
Bibi Rong baru tiba di Kediaman, ketika mendengar banyak pelayan sedang membicarakan kunjungan Puteri Yanning, ia tertegun dan tidak mempercayainya. Bertanya-tanya kapan Nonanya mengenal sang Puteri Kekaisaran.
Ia juga khawatir apakah sebelumnya Nonanya telah menyinggung Puteri Yanning? kemudian Puteri Yanning datang untuk membalas?
Sangat khawatir, ia bergegas menuju Paviliun Weiyang.
Sesampainya disana ia justru melihat tiga orang di halaman sedang berjongkok dan terlihat seperti menanam bunga, membuatnya terpana selama beberapa saat.
Jiang Xingyu berdiri, berbalik lalu berkata. "Bibi, dia Murong Yanning."
Bibi Rong yang terkejut segera bereaksi
setelah mendengar ucapan Nonanya, lalu memberi hormat. "Salam hormat saya pada Tuan Puteri."
"Bibi terlalu sopan, bangunlah." Kata Puteri Yanning.
"Terima kasih, Tuan Puteri." Ucap Bibi Rong lalu melangkah ke samping.
Jiang Qianxi terkejut ketika mendengar Bibi Rong menyebut Murong Yanning sebagai Tuan Puteri. Ia mendekati saudarinya dan bertanya dengan hati-hati. "Saudari Xingyu, dia, dia seorang Puteri?"
Melihat ekspresi ketakutan di wajah adik kecilnya, Jiang Xingyu segera menghiburnya. "Ya. Dia adalah Puteri Yanning. Xi'er jangan takut. Lagipula Tuan Puteri sangat menyukaimu."
"Benarkah?" Jiang Qianxi bertambah gugup.
"Tentu saja benar! Gadis kecil, setelah ini siapapun yang mengganggumu, cukup katakan padaku, aku akan menghajar orang itu untukmu." Kata Puteri Yanning.
Sedangkan disisi Halaman Timur, karena puteri pertamanya tidak mau pergi ke Paviliun Weiyang, Selir Mo sangat kesal.
"Lin'er, ada apa denganmu? kesempatan langka ada didepan mata, mengapa kau..." Selir Mo langsung menyalahkan begitu memasuki ruang belajar puterinya, tapi disela sebelum ucapannya selesai. "Cukup! Apa kau ingin aku menundukkan kepalaku dihadapan Jiang Xingyu? kau mungkin akan melakukannya, tapi tidak denganku!"
"Kau..." Selir Mo tersedak dan tidak tahu harus berkata apa.
"Puteri Yanning adalah seseorang yang menyukai kebebasan, percuma saja menjalin hubungan baik dengannya. Sudahlah, aku lelah dan ingin beristirahat." Kata Jiang Linxin kemudian beranjak menuju kamarnya, meninggalkan Ibunya yang kini berdiri mematung.
__ADS_1
Pada saat yang sama Puteri Yanning membawa Jiang Xingyu keluar dan mengatakan ingin membawanya makan siang di Restoran Chilan, Restoran yang paling terkenal di seluruh Ibukota.
Tiba di Restoran Chilan, Puteri Yanning menggandeng tangan Jiang Xingyu menuju lantai tiga seraya berkata. "Semua hidangan di Restoran Chilan sangat lezat, membuatku ingin memakannya setiap hari. Tapi sayangnya aku tidak bisa keluar Istana kapanpun aku mau. Saat Paman Yin berada di Istana, dia akan membawaku kesini setiap hari. Sekarang aku akan membawamu ke ruangan VIP milik Pamanku, semua tagihan hidangan yang akan kita makan akan dimasukkan ketagihan Pamanku, kita tidak perlu membayar."
Setelah beberapa saat keduanya tiba di lantai tiga.
Ruangan di lantai tiga hanya ada beberapa, hanya VIP eksklusif yang bisa menyewa dan menempatinya.
Selain Pangeran Yin, Puteri Yanning adalah salah satu orang yang izinkan untuk menempati ruangan tersebut.
Mengapa ada salah satunya?
Ya itu karena ada beberapa orang yang juga diizinkan untuk menempati ruangan tersebut.
Kini, saat Puteri Yanning hendak masuk, seorang pelayan memberitahunya bahwa ada orang lain didalam.
"Apa? siapa itu? apa Paman Yin sudah kembali?" Puteri Yanning terkejut dan mengajukan beruntun pertanyaan.
Tanpa menunggu pelayan menjawab, ia bergegas masuk dengan wajah penuh semangat.
