
Ternyata semua pertemuan ini terjadi karena takdir! Luka bakar di tubuh Xin Yu pasti di sebabkan oleh kebakaran di Rumahnya setengah tahun yang lalu.
Namun ia tidak berencana memberitahu Tuan Shen sekarang. Karena ia ingin mereka saling mengetahui keberadaan satu sama lain secara alami.
"Siapa nama Istrimu?" tanyanya.
"Namanya Yu Xin." Ucap Shen Qing.
Jiang Xingyu tersenyum lalu bertanya lagi. "Jika Istrimu dalam keadaan cacat, apa kau masih akan mencintainya? aku tidak bermaksud mengutuknya. Istrimu mengalami musibah kebakaran, walaupun dia selamat, kondisinya pasti tidak akan seperti sebelumnya. Mungkin saja dia bersembunyi darimu karena kondisinya cacat."
"Tidak peduli seperti apapun kondisi Istriku. Aku tetap mencintainya dan akan mencintainya hingga akhir hidupku." Shen Qing berkata dengan serius.
Jawaban ini, Jiang Xingyu sangat puas. "Jangan khawatir. Aku pasti akan membantumu menemukan Istrimu." Ucapnya sambil tersenyum misterius.
Setelah mengembalikan gulungan, ia berbalik pergi.
Shen Qing sedikit bingung, bertanya-tanya mengapa Nona Jiang begitu yakin. Apakah hanya menghiburnya?
Dalam perjalanan pulang, Jiang Xingyu melihat musuh bebuyutannya. Tapi kali ini ia hanya menonton pertunjukan.
Di jalan dan di tengah-tengah keramaian, dua gadis muda sedang bertengkar. Mereka adalah Lin Jiayin dan Shu Yinxue.
"Apa lagi yang bisa kau lakukan selain mengatakan hal-hal ini setiap saat?" Lin Jiayin berteriak penuh amarah.
Dan Shu Yinxue menanggapinya dengan provokasi. "Karena aku senang mengatakannya! Sekarang Jiang Xingyu sudah berubah, siapapun dapat melihat bahwa dia jauh lebih cantik darimu. Hanya dia yang akan menikah dengan sepupuku sebagai..."
"Diam!" Lin Jiayin menyela. "Saudara Yuhao tidak akan menikahi Jiang Xingyu!"
"Benarkah? sayangnya bukan kau yang menentukan." Shu Yinxue tersenyum menghina.
"Kau mencari kematian!" Lin Jiayin segera melancarkan serangan.
Tidak mau kalah, Shu Yinxue menyerang balik.
Sebagai akibat dari perkelahian keduanya, banyak Kios di sekitar yang berantakan. Pemilik Kios sangat tertekan tapi tidak berani mengeluh, karena identitas keduanya bukan sesuatu yang bisa mereka lawan.
Sedangkan Jiang Xingyu terlihat santai seperti sedang menonton drama.
Perkelahian tidak kunjung mencapai titik kemenangan dari salah satu pihak. Dan tiba-tiba, seseorang datang untuk memisahkan keduanya.
Orang yang datang adalah Lin Jiayun yang baru kembali dari Kediaman Pangeran Yuhao.
"Cukup! Apa kalian tidak malu bertengkar di tempat umum?" Lin Jiayun meraung marah dan tidak berencana memihak siapapun, karena ia tahu keduanya selalu bertengkar setiap kali bertemu.
Ia menatap saudarinya dengan tajam. "Mengapa kau keluar? bukankah aku menyuruhmu tetap di Rumah?"
"A-aku, aku..." Suara Lin Jiayin terdengar gemetar.
__ADS_1
"Ayo pulang!" Lin Jiayun tidak sabar, kemudian menyeret saudarinya.
"Aku tidak ingin pulang. Aku ingin menemui saudara Yuhao." Lin Jiayin berontak mencoba melarikan diri.
"Kau!" Sangat marah, Lin Jiayun memiliki keinginan untuk memukul saudarinya.
"Cih! Mengatakan hal seperti ini di depan banyak orang, kau benar-benar tidak tahu malu!" Shu Yinxue mencibir.
"Bukan urusanmu!" Teriak Lin Jiayin.
Shu Yinxue memprovokasi dengan cara mengedipkan matanya penuh kemenangan. Tapi ketika tatapannya tertuju pada sosok di kerumunan, seketika amarah memenuhi pikirannya.
"Itu kau!" Ia segera berjalan menghampiri seseorang yang terlihat sangat tenang.
"Pelacur itu..." Lin Jiayin menggetarkan giginya dan ingin pergi meluapkan kebenciannya, tapi ditahan oleh saudaranya.
