
Jiang Xingyu kembali ke Gerbong, menutup matanya dan mengistirahatkan pikirannya.
Bibi Rong hanya duduk diam walaupun ada banyak pertanyaan yang berputar dibenaknya.
Sesampainya di Kediaman, setelah memindahkan semua barang belanjaan, Bibi Rong berkata. "Nona istirahatlah dulu. Bibi akan memanggilmu ketika makan malam sudah siap."
Jiang Xingyu justru berkata. "Bibi, aku ingin memberitahumu tentang suatu hal penting."
"Silahkan Nona katakan." Bibi Rong menanggapinya dengan perasaan tidak nyaman.
"Duduklah." Ucapnya sekilas.
Lalu Bibi Rong duduk dengan gugup.
Jiang Xingyu mengabaikan kegugupannya dan mulai berkata. "Ada beberapa hal yang awalnya tidak ingin kukatakan pada Bibi. Tapi setelah kejadian di Kedai Teh tadi, kini aku tidak memiliki pilihan selain mengatakannya. Hal ini akan kukatakan karena kelak aku tidak ingin Bibi mengkhawatirkan hal-hal yang tidak penting."
Hati Bibi Rong semakin gugup, tapi Ia berusaha tetap tenang dan menunggu ucapan Nonanya berikutnya.
"Aku tidak akan menikah dengan Pangeran Yuhao! Walaupun saat ini aku tidak bisa membatalkan kontrak pernikahan bodoh ini, tapi jelasnya aku tidak akan pernah menikah dengannya." Ucapnya disertai ekspresi tegas.
"Apa? Nona, tahukah kau..." Bibi Rong terkejut sekaligus khawatir, mencoba membujuk tapi Nonanya menyela.
"Aku tahu apa yang Bibi khawatirkan. Bibi khawatir keputusanku akan berdampak buruk pada pernikahan masa depanku. Tapi Bibi juga tahu kalau Pangeran Yuhao bukan hanya tidak menyukaiku, tetapi juga selalu menyakitiku. Jika aku menikahinya, bukankah sama seperti memasuki sarang Harimau? menunggu kematian tiba? Bibi tidak perlu mengkhawatirkan pernikahan masa depanku. Karena jika seseorang benar-benar mencintaiku, dia akan mencintaiku tanpa peduli pada masalaluku."
"Tetapi semuanya sudah berlalu. Sekarang Nona berubah sangat cantik, seharusnya Pangeran..." Bibi Rong masih ingin membujuk.
"Tidak akan!" Jiang Xingyu menyela. "Tidakkah Bibi tahu selama ini Pangeran Yuhao menjalin hubungan dengan Lin Jiayin? jika bukan karena kekuatan Lin Mansion? apakah Pangeran Yuhao akan menyukai Wanita tak berotak itu? intinya Pangeran Yuhao hanyalah Pria bajingan yang selalu akan mementingkan keuntungannya sendiri dan hanya akan menikah dengan Wanita yang bisa membawa keuntungan untuk dirinya. Katakan, apakah Pria seperti itu layak untuk kunikahi?"
Ekspresi Bibi Rong semakin pucat. Bagaimana mungkin Ia tidak mengetahui hubungan Pangeran Yuhao dengan Nona Lin. Bagaimana mungkin Ia tidak mengetahui sifatnya.
Sampai detik ini Ia masih mengingat bagaimana Pangeran Yuhao memperlakukan Nonanya ketika Nalan Mansion sedang berada dalam keadaan terpuruk.
"Tahukah Bibi bagaimana aku jatuh dari Tebing? sebenarnya itu adalah mahakarya Pangeran Yuhao. Dialah yang dengan kejamnya menendangku dari Tebing belakang Kuil Yun." Sorot mata Jiang Xingyu penuh kebencian.
"Apa?!" Kali ini Bibi Rong tersentak kaget. Ia tidak menyangka Pangeran Yuhao akan menggunakan cara rendahan untuk menyingkirkan Nonanya.
__ADS_1
Dengan penyesalan yang mendalam, Ia berlutut. "Maafkan Bibi, Nona. Bibi tidak menduga ternyata Pangeran Yuhao memperlakukan Nona hingga sedemikian rupa. Bibi lebih menyesal karena masih mencoba membujuk Nona."
"Bibi tidak bersalah. Aku mengatakannya karena tidak ingin Bibi mengkhawatirkan hal-hal yang tidak seharusnya." Jiang Xingyu segera membantunya berdiri.
Kembali duduk, Bibi Rong masih sangat khawatir. "Apa yang akan Nona lakukan selanjutnya? atau, ayo kita pergi. Bibi tidak percaya di Dunia ini tidak ada tempat untuk kita berdua."
Ia tahu Yang Mulia Kaisar tidak akan setuju membubarkan kontrak pernikahan Nonanya dengan Pangeran Yuhao. Jadi solusi terbaiknya adalah melarikan diri.
Jiang Xingyu tidak menyangkal bahwa melarikan diri memang solusi terbaik. Namun Ia belum membalaskan dendam pemilik tubuh sehingga solusi ini tidak bisa digunakan. Terlebih lagi Ia bukan pengecut yang akan melarikan diri dari masalah.
