
Satu jam kemudian...
"Selanjutnya adalah waktu istirahat. Semua tamu bisa pergi menikmati pemandangan bunga peony di halaman. Silahkan berkumpul kembali satu jam kemudian." Ucap Permaisuri.
Waktu istirahat adalah untuk memberi kesempatan bagi mereka pria dan wanita untuk saling bertukar sapaan.
Seorang gadis tentunya tidak akan berinisiatif mendekati pria sendirian, oleh karena itu mereka membentuk kelompok yang terkadang terdiri dari tiga atau empat orang.
Setelah Permaisuri dan para Selir pergi, Lin Jiayin langsung bergegas mendekati Pangeran Yuhao. Seolah takut di dahului oleh gadis lainnya.
"Saudara Yuhao, mari kita pergi menikmati pemandangan bunga peony." Ucapnya.
Pangeran Yuhao tidak segera menanggapi, sebaliknya tanpa sadar memandang Jiang Xingyu. Setelah beberapa detik, ia menarik pandangannya "Ayo pergi." Ucapnya lalu berjalan keluar.
Kelompok Pangeran Yuhao terdiri dari Lin Jiayun, Lin Jiayin, Shu Yinfeng, Shu Yinxue, Fang Jinse, dan terakhir Yan Zhihang yang justru tidak mengikuti mereka.
Melihat Yan Zhihang masih duduk, Shu Yinfeng bertanya. "Zhihang, ada apa?"
"Aku ingin melihat apakah ada gadis yang cocok denganku. Jadi aku tidak akan mengikuti kalian." Yan Zhihang mencari alasan, tidak secara langsung mengatakan ingin memutuskan hubungan dengan mereka.
"Baiklah. Kalau begitu kita pergi dulu." Ucap Shu Yinfeng yang tidak merasakan keanehan apapun pada sikap Yan Zhihang.
Ada banyak gadis yang ingin menyapa Raja Chonglou dan Pangeran Yin. Hanya saja keberanian mereka terlalu kecil.
Oleh karena itu mereka beralih pada Feng Yuqie dan Chen Ziyue, tapi ketika melihat keduanya berjalan bergabung dengan Pangeran Yin, keberanian kecil mereka seketika sirna.
Yang membuat mereka tidak menyangka adalah, Pangeran Yin dan kelompoknya justru berjalan mendekati Jiang Xingyu.
Disaat yang sama Bai Yinran gugup ketika melihat kedatangan mereka, dan berencana untuk pergi. Tapi dihentikan oleh Jiang Xingyu. "Nona Bai, ayo pergi bersama kami."
Bai Yinran terjerat oleh perasaannya sendiri. Keinginan hatinya tentu saja tidak ingin menolak. Tapi...
"Saudari, ayo pergi dengan Puteri Ming. Lagipula kita datang kesini bukan untuk mencari suami." Ucap Bai Yuxue.
"Baiklah." Bai Yinran setuju.
Ketika kelompok Pangeran Yin mendekat, Bai Yinran memberi hormat. "Salam hormatku, Bai Yinran, pada Raja Chonglou dan Pangeran Yin."
Mengikuti saudarinya, Bai Yuxue juga memberi hormat dengan cara menundukkan sedikit kepalanya.
Kemudian Bai Yinran menyapa dua pria lainnya dengan sopan. "Tuan muda Feng, Tuan muda Chen."
"Nona Bai tidak perlu begitu sopan." Ucap Pangeran Yin.
"Benar." Sahut Feng Yuqie.
__ADS_1
"Membosankan tinggal disini. Kenapa kita tidak pergi ke Istana Ning'er untuk mengobrol?" saran Pangeran Yin.
Tentu saja kata mengobrol hanya untuk menutupi tindakan mereka selanjutnya.
Selain itu ada banyak penjaga rahasia yang mengawasi dalam kegelapan, jadi jika ingin memulai misi, harus menemukan tempat yang tidak bisa diawasi oleh penjaga rahasia.
Dengan saran tersebut, semua orang tidak keberatan. Karena pada dasarnya mereka tidak menyukai kebisingan.
Kemudian mereka berjalan menuju Istana Timur.
Beberapa gadis berjalan didepan dan pria berjalan di belakang. Mereka mengobrol agar suasana tidak canggung.
"Apa Nona Bai tertua punya kekasih?" tanya Jiang Xingyu sambil memandang Pangeran Yin sekilas.
Melihat Nona Jiang menatapnya dengan penuh arti, Pangeran Yin langsung mengerti maksudnya. Dia tetap bersikap santai seolah pertanyaan tersebut tidak mempengaruhi.
Sedangkan Bai Yinran terkejut dan tidak tahu harus menjawab apa. Hanya ekspresi gugup yang mewakili seberapa besar kegelisahan dihatinya.
Disaat dia masih bergulat dengan pikirannya, Bai Yuxue berbicara. Tapi bukan untuk membantu, justru membuatnya semakin gugup. "Saudariku sangat pemalu, dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan seperti ini. Namun sepertinya saudariku sudah memiliki kekasih, jika tidak, dia tidak akan menulis banyak puisi cinta. Hanya saja aku tidak tahu siapa pria itu."
Ucapan ini terlalu cepat sehingga Bai Yinran tidak bisa menghentikannya.
"Xue'er, tutup mulutmu! Jangan mengatakan omong kosong." Ucapnya disertai ekspresi peringatan.
"Huh! Aku tidak mengatakan omong kosong." Tegas Bai Yuxue.
"Baiklah. Mari kita bicarakan hal lain." Jiang Xingyu segera menyela.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di Istana Timur, lebih tepatnya di Istana Ningze.
Atas perintah Puteri Yanning, para pelayan segera menyajikan teh dan berbagai makanan ringan. Beberapa orang duduk mengelilingi meja dan mulai mengobrol.
