
Jiang Xingyu yang bersembunyi di atas dahan pohon tidak merasa terkejut ketika mendengar suara pria itu.
"Apa ditemukan begitu saja?" suara Hantu terkejut terdengar di sampingnya.
"Apa yang di temukan begitu saja? aku yakin Pria ini sudah menemukanku sejak awal!" Gumamnya dalam hati.
Ia tidak berencana bersembunyi lagi.
Jika tidak keluar, ia akin pria itu akan menekannya dengan kekuatan internal.
Dengan satu lompatan sosoknya jatuh ketanah.
Hanya saja tanahnya tidak terlalu rata, membuatnya terhuyung-huyung dan hampir terjatuh.
"Hahaha." Di samping dinding Rumah terlantar, Hantu tidak bisa menahan tawanya.
Membuat Jiang Xingyu merasa risih kemudian menatapnya dengan mata tajam.
Tentu saja tatapan itu membuat Hantu tertegun. Kemudian segera berteleportasi mendekatinya lalu bertanya dengan penuh semangat. "Apakah kau benar-benar bisa melihatku?"
Sayang sekali Jiang Xingyu bahkan tidak melihatnya, tetapi melihat pria yang kini berjalan mendekatinya.
"Itu kau!" Yuwen Junxiu terkejut melihat rupa orang yang bersembunyi di pohon. Aura pembunuhan ditubuhnya sudah menghilang, tapi aura dinginnya masih tetap ada.
Karena dengan melihatnya lagi mengingatkannya pada insiden hari itu. Walaupun ia tidak begitu marah seperti sebelumnya, dan tidak berencana mencarinya lagi. Tapi aekarang entah mengapa kejadian itu seketika kembali berputar di otaknya.
Jiang Xingyu berpura-pura tenang. "Ada apa denganku? aku yang datang kesini lebih dulu, lalu kau datang setelahnya. Jangan berkata seakan akulah yang mengikutimu."
"Apa aku berkata seperti itu?" Yuwen Junxiu mengerutkan keningnya.
"Uhuk-uhuk..." Jiang Xingyu tersedak. "Kalau begitu aku pergi dulu."
Hanya setelah berjalan beberapa langkah, suara sedingin es terdengar lagi.
"Apa aku berkata kau boleh pergi sekarang?"
__ADS_1
Dalam sekejap mata sosok pria itu muncul di hadapannya, ia pun menatapnya dengan mata waspada. "Apa yang ingin kau lakukan?"
"Kenapa? apa kau takut?" gertak Yuwen Junxiu.
Jiang Xingyu tersenyum sinis lalu berkata lagi. "Apa yang kau inginkan? Tuan, tidakkah kau membiarkanku keluar dari posisi penganiayaan ini terlebih dahulu?"
Ia menarik nafas dalam-dalam. Bukankah hanya beberapa sentuhan? ahh itu tidak masalah.
"Ahem!" Pria paruh baya berdeham secara tidak wajar setelah mendengar ucapan tersebut.
Bahkan Hantu melebarkan matanya karena terkejut. Jika kondisinya bukan tubuh roh, ia yakin wajahnya sudah memerah seperti pantat monyet.
Yuwen Junxiu tertegun dan tidak menyangka wanita ini membuatnya terlihat seperti ia sedang menganiayanya. Ia segera bereaksi kemudian melirik pada dadanya yang datar. "Huh! Aku tidak tertarik pada gadis kecil!"
Sontak Jiang Xingyu melirik dadanya. Oke! Ia mengakui bahwa pertumbuhan tubuhnya sangat lambat, tapi sekarang ia masih berusia lima belas tahun, sangat normal jika bagian itu belum sepenuhnya tumbuh.
"Kau mengataiku gadis kecil? Cih! Siapa yang tahu mungkin itu hanyalah kacang kecil!" Ia dengan enggan mengarahkan pandangannya pada bagian pria itu, bahkan nadanya terdengar sangat jijik.
Jika hanya mendengarkan kata-katanya, orang lain mungkin tidak tahu apa yang dia bicarakan. Tapi tidak sulit mengetahuinya jika menilai dari pandangan matanya dan ke arah mana matanya tertuju.