"Bibi, karena aku sudah memutuskan, berarti aku memiliki solusinya. Bibi tidak perlu khawatir tentang ini. Cukup percayalah padaku, aku pasti bisa mengatasinya." Ucapnya dengan percaya diri.
"Baiklah. Apapun yang Nona lakukan dimasa depan, Bibi akan selalu mendukung serta mempercayainya. Namun Nona harus berjanji bahwa apapun yang Nona lakukan, harus lebih mementingkan keselamatan diri sendiri." Kata Bibi Rong bersungguh-sungguh.
Hati Jiang Xingyu terasa hangat. "Bibi jangan khawatir. Lagipula aku tidak akan mengabaikan keselamatanku sendiri."
Seakan mengingat sesuatu, Ia berkata. "Oh benar. Bisakah Bibi membantuku memberikan barang yang tadi kita beli pada Jiang Qianxi? sebelumnya Gadis kecil itu memperlakukanku dengan baik, bahkan tulus menganggapku sebagai Saudarinya. Sekarang sudah waktunya bagiku untuk mengembalikan kebaikannya."
"Tentu saja Bibi bisa membantu Nona." Ucap Bibi Rong penuh semangat.
Setelah Bibi Rong pergi, Jiang Xingyu naik kelantai dua menuju Kamarnya. Membersihkan diri kemudian mengistirahatkan tubuhnya diatas ranjang.
Disamping Kolam Teratai, Selir Jing sedang menemani Puterinya bermain Guqin.
"Nona kita benar-benar luar biasa. Di usianya yang masih muda sudah bisa memainkan Guqin dengan indah." Bibi Lu memuji.
"Tentu saja berkat ajaran Selir Jing." Timpa Pelayan lain bernama Yulu.
"Xi'er pintar dan mampu menghafal semua yang kuajarkan. Hanya saja dia sangat pemalu, benar-benar membuatku khawatir." Selir Jing sangat cemas jika menyangkut perihal Puterinya.
"Selir tidak perlu terburu-buru. Nona masih sangat muda dan masih membutuhkan bimbingan Selir dalam banyak hal." Bibi Lu menenangkan.
"Bibi Lu benar. Sebaliknya beberapa hari ini Tuan beristirahat dikamar Selir, jadi Selir harus memanfaatkannya dengan baik. Jika nantinya Selir hamil dan melahirkan seorang Putera, itu akan menjadi dukungan terbesar untuk Selir dan Nona. Selir tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi." Kata Pelayan Yulu disertai anggukan Pelayan lainnya.
"Aku juga berharap demikian." Selir Jing menanggapi.
__ADS_1
Namun ada beberapa hal yang terkadang tidak bisa kita dapatkan seberapa keras kita berusaha.
"Selir..." Sama seperti Bibi Lu yang ingin membujuk Majikannya agar tidak berpikir pesimis, langkah kaki terburu-buru datang dari luar.
"Selir, Bibi Rong ada disini." Seorang Pelayan melapor.
"Cepat persilahkan Bibi Rong masuk." Perintah Selir Jing sambil beranjak dari tempat duduknya.
Pelayan mengangguk kemudian bergegas berjalan menuju pintu masuk lagi.
Tak lama kemudian Pelayan membawa Bibi Rong masuk, semua orang melihatnya sedang memegang nampan yang diatasnya terdapat kain terlipat rapi, juga dengan sebuah kotak berukuran sedang.
"Apa itu?" Batin penasaran semua orang.
"Silahkan duduk, Bibi Rong. Yulu, tuangkan secangkir teh." Kata Selir Jing dengan sikap rendah hati.
"Selir Jing tidak perlu repot. Aku datang karena perintah Nona. Hari ini Nona keluar berbelanja dan tidak sengaja melihat mainan yang menarik, jadi Nona membelinya untuk diberikan kepada Nona Keempat. Juga ada set pakaian ini. Walaupun bukan berkualitas tinggi, tapi masih bagus dan sepertinya sangat cocok untuk Nona Keempat." Bibi Rong menanggapi dengan sikap yang sopan.
"Ini..." Selir Jing masih terkejut.
"Harap Selir Jing tidak menolak. Walaupun barang-barang ini tidak bernilai tinggi, tapi niat Nona sangat tulus." Kata Bibi Rong setelah melihat keraguan Selir Jing.
"Bibi Rong salah paham. Aku tidak bermaksud demikian. Baiklah, aku mewakili Puteriku menerimanya. Juga mohon Bibi Rong sampaikan terima kasihku pada Nona Sulung." Selir Jing segera memberi isyarat pada Bibi Lu untuk menerimanya.
Setelah Bibi Lu menerimanya, Bibi Rong pamit undur diri kemudian berbalik pergi.
"Nona Sulung sangat baik. Dia masih mengingat Nona kami walaupun sudah berubah." Rasa hormat Pelayan Yulu pada Nona Sulung semakin meningkat.
"Benar! Nona Sulung sangat baik. Mulai sekarang kalian semua tidak diperbolehkan menentangnya. Apa kalian mengerti?" Ucap Selir Jing menegaskan.
"Kami mengerti." Semua Pelayan serempak menanggapinya.
Selir Jing kembali duduk dan ketika memikirkan ucapan Nona Sulung padanya beberapa waktu yang lalu, seketika suasana hatinya jauh lebih baik.
.
__ADS_1
.
_____Happy Reading____