Namun setelah mendorong pintunya hingga terbuka, Puteri Yanning tertegun ketika melihat siapa orang yang ada didalam. Kemudian ekspresinya berubah panik dan takut.
Dibelakangnya pelayan dengan tergesa-gesa meminta maaf pada orang-orang yang ada didalam. "Maaf, saya tidak bisa menghentikan Puteri Yanning."
"Tidak masalah! Pergilah!" Suara sedingin es keluar dari bibir seorang pria tertentu, tanpa kemarahan ataupun kegembiraan, seakan-akan tidak mempermasalahkan kelancangan Puteri Yanning.
"Ya." Lalu pelayan beranjak pergi dengan sopan.
"Hei Tuan, kapan kau datang ke Ibukota? apa Paman Yin ikut bersamamu kembali ke Ibukota?" tanya Puteri Yanning yang jelas mengenal orang-orang didalam. Tapi tidak begitu akrab, jadi nada bicaranya sangat sopan dan hati-hati.
Jiang Xingyu masih menunggu di luar pintu dengan jarak tertentu, ketika mendengar ucapan sopan Puteri Yanning, ia cukup terkejut. Siapa orang yang ada didalam? hingga mampu membuat seorang Puteri berbicara dengan sopan? dan sepertinya... Ketakutan?
"Aku datang sendirian ke Ibukota beberapa waktu yang lalu." Jawaban singkatnya terdengar tidak sabar, namun mengandung jejak ketidakpedulian dan keterasingan yang tidak bisa diabaikan.
__ADS_1
Mendengar jawaban yang implikasinya Pamannya tidak kembali ke Ibukota, Puteri Yanning sedikit kecewa namun segera menanggapi. "Oh! Kukira Paman Yin sudah kembali, jadi aku bergegas masuk. Aku tidak tahu orang yang ada di ruangan ini adalah Tuan. Maafkan atas kelancanganku. Kalau begitu aku pergi dulu."
"Ya!" Tanggapan sekilas Tuan tersebut.
Setelah itu Puteri Yanning buru-buru keluar dan menutup pintu.
"Xingyu, sudah ada yang menempati ruangan Pamanku. Ayo kita turun dan makan di lantai dua." Ucapnya dengan wajah muram dan frustasi karena tidak bisa makan di ruangan Pamannya, yang mana artinya ia harus membayar sendiri.
Sedangkan didalam ruangan, ketika Tuan itu mendengar satu karakter nama 'Xingyu', tangannya yang memegang sumpit tiba-tiba berhenti, kemudian suara yang sebelumnya berbicara dengan Puteri Yanning, terdengar lagi. "Ning Rui, instruksikan kepada pelayan untuk mengundang Puteri Yanning dan temannya makan bersama."
"Ah?!" Ning Rui yang sedang makan tertegun oleh perintah tersebut, dan menatap orang di seberangnya dengan mata curiga. "Apa? aku tidak salah dengar? Paman Guru memintaku untuk mengundang Puteri Yanning dan temannya makan bersama? bukankah Paman Guru tidak suka didekati Wanita? ah salah, Wanita yang semalam adalah pengecualian."
Dua orang yang menempati ruangan Pangeran Yin adalah Yuwen Junxiu dan Ning Rui.
Melihatnya tertegun kebingungan, Yuwen Junxiu mengernyitkan alisnya. "Kenapa kau masih disini? cepat pergi."
"Oh! Aku akan pergi." Ning Rui beranjak dari tempat duduknya lalu bergegas pergi.
Sedangkan diluar ruangan, pelayan sebelumnya berjaga didepan pintu dan tidak berani pergi menjauh karena takut apa yang terjadi sebelumnya akan terulang lagi.
Semua tamu yang menempati ruangan VIP eksklusif adalah orang-orang yang memiliki identitas terhormat, jika terjadi sesuatu ia tidak mampu menanggung konsekuensinya.
Tentu saja jika orang-orang didalam ingin membicarakan sesuatu yang penting, mereka hanya perlu mengaktifkan formasi kedap suara. Pelayan tidak perlu pergi menjauh dan tetap bisa berjaga di depan pintu.
"Tuan kecil, apakah ada yang bisa..." Pelayan bertanya.
"Tolong katakan pada Puteri Yanning dan temannya kalau orang di ruangan VIP Pangeran Yin, mengundang mereka untuk makan bersama." Kata Ning Rui tanpa menunggu pelayan menyelesaikan ucapannya.
"Ya." Pelayan segera bereaksi dan buru-buru pergi.
.
.
__ADS_1
_____Happy Reading____