Sebagai hasilnya keduanya semakin dekat dengan posisi yang terlihat semakin ambigu.
Melihat pemandangan ini, Hantu segera menutup matanya dengan malu-malu, tapi tak lupa masih mengintip di balik celah-celah jarinya.
Pria paruh baya juga terlihat malu dan segera berpaling.
"Kau menyebutnya kacang kecil?" suara tajam yang seakan-akan mampu menembus tubuh seseorang, menunjukkan betapa marahnya Yuwen Junxiu.
"Apa? kau tidak terima? atau bagaimana kalau kau membuktikannya?" Jiang Xingyu tidak akan mengalah dengan mudah. Tapi jangan salah paham, ia tidak benar-benar ingin melihatnya, hanya saja terkadang mulutnya sangat gatal.
Membuktikan? bagaimana membuktikannya? bukankah harus membuka celana jika ingin membuktikannya?
Dengan pikiran ini, Yuwen Junxiu ingin menampar wanita ke udara dengan telapak tangannya. Tidak disangka dia cukup berani memintanya untuk membuktikan.
Pada saat yang sama ia juga menyadari betapa dekat dirinya dengan wanita ini. Jantungnya berdetak tak menentu dan wajahnya terasa panas.
__ADS_1
Ia segera mundur satu meter menjauh. Untuk menyembunyikan ketidaknyamanannya, ia segera mengganti topik. "Aku bisa melupakan insiden-insiden sebelumnya, tapi kau harus bersumpah untuk tidak mengatakan pada siapapun apa yang baru saja kau dengar. Jika kau menyebarkannya, aku akan membunuhmu!"
Suara sedingin balok es membuat Jiang Xingyu menggigil tanpa sadar. Ia hanya mendengar percakapan mereka dan tidak tau apa maksudnya, mengapa pria ini mengancamnya seakan ia mengetahui segalanya?
"Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang kau dan paman itu bicarakan, tapi aku bersumpah dengan reputasiku bahwa tidak akan mengatakan ataupun menyebarkan apa yang kulihat dan kudengar malam ini." Jika tidak bersumpah, ia yakin pria ini tidak akan membiarkannya pergi.
"Huh! Reputasimu tidak berarti apa-apa untukku!" Ucap Yuwen Junxiu dengan jijik.
Jiang Xingyu tersenyum getir, mencoba menahan amarahnya. "Tuan, apa yang harus kulakukan agar kau membiarkanku pergi?"
"Serahkan cincinmu padaku sebagai jaminan, aku akan mengembalikannya padamu jika urusanku selesai!" Ucap Yuwen Junxiu sambil melirik pada cincin merah di jarinya.
Jiang Xingyu terkejut sejenak, namun di detik berikutnya sedikit niat jahat muncul dimatanya. "Baiklah. Tapi kau harus melepaskannya sendiri. Jika kau tidak bisa melepaskannya, kau harus membiarkanku pergi."
Setelah itu ia mengulurkan tangan kanannya.
Juga, kata-katanya jelas menyiratkan bahwa cincinnya tidak bisa dilepas.
"Melepaskannya sendiri? apakah memang tidak bisa dilepas?" Yuwen Junxiu tidak percaya.
Namun ketika jarinya menyentuh cincin, ia tiba-tiba merasakan panas menyengat yang juga secara langsung merangsang seluruh sarafnya, membuatnya menarik tangannya secara tergesa-gesa.
Jiang Xingyu tertegun. "Ada apa? kau tidak bisa melepasnya?"
Yuwen Junxiu mengernyitkan dahinya dan tidak menduga cincin itu akan terasa sangat panas, sontak ia juga merasa bahwa cincin ini tidak sesederhana seperti yang terlihat.
Segera ekspresinya kembali normal. "Sudahlah! Aku tidak menginginkannya lagi. Kau tetap harus mengingat sumpahmu. Jika kau mengatakannya pada orang lain, aku pasti akan membunuhmu!"
Kemudian ia memberi isyarat pada pria paruh baya untuk pergi.
.
.
_____Happy Reading____
__ADS_1