-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas

-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas
137 - Perselisihan


__ADS_3

Pangeran Yuhao mencoba tetap tenang. "Sepertinya saudara tertua sangat santai akhir-akhir ini?"


Implikasinya adalah Pangeran Yuche terlalu ikut campur sesuatu yang bukan urusannya.


Pangeran Yuche tentu saja mengerti. "Ya! Jika sibuk, Ben Wang tidak akan keluar untuk bersenang-senang."


Dibalas! Implikasinya adalah menganggap urusan Pangeran Yuhao sebagai kesenangan.


Segera setelah terjadi konflik di lantai pertama, seorang pelayan naik ke lantai tiga untuk melapor.


Saat ini, ruangan VIP 2 di lantai tiga...


Di sebuah meja persegi panjang, Pangeran Yin melawan Feng Yuqie dalam permainan catur. Sementara Chen Ziyue setia menjadi penonton.


Ning Rui adalah seorang foodie yang tentunya saat ini sedang menikmati camilan di meja bundar, terlihat sangat puas.


Menjauh dari yang lain, Yuwen Junxiu bersandar di kursi sudut dan tengah melamun.


Dalam benaknya selalu ada bayangan tentang apa yang terjadi semalam, membuat hatinya sedikit gelisah.


Pada saat ini terdengar suara ketukan di pintu, diikuti oleh suara pelayan. "Tuan, terjadi konflik di aula. Tuan Puteri dan Nona Jiang juga disana."


Begitu mendengarnya, mereka terkejut dan secara bersamaan berjalan keluar.


Mereka turun ke lantai dua, kemudian menemukan tempat dimana mereka bisa melihat semua yang terjadi di aula.


Aula..


"Ben Wang dengar Tuan Muda Ruan kedua mengikuti ujian Kekaisaran. Hari ini hasilnya keluar. Ben Wang sangat menantikan melihat nama Tuan Muda Ruan kedua dalam daftar peringkat." Pangeran Yuhao memandang pria yang berdiri di belakang Pangeran Yuche.


Mendengar nada suaranya, siapapun akan mengerti kebalikan dari ucapan tersebut.


Tuan Muda Ruan kedua yang bernama Ruan Jianying, berusia sekitar sembilan belas tahun, dengan raut wajah yang tampan, tegas dan sedikit dingin.


"Kalau begitu izinkan saya meminjam kata-kata keberuntungan dari anda, Pangeran Yuhao." Tanggapan Ruan Jianying yang terdengar acuh tak acuh.


Tidak mau kalah, Pangeran Yuche membalas dengan mengatakan. "Ben Wang juga sangat menantikan melihat nama Tuan Muda Yan berada dalam daftar peringkat. Tuan Muda Yan merupakan talenta hebat di Ibukota kita. Sangat berbakat dan percaya diri!"


Yan Zhihang tidak kesal dan sikapnya masih tenang. Bahkan suaranya terdengar sopan. "Pangeran Yuche bercanda. Di atas langit masih ada langit, banyak talenta hebat di Ibukota kita. Saya bukan percaya diri, tapi sangat gugup."


Dengan Yan Zhihang berkata demikian, Pangeran Yuche tidak bisa mengatakan apapun lagi.

__ADS_1


"Jika tidak ada hal lain, harap saudara tertua memberi jalan." Ucap Pangeran Yuhao yang tidak ingin berdebat lagi.


"Tentu saja." Pangeran Yuche bergeser ke pinggir anak tangga. Namun tidak segera pergi, seolah-olah sedang menunggu pertunjukan.


Kemudian ia memandang seorang gadis yang terlihat acuh tak acuh, seraya berkata dengan simpatik. "Nona Jiang benar-benar murah hati."


Bagaimana mungkin Jiang Xingyu tidak mengerti maksud Pangeran Yuche? tapi ia tidak keberatan bekerja sama dengannya dalam mementaskan sebuah drama. "Sejak zaman dahulu pria mana yang tidak menikahi tiga Istri dan empat Selir? Lagipula cemburu bukanlah hal yang baik. Selama tunanganku tidak serius, bahkan jika ada sepuluh Lin Jiayin lagi, aku tidak peduli."


Kalimat ini seketika menginjak batin Pangeran Yuhao, menyebabkan tubuhnya menjadi kaku dan langkah kakinya yang baru menaiki tangga tiba-tiba berhenti.


Dengan amarah berapi-api, ia berbalik dan berteriak. "Jiang Xingyu, apa maksudmu?"


"Secara harfiah artinya, kau sangat tergila-gila pada wanita cantik. Selama kau masih memiliki energi, sepuluh Lin Jiayin lagi tidak akan membuatmu puas." Jiang Xingyu menjelaskan disertai sikap murah hati.


Hanya saja apa yang di sebut 'masih memiliki energi', seketika menginjak batin Pangeran Yuhao untuk yang kedua kalinya.


Pangeran Yin, Feng Yuqie dan Yuwen Junxiu tentu mengerti apa yang dimaksud 'masih memiliki energi', membuat mereka merasa geli saat mendengarnya.


Setelah jeda, Jiang Xingyu berkata lagi, tapi kali ini ekspresinya terlihat khawatir. "Aku tahu Pangeran sangat menyukai Nona Lin. Namun status Nona Lin yang merupakan puteri seorang Jenderal, apa dia bersedia hidup denganmu dengan status Selir?"


