
Duduk di sebelah Selir Jing adalah Selir Ketiga, Shu Ying.
Selir Shu tidak memiliki pengaruh besar, namun ia memiliki kemampuan berbisnis. Hampir semua bisnis Kediaman dikelola olehnya.
Yang lebih penting ia merupakan sepupu jauh Selir Mo. Setahun setelah kematian Nalan Wangzi, Selir Mo membawanya memasuki Kediaman sebagai Selir Ketiga.
Meskipun Nyonya Kediaman meninggal dan seharusnya tidak ada perayaan apapun selama 3 tahun masa Berkabung, namun menikahi Selir masih merupakan tindakan yang tidak melanggar aturan.
Alasan mengapa Selir Mo mengizinkan Shu Ying memasuki Kediaman adalah untuk menjadi pendukungnya. Juga memintanya untuk mengelola bisnis Kediaman dan menginginkan semua bisnis berada dibawah kendalinya.
Di Aula, selain Tuan Besar dan ketiga Selirnya, duduk disisi kanan dibawah kursi utama adalah Nona Kedua Jiang Linxin dan Nona Ketiga Jiang Linyao.
Jiang Linxin adalah orang terakhir yang mengetahui berita kembalinya Jiang Xingyu. Alasannya karena hari ini ia pergi ke Toko Alat Musik. Ketika baru kembali ia yang tidak tahu apa-apa langsung dipanggil ke Aula Utama.
Baru setelah menuju Aula Utama, ia mengetahui ternyata Jiang Xingyu telah kembali. Walaupun sangat terkejut, ekspresinya tetap tenang dan anggun seperti hal itu bukanlah sesuatu yang besar baginya.
Duduk diurutan kursi kedua sebelah kanan adalah Nona Ketiga, Jiang Linyao.
Karena cederanya, Ibunya memintanya untuk beristirahat di Kamarnya dan tidak perlu datang ke Aula Utama. Namun karena ingin melihat bagaimana Jiang Xingyu diberi pelajaran oleh Ayahnya, ia tidak bisa berdiam diri dan memaksa ikut.
Menghadapi keras kepala Puteri keduanya, Selir Mo mengalah. Ia tidak punya pilihan selain membawanya ke Aula.
Saat ini bekas tamparan dikedua pipi Jiang Linyao terlihat hampir memudar karena ditutupi dengan pemerah pipi, terlihat seperti tidak ada jejak tamparan.
Ketika semua orang tenggelam dalam pikirannya, sesosok Gadis kurus memasuki Aula dengan postur anggun dan disertai aura kesombongan.
Ketika semua orang melihat Gadis kurus yang tak lain adalah Jiang Xingyu, tenggelamnya lamunan mereka digantikan keterkejutan yang luar biasa.
Walaupun mereka mengetahui wajah Jiang Xingyu telah berubah memukau dan terlihat seperti Ibunya, namun ketika melihatnya sendiri, mereka terpana.
Setelah terpana sesaat, ekspresi Jiang Linxin dan Jiang Linyao digantikan ekspresi kecemburuan. Bahkan kebencian terlintas dikedua mata mereka.
__ADS_1
"Kau, apakah kau Yu'er?" setelah terkejut, Tuan Besar bertanya karena tidak yakin.
Sebelum Jiang Xingyu menjawab, suara keluhan Jiang Linyao terdengar lebih dulu. "Ayah, tadi Jiang Xingyu menamparku dua kali dan mendorongku hingga kedua kakiku terkilir. Ayah, kau harus memberiku keadilan."
Mengenai keluhan ini, Jiang Xingyu tidak keberatan. Namun mengenai pertanyaan Tuan Besar, ia tertawa ringan dan tawanya tidak menyembunyikan ejekannya. "Ayah, apa kau tidak mengenali Puterimu sendiri?"
Mendengar jawabannya, jejak kekesalan melintas dimata Tuan Besar. Alisnya berkerut dan suaranya terdengar dingin. "Kau bodoh dan konyol selama 5 tahun terakhir dan hanya tahu bagaimana menyebabkan masalah. Jika aku tidak mengenalimu, apakah itu salahku?"
"Bukan salah Ayah. Semuanya salahku karena selama 5 tahun menjadi bodoh dan gila. Hidupku bukan hanya seperti Anjing dan Babi, bahkan juga membuat Ayahku tidak mengenaliku. Tapi sekarang aku sudah sembuh, akankah Ayahku yang baik hati membiarkanku menjalani hidup normal?" kata-kata Jiang Xingyu sangat tajam.
Wajah Tuan Besar tenggelam. Ia tahu kehidupan Puteri pertamanya tidak begitu baik selama 5 tahun terakhir. Tetapi setidaknya tidak begitu buruk sampai harus menggunakan idiom 'Babi dan Anjing' untuk mengungkapkannya.