Disisi lain, Jiang Linxin menolak beberapa gadis yang ingin berkelompok dengannya dengan alasan tidak enak badan. Lalu berjalan sendirian ke suatu tempat yang sepi, tentu saja ada sosok yang ingin ia lihat di tempat itu.
Di suatu tempat, Yan Zhihang bersandar pada bebatuan. Memikirkan percakapan antara dirinya dan Ayahnya.
Flashback On
"Ayah, menurutku Pangeran Yuhao bukan pilihan yang tepat." Ucap Yan Zhihang.
"Belakangan ini tindakan Pangeran Yuhao memang menyebabkan ketidakpuasan sebagian pejabat. Ayah tidak pernah menyangka ternyata sikapnya begitu sembrono. Jika dia bahkan tidak bisa menang saat berdebat dengan gadis kecil, bagaimana dia bisa mengalahkan para Pangeran?" Tuan besar Yan berkata disertai ekspresi rumit.
"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Yan Zhihang.
"Zhihang, sebenarnya Ayah ingin keluarga kita bersikap netral. Tapi risikonya terlalu tinggi dan sulit dilakukan jika tidak memiliki kekuatan yang cukup. Awalnya keluarga kita memilih mendukung Pangeran Yuhao karena Ibumu memiliki hubungan kekeluargaan dengan keluarga Shu, selain itu kami berpikir Pangeran Yuhao bukan pilihan yang buruk. Disisi lain, semua orang tahu bahwa Pangeran Yin dan Pangeran Yufeng, memiliki peluang tertinggi untuk mewarisi tahta. Meskipun Pangeran Yin dan Pangeran Yufeng telah menyatakan tidak tertarik pada tahta, namun tidak ada yang tahu niat mereka yang sesungguhnya. Zhihang, mulai sekarang kau jangan terlalu dekat dengan Pangeran Yuhao. Cukup awasi saja apakah sikapnya akan berubah atau tidak. Jika sikapnya masih tidak berubah, kita harus memutus hubungan dengannya. Keluarga kita tidak akan mendukung Pangeran yang tidak kompeten." Ucap Tuan besar Yan setelah berpikir secara menyeluruh.
__ADS_1
Flashback off
Saat pikirannya terganggu, Yan Zhihang merasa ada seseorang mendekat. Melihat siapa yang datang, ia menghela nafas tidak senang.
"Tuan muda Yan?" suara seorang gadis terdengar lembut, wajahnya agak malu-malu dan jantungnya berdegup kencang. Matanya tidak berani bertatapan secara langsung, tapi cinta di matanya tak bisa disembunyikan.
"Hai, Nona Jiang kedua." Yan Zhihang menyapa dengan sopan.
Benar! Gadis pemilik suara lembut adalah Jiang Linxin. Pemuda yang disukainya adalah Yan Zhihang.
Namun sayangnya Yan Zhihang tidak memiliki sedikitpun rasa suka padanya. Bukan karena status Jiang Linxin yang merupakan puteri Selir, tapi karena dia telah mengetahui sifat aslinya. Baginya, Jiang Linxin tidak lebih dari seorang gadis yang tidak konsisten, serta pandai menyembunyikan niat busuknya.
Jika saja Jiang Linxin mengetahui apa yang dipikirkan Yan Zhihang, dia tidak akan pernah menemuinya.
"Tuan muda Yan, kenapa kau disini sendirian?" Jiang Linxin bertanya.
"Aku tidak suka tempat yang terlalu bising, jadi aku datang kesini. Bagaimana denganmu?" Ucap Yan Zhihang.
"Aku juga sama. Oleh karena itu aku mencari tempat yang sepi. Hanya saja aku tidak menyangka akan melihat Tuan muda Yan disini." Jiang Linxin berkata seolah memang kebetulan.
Tapi apakah Yan Zhihang akan mempercayainya? tentu saja tidak!
"Oh. Kalau begitu silakan Nona Jiang kedua duduk disini. Aku akan pergi dulu." Yan Zhihang benar-benar tidak ingin tinggal terlalu lama dengan gadis ini.
Melihat ini, Jiang Linxin cemas lalu segera memanggil. "Tuan muda Yan..."
Yan Zhihang berhenti sejenak, menoleh dan bertanya. "Ya, ada apa?"
"Aku..." Jiang Linxin gugup dan takut ditolak jika mengungkapkan perasaannya sekarang, namun kesempatan seperti ini sangat langka.
"Jika tidak ada, aku pergi dulu." Ucap Yan Zhihang.
Jiang Linxin menghela nafas dalam-dalam kemudian berkata. "Tuan muda Yan, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu. Aku tahu statusku sangat rendah dan tidak layak untuk bersanding denganmu. Tapi perasaanku sangat tulus padamu."
Yan Zhihang berterus terang menanggapi. "Nona Jiang kedua, terima kasih telah menyukaiku. Maaf, perasaaan cinta tidak bisa dipaksakan. Tentu saja tidak berkaitan dengan statusmu." Implikasinya adalah aku tidak menyukaimu bukan karena identitasmu.
Setelah meminta maaf, Yan Zhihang berbalik dan pergi.
Kali ini Jiang Linxin tidak menghentikannya. Alasannya karena kesombongan dan martabatnya tidak membiarkan dirinya bersikap lebih dari ini.
Sebaliknya ia memegangi dadanya yang terasa sangat sakit. Bahkan tanpa sadar air matanya menetes membasahi kedua pipinya.
Sebenarnya ia tidak begitu terkejut dengan penolakan Yan Zhihang, hanya saja hatinya tidak bisa menerima kenyataan ini.
.
__ADS_1
.
_____Happy Reading_____