gagal.
Beberapa saat kemudian...
Tiba-tiba suara teriakan "Ah!" terdengar dari Kamar Jiang Linyao dan bergema di seluruh Paviliun Yuyan.
Membuat para Pelayan yang sedang bertugas, tersentak kaget. Ming Er yang pertama bereaksi, bergegas masuk. "Nona, ada apa?"
"Ah!" Saat melihat pemandangan didalam Kamar, Ming Er juga berteriak ketakutan, bahkan wajahnya seketika memucat.
Teriakan kali ini membuat semua Pelayan lebih terkejut. Walaupun penasaran, tidak satupun dari mereka berani masuk.
Beberapa orang bereaksi lalu bergegas memberitahu Selir Mo. Baru setengah jalan, mereka melihat Selir Mo dan Bibi He buru-buru mendekat.
.
__ADS_1
.
_____Happy Reading_____