
Note: Episode ini lebih banyak narasi dibandingkan dialog. So jangan kecewa yaa...
Di malam hari Jiang Xingyu masih pergi ke Rumah Kayu. Pertama untuk berlatih beladiri, kedua untuk melihat apakah Tuan Shen dan Yu Xin saling bertemu atau tidak.
Di luar Kediaman, Nalan Wangyu sudah menunggu keponakannya. Ia tetap dalam wujud tubuh roh, untuk mencegah orang lain mengenalinya.
Sejak Jiang Xingyu di latih Pamannya, kekuatannya telah meningkat pesat. Jadi kali ini ia menuju Rumah Kayu menggunakannya kekuatan peringan tubuh.
Tentu saja masih tidak stabil, jika tidak berhati-hati sangat mungkin jatuh dari udara. Dan karena fokus pada arah di depannya, dia tidak merasa pusing.
Nalan Wangyu adalah tubuh roh, secara alami tubuhnya melayang di udara. Ia fokus mengikuti keponakannya, bersiap menangkap jika keponakannya terjatuh.
Hanya saja dalam waktu tak terduga, saat keponakannya jatuh, dia ditangkap oleh orang lain.
Ketika Jiang Xingyu terbang di atas atap, karena penggunaan kekuatan yang tidak stabil, terkadang kakinya mengeluarkan suara saat menginjak ubin atap.
Awalnya ia sangat menikmati berlari kencang di atas atap, tiba-tiba sesosok tubuh muncul menghalangi jalannya. Tidak bisa mengendalikan keseimbangan, ia terjatuh bahkan sebelum melihat siapa bedebah itu.
Saat mengira dirinya akan jatuh, ia merasa pinggangnya di pegang erat oleh tangan yang ia yakini bukan pamannya.
Sebelum bisa bereaksi, suara familiar terdengar di atas kepalanya. "Terbang di malam hari, apa kau tidak takut di anggap sebagai pembunuh?"
Ia tercengang. Saat mendongak, terlihat wajah tampan yang menampakkan ekspresi suram. "Itu kau!"
Yuwen Junxiu berkata dengan dingin. "Jika bukan aku, siapa yang kau harapkan?"
"Bukan itu maksudku." Jiang Xingyu mengedipkan matanya, terlihat polos.
Entah mengapa merasakan nafas pria ini membuatnya merasa aman. Ia tidak tahu siapa namanya atau seperti apa identitasnya, tapi ia mempercayainya tanpa sadar.
Tidak ada yang menyadari, keduanya berdekatan satu sama lain dalam posisi ambigu.
"Uhuk, uhuk..." Melihat keduanya tidak terpisah, Nalan Wangyu sengaja terbatuk untuk mengingatkan.
Jiang Xingyu bereaksi dan tanpa sadar mendorong pria itu menjauh.
Sedangkan saat melihat lengannya kosong, hati Yuwen Junxiu sedikit kecewa. Kemudian wajahnya berubah dingin. "Kau wanita, apa yang kau lakukan di malam hari? apa kau bahkan tidak tahu situasimu sendiri?"
Wanita ini hanya memiliki kekuatan sangat minim, tapi berani berkeliaran di malam hari. Apa dia tidak takut bertemu Murong Yuhao lagi?
Jiang Xingyu tercengang, gunung es ini bisa mengkhawatirkan orang lain?
__ADS_1
Niat jahat muncul di hatinya. Dengan senyum menawan, ia mendekatinya selangkah demi selangkah, mengedipkan mata sambil bertanya dengan nada yang sangat ambigu. "Kenapa? apa kau mengkhawatirkanku?"
Jantung Yuwen Junxiu berdebar kencang, tapi berusaha tetap tenang. "Lelucon! Mengapa aku harus mengkhawatirkanmu?"
"Hahaha..." Jiang Xingyu tidak bisa menahan tawanya. Juga tidak bermaksud untuk melanjutkan keterikatan dengan pria ini. "Baiklah. Aku pergi sekarang." Kemudian pergi melewatinya.
Hanya saja ia lupa tengah berada di atas atap. Saat mengambil langkah, secara tidak sengaja menginjak ruang kosong. Ia sangat terkejut dan dengan suara 'Ah!' jatuh lagi.
Melihat ini, Yuwen Junxiu langsung meraih tangannya dan menariknya.
Karena terlalu menggunakan banyak tenaga, Jiang Xingyu yang di tarik menghantamnya, menyebabkan dirinya mundur selangkah dan bersandar ke belakang. Secara alami tubuh Jiang Xingyu mengikutinya.
Saat tubuh Yuwen Junxiu bersandar ke belakang, posisinya hampir sama tingginya dengan Jiang Xingyu. Menyebabkan wajah keduanya sangat dekat dengan bibir yang saling bersentuhan.