Karena menurut Lin Jiayun, Jiang Xingyu tidak mudah di hadapi dan saudarinya pasti akan menderita jika melawannya.
"Ada apa?" tanya Jiang Xingyu menyertakan sikap malas.
Yang membuat Shu Yinxue semakin marah. "Kau menendangku dari lantai dua Kedai Teh hari itu, dan membuatku tidak bisa makan daging selama berhari-hari. Sekarang kau bertanya ada apa?"
"Lalu?" Jiang Xingyu mengedipkan matanya.
"A-aku ingin balas dendam!" Setelah berkata, Shu Yinxue mengangkat tangannya guna menyerang dengan tamparan.
Kemudian ia membuang tangan Shu Yinxue layaknya membuang sampah.
Semua orang terpana. Mereka tidak menyangka Nona cantik ini berani mematahkan tangan Nona Shu. Apa dia tidak takut keluarga Shu akan balas dendam?
"Ah..." Shu Yinxue berteriak merasakan sakit di pergelangan tangannya.
"Kau, kau, kau..." Tatapannya penuh api, tapi ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan.
"Ada apa denganku?" suara Jiang Xingyu terdengar lemah lembut.
Dan berhasil meningkatkan amarah Shu Yinxue. Karena tidak bisa menahan emosinya, dia pingsan dengan cantik.
Lin Jiayun melihat ini dan segera menangkapnya.
"Hen Yi, segera bawa Nona Shu ke Rumah Medis." Ucapnya memberi perintah pada bawahannya.
"Ya."
Seorang pria kekar maju dan mengambil alih tubuh Shu Yinxue.
Lin Jiayun menatap Jiang Xingyu sesaat, lalu menarik saudarinya pergi.
__ADS_1
Ekspresi Jiang Xingyu berangsur-angsur tenggelam, karena ia melihat sesuatu yang tidak biasa dari pandangan Lin Jiayun, seperti ketenangan sebelum badai.
Mungkinkah mereka berencana membunuhnya lagi?
Benar atau tidak, ia merasa harus lebih berhati-hati.
Kembali ke Paviliun Weiyang, ia mengunci diri di dalam kamar dan berlatih menggambar Simbol Jimat.
Sedangkan di Kediaman rahasia, Yuwen Junxiu jarang keluar di siang hari karena tidak ingin mengungkap identitasnya. Tapi ia tetap menerima berita hari ini.
Sejak mengetahui bahwa Jiang Xingyu adalah takdirnya, ia tidak pernah melepaskan berita apapun tentangnya.
Berita hari ini di sampaikan padanya bersamaan dengan semua informasi tentang kehidupan wanitanya.
Setelah mendengar semua situasi yang dialami wanitanya selama beberapa tahun terakhir, ia sangat marah.
Keluarga Jiang, Murong Yuhao dan Lin Jiayin. Beberapa orang ini tidak boleh di lepaskan.
"Ada apa? aku tiba-tiba merasakan aura menakutkan begitu datang." Sebuah suara terdengar dan seorang pria mengenakan jubah brokat berwarna perak berjalan masuk.
Wajah tampan Pangeran Yin tersenyum, ujung pakaiannya berkibar tertiup angin sepoi-sepoi, membuat sosoknya seperti makhluk abadi yang datang dari dunia dewa.
Jika Jiang Xingyu ada disini, dia pasti akan tersesat lagi.
Pikiran ini juga muncul di benak Yuwen Junxiu, dan auranya yang dingin menjadi semakin dingin. Bahkan tatapannya menunjukkan keburukan saat memandang Pangeran Yin.
Untuk pertama kalinya ia merasa cemburu pada penampilan orang lain.
Walaupun penampilannya sendiri tidak kalah dari Pangeran Yin, tapi wanitanya suka dengan penampilan seperti ini.
"Ada apa denganmu?" Pangeran Yin bertanya setelah melihat ekspresi yang tidak bisa di jelaskan di wajah sahabatnya.
"Tidak ada." Yuwen Junxiu tidak akan pernah mengakui kecemburuannya.
Pangeran Yin tidak percaya, tapi tidak bertanya lebih lanjut. Ia duduk lalu menuangkan secangkir teh untuk dirinya sendiri.
Setelah menyesap teh, ia berkata. "Hari itu saat kau menyelamatkan Nona Jiang, sepertinya ada yang mengenalimu."
"Dalam beberapa hari, Istana akan mengadakan Festival Peony." Ucapnya lagi.
Kalimat terakhir, Yuwen Junxiu mengerti. Sekarang ia tidak bisa menyembunyikan identitasnya lagi. Dan mengapa ia datang ke Ibukota, bisa dikatakan untuk menghadiri Festival Peony.
.
.
_____Happy Reading_____
__ADS_1