
Tidak butuh waktu lama bagi Jiang Xingyu untuk mengganti pakaiannya. Kini ia keluar dengan penampilan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Hanfu elegan berwarna biru muda dipadukan dengan gaya rambut sederhana, tanpa hiasan berlebihan dan hanya jepit giok berwarna putih yang menghiasi rambutnya.
Dia hanya berdiri begitu saja, membiarkan angin sepoi-sepoi bertiup disekitar tubuhnya dengan bebas, membuat seluruh sosoknya bagaikan Peri yang turun ke dunia fana.
Saat sosoknya keluar, semua orang tertegun. Mereka terkesima menatap seorang gadis yang melebihi kata anggun nan cantik.
Setelah tersadar dari lamunannya, Tuan Besar berkata. "Yu'er, ayo berangkat."
"Baik, Ayah." Sahut Jiang Xingyu sekilas.
Diluar Kediaman, dua Gerbong yang tampak tidak mewah sudah disiapkan lebih awal. Walaupun tidak mewah, tapi dalam pandangan sekilas semua orang mengetahui kalau Gerbong tersebut milik keluarga besar.
Segera setelah keluar dari Kediaman, Ayah dan anak menaiki Gerbongnya masing-masing. Dengan kecepatan sedang Gerbong menuju Istana Kekaisaran.
Tak lama kemudian Istana megah nan mengesankan memenuhi pandangan Jiang Xingyu.
Menurut aturan, selain Gerbong Kekaisaran, Istana tidak mengizinkan Gerbong lain untuk masuk. Oleh karena itu ketika tiba di gerbang Istana, sepasang keduanya turun dari Gerbongnya masing-masing.
Sambil berjalan memasuki Istana, Tuan Besar memperingatkan. "Yu'er, saat menghadap Yang Mulia Kaisar, harap perhatikan kata-katamu. Jika kau menyinggung Yang Mulia, tidak ada yang bisa menyelamatkanmu termasuk Ayah."
"Ayah tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membahayakan hidupku sendiri." Ucap Jiang Xingyu dengan sikap santainya.
Istana Kekaisaran adalah tempat yang sangat megah. Desain Bangunan berkelas dipadukan dengan warna emas membuat keseluruhan Istana semakin megah.
Istana adalah simbol keagungan dan tindakan apapun harus mematuhi peraturan. Status yang dimiliki sangat terhormat. Dari segi ini saja tidak heran banyak orang yang mendambakannya. Namun bagi mereka yang memahami, Istana tidak lebih hanyalah sebuah penjara berkelas. Tidak sebebas diluar.
Oleh karena itu Jiang Xingyu tidak menyukai tempat seperti ini.
Sesampainya diluar ruang belajar Kekaisaran, Tuan Besar meminta penjaga gerbang yang sedang bertugas untuk melaporkan kedatangannya.
Baru setelah diizinkan, ia dan puterinya masuk kedalam.
__ADS_1
Di ruang belajar Kekaisaran, di samping rak buku, Kaisar Murong Huangli dalam balutan jubah naga tengah fokus pada tugu peringatan didepannya.
Walaupun sudah mengetahui Pejabat Jiang dan puterinya akan datang, ia tetap fokus memberi penghormatan pada semua papan nama di tugu peringatan. Baru setelah mendengar suara penghormatan, ia berhenti.
"Salam hormat saya, Pejabat Jiang, pada Yang Mulia Kaisar,"
"Salam hormat saya, Jiang Xingyu, pada Yang Mulia Kaisar,"
Keduanya berjalan ketengah aula, berlutut dan memberi hormat pada sang penguasa agung Kekaisaran Ling Timur.
Namun hanya Tuan Besar yang berlutut. Sementara Jiang Xingyu hanya menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
Dengan ini, Tuan Besar berbisik. "Yu'er, cepat berlutut!"
Jiang Xingyu tetap tidak bergerak.
Kaisar meletakkan dupa peringatan ditangannya lalu mengangkat kepalanya.
Wajah yang tak lagi muda masih memiliki ciri khasnya. Wajah tampan dan mata hitam tajam seperti elang dimalam hari, dingin dan menyendiri. Namun tidak terlihat sombong ataupun pemarah.
Ketika Kaisar melirik gadis yang tidak berlutut, kedua alisnya yang seperti sebilah pedang langsung berkerut. Tidak segera berbalik, ia justru mengeluarkan auranya yang agung.
Kaisar tidak marah. Alasannya karena sebelumnya Jiang Xingyu hanya gadis bodoh yang tidak mengetahui tata krama. Oleh karena itu ia memberinya waktu untuk menyadari.
Namun setelah melihatnya masih tidak bergerak, ia berkata. "Nona Jiang, mengapa kau tidak berlutut saat menghadap Zhen?"