"Pelacur, tutup mulutmu!" Lin Jiayin tidak bisa menahannya lagi. Karena kata 'Selir' adalah duri terbesar dihatinya.


"Hak apa yang kau miliki untuk menyuruhku tutup mulut? lagipula, apa ada yang salah dengan yang kukatakan?" Jiang Xingyu bertanya acuh tak acuh.


"Nona Jiang, kau tidak memiliki hak untuk mengatakan ini pada Ben Wang." Pangeran Yuhao membalas.


Jiang Xingyu tersenyum kecil. "Salah! Cepat atau lambat aku akan menjadi Permaisurimu. Aku sangat berhak mengambil keputusan mengenai siapa yang akan menjadi Selirmu."


"Kau..." Pangeran Yuhao tidak bisa menyangkalnya. Ia menghela nafas kesal lalu berkata. "Kalau begitu tunggu sampai kau menjadi Permaisuri Ben Wang!"


Kemudian ia segera naik keatas dan memutuskan bahwa tidak peduli apa yang mereka katakan selanjutnya, ia akan mengabaikannya.


Jiang Xingyu tersenyum menghina melihat musuhnya melarikan diri.


"Puteri Yanning, kita bertemu lagi. Izinkan aku menjadi tuan rumah untuk Tuan Puteri dan Nona Jiang." Ucap Ruan Jianmu dengan sopan.


"Saudari, jarang sekali kau keluar dari Istana. Mengapa tidak bergabung bersama kami dan bersenang-senang?" gema Pangeran Yuche yang berencana menjadi mak comblang untuk keduanya.


Puteri Yanning sangat kesal, tapi masih berusaha untuk tidak menunjukkannya. "Saudara tertua tahu sangat sulit bagiku untuk keluar Istana. Aku keluar untuk membahas sesuatu dengan Xingyu, yang tidak cocok di dengar oleh kalian para pria."


Tanpa menunggu tanggapan, ia mengajak Jiang Xingyu naik keatas.

__ADS_1


Tapi setelah mengambil beberapa langkah, Ruan Jianmu menghentikannya dengan berkata. "Puteri, jangan seperti ini. Cintaku benar-benar tulus padamu. Tolong beri aku kesempatan!"


"Kenapa aku harus memberimu kesempatan? ada banyak pria yang menyukaiku, apa aku harus memberi kesempatan pada mereka semua?" ucap Puteri Yanning yang terdengar sombong.


"Tentu saja aku berbeda!" Balas Ruan Jianmu.


"Apanya yang berbeda? apa karena kau putera Perdana Menteri? jadi kau merasa lebih unggul? maaf, aku tidak menyukai seseorang hanya berdasarkan identitas! Jika kau memiliki bakat dan memenangkan peringkat teratas dalam ujian Kekaisaran, aku mungkin akan memandangmu secara berbeda." Puteri Yanning sengaja mempermalukan Ruan Jianmu.


Benar saja! Wajah Ruan Jianmu langsung berubah suram.


Dan Puteri Yanning menimpali lagi. "Huh! Kau seharusnya mencontoh Tuan Muda Ruan kedua. Sayang sekali dia sudah punya tunangan."


Kalimat terakhir terdengar tidak berdaya. Seolah ia memiliki pikiran spesial terhadap Ruan Jianying.


Tentunya Jiang Xingyu tahu bahwa Puteri Yanning sengaja memicu perselisihan antar kedua saudara Ruan.


Kali ini wajah Ruan Jianmu menjadi lebih suram. Meskipun ia mendekati Puteri Yanning untuk suatu tujuan, namun ia benar-benar menyukainya. Dengan Puteri Yanning mengungkapkan pemikiran spesial kepada pria lain di hadapannya, secara alami membuatnya sangat marah.


Sedangkan Ruan Jianying dan Pangeran Yuche tidak peduli. Mereka menganggap ucapan Puteri Yanning sebagai alasan untuk menolak Ruan Jianmu. Terlebih lagi keduanya merupakan musuh bebuyutan.


Kemudian Puteri Yanning menarik Jiang Xingyu keatas.


Kebencian di matanya tidak bisa disembunyikan lagi. Aura kemarahannya seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya.


Melihat ini, Jiang Xingyu berkata. "Sebelumnya kau mengatakan sangat suka bermain guqin, tapi kau tidak memiliki lagu yang bagus? aku punya beberapa lagu, hanya saja aku tidak tahu apa kau suka atau tidak."


Puteri Yanning tahu Jiang Xingyu bermaksud untuk menenangkannya dengan cara mengalihkan perhatiannya.


Seketika hatinya terasa hangat. Ia benar-benar bersyukur tidak salah dalam memilih sahabat.


"Aku pasti akan menyukainya." Ucapnya dengan yakin.


"Kau sangat yakin bahkan sebelum mendengarkannya? bagaimana jika lagu milikku tidak bagus? bukankah kau akan kecewa?" tanya Jiang Xingyu disertai senyum tak berdaya.


Tapi Puteri Yanning justru menanggapi dengan tegas. "Aku percaya padamu."


Sekarang giliran hati Jiang Xingyu yang terasa hangat. Apapun yang terjadi, ia akan mempertahankan persahabatan ini.


.


.

__ADS_1


_____Happy Reading_____


__ADS_2