Sontak mereka berdua saling memandang dengan tatapan terpana. Bahkan waktu seakan berhenti saat ini.
Mereka hanya merasakan dengungan di otak mereka disertai detak jantung yang kuat satu sama lain.
Meskipun Jiang Xingyu berpikiran terbuka dan agak nakal, keterkejutannya membabi buta karena ini adalah pertama kalinya ia mencium seorang pria.
Tentu saja Yuwen Junxiu sangat konservatif baik dalam pikiran maupun tubuhnya. Selain dengan Jiang Xingyu, dia tidak pernah memiliki hubungan kulit-ke-kulit dengan wanita manapun, sehingga saat ini dia terlihat bodoh.
Jiang Xingyu tiba-tiba merasakan panas menyengat dari jari-jarinya, secara refleks mendorong pria itu lalu segera memeriksa cincinnya. Lagi dan lagi, ia tidak melihat sesuatu yang berbeda pada cincinnya.
Sedangkan saat Yuwen Junxiu didorong menjauh, reaksi pertama adalah hatinya terasa kosong dan ingin menarik wanitanya kembali. Tentu saja ini hanya perasaan sesaat.
Reaksi kedua adalah pipinya terasa panas, detak jantungnya bertambah cepat dan hatinya sedikit kesal.
Ini bukan pertama kalinya Jiang Xingyu merasakan cincinnya mengeluarkan panas, jadi ia tidak terkejut.
Gurunya berkata cincin ini luar biasa, dan ia akan tahu saat waktunya tiba. Ia sungguh penasaran tentang rahasia cincin yang di ubah dari jiwa 'Jiang Xingyu'
Setelah bereaksi, ia mengangkat kepalanya yang secara kebetulan bertemu dengan tatapan pria yang hingga kini ia belum tahu namanya.
Terlihat ada kabut samar dalam tatapan pria itu, serta wajah tampannya sedikit memerah.
Suasana yang hening membuatnya tergagap ketika menjelaskan. "Um, aku, aku tidak sengaja..."
"Aku, aku pergi dulu..." Tanpa menunggu jawaban, ia segera terbang melompat dari atap.
Setelah mendarat di tanah, ia melarikan diri secepat kilat.
__ADS_1
Yuwen Junxiu tidak bisa menghentikan. Karena ia sendiri tidak tahu bagaimana harus menghadapinya. Meskipun Jiang Xingyu ditakdirkan untuk menjadi wanitanya, ia belum siap menjadi begitu dekat dan intim dengannya.
"Yu'er, ada apa dengan cincinmu?" Nalan Wangyu bertanya.
Mendengar ini, Jiang Xingyu berkedip kebingungan. "Ada apa dengan cincinku?"
"Cincinmu memancarkan cahaya dan berkedip-kedip selama beberapa saat." Ucap Nalan Wangyu.
"Apa? bercahaya?" kali ini Jiang Xingyu berseru terkejut.
Melihat ekspresi keponakannya, Nalan Wangyu menyadari keponakannya tidak tahu apa yang terjadi pada cincinnya. Ia pun sangat khawatir. "Paman takut cincinmu akan membuatmu dalam bahaya."
Mendengar ini, hati Jiang Xingyu terasa hangat. "Paman yakinlah, Guru mengatakan cincinku luar biasa dan tidak akan menyakitiku."
Nalan Wangyu menghela nafas lega. Seakan mengingat insiden barusan, ia bertanya sedikit ragu-ragu. "Yu'er, kau dan pria itu..."
Dengan kata-kata ini, jantung Jiang Xingyu kembali berdetak kencang. Tentu saja ia memahami inti dari pertanyaan Pamannya.
"Tidak akan berpengaruh padaku. Jika pun iya, apa Paman pikir aku masih peduli dengan reputasiku?" Ucapnya dengan tenang.
Nalan Wangyu tercengang dan tentu saja mengerti.
Benar! Kebangkitan keponakannya dari kematian sudah merupakan anugrah terbesar dari Tuhan. Untuk apa masih peduli pada sebuah reputasi yang nyatanya telah hancur?
Disisi lain...
Hati Yuwen Junxiu masih tidak tenang. Begitu kembali ke Kediaman rahasia, ia langsung kembali ke kamarnya. Bahkan mengabaikan dua orang yang menyapanya.
"Hah! Ada apa dengannya?" Feng Yuqie bergumam ragu.
"Mungkinkah Paman Guru sakit? aku akan melihatnya." Ning Rui segera berdiri dan hendak pergi. Tapi dihentikan oleh suara yang terdengar di sampingnya.
"Jangan lupa, Pamanmu mengetahui keterampilan Medis. Lagipula dia tidak akan membiarkan tubuhnya sakit." Ucap Feng Yuqie.
Kemudian Ning Rui duduk lagi melanjutkan menikmati camilan malam.
.
.
_____Happy Reading_____
__ADS_1