Suara itu membuat ketakutan Tuan Besar semakin meningkat.
"Jawab Yang Mulia, alasan saya tidak berlutut karena saya merupakan keturunan Nalan Mansion. Sejak dahulu tidak ada keturunan Nalan Mansion yang berlutut kepada Keluarga Kekaisaran." Jiang Xingyu menjawab dengan suara tenang tanpa arogansi ataupun kerendahan hati.
Benar! Kakeknya dan Kaisar sebelumnya adalah kenalan hidup dan mati, berjuang dan menaklukkan dunia bersama. Jika bukan karena Kakeknya tidak tertarik pada tahta, tidak ada yang tahu siapa yang pada akhirnya menjadi seorang Kaisar.
Pada masa Kaisar sebelumnya naik tahta, beliau mengangkat Kakeknya sebagai Pangeran Kekaisaran bergelar Pangeran Dongqing. Statusnya sangat Mulia setingkat langsung dibawah Kaisar. Selain itu Kaisar sebelumnya juga menyebutkan bahwa semua keturunan Kakeknya memiliki status yang setara dengan Pangeran dan Puteri Kekaisaran. Jadi ketika bertemu Keluarga Kekaisaran manapun, tidak perlu membungkuk apalagi sampai berlutut.
__ADS_1
Karena alasan inilah ia yang memiliki dua marga yakni Jiang dan Nalan. Sebagai keturunan Keluarga Nalan, memiliki hak menggunakan rahmat ini untuk tidak berlutut ataupun membungkuk.
Kaisar dan Tuan Besar tiba-tiba teringat titah Kaisar sebelumnya. Titah yang diumumkan pada seluruh Kekaisaran Ling Timur.
Kaisar sedikit tidak senang karena merasa ucapan tersebut seperti sedang menampar wajahnya.
Namun ia tidak marah, sebaliknya dengan sepenuh hati mengakui kesalahannya. "Hahaha! Benar sekali. Zhen terlalu sibuk sehingga melupakannya. Sekarang kalian bangun dulu."
"Terima kasih, Yang Mulia." Ucap keduanya secara bersamaan.
Tepat saat Jiang Xingyu mengangkat kepalanya dan Kaisar melihat wajahnya dengan jelas, dia membelalakkan matanya karena terkejut. Disaat yang sama ketidaknyamanan melintas dikedua matanya.
Kemudian berkata. "Wajahmu benar-benar sangat mirip dengan Ibumu."
"Terima kasih atas pujiannya, Yang Mulia." Kata Jiang Xingyu.
"Oh! Mengapa kau menganggap ucapan Zhen sebagai pujian?" Kaisar bertanya.
"Yang Mulia berkata wajah saya sangat mirip dengan mendiang Ibu. Sedangkan pada masa hidupnya, Ibu merupakan kecantikan pertama di seluruh Kekaisaran Ling Timur. Karena wajah saya sangat mirip dengan Ibu, itu berarti saya juga sangat cantik. Karena itulah saya menganggap kalimat Yang Mulia sebagai bentuk pujian." Jawab Jiang Xingyu sambil tersenyum.
Kaisar tercengang sejenak dan secara tidak sadar pandangannya berubah.
"Tepat sekali. Pada saat itu Ibumu dikenal sebagai kecantikan sejati. Tapi sayangnya..." Kaisar tiba-tiba menghela nafas. Kata-katanya tidak dilanjutkan seolah tidak ingin memikirkan masa lalu yang tidak bahagia.
Tuan Besar juga bersedih. Walaupun ia tidak mencintai Nalan Wangzi, itu bukan berarti ia tidak bersedih atas kematiannya.
Melihat suasananya tidak pas, Kaisar mengubah topik pembicaraan. "Ngomong-ngomong, kemana perginya gadis yang selalu terlihat bodoh? mengapa tiba-tiba berganti gadis yang sangat cantik dan pintar? apa yang terjadi?"
"Menjawab Yang Mulia. Sebelumnya saya sangat bodoh sehingga saya tidak bisa mengingat semuanya dengan jelas. Saya hanya ingat ketika pergi mengunjungi Kuil Yun saja. Tidak tahu apa yang terjadi, ketika membuka mata, saya tiba-tiba berada dibawah tebing dan di samping saya ada seorang Kakek berambut putih. Kakek mengatakan saya jatuh dari atas tebing. Kebetulan lewat dan melihat saya jatuh, Kakek menolong saya sehingga saya tidak sampai terjatuh ke dasar tebing. Setelah itu Kakek menggunakan tiga jarum perak untuk menusuk kepala saya. Kakek juga berkata kebodohan saya disebabkan oleh keracunan." Jiang Xingyu sudah menyiapkan alasan ini sejak awal.
.
.
__ADS_1
______Happy Reading_____