Apa yang tidak diketahuinya adalah, selama ini kehidupan Puterinya bukan hanya sekedar tidak baik. Selama 5 tahun makanannya hanyalah sisa-sisa dari Pelayan. Adapun untuk pakaian, uang bulanannya bahkan tidak cukup untuk membeli satu pakaian berkualitas biasa.
Kehidupan seperti itu, bukankah memang pantas menggunakan idiom 'Babi dan Anjing' untuk menggambarkannya?
Batin Selir Mo bergetar. Tanpa menunggu Tuan Besar berbicara, ia lebih dulu berkata. "Jiang Xingyu, perhatikan kata-katamu. Jika sampai menyebar keluar, tidak tahu apa yang akan orang lain pikirkan tentang Kediaman kita."
Tersenyum melihat reaksi Tuan Besar, Selir Mo melanjutkan. "Karena kebodohanmu, sebelumnya kau banyak menghancurkan barang-barang berharga. Walaupun Kediaman kita tidak kekurangan apapun, tapi bukan berarti Kediaman kita kaya. Oleh karena itulah aku terpaksa memindahkanmu ke Halaman Utara. Karena sekarang kau sudah sembuh, maka tidak perlu tinggal di Halaman Utara lagi."
"Yu'er, karena sekarang kau sudah sembuh, atur ulang saja tempat tinggal untukmu." Ucap Tuan Besar menyetujui pengaturan Selir Mo.
Selir Mo menghela nafas lega. Ia berpikir seperti apapun perubahan Jiang Xingyu dan setuju atau tidak, dia pasti akan mematuhi perkataan Ayahnya.
Hanya saja jalan pikiran Jiang Xingyu tidak ada yang bisa menebak ataupun memahaminya. Bahkan Xia Yu yang pernah menjadi Saudaranya dikehidupan sebelumnya selama lebih dari 10 tahun, belum benar-benar bisa memahaminya.
Jika tidak, bagaimana Xia Yu selalu kalah darinya?
"Kalau begitu bolehkah aku bertanya dimana Ayah mengatur tempat tinggal untukku?" tanya Jiang Xingyu menggunakan nada penuh makna.
"Kau bisa memilih tinggal di manapun yang kau inginkan." Ucap Tuan Besar tidak peduli.
__ADS_1
"Benarkah? jika begitu aku memilih kembali ke Paviliunku." Kata Jiang Xingyu dengan tenang.
"Mustahil!" Selir Mo ataupun Tuan Besar belum mengatakan apapun dan Jiang Linyao sudah menyatakan keberatannya. Suaranya sangat keras hingga membuat semua orang kaget.
Tentu saja Jiang Xingyu tidak termasuk.
Semua orang tidak menyangka ternyata Jiang Xingyu ingin kembali ke Paviliun aslinya, Paviliun Yuyan.
Paviliun Yuyan adalah salah satu dari semua Paviliun termegah yang berada di Halaman Timur. Awalnya Halaman Timur serta Paviliun didalamnya merupakan milik Jiang Xingyu dan Ibunya.
Jiang Xingyu menempati Paviliun Yuyan, sementara Ibunya menempati Paviliun Utama. Tapi setelah Ibunya meninggal dan Jiang Xingyu berubah bodoh, dengan alasan sering merusak barang-barang berharga, dia dipindahkan ke Halaman Utara.
Tentunya alasan tersebut hanya di buat-buat oleh Selir Mo.
Seminggu setelah Jiang Xingyu dipindahkan, seluruh Halaman Timur diambil alih oleh Selir Mo dan kedua Puterinya.
Selir Mo menempati Paviliun Utama, Jiang Linxin menempati Paviliun megah lainnya dan Jiang Linyao menempati Paviliun Yuyan.
"Mengapa mustahil?" Jiang Xingyu bertanya, suaranya terdengar acuh tak acuh.
"Karena Paviliun Yuyan milikku!" Kata Jiang Linyao menyatakan kepemilikannya.
"Apa kau yakin Paviliun Yuyan milikmu?" tanya Jiang Xingyu sekali lagi.
"Semenjak aku tinggal disana, Paviliun Yuyan sudah menjadi milikku!" jawab Jiang Linyao dengan dominan.
"Cukup!" Tiba-tiba Tuan Besar meraung marah, matanya memandang kedua Puterinya dengan tidak puas, bahkan suaranya terdengar tidak sabar. "Bukankah hanya Paviliun? apa gunanya bertengkar?! Yu'er, Saudarimu sudah tinggal selama bertahun-tahun di Paviliun Yuyan dan sudah terbiasa, Ayah tidak akan memintanya untuk pindah. Kau lebih baik memilih tempat yang lain."
.
.
__ADS_1
_____Happy